
Anya memandangi handphonenya yang berisi fotonya bersama Yoga. Nampak senyum kebahagiaan diantara mereka. Anya memejamkan matanya mencegah air matanya menetes. Ia kembali membuka laptopnya dan mengumpulkan konsenterasi untuk menyelesaikan laporan penelitian tugas akhirnya.
Namun, entah kemana perginya konsenterasi itu, Anya justru kembali melamun masa-masa bersama Yoga. Ia teringat kembali momen pertama kali bertemu dengan Yoga. Dia tak menyangka bisa jatuh cinta dengan laki-laki menyebalkan itu. Anya tersenyum kecil mengingat semua memorinya dengan Yoga.
Tak lama ada pesan masuk di handphonenya. Ia segera membuka chat di handphonenya.
"Terima kasih untuk semua bantuannya. I always love you, Anya." Isi pesan chat yang tak lain dari mantan kekasihnya, Yoga.
Anya mengurungkan niat membalas chat dari Yoga. Ia mengabaikan ucapan terima kasih tersebut walaupun Ia tau Yoga diseberang sana menanti balasannya.
Anya mematikan ponselnya dan kembali ke depan laptopnya. Ia memakai kacamata dan mengerjakan laporan yang besok akan Ia berikan pada dosen pembimbingnya.
"Semangat Anya. Kamu harus bisa selesaiin semua sesuai target, gak peduli hati kamu sedang hancur lebur." Gumam Anya menyemangati dirinya sendiri.
Anya berusaha konsenterasi, hingga tengah malam akhirnya Ia berhasil menyelesaikan progres laporan penelitiannya. Ia segera menutup laptopnya dan bergegas tidur karena jadwal bertemu dosen di pagi hari.
Pagi harinya Anya terbangun. Ia bersiap-siap untuk menuju kampus. Saat bersiap-siap, Sonya nyelonong masuk ke kamarnya.
"Nya, kakak boleh bareng ke kampus gak?"
"Ke kampus Anya? Ngapain kak?"
"Kakak mau kasih surprise ini buat Ezza. Hari ini dia ulang tahun." Ucap Sonya sambil membawa kotak kecil yang terbungkus rapi.
"Tapi Anya abis ini berangkat kak. Kakak gak papa pagi-pagi ke kampus? Terus nanti ke rumah sakitnya gimana?" Tanya Anya bertubi-tubi.
"Iya gak papa. Nanti kakak bisa naik taxi online. Malemnya dijemput Ezza buat dinner soalnya. Makanya kakak gak bawa mobil hari ini."
"Oooh gitu. Yaudah ayok kalau gitu. Kakak udah siap?"
"Udah dong, kakak kan rajin banget. Yuuukkk cuss."
Anya dan Sonya berangkat menuju kampus setelah berpamitan dengan Mama Meli.
"Gimana masalahnya si Yoga, Nya?" Tanya Sonya hati-hati.
"Gak tau kak, Anya gak kepo. Kemarin Anya udah nyerahin file dari kak Andre. Selebihnya biar kak Yoga sendiri yang mengurus semuanya."
"Aku gak nyangka Om Faisal sampe seperti itu Nya." Ucap Sonya tak menyangka.
"Iya sih kak."
"Kurang apa coba tante Yuni. Udah cantik, kaya, masih diselingkuhi. Kakak jadi takut Nya."
Anya yang sedang menyetir langsung menoleh ke arah Sonya.
"Kak, jangan mikir aneh-aneh deh."
"Kakak cuma takut Nya. Namanya pernikahan, hidup bersama. Nantinya kakak yakin pasti akan ada hal dari kakak yang tidak akan disukai oleh Ezza. Lalu bagaimana kalau Ezza jenuh, sekedar cari pelampiasan di luar. Pasti kakak akan sakit banget bayanginnya."
"Kakak, positif thinking. Anya yakin Pak Ezza bukan pria kayak gitu. Anya yakin dia sayang banget sama kakak. Semoga pernikahan kakak nanti bisa selalu harmonis ya." Ucap Anya tulus.
"Amin. Makasih Nya. Kakak akan berusaha sekuat tenaga menjaga pernikahan kakak."
Anya mengangguk.
"Kak, kakak gimana caranya bisa yakin mau nikah sama Pak Ezza?"
