
Sesampainya di rumah, Gina dan Yoga disambut kedua orang tuanya yang panik. Keduanya dikabari apa yang terjadi oleh Yoga saat di kantor polisi, namun Yoga melarang keduanya ke kantor polisi karena Yoga dan Gina sudah akan segera pulang.
Mama Gina memeluk Gina dan menahan tangisnya agar tetap bisa menguatkan anak perempuan satu-satunya. Mama Gina tidak menyangka, Agam, mantan kekasih anaknya yang sudah Ia kenal tega melakukan hal seperti itu pada anak kesayangannya.
Papa Gina mengelus punggung anaknya, Gina membalas dengan senyuman tipis.
"Istirahat dulu ya sayang." Ucap Papa Gina.
"Iya, ayok mama antar ke kamar." Mama Gina menemani Gina ke kamarnya untuk beristirahat.
Yoga dan papanya duduk di sofa ruang tv. Yoga hendak membicarakan niat Boy pada Gina. Ia tidak ingin hal buruk menimpa Gina lagi. Yoga menunggu mamanya turun agar bisa menyampaikan niat Boy kepada kedua orang tuanya.
Tak lama mama Gina turun dan segera duduk.
"Mama gak nyangka Agam setega itu." Mama Gina mulai meneteskan air mata.
"Sabar ya ma." Papa Gina menenangkan.
"Ma, Pa. Yoga mau menyampaikan sesuatu."
Kedua orang tuanya menoleh pada Yoga.
"Boy, teman Yoga, dan Gina sebenarnya saling mencintai. Yoga harap mama papa bisa merubah keputusan untuk menikahkan Gina setelah Yoga. Gina sudah siap, ma pa. Lebih baik Gina terlebih dahulu yang menikah daripada Yoga." Ucap Yoga.
Kedua orang tuanya berfikir sejenak. Mereka memikirkan kejadian yang baru saja menimpa anaknya. Mereka tidak tega dan tidak ingin hal itu terulang kembali. Tentu pernikahan bisa membantu menjaga Gina dan lebih aman karena sudah ada lelaki yang bisa menjaga dan bertanggung jawab padanya.
"Apa kamu yakin Boy serius dengan Gina? Suruh ke rumah saja dulu. Temui papa mama." Ucap Papa Gina.
"Waktu itu dia sudah ada niat ke rumah ma, pa. Tapi setelah Gina tau kalau tidak bisa menikah sebelum Yoga menikah, Gina melarangnya. Jadi menurut Yoga sudah terlihat keseriusan Boy."
"Iya sudah, biar nanti Boy bicara dulu dengan mama papa." Lanjut mama Gina.
"Iya ma, nanti Yoga infokan ke Boy. Yoga ke kamar dulu ma pa."
***
Setelah selesai makan bersama, Rendy dan Mela kembali ke proyek. Mela masih dengan mode canggung di dekat Rendy. Entah karena Rendy adalah atasannya atau memang sulit membuka diri, Mela sangat membatasi dirinya. Saat keduanya kembali, nampak Iqbal menunggu Mela di depan proyek. Iqbal melihat Rendy dan Mela berjalan beriringan. Hatinya sakit namun Ia berusaha tenang agar tidak membuat Mela tersinggung.
"Kak Iqbal, nunggu Mela?" Tanya Mela saat melihat Iqbal.
"Iya, nungguin kamu. Aku telpon gak diangkat, takut kamu kenapa-kenapa." Jawab Iqbal.
"Maaf kak, handphone Mela di silent dan di dalem tas. Jadi gak denger kalau ada telpon. Maaf ya kak." Jawab Mela sambil melihat handphonenya di tas.
"Iyaudah gak papa. Yang penting aku lihat kamu gak kenapa-kenapa aku udah tenang kok. Aku balik ya." Jawab Iqbal.
Iqbal melangkah meninggalkan Mela dan Rendy.
"Tunggu kak." Panggil Mela.
"Kak Rendy duluan aja kak, saya masih ada urusan sebentar." Ucap Mela kepada Rendy yang dengan terpaksa dijawab dengan anggukan oleh Rendy. Rendy berjalan meninggalkan Mela dengan perasaan ingin tau tapi tetap saja Ia harus menuruti keinginan Mela untuk lebih dulu menuju kantor.
Mela berlari kecil menuju Iqbal yang menoleh tapi tidak mendekat padanya.
