Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Bucin Akut


__ADS_3

Anya masuk ke kamarnya. Ia merasa lelah dan memilih untuk beristirahat. Ke depannya Ia harus lebih menguras tenaga dan fikirannya untuk penelitiannya. Semua harus sesuai targetnya. Anya berusaha mengusir kegalauannya. Anya menyadari emosinya masih sangat besar untuk bertemu Yoga. Lebih baik Anya menghindarinya daripada terjadi pertengkaran yang makin buruk bagi hubungan mereka. Berkali-kali handphone Anya berdering, chat juga masuk berkali-kali, dari siapa lagi kalau bukan Yoga yang ingin memperbaiki hubungan mereka. Anya masih merasa sangat kesal dengan yang dilakukan Yoga. Biarlah dia mencari ketenangan sendiri untuk meredam emosinya.


Tiba-tiba pintu kamar Anya dibuka. Sonya nyelonong masuk.


"Anyaaa..." Panggil Sonya. Sonya melenggang masuk ke kamar adiknya.


"Tumben kak, sore-sore udah dirumah." Sindir Anya.


"Kakak mulai ngurangi jadwal praktek. Jadi berangkatnya gak terlalu pagi, pulangnya gak sampai malam banget."


"Kenapa gitu?" Tanya Anya.


"Buat latihan jadi istri yang baik dong." Ucap Sonya sambil tersipu.


"Cieeee yang mau nikah. Tapi kakak yakin sama Pak Ezza kan?"


"Yakin dong Nya. Semoga semuanya berjalan lancar. Duuuh masih lama tapi kalau ngebayangin kakak udah deg-degan."


"Kakak deg-degannya karena nikahnya apa malam pertamanya?" Goda Anya.


"Semuanya sih." Jawab Sonya malu-malu.


"Yeee, emang nih dasar."


"Eehh udah aah jangan godain kakak. Bantu kakak dulu yuk pilih-pilih gaun. Terus nanti dress buat kamu dan mama juga." Sonya membuka katalog dari bridal house yang sudah Ia kunjungi.


"Boleh-boleh. Emang mau konsep gimana kak?"


"Kakak sama Ezza setuju yang sederhana aja. Biar hemat. Nanti sisa uangnya bisa buat kami beli rumah."


"Loh bukannya pak Ezza ada apartemen kak?"


"Iya sementara disana, tapi sambil nyari-nyari rumah buat ke depannya."


"Kak, Pak Ezza itu posesif gak sih sama kakak?" Tanya Anya tiba-tiba.


"Kenapa emang? Tumben nanya gitu?" Sonya mengangkat kepalanya yang tadinya sibuk menatap katalog di tangannya.


"Iya gak papa. Anya kepo aja."


"Emmhh, gak pernah sih dia posesif. Tapi dia itu langsung pake tindakan. Tau gak sih, Ezza itu waktu ketemu Andre dulu itu sampai nonjok Andre, karena dia tau kalau Andre punya pacar dan gak serius sama kakak. So sweet banget kan. Terus terus juga pas ngajak jadian gemes banget. Dia meluk kakak dari belakang, padahal kakak udah sebel karena dia gak paham maksud kakak. Eeh ternyata paham dong. Dia pura-pura gak paham biar kakak gak yang nembak dia gitu, tapi dia sebagai cowok yang nembak kakak. So sweet kan calon suaminya kakak." Cerita Sonya antusias.


"Yaelah, Anya cuma nanya posesif atau enggak. Bukan mau tau kebucinan kalian." Ujar Anya sewot.


"Sorry sorry gak sadar nih. Emmh, Ezza gak posesif sih. Mungkin karena kita berdua komitmen serius kali yah. Lagian udah gede juga, malu mau posesif-posesifan. Kalau kakak ngobrol sama cowok dia cuma sekedar nanya siapa dan kakak jelasin, ya mungkin pasien atau temen kakak udah deh Ezza pasti paham dan gak masalahin. Gak ada drama yang aneh-aneh. Kayaknya sikap Ezza yang kayak gitu itu yang bikin kakak bucin. Walaupun mantan istrinya ganggu pun, kakak bakal berjuang buat Ezza."