"Hmmmm, dari dianya sih. Dia ngenalin kakak sama mamanya yang baik banget. Dia juga sabar dan jujur tentang apapun sama kakak. Kakak tiba-tiba aja ngerasa yakin jadinya dan pengen nikah sama Ezza. Padahal sebelumnya kakak yang nolak-nolak nikah karena belum yakin."
"Hmmm gitu yah kak. Anya jadi iri sama hubungan kakak."
"Sabar ya Nya, Yoga cowok yang baik kok. Kakak yakin."
"Jangan bahas Yoga deh kak, kami udah putus."
Sonya terdiam memahami adiknya untuk tidak membahas Yoga kembali.
__ADS_1
***
Malam hari, di kamar Yoga memandangi data seseorang di laptopnya sambil berfikir. Ia melihat juga video di dalam flashdisk yang diberikan oleh Anya. Nampak video amatir yang diambil dengan kamera ponsel. Dalam video itu nampak seorang wanita paruh baya menghajar wanita muda dan berteriak karena wanita muda itu sudah tidur dengan suaminya.
Suaminya yang awalnya tidak terlihat di kamera tak lama muncul untuk melerai kedua wanita itu. Video berdurasi 3 menit lebih itu menunjukkan bahwa Gista, wanita muda di video itu adalah selingkuhan Om Faisal. Data diri Om Faisal diberikan oleh Anya dalam format file. Data yang lengkap, sampai tempat tinggal Om Faisal sekarang karena Ia sudah bercerai dengan istrinya dan terpaksa meninggalkan rumah mewah yang sebenarnya adalah milik istrinya.
Yoga tak menyangka Anya sejauh ini membantunya. Ia sangat bersyukur, dengan apa yang dilakukan Anya. Yoga yakin bahwa Anya sangat percaya padanya. Yoga segera meraih ponselnya untuk mengirimkan chat kepada Anya. Tak berselang lama chat tersebut sudah dibaca oleh Anya, namun tak kunjung mendapat balasan. Yoga menyadari Anya pasti merasakan sakit dan kecewa padanya hingga tidak ingin membalas chatnya. Yoga berusaha memahami Anya.
"Tunggu aku menyelesaikan ini semua, Anya. Dan aku akan datang pada kamu, tidak perduli sekeras apa kamu mengusirku." Gumam Yoga.
Yoga segera mencatat alamat Om Faisal di ponselnya. Esok hari Ia berniat menuju rumah Om Faisal untuk mencari tau tentang ayah dari bayi yang di kandung Gista.
***
"Pagiii.." Mela kaget dengan sosok dibelakangnya.
"Kak Iqbal, ngagetin aja. Tumben parkir disini? Kan biasanya parkir di parkiran kusus dokter." Sindir Mela sambil memanyunkan bibirnya.
"Gak papa sih, iseng aja."
"Iseng apa iseng?" Goda Mela tanpa maksud apapun namun membuat Iqbal bersemu merah. Iqbal memang berniat sengaja parkir di dekat Mela agar bisa menyapanya.
"Nanti makan siang bareng, aku traktir, mau?" Tawar Iqbal.
"Ada acara apaan kok tumben?"
"Ahahaha memang nraktir kamu harus ada acara dulu gitu?"
"Iya enggak, kan biasanya ya gak gitu."
"Eemhhh, gak papa sih. Anggep aja traktiran hiburan buat kamu. Mumpung siang ini aku agak kosong jadwalnya. Kalau mau ke cafe juga boleh, ayok."
"Hmmm, dicafetaria rumah sakit aja deh kak. Mela lagi males keluar-keluar soalnya."
"Oke deh. Aku ngikut kamu."
Siang hari, Mela bergegas ke cafetaria karena mendapat chat dari Iqbal bahwa Ia sudah menuju cafetaria. Mela memasuki lobby rumah sakit dan mendapati pemandangan wanita yang tempo hari, Ia kembali memohon pada Iqbal membuat Iqbal memasang raut wajah jengah.
"Sayang.. Udah nunggu lama?" Sapa Mela dan langsung menggandeng tangan Iqbal.
"Eehh, halo kak." Sapa Mela dengan memasang wajah polos saat melihat Selly.
"Halo.." Jawab Selly bingung.