"Kakak udah makan siang?" Tanya Mela.
"Emmhhh.."
"Pasti belum kan, ayok Mela temenin makan di cafetaria." Mela menggandeng tangan Iqbal dan menariknya agar mengikuti langkahnya membuat Iqbal kaget. Hati Iqbal yang awalnya perih melihat kebersamaan Mela dan Rendy seketika sirna dan mulai mencair. Senyum tipis tersungging di bibirnya melihat genggaman tangan Mela.
Keduanya sampai di cafetaria dan duduk di kursi yang kosong.
"Kakak mau makan apa?" Tanya Mela masih belum melepaskan genggaman tangannya.
"Aku gak bisa pesen kalau dipegangin terus." Jawab Iqbal sedikit berbisik.
Mela kaget dan segera melepaskan genggaman tangannya.
"Sorry kak, sorry." Ucap Mela dengan wajah memerah menahan malu.
"Gak papa kok Mel. Aku malah seneng." Goda Iqbal.
"Apaan sih kak." Jawab Mela malu.
"Yaudah aku pesen dulu. Kamu mau makan juga?"
"Enggak kak, Mela nemenin kakak aja."
"Mau minum?"
__ADS_1
"Emmhh, boleh deh. Air mineral aja."
"Yaudah, tunggu bentar ya."
Iqbal makan ditemani oleh Mela. Membuat Iqbal canggung karena makan seorang diri.
"Kamu beneran udah makan?"
"Sudah kak. Tadi sudah makan sama Pak Rendy."
"Oooo.." Jawab Iqbal singkat.
"Kok singkat amat jawabannya. Cemburu kah?" Goda Mela.
"Emmmhhh, lumayan." Jawab Iqbal jujur membuat Mela tersipu.
"Kok bisa cemburu?" Mela pura-pura tidak paham.
"Iya cemburu soalnya ngelihat wanita yang kita suka jalan sama cowok lain." Iqbal kembali jujur.
"Maaf ya kak." Jawab Mela lembut.
Iqbal menatap Mela tajam.
"Kamu gak perlu minta maaf. Yang cemburu kan aku, berarti aku yang bermasalah. Aku kurang dewasa dan bisa menata hati aku sendiri." Jawab Iqbal. Mela merasa bersalah dengan anggapan Iqbal tentang perasaannya, namun Ia tidak bisa berbuat banyak. Untuk membuka hati sepenuhnya pada Iqbal pun Ia belum sanggup, walaupun memang Mela merasa nyaman dengan Iqbal.
***
Anya bersiap untuk melakukan sidang akhirnya. Ia bangun pagi dan mengecek semuanya yang harus dibawa dengan teliti. Semalam memang Anya sudah menyiapkan semuanya, namun Ia mengecek semuanya lagi agar benar-benar tidak ada yang ketinggalan. Setelah dirasa sudah lengkap, Anya turun untuk dan berpamitan dengan mama Meli.
"Ma, doain Anya ya." Ucap Anya sambil berpamitan dengan mamanya.
"Iya sayang, mama pasti doain. Kamu gak sarapan dulu?"
"Enggak deh ma. Anya deg-degan banget. Takutnya malah sakit perut kalau sarapan. Nanti kalau sudah selesai sidang aja Anya makan di kampus. Anya berangkat ya ma. Byee."
"Byeee.. Hati-hati sayang, gak usah ngebut. Gak ada yang ketinggalan kan?"
"Gak ada kok ma. Iya Anya pelan-pelan kok."
Anya berangkat menuju kampus agak lebih pagi. Ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak panik dan bisa mempersiapkan semuanya dengan lebih baik. Ponsel Anya berdering, Ia menyambungkan dengan loudspeaker di mobilnya.
"Halooo sayang. Lagi dimana?" Tanya Yoga.
"Di jalan sayang. Mau ke kampus."
"Udah siap semua? Pagi banget sayang."
"Sudah siap kok. Gak papa sayang, biar gak buru-buru."
"Semangat ya sayang. Kamu pasti bisa. Kalau deg-degan, inget aku aja. Pacar kamu yang ganteng banget ini, siap nikahin kamu kapanpun."
"Ahahahaha apa hubungannya coba. Gak nyambung woooiii." Anya tergelak. Candaan Yoga sedikit menghibur dan membuatnya lupa dengan rasa nervous.
"Nah gitu dong ketawa. Jangan tegang-tegang sayang. Semangat ya." Ucap Yoga memberi semangat.