"Ciiieeeee.. bener kak. Jangan biarin tuh mantan istri ganggu-ganggu kebahagiaan kalian. Salah sendiri dulu dikasih kesempatan malah disia-siain." Ucap Anya.


"Iya dong. Kakak gak bakal biarin dia ganggu-ganggu hubungan kakak sama Ezza dong."


"Emmhh enak yah kak, Pak Ezza dewasa banget. Terus-terus nih kak, Anya mau nanya wajar gak sih kalau pasangan kita itu cemburu sama sahabat kita yang lawan jenis gitu?"


"Cemburu itu wajar-wajar aja sih menurut kakak. Asal level cemburunya dulu kayak gimana. Kalau cemburu yang sampai bikin kita gak bisa berpikir jernih, itu yang salah."


"Kalau kakak misalnya cemburu itu gimana? Gini deh semumpama nih ya, seumpama Pak Ezza punya temen deket cewek. Dan kakak ternyata ngerasa cemburu dengan kehadiran temennya itu."

__ADS_1


"Kakak bakal tegesin dulu hubungan kakak sama pacar kakak, batasan hubungan dia sama temennya gimana , terus kakak bakal bilang kalau kakak cemburu. Tapi kakak tau itu bukan pilihan, sahabat atau pacar. Ya cuma kalau sudah punya pasangan mungkin bisa lebih mengatur kedekatan aja, karena kan sudah ada perasaan yang harus dijaga."


"Kakak gak nyuruh Pak Ezza ngejauhin sahabatnya?"


"Iya enggak dong. Selama pertemanan mereka dalam batas normal, ya kakak gak masalah. dan yang penting tidak ada yang disembunyiin dari kakak. Semua manusia itu perlu bergaul, tapi ketika sudah punya pasangan harusnya kita bisa punya batasan sendiri bagaimana memperlakukan teman yang lawan jenis. Nilai laki-laki dilihat dari situ, dia lebih mengutamakan teman atau pasangan."


"Tapi kalau yang cemburu cowoknya gimana kak?"


"Yoga cemburu ya? Sama Oki?" Selidik Sonya. Sonya memang mengenal Oki. Awal Anya memperkenalkan Oki pun Sonya juga mengira bahwa Oki pacar Anya. Ternyata salah, mereka hanya sahabat.


"Iya kak. Tapi kak Yoga udah keterlaluan. Dia nyuruh Oki ngejauhin Anya. Sekarang di kampus Oki kayak ngehindari Anya gitu. Canggung banget suasananya."


"Waah cemburu buta berarti si Yoga. Gak nyangka pak polisi bisa sebucin itu sama adik kakak satu ini." Goda Sonya supaya adiknya tidak cemberut.


"Iih kakak serius deh. Anya tuh lagi kesel sama kak Yoga. Dia itu udah bertingkah begitu tapi gak mau ngakuin kalau cemburu, malah cari alesan aja buat ngebenerin tindakannya. Ngeselin kan."


"Iya menurut kakak sih emang salah kalau sampe ngomong begitu ke Oki. Hubungan pacaran kan dari kalian berdua, gak ada sangkut pautnya sama Oki. Jadi cemburu, kepercayaan, atau masalah apapun ya antara kalian berdua. Menyelesaikannya ya kalian berdua. Kalau cemburu bilang cemburu, kalau gak suka deket ya bilang gak suka. Pasangan yang tujuannya serius pasti bakal berusaha menjaga perasaan pasangannya kalau tau pasangannya gak suka hal tersebut."


"Terus gimana solusinya sekarang kak? Kak Yoga masih bersikukuh gak mau ngakuin kalau salah. Tadi aja ketemu dia tetep dengan alasannya dia bilang kalau demi kebaikan Anya lah.. Bla bla bla.."


"Solusinya tetep harus dibicarain baik-baik berdua. Tahan emosi dan ego kamu. Susah memang nyatuin dua pikiran yang berbeda. Kakak tau kamu pasti cenderung emosi kalau pikiran kamu dan Yoga berbeda. Apalagi kamu merasa yang kamu perjuangin itu benar. Tapi itu tantangan dalam suatu hubungan Anya. Mungkin Yoga segitu takutnya kehilangan kamu, sampe cemburu buta, tapi terlalu gengsi juga mau ngakuin."


"Gitu ya kak, yaudah besok Anya coba temuin kak Yoga buat bicarain semuanya."


"Ngapain mesti besok?"


"Sekarang maksud kakak?"


"Tuh orangnya di bawah nungguin kamu. Temuin gih."


***


Hari ini Mela sudah bisa pulang ke rumahnya. Iqbal berkunjung ke kamar Mela untuk membantunya pulang. Iqbal bertemu dengan mamanya Mela.


"Siang tante, saya Iqbal. Dokter disini, temannya Mela juga." Ucap Iqbal memperkenalkan diri sambil mencium punggung tangan mamanya Mela.


"Ini sepupunya Anya, Ma." Mela memperjelas kepada mamanya bagaimana Ia bisa mengenal Iqbal.


"Oiya, dokter Iqbal ini juga yang udah nolong Mela waktu pingsan, Ma." Lanjut Mela menjelaskan.


"Oiya, makasih banyak yah Nak, eh Dok. Makasih atas bantuannya."


"Sama-sama tante. Saya cuma melakukan yang sewajarnya dilakukan."


"Kamu anak yang baik dan sopan. Tante senang sekali melihatnya." Pujian yang membuat Iqbal tersipu. Mela tersenyum melihat mamanya memuji Iqbal. Ia memandang Iqbal. Dia memang laki-laki yang baik. Secara fisik pun Iqbal lelaki yang tampan. Sikapnya yang juga lucu kadang bersikap dewasa, kadang juga masih seperti anak kecil.


Mela merasa pandangan Iqbal memang berbeda padanya. Entah pandangan simpatik atau tertarik. Namun, tetap saja hatinya telah tertutup untuk mencari tau semuanya. Merasakan pedihnya kehilangan orang yang dicintai membuatnya merasa hampa. Tidak ingin rasanya Ia membuka hati lebih dalam untuk orang baru. Hatinya mati rasa pada siapapun. Bagaimana tidak, Vico meninggalkannya untuk selamanya dengan semua kenangan indah. Tidak ada rasa sakit karena perselingkuhan atau penghianatan yang dilakukan. Sulit bagi Mela untuk move on, karena menurutnya itu sama saja dengan penghianatan pada Vico yang setia pada Mela hingga akhir hayatnya.


"Mau balik sekarang?" Tanya Iqbal membuyarkan lamunan Mela.


"Iya balik sekarang." Mela turun dari kasur dan bergelayut di lengan mamanya. Iqbal dengan sigap mengambil tas jinjing di tangan mama Mela.


"Saya bantu tante."


Iqbal mengantarkan mama Mela dan Mela ke parkiran mobil. Memasukkan barang ke mobil dan berpamitan.

__ADS_1


Mama mela mengemudi sambil melirik anaknya yang menerawang jauh ke luar jendela.


"Nampaknya dokter Iqbal tadi tertarik sama kamu, Mel."


"Enggak ah Ma, itu cuma perasaan mama. Aku sama dokter Iqbal memang sering ngobrol. Aku kan magang di proyek paviliun situ." Elak Mela.


"Iya kalau cuma sering ngobrol doang tapi masa sampai seperhatian itu sama kamu Mel? Emang dia gak punya pasangan apa?" Mamanya Mela kepo.


"Dia sih sering cerita kalau terlalu sibuk Ma, bilangnya gak ada waktu nyari pasangan."


"Jadi masih single dong?"


"Iya kali ma, masih single mungkin. Mela juga gak tau sedetail itu, Ma tentang kehidupannya dokter Iqbal. Aku tuh nganggep dokter Iqbal cuma temen, jadi gak sampai kepo-kepo."


"Tapi mama rasa dokter Iqbal berbeda sekali ke kamu. Perhatiannya lebih dari sekedar kenalan atau temennya saudaranya."


"Sudah deh Ma. Mela tau maksud mama. Gak semudah itu buat Mela membuka hati lagi Ma. mela gak mau menjadikan orang lain pelampiasan perasaan Mela untuk Vico. Mela akan berusaha menjalani hidup dengan baik walaupun tanpa Vico, demi mama, demi teman-teman. Tapi tidak untuk membuka hati buat orang lain Ma. Vico sangat berarti di hati Mela. Gak segampang itu Mela melupakan dan berpindah ke lain hati. Mela harap mama memahaminya." Ucap Mela.


"Vico sudah tiada Mela. Kamu harus melangkah ke depan. Mama gak akan maksa kamu. Mama tau semuanya sangat berat buat kamu, Nak. Tapi kamu harus realistis. Kamu gak bisa jalan di tempat begitu saja. Kelak kalau kamu sudah dewasa kamu akan tau maksud mama."


"Tapi Mela gak bisa Ma. Vico terlalu baik untuk Mela tinggalkan sebagai kenangan. Mela merasa kejam kalau harus bahagia di masa depan."


"Enggak nak, mama tau perasaan kamu. Tapi kebahagiaan kamu bukan kesalahan untuk Vico. Mama yakin Vico di surga sangat ingin kamu menjalani hidup dengan bahagia. Sekarang biarkan semua mengalir dulu. Mama tau kamu gak akan pernah bisa melupakan Vico. Tapi jadikan semua kebersamaan kalian sebagai pembelajaran untuk masa depan. Jadikan kebaikan Vico sebagai contoh kamu menjalani hidupmu ke depannya. Kamu pasti bisa melewati semuanya." Ucap mamanya Mela dengan bijak.


Mela hanya diam mendengarkan petuah mamanya. Ia sadar betul hidupnya tetap berlanjut walaupun Vico sudah tidak disampingnya lagi. Vico memang banyak memberinya pelajaran hidup, menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, pembelajaran tanpa kehadirannya sangat menyiksa bagi Mela. Mela kembali menerawang keluar jendela. Mengumpulkan kekuatan untuk menjalani hari-hari kedepannya.


***


"Kakak ngapain kesini?" Tanya Anya menemui Yoga yang menunggunya di ruang tamu.


"Aku mau bicarain sesuatu Nya. Duduk dulu, kita bicara baik-baik." Anya menurut, dia duduk di sofa dekat Yoga.


"Bicara apa?"


"Aku mau minta maaf Nya." Ucap Yoga tulus.


"Minta maaf untuk apa Kak?"


"Aku tau aku salah. Yang aku lakuin sudah keterlaluan. Gak seharusnya aku sampai melarang Oki buat berteman sama kamu hanya karena kecemburuan yang tidak jelas. Kakak cemburu saat tau Oki pernah suka sama kamu saat kalian awal kenal dulu."


"Aku sama Oki cuma berteman kak. Berulang kali Anya jelasin ke kakak kan. Kalau memang aku sama Oki ada perasaan, udah dari dulu kami pacaran. Tapi enggak kan Kak. Kami berteman, bener-bener berteman. Sekarang pun Oki juga udah punya pacar lagi kok. Adik tingkat di kampus."


"Iya kakak tau, makanya kakak akui kakak salah banget. Kakak tadi udah ketemu Oki dan minta maaf. Makanya kakak tau kalau dia udah punya pacar juga." Jelas Yoga.


"Ya baguslah kalau kakak menyadari hal itu salah kak. Kalau memang aku sama Oki ada hubungan yang enggak-enggak, wajar kakak secemburu itu. Tapi ini, enggak kak. Anya pun tau batasan pertemanan Anya dan Oki. Masa kakak sama kayak Lusi, mantannya Oki. Kalau cemburu bisa kalap begitu."


"Ya jangan disamain dong sayang. Iya aku ngaku salah. Maafin ya, jangan marah lama-lama. Kakak bingung kalau kamu marah lama begini. Kakak gak fokus ngapa-ngapain." Rayu Yoga.


"Masa? Gombal banget. Emang ya, cowok tuh kalau udah salah bakal ngerayu-ngerayu gombal-gombal begini." Sindir Anya.


"Enggak gombal. Beneran Anya. Makanya kakak tadi sampe ke kampus kamu, kepikiran kamu gak angkat telpon kakak dan balas chat kakak juga. Maaf ya.. pliiis." Yoga menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Iya iya, Anya maafin. Anya juga minta maaf udah marah sama kakak segitunya. Harusnya kita bisa berusaha obrolin semuanya baik-baik." Ucap Anya tersenyum.


"Makasih ya." Yoga menggenggam tangan Anya dan tersenyum sumringah.

__ADS_1


__ADS_2