Mela menggerakkan tangannya agar Iqbal tampak tenang dan berpura-pura mengenalkan dirinya sebagai kekasihnya.
"Oiya, kenalin ini Mela. Pacar aku."
"Mela.." Ucap Mela tersenyum manis.
"Selly.."
"Sayang, masih repot kah? Aku udah laper." Mela berbisik pada Iqbal namun masih bisa terdengar oleh Selly. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Iqbal membuat Selly salah tingkah melihat pemandangan kemesraan pasangan di depannya.
"Sebentar ya sayang. Jadi sampai mana tadi obrolan kita, Sel?"
"Haaah, eeh sampai itu tadi. Aku minta tolong sama kamu buat bilangin ke Sonya." Selly berusaha menata kata-katanya karena ada Mela di depannya.
"Maaf banget Selly, aku tidak mau ikut campur urusan orang lain. Mungkin kamu bisa sampaikan sendiri pada Sonya atau calon suaminya. Aku pamit dulu ya, kami ada janji makan siang." Ucap Iqbal dan meninggalkan Selly yang kesal dengan jawaban Iqbal.
Selly sebenarnya tau bahwa Iqbal sudah move on darinya namun karena Ia tidak pernah melihat wanita di sekitar Iqbal Ia beranggapan Iqbal masih sendiri. Selly akhirnya terpikir untuk memprovokasi Iqbal agar mau membantunya, dengan alasan mengejeknya gagal move on karena tidak ingin melihatnya bahagia dengan Ezza. Tentu provokasi itu akan menghina harga diri Iqbal.
Akan tetapi kini justru Selly yang dibuat kaget. Iqbal ternyata sudah memiliki wanita lain dan tidak perduli dengan provokasinya. Entah kenapa Ia merasa kesal karena dengan hal tersebut. Selly memutuskan pergi dan kembali ke rumahnya.
***
Ting tong..
__ADS_1
Yoga menekan bel rumah yang ada di belakang pagar, sebuah rumah dengan bangunan sederhana. Yoga cukup kaget ketika mendapati kenyataan alamat rumah lama penghuni rumah yang Ia datangi ini. Alamat rumahnya dahulu terletak disebuah kompleks perumahan elite yang bahkan orang tau kawasan tersebut adalah untuk orang-orang kelas atas, namun kini orang tersebut tinggal dirumah yang mungkin cukup jauh sederhana dibanding hunian lamanya.
Tapi Yoga tidak mau berpikir hal yang bukan urusannya. Ia hanya ingin berusaha menemui seseorang untuk menyelesaikan urusannya.
Tak berselang lama ada seseorang yang membuka pintu dari dalam. Seorang lelaki paruh baya segera membuka pintu pagar.
"Permisi, apa benar ini rumah Pak Faisal?" Tanya Yoga saat lelaki tersebut membuka pagar.
"Iya benar, saya sendiri. Anda siapa?"
"Saya Yoga Pak. Bisa bicara sebentar?"
"Bisa. Silakan masuk."
Kedua lelaki tersebut duduk di teras rumah.
"Ada keperluan apa?" Tanya Om Faisal.
"Begini pak, maaf sebelumnya. Saya mau bertanya tentang seseorang. Apa bapak mengenal Gista?"
Raut wajah Om Faisal berubah menjadi sedikit gugup.
"Gista? Emmhh, iya saya mengenalnya."
"Hubungan bapak dengan Gista bagaimana kalau boleh tau?"
"Hubungan saya sama Gista ya tidak ada apa apa."
"Apa benar Pak? Apa bapak yakin tidak ada hubungan atau pernah berhubungan dengan Gista?" Yoga mencoba terus mengulik.
"Tunggu tunggu. Tapi kamu ini siapa? Apa hubungan kamu dengan Gista?" Om Faisal mulai tidak nyaman.
"Saya mohon kepada bapak untuk jujur kepada saya tentang Gista. Saya harap bapak mau menceritakan apa yang sebenarnya tentang Gista. Karena semua ini ada sangkut pautnya dengan masa depan saya." Yoga mencoba mengiba.
"Masa depan kamu? Memang apa hubungan kamu dengan Gista?"
"Jadi begini pak, keluarga saya sempat menjodohkan saya dengan Gista. Saya menolak perjodohan tersebut karena saya memiliki kekasih yang sangat saya cintai. Namun, masalah terjadi karena baru-baru ini Gista ketauan hamil dan keluarganya memaksa saya untuk bertanggung jawab. Gista mengaku kalau sayalah lelaki yang menghamilinya. Padahal saya tidak pernah melakukan apapun dengan Gista. Semua menjadi semakin parah saat kekasih saya tau masalah ini, dan memutuskan untuk berpisah dengan saya. Saya mohon bapak jujur dan bicara jika tau tentang Gista." Yoga tertunduk. Om Faisal merasa tidak tega. Ia membayangkan Yoga sepertinya seusia Andre, anaknya. Ia juga tidak ingin apabila hal seperti itu terjadi pada anaknya. Ia selalu ingin Andre mendapatkan wanita yang baik seperti ibunya.
"Awalnya saya juga tidak tau siapa ayah kandung dari anak yang dikandung Gista." Jawab Om Faisal.
"Saya tidak yakin bayi itu adalah anak saya, karena saya tau Gista sering berhubungan dengan lelaki lain seperti saya, elaki yang sudah beristri, hanys demi uang. Namun, beberapa minggu lalu dia meyakinkan saya kalau terakhir kali dia hanya berhubungan dengan saya. Dia bilang itu adalah bayi saya, dan saya harus bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab? Maksudnya bapak akan menikahi Gista?"
Om Faisal menggeleng.
"Mana mau Gista menikah dengan saya. Dia hanya ingin saya bertanggung jawab penuh untuk biaya hidupnya karena selama kehamilan, dia pasti tidak akan bisa bekerja."
"Lalu bapak menyetujuinya?"
"Iya, saya menyetujui untuk membiayainya tanpa menikahinya."
Yoga tak habis pikir dengan Gista. Bagaimana mungkin Ia tidak mau bayi dikandungannya merasakan kasih sayang ayah kandungnya. Ia rela melakukan semuanya hanya demi uang. Bahkan tidak ada penyesalan dari Gista atas semua kejadian ini. Dia justru berusaha menjebak Yoga untuk bertanggung jawab pada kehamilannya.
"Saya harap kamu bisa lepas dari Gista. Dia wanita yang hanya menginginkan uang. Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan uang. Saya menyesal pernah tergoda dengan Gista dan berakhir seperti sekarang. Benar kata pepatah, penyesalan memang baru terasa di akhir."
"Saya tergoda pada Gista dan menghianati istri saya yang sudah memberi saya seorang putra, mungkin seusia kamu." Om Faisal tersenyum tipis melihat ke arah Yoga.
"Lalu bagaimana dengan istri dan anak bapak? Apa mereka juga mengetahui tentang kehamilan Gista?"
"Tidak, mereka tidak mengetahui. Dan sekalipun tau, mereka tidak akan perduli. Saya dan istri saya sudah bercerai. Itulah sebabnya saya sekarang tinggal disini. Sedangkan untuk putra saya, dia sepertinya sudah malu untuk bertemu dengan ayahnya yang tergoda dengan wanita muda dan menghianati istrinya yang sangat baik."
Yoga merasa simpati dengan Om Faisal. Namun, memang semua penyesalan yang dirasakan karena apa yang telah Ia lakukan sendiri. Harusnya setinggi apapun pencapaian Om Faisal, Ia harus ingat semua orang yang setia mendukungnya. Yoga hanya bisa terdiam mendengarkan cerita Om Faisal. Ia tidak berkomentar apapun, hanya semua cerita tersebut Ia jadikan pelajaran untuk ke depannya jangan pernah tergoda dengan wanita yang hanya ingin kesenangan singkat tanpa mau ikut berproses dengannya.
Yoga berpamitan kepada Om Faisal dan masuk ke dalam mobilnya. Yoga merasa lega mengetahui siapa ayah kandung bayi di kandungan Gista. Ia menyusun rencana untuk memberi tau keluarganya dan keluarga Gista tentang kebenarannya. Semakin cepat, semakin baik.
Yoga segera menelpon mamanya untuk memberitaukan pada mama Gista bahwa ada yang ingin Ia bicarakan malam ini. Ia ingin menjawab semua tentang tanggung jawab pada Gista yang harusnya bukan diminta padanya, namun pada Om Faisal, ayah kandung bayi Gista.
__ADS_1