"Iya sayangku, cintaku. Makasih ya semangatnya."
"Kamu hati-hati kalau nyetir. Nanti kabarin aku ya kalau udah selesai sidang."
"Siaaap kak."
Tak lama setelah sambungan telpon terputus, ada panggilan kembali yaitu sahabat Anya, Mela.
"Anyaaaaaaa!!!!" Terdengar teriakan Mela dan Ika dari seberang telpon.
"Berisiiiik bangeeet woooiii."
"Semangaaat Anya. Lancar sidangnya. Jangan tegang-tegang." Kedua wanita itu bergantian memberi wejangan.
"Iya gaes. Makasih yaaa. Thankyouuu banget loooh. Gue jadi terharuuu nih."
"Yaudah, kita lanjut tidur lagi. Kita abis begadang gara-gara dosen killer. Byeeee."
"Hahaha byeee.."
Rasa nervous Anya mulai berkurang, Ia mulai tenang mendengar ucapan semangat dari orang-orang terdekatnya. Oki pun juga sempat mengirim pesan memberi semangat untuk sidang. Anya merasa tidak seorang diri.
Sesampainya di parkiran kampus, Sonya juga mengirim pesan untuk Anya. Ia menyemangati Anya agar bisa lancar mengikuti sidang akhir dan bisa lulus dengan nilai yang baik dan memuaskan. Anya tersenyum membaca pesan tersebut. Ia merasa rindu dengan kakaknya yang sudah menjadi istri orang lain. Sonya memang pernah sesekali pulang ke rumah, kadang juga dengan Ezza. Namun tetap saja, Anya sudah tidak bisa seenaknya bermanja dengan kakaknya mengingat Sonya sudah bersuami dan berkewajiban melayani suami. Namun dibalik rasa rindu, tetap saja Anya merasa bahagia Sonya bisa menemukan cinta sejati dan lelaki yang tepat dan baik untuk menemani seumur hidup.
__ADS_1
Anya memantapkan langkah menuju ruang sidang. Ruangan tersebut masih terlihat sepi karena Anya sengaja datang lebih pagi. Anya menyiapkan semua data yang diperlukan untuk sidang.
Tak lama sidang Anya di mulai. Cukup lama sidang dilakukan. Hampir 2 jam Anya di dalam ruangan dan akhirnya Ia dinyatakan lulus. Anya tersenyum bahagia. Semua jerih payahnya terbayar sudah. Definisi hasil tidak akan menghianati usaha benar-benar nyata untuk Anya. Ia kini menikmati hasilnya telah berhasil lulus sebagai lulusan pertama di angkatannya dengan nilai summacumlaud.
Anya keluar ruangan dengan sumringah. Tak disangka Ia disambut oleh teman-teman dekatnya. Mela, Ika dan Oki serta teman yang lain hadir di luar ruangan dan menyambut Anya yang kini sudah mendapatkan gelar.
"Selamaaaatttttttt! Anya ES TEEEE!" Teriak semua teman-teman Anya.
"Aaakkkhhh, makasiiih gaes. Ayoook ke kantin semua. Gue traktir hari ini." Ucap Any menikmati kebahagiaan.
"Yeeeaaaa." Sorai teman-teman Anya.
Sesampainya di kantin Anya dan teman-temannya makan dengan suka ria merayakan keberhasilan Anya melewati sidang akhir.
Sore hari Anya merasa lelah dan baru saja sampai dirumah. Ia segera membersihkan diri dan beristirahat. Baru saja Anya merebahkan tubuh, pintu kamarnya diketuk oleh mama Meli.
"Kenapa ma?" Tanya Anya membuka pintu dengan malas.
"Ada yang nyariin di bawah. Sana temui dulu."
"Siapa?" Tanya Anya dengan nada cukup kencang karena mama Meli langsung meninggalkannya.
Anya terpaksa mengganti pakaian dan bergegas turun. Ia melihat tidak ada siapapun diruang tamu. Anya menengok ke luar pintu dan mendapati bucket bunga yang sangat besar. Dibalik bucket itu nampak Yoga berdiri dengan senyuman lebar.
"Selamaaat sayang." Ucap Yoga.
"Makasih sayang." Anya tersipu menerima bucket bunga dari kekasihnya.
"Tadi bilang repot banget di kantor hari ini." Lanjut Anya.
