
Operasi berjalan lancar. Ternyata luka tusukan Gista tidak sampai melukai lapisan ketuban bayi. Sehingga kondisi Gista dan bayinya bisa selamat, namun sekarang keadaan Gista masih belum sadarkan diri. Om Faisal lega mendengar berita tersebut. Termasuk Anya dan Yoga juga ikut lega mendengarnya.
Andre menemani Om Faisal di rumah sakit semalaman. Ia takut dengan kondisi papanya yang banyak pikiran. Sementara itu Anya dan Yoga pamit pulang karena besok ada kegiatan.
Anya merasa kasihan dengan Gista.
"Kasian yah kak Gista." Ucap Anya di dalam mobil saat dalam perjalanan pulang.
Yoga mengangguk.
"Iya memang nampak kasian. Tapi itu semua terjadi karena ulah dia sendiri, sayang. Dia sudah cukup dewasa untuk menentukan hal yang dilakukan. Apakah akan berdampak buruk atau tidak di kemudian hari." Anya membenarkan ucapan Yoga. Semua memang terjadi karena ada sebabnya. Gista yang menabur benih, dia sendirilah yang menuai semuanya.
"Dia setress banget mungkin sampai ngelakuin hal yang seperti tadi. Karena pernikahannya sama Om Faisal salah satunya."
"Om Faisal ayah dari anaknya. Harusnya Gista bersyukur ayah bayi tersebut mau bertanggung jawab walaupun tau bagaimana masa lalu Gista."
"Iya yah, untung bukan kakak yang tanggung jawab." Ucap Anya sambil tersenyum lega.
"Emang kalau aku terpaksa tanggung jawab, kamu bakal gimana?"
"Iya aku pasti sedih. Tapi aku berusaha menerima semuanya, aku akan anggep kalau kita memang gak berjodoh."
"Yaaahh, gak ada galau-galaunya gitu atau mungkin gagal move on gitu." Goda Yoga.
"Hmmm, gak ada kayaknya. Kalau gak move on move on nanti jalanin hidupnya tanpa semangat dong. Padahal selain urusan cinta-cintaan banyak hal yang bisa kita lakuin."
Yoga mengangguk setuju.
"Aku akan berusaha keras buat hubungan ini sayang. Kejadian kemarin bikin aku bener-bener takut kehilangan kamu. Setiap hari aku pengen ngehubungin kamu, tapi aku takut malah nyakitin kamu. Percaya sama aku yah, apapun yang terjadi aku gak akan khianati kamu."
"Hmmm, percaya gak yah?" Goda Anya.
"Loooh kok gitu. Harus percaya dong."
"Iya iya percaya sayaaangku cintaku." Jawab Anya tersenyum dan mengelus pipi Yoga gemas.
"I love youuu Anyaaa.."
***
Gista sadar. Ia melihat sekeliling, nampak Om Faisal duduk di kursi dekat tempat tidur Gista.
"Gista.." Panggil Om Faisal.
"Eehhhh..." Gista masih belum mampu berkata-kata.
"Kamu sudah sadar. Aku panggilin suster dulu." Om Faisal bergegas keluar.
Gista melihat sekeliling dan nampak Andre datang mendekatinya. Ia kaget dengan kehadiran Andre.
"Lu udah sadar?" Tanya Andre. Gista hanya bisa berkedip karena masih sangat lemas untuk berbicara.
"Gue harap lu bisa jaga bayi yang diperut lu. Bagaimana pun dia tetep adik gue. Gue harap lu bisa sadar dengan semua kejadian ini. Lu udah sakitin nyokap gue dan sekarang lu juga mau nyakitin bokap gue. Semoga lu bisa berpikir bahwa gak semua hal di dunia ini bisa lu dapetin dengan mudah. Kalau lu mau sesuatu yang instan, jangan salahin kalau konsekuensi yang lu ambil akan lebih besar."
Gista hanya bisa meneteskan air mata. Ia tak sanggup berkata-kata. Entah bagaimana Ia berusaha menata hidupnya kembali yang baginya sudah hancur lebur.
Tak berselang lama, Om Faisal dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Gista. Kondisi Gista baik dan stabil. Om Faisal tersenyum lega dan mengusap rambut istri mudanya. Gista tertidur kembali setelah mendapat suntikan obat.
Andre keluar ruangan rawat inap. Ia berpamitan pulang pada papanya karena ada pekerjaan yang harus Ia kerjakan.
Saat berjalan menuju parkiran, Ia melihat sosok yang dikenalnya. Selly.
"Selly." Panggil Andre.
Selly menoleh ke sumber suara, Ia kaget dengan sosok yang memanggilnya.
Selly ingin menghindar, namun terlambat. Andre memegang pergelangan tangan Selly.
"Kenapa kamu menghindar?"
"Aku sibuk, masih ada kerjaan." Andre melihat seragam yang dikenakan Selly bertuliskan nama rumah sakit.
"Kamu kerja disini sekarang?" Tanya Andre.
"Iya. Lepasin aku. aku mesti kerja lagi." Andre terpaksa melepaskan genggaman tangannya pada Selly. Setidaknya dia sudah tau bahwa Selly bekerja di rumah sakit ini. Lain kali Andre akan datang kembali untuk menemui Selly.
Selly berjalan meninggalkan Andre yang masih menatapnya.
"Maafin aku Selly. Aku akan perbaiki semua. Demi kita. Semoga kamu masih mau beri aku kesempatan." Gumam Andre.
Selly menuju ruangan Sonya. Ia bolak balik di depan pintu, ragu memutuskan untuk mengetuk pintu. Selly bingung bagaimana harus merangkai kata maaf atas semua perbuatannya. Belum sempat Selly memikirkannya, pintu terbuka dari dalam.
"Masuk aja." Ucap Sonya.
"Eeh, i iya." Selly tergagap.
"Aku liat kamu mondar mandir dari tadi di depan pintu. Ada apa memangnya?" Jelas Sonya.
__ADS_1
"Aku mau minta maaf. Gak seharusnya aku melibatkan pekerjaan untuk melampiaskan emosiku. Aku juga minta maaf sudah mengganggu hubunganmu dengan Ezza. Aku tau hubungan kami sudah lama berakhir. Mungkin aku hanya tidak terima Ezza akhirnya berpaling dari aku dan Airelle. Aku menyadari bahwa waktu Ezza mulai berkurang untuk Airelle, disaat itu aku merasa cemburu. Seharusnya dulu saat aku memiliki kesempatan, aku berusaha mendapatkan hati Ezza. Namun, aku tidak melakukannya. Aku terlalu sibuk meratapi masa laluku tanpa memperdulikan kebaikan Ezza. Mungkin ini yang namanya penyesalan." Selly tertunduk malu.
"Aku udah maafin kamu. Aku tau kamu tidak mencintai Ezza. Kamu hanya senang melihat kedekatannya dