
"Selamat malam, Om Tante." Sapa Boy sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Gina. Mama papa Gina sebenarnya sudah mengenal Boy. Namun, kehadiran Boy kali ini dengan tujuan berbeda. Bukan menemui Yoga melainkan meminta restu untuk serius dengan Gina. Tentunya Boy harus bersikap sopan agar mama papa Gina bisa menyetujuinya.
"Silakan duduk nak Boy." Mama Gina mempersilakan.
"Terima kasih tante."
Mama papa Gina juga ikut duduk di depan Boy.
"Jadi begini Om, Tante. Kedatangan Boy kesini sebenarnya untuk meminta ijin pada Om dan Tante. Saya ingin serius dengan Gina, saya ingin meminta restu untuk ke jenjang yang serius dengan Gina." Ucap Boy to the point.
"Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan jika Gina menikah dahulu dibanding Yoga. Tapi saya mementingkan keputusan istri saya dan tentunya keputusan Gina sendiri. Bagaimana, ma?" Tanya papa Gina melihat pada istrinya. Mama Gina nampak terdiam sejenak. Hati kecilnya ingin sekali melihat anak pertamanya untuk menikah terlebih dahulu. Akan tetapi keegoisannya bisa berakibat buruk untuk Gina nantinya. Terbukti kehadiran Agam kembali membawa niat jahat pada Gina. Kalau saja mama Gina memperbolehkan Gina menikah terlebih dahulu, mungkin sejak awal Boy sudah datang kerumah untuk meminta anak perempuannya.
Mama Gina menghela nafas panjang untuk memantapkan jawabannya.
"Tante juga sudah pikirkan, tante tidak keberatan Gina menikah lebih dahulu dibanding Yoga. Tapi tetap saja, semua keputusan ada pada Gina. Biar dia yang menentukan sendiri apakah dia bersedia."
"Iya tante, om. Terima kasih atas ijinnya."
"Tante panggilkan Gina dulu. Tunggu sebentar."
Mama Gina beranjak ke lantai dua rumah dan memanggil Gina. Keduanya turun bersamaan dan duduk di sofa ruang tamu.
"Gina, Boy datang kesini untuk membawa niat baik. Dia ingin meminta restu untuk menikah denganmu. Mama dan papa sudah memberi restu, tapi semua kami kembalikan pada keputusan kamu. Jangan merasa terbebani, tentukan semua dengan hati kamu." Ucap papa Gina bijak.
Gina menoleh ke arah Boy sejenak. Ada rasa malu melihat Boy di depannya. Ia merasa sangat hina. Namun melihat keseriusan dan ucapan Boy tempo hari membuat Gina yakin bahwa Boy adalah lelaki bertanggung jawab yang akan selalu menjaganya.
"Gina bersedia ma, pa." Ucap Gina malu-malu.
"Syukurlah kalau begitu. Nanti biar kita diskusikan lagi untuk semuanya. Mama papa akan urus gedung dan dekorasi dan sebagainya." Mama Gina antusias.
"Ma, Pa, Kak Boy, Maaf sebelumnya. Tapi apa boleh pernikahannya diadakan secara sederhana dan hanya orang terdekat. Gina masih sedikit takut jika melihat banyak orang." Ucap Gina lesu dan tertunduk.
"Aku tidak masalah jika kamu merasa nyaman seperti itu." Jawab Boy. Gina menatap mama papanya meminta jawaban. Mama Gina sedikit kecewa, namun Ia sadar bahwa kebahagiaan anaknya jauh lebih penting.
"Iya nak, mama setuju. Kita adakan secara sederhana tidak apa-apa." Mama Gina mengelus punggung Gina. Papa Gina hanya tersenyum tanda menyetujui permintaan Gina.
Boy merasa lega. Sebentar lagi Ia akan mempersunting wanita yang dicintainya. Ia tidak menyangka wanita itu adalah adik dari sahabat dekatnya. Boy pulang dengan raut sumringah. Ia kembali ke kantor untuk jaga malam. Sepanjang malam Ia tersenyum sumringah membuat rekan kerjanya bingung dengan apa yang terjadi pada Boy.
***
"Sayang, aku beneran udah rapi?" Tanya Sonya sambil berlenggak lenggok di depan Ezza yang duduk di sofa.
"Sudah sayang, kamu cantik banget." Jawab Ezza.
"Gak kemenoran sayang make upnya?" Tanya Sonya kembali.
"Enggak sayangku. Udah cantik banget kok." Dengan sabar Ezza menunggu istrinya percaya diri dengan penampilannya.
"Yakin sayang? Kok aku gak pede yah sayang. Apa aku gak usah ikut ya? Aku takut gak nyambung dan bikin kamu malu." Ucap Sonya panik.
Ezza segera memeluk istrinya mengusap lembut punggungnya.
"Kamu kenapa sayang? Aku gak pernah liat kamu sepanik ini." Tanya Ezza lembut.
"Aku takut sayang, takut bikin kamu malu dan kecewa sama aku."
"Untuk apa aku malu sama kamu? Kamu istri yang luar biasa. Justru semua orang akan kagum dan iri karena aku punya istri sesempurna kamu."
"Gombaal." Sonya memukul punggung suaminya sambil tersipu malu.
"Aaawww, sakit sayang." Goda Ezza.
"Maaf maaf. Ya aku cuma takut aja gak nyambung sayang disana. Jujur aku kurang bisa bersosialisasi. Banyak yang selalu bilang aku jutek, aku takut temen kerja sayang merasa aku jutek."
__ADS_1
"Ahahaha sayangku sayangku. Udah jangan mikir macem-macem. Nanti aku pasti temenin kamu disana."
"Iya sayang. Maaf ya tiba-tiba aku jadi sensitif banget. Padahal gak biasanya masalah biasa aja jadi pake perasaan begini." Ucap Sonya.
Ezza melepaskan pelukannya.
"Yaudah, kita berangkat sekarang. Gimana?"
"Iya, ayok."
"Eeh tunggu, kamu kenapa sayang? Kok pucet?" Tanya Ezza panik.
"Haah pucet? Emmhh, enggak kok yang. Ini efek lipstiknya mungkin. Warna nude." Jelas Sonya.
"Beneran? Gak pusing atau lemes?" Ezza masih terlihat panik.
"Iya sayang, udah ayok berangkat. Kan gak enak kalau telat."
"Iya iya."
Keduanya bergegas menuju pertemuan para dosen di ballroom hotel ternama. Sebenarnya acara ini adalah reuni untuk beberapa angkatan. Namun karena banyak yang antusias maka dibuat acara akbar dan banyak dosen serta alumni jurusan teknik sipil dan arsitek yang akan hadir.
Sonya dan Ezza sampai di lokasi dan segera masuk bersama. Keduanya bergandengan tangan dan nampak mesra layaknya pengantin baru pada umumnya. Sonya dan Ezza masuk ke ballroom dan bertegur sapa dengan tamu lain yang sudah datang terlebih dahulu. Ezza nampak mengobrol dengan beberapa seniornya yang berprofesi sebagai dosen dan pemilik PT yang bekerja di bidang konstruksi jalan. Ezza mengenalkan Sonya sejenak lalu mereka mengobrol perihal pekerjaan. Sonya dengan sabar menunggu. Mau mengikuti obrolan namun Ia tidak paham tentang yang dibicarakan suami.
Sonya melihat ke sekitar mencari seseorang yang mungkin dikenalnya. Namun, hasilnya nihil. Sonya hanya memandang suaminya yang asik mengobrol. Ezza nampaknya paham yang dirasakan istrinya. Ia undur diri dari perbincangannya dan menemani istrinya mencari makanan yang dihidangkan.
"Maaf ya kelamaan ngobrolnya, kamu gak bete kan?" Tanya Ezza.
"Enggak kok sayang. Gak papa. Aku cuma gak paham aja tadi sayang ngobrol apa." Jawab Sonya.
"Yaudah kita makan aja kalau gitu. Yuk." Ezza menggandeng Sonya menuju tempat hidangan makanan.
"Ezzaaaaa.. Bener Ezza kan ini?" Sapa seorang wanita muda menghampiri Ezza tiba-tiba.
"Iyaaa, masa lupa. Kita dulu magang bareng."
"Oooh iya inget-inget. Apa kabar kamu?" Tanya Ezza ramah.
"Aaahh seneng banget. Gak nyangka ketemu kamu disini. Aku baik banget." Askiya kegirangan hingga memegang lengan Ezza.
"Eehheemmm.." Sonya berdehem melihat kelakuan wanita di depannya yang memegang suami Sonya seenaknya.
"Eeh iya, kenalin ini istriku. Sonya. Sonya, ini temen kuliahku dulu tapi dia jurusan arsitek, namanya Askiya." Ezza melepaskan pegangan tangan Askiya. Sonya tersenyum penuh paksaan melihat wanita di depannya yang dirasa sangat kecentilan di depan Ezza. Askiya tersenyum sejenak saat melihat Sonya kemudian kembali mengobrol dengan Ezza.
"Kamu dosen disini kan?" Tanya Askiya.
"Iya, kamu kerja dimana?" Tanya Ezza balik.
"Aku baru jadi dosen disini juga. Kemarin baru selesai S3 di Belanda. Terus pas daftar disini langsung masuk. Minggu depan aku mulai kerja. Mohon bimbingannya Kak Senior." Ucap Askiya dengan nada manjanya yang membuat Sonya jengah. Sonya kesal mendengar obrolan suaminya dengan Askiya. Bagaimana tidak, wanita ini serasa tidak menghargainya sebagai istri dari laki-laki yang diajaknya bicara.
"Waaah gak nyangka dosen juga sekarang."
"Aaahh jangan gitu dong. Kamu kan tau sendiri dulu aku anti banget jadi dosen. Eeh sekarang kemakan omongan sendiri." Askiya tersenyum malu dan menepuk lengan Ezza. Sonya geram melihat kelakuan wanita di depannya.
Sonya menggerakkan tangannya yang digenggam oleh Ezza. Seolah mengerti tanda dari istrinya, Ezza mengakhiri perbincangan dengan Askiya.
"Mau makan apa sayang?" Tanya Ezza.
"Udah kenyang banget." Sonya menjawab asal.
"Loh kok bisa udah kenyang tiba-tiba? Kamu belum makan daritadi sayang. Nanti bisa sakit."
"Gimana gak kenyang kalau liat suami sendiri haha hihi sama cewek genit kayak gitu." Gerutu Sonya.
__ADS_1
"Ya ampun sayang, jangan marah dong. Aku cuma berusaha ramah sama temen lama. Dia temen seangkatan, jurusan arsitek. Kami pernah magang bareng waktu jaman kuliah dulu." Ezza memberi penjelasan.
"Oooh gitu. Kalau gak aku kasih kode tadi, aku jamin kalian sudah bakal flashback masa-masa magang bersama, kenangan-kenangan berdua, clbk lah. Iya kan?" Sindir Sonya kesal.
"Ngapain clbk sayang, aku sama dia cuma temenan. Gak pernah ada hubungan apapun sama Askiya."
"Iya mana aku tau. Dianya kali yang bakal clbk." Sonya melenggang pergi meninggalkan Ezza. Ezza mengejar Sonya sambil memeluk pinggang istrinya yang cemberut.
"Jangan cemburu dong sayang. Kamu maunya apa?"
"Aku maunya pulang. Aku jadi bete disini." Jawab Sonya.
"Yaudah ayok pulang. Aku pamit dulu ke yang lain." Ezza segera pamit ke beberapa dosen lain yang dikenalnya dengan alasan ada janji yang lain. Sonya dan Ezza pulang ke rumah. Di perjalanan Sonya hanya diam saja tanpa berucap sepatah kata.
"Gak laper sayang?" Tanya Ezza membuka keheningan. Sonya menggeleng tanpa berbicara. Namun berbeda dengan perut Sonya yang berbunyi kencang. Sonya tersipu karena bunyi dari perutnya yang terasa lapar. Ezza tersenyum dan segera melajukan mobil ke resto kesukaan Sonya.
"Ayok turun, kita makan dulu." Sonya terpaksa turun dari mobil namun tetap dengan wajah yang ditekuk.
Ezza memesan ruangan privat karena tau Sonya sedang tidak mood mengobrol.
"Kamu mau pesen apa?" Sonya hanya menunjuk yang diinginkan dan mengembalikan buku menu. Ezza dengan sabar memesankan makanan dan kembali ke ruang makan mereka.
"Sayaaang, maaf dong. Jangan ngambek gitu." Rayu Ezza.
"Siapa yang ngambek. Aku biasa aja." Jawab Sonya.
"Kamu gak biasa loh ngambek-ngambek gini. Apa lagi PMS sayang?"
Sonya mengangkat bahunya. Sonya juga baru sadar, tidak seperti biasa Ia seperti ini. Biasanya Sonya selalu melakukan semua dengan pikiran yang dewasa. Bahkan saat dulu Selly mengejar Ezza kembali, Sonya tidak bertingkah kekanak-kanakan seperti sekarang. Tapi entah kenapa sekarang Sonya merasa ada yang mengganjal di hati.
Makanan datang, Sonya makan dengan lahap. Berbeda dengan Ezza yang kaget dengan nafsu makan istrinya yang berbeda dari biasa. Ezza berpikir bahwa Sonya terlalu lapar karena tidak sempat mengisi perut sejak sore hari.
Keduanya menyelesaikan makan dengan suasana hening. Sonya masih dengan mode silent pada Ezza. Ezza dengan sabar menuruti ngambek Sonya dan tetap memberi perhatian pada Sonya. Sampai keduanya tiba di apartemen pun, Sonya masih mendiamkan Ezza.
Ezza membersihkan dirinya di kamar mandi dikagetkan dengan ketukan pintu yang kencang. Sonya segera membuka pintu kamar mandi tidak perduli dengan kondisi Ezza yang masih polos tanpa sehelai kain menutupi tubuh.
"Kenapa sayang?"
Sonya menuju toilet dan menumpahkan semua makanan yang dimakannya tadi tanpa sisa. Wajah Sonya nampak pucat. Ezza segera memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuh dan menghampiri Sonya.
"Sayang, kamu kenapa? Masuk angin?" Sonya menggeleng. Ia merasa tidak masuk angin, tubuhnya juga tidak demam. Hanya perutnya yang terasa mual dan setelah memuntahkan semua isi perut, Sonya merasa lemas.
Sonya membilas wajahnya. Saat hendak keluar kamar mandi dengan dibantu Ezza, Sonya merasa mual kembali menghampiri. Ia memuntahkan isi perut kembali tanpa ada sisa makanan yang keluar. Hanya cairan tubuh yang keluar semakin membuat Sonya nampak pucat. Ezza panik dibuatnya. Ia segera menggendong Sonya yang nampak lemas ke atas kasur. Ia berganti pakaian dan membawa Sonya menuju rumah sakit terdekat.
Ezza di ruang UGD menunggu pemeriksaan yang dilakukan pada Sonya. Sonya terbaring lemas di brankar UGD dengan wajah pucat dan tidak sadar diri. Terlihat jarum infus tertancap di tangannya. Ezza terus menggenggam sisi tangan lain Sonya yang tidak dipakaikan selang infus.
Dokter jaga datang menemui Ezza dan meminta untuk bicara di luar agar tidak mengganggu Sonya.
"Bagaimana dok kondisi istri saya? Istri saya sakit apa?" Cecar Ezza pada dokter di depannya.
"Setelah diperiksa sepertinya istri bapak tidak sakit apapun." Jelas dokter tersebut.
"Bagaimana mungkin dok, dokter tidak lihat istri saya lemas dan tidak sadar seperti itu. Tolong diperiksa ulang dok apa yang terjadi dengan istri saya." Ezza panik melihat kondisi Sonya dan terus saja bicara.
"Tenang dulu bapak, biar saya jelaskan."
Ezza berusaha tenang dan mendengar penjelasan dokter.
"Istri bapak memang tidak sakit apapun. Kondisi yang dialami istri bapak itu hal yang normal untuk semua wanita yang sedang hamil muda."
"A apa dok? Ha hamil?" Ezza terbata.
"Iya pak. Wanita hamil wajar jika mual dan muntah terus menerus. Perubahan mood dan perilaku juga kadang terjadi. Sebaiknya dipantau asupan gizi yang masuk. Jika tidak bisa makan, mungkin disiasati dengan cairan yang masuk ke tubuh seperti minum jus. Agar tubuh istri bapak tetap terhidrasi dengan baik. Lalu untuk aktivitas juga sementara batasi aktivitas yang berat juga pak. Saya resepkan vitamin untuk ibu dan bayinya. Mohon diminumkan secara rutin ya pak." Jelas dokter tersebut dan disimak dengan seksama oleh Ezza.
__ADS_1
Ezza mengangguk mendengar semua penjelasan dokter dan tak terasa matanya sedikit basah.