"Kan surprise sayang." Jawab Yoga.
"Iiih udah bisa bohong-bohong gitu ya berarti." Anya memicingkan mata.
"Enggak gitu sayaaang. Kan biar kerasa surprise." Jawab Yoga bingung karena takut Anya malah ngambek.
"Hahaha iya iya sayang. Jangan panik dong. Aku bercanda doang. Makasih ya surprisenya." Anya memeluk Yoga.
"Sama-sama. Selamat ya sayang. Satu pencapaian sayang sudah terwujud. Kamu wanita yang hebat."
"Makasih juga sayang sudah sabar nemenin aku yang kadang uring-uringan karena capek ngerjain skripsi. Pokoknya sayang sudah jadi penguat dan penyemangat Anya."
Yoga tersenyum dan membelai rambut kekasihnya.
"Kakak sudah makan?"
"Tadi sudah makan siang." Jawab Yoga.
"Nanti makan malem sama Anya ya, Anya traktir."
"Weiiih, asik asik."
"Ayok masuk, Anya simpen dulu bunganya." Keduanya masuk menuju ruang tamu dan mengobrol bersama.
***
Kabar Agam masuk ke dalam kantor polisi terdengar oleh Gista. Gista tidak menyangka Agam berakhir di kantor polisi. Gista mengunjungi Agam ditahanan.
"Lu kok bisa ditahan?" Tanya Gista saat melihat Agam di depannya.
"Gue ketauan pas mau ngelakuin ke mantan gue. Ternyata calon suaminya polisi." Jawab Agam.
"Jadi lu gagal total?" Tanya Gista kembali.
Agam mengangguk lemas.
"Tapi ini semua terjadi karena ide lu kan. Lu juga harusnya bertanggung jawab atas ini semua." Agam menatap Gista tajam.
"Loh loh, kok lu jadi nyalahin gue. Gue cuma nyaranin aja kan. Kalau lu gak mau ngelakuin ya itu hak lu kok."
"Tapi lu yang nyaranin itu semua ke gue. Dari awal gue gak ada pikiran kayak gitu. Gue gak mau tau, lu juga harus ikut bertanggung jawab atas semua yang terjadi sama gue. Gue gak akan biarin lu lolos sendiri begitu saja." Ancam Agam.
"Lu gila ya! Gue gak salah! Jelas-jelas lu sendiri yang ngelakuin itu semua. Lagian lu juga gak ada bukti kalau gue yang ngasih ide itu kan. Intinya lu harus nikmati hukuman lu sendiri, gue udah cukup nerima hukuman gue sendiri atas apa yang pernah gue perbuat." Gista berdiri dan bergegas meninggalkan Agam.
"Sial*nnnn!!" Teriak Agam melihat Gista yang meninggalkannya.
Gista keluar dari tahanan dan meninggalkan Agam. Ia tak menyangka Agam bisa berakhir di penjara karena ide gilanya. "Bego banget si Agam, bisa-bisanya malah berakhir di penjara." Gumam Gista sambil mengemudikan mobil dengan kencang.
Gista mengetahui Agam dipenjara setelah mencoba menelpon Agam untuk meminta uang padanya. Saat telpon diangkat oleh mama Agam, barulah Gista tau bahwa Agam sedang dipenjara karena tuduhan percobaan pemerk*saan. Sebenarnya Gista dihantui perasaan bersalah karena bagaimanapun Agam melakukan itu semua atas idenya. Namun tetap saja Gista tidak ingin berakhir di penjara seperti Agam. Ia tidak mau kehidupannya semakin menderita. Bagi Gista hamil anak Om Faisal, menikah dengannya dan hidup tidak bergelimang harta sudah merupakan penderitaan yang sangat berat dihidupnya. Gista tentu tidak membayangkan hidup di penjara dengan kondisi hamil, hal itu pasti menjadi penderitaan yang paling mengerikan.
__ADS_1
Gista merinding membayangkan hal itu. Tentu Ia tidak mau masuk penjara hanya karena memberikan ide untuk memperk*sa mantan pacar Agam. Gista bisa bernafas lega karena seberapa besar emosi Agam, Ia pasti tidak bisa menjebloskannya ke penjara karena tidak ada bukti bahwa semua hal yang terjadi adalah ide Gista. Gista memutuskan pulang ke rumah untuk meminta uang pada suaminya agar bisa menikmati dunia malam guna menghilangkan rasa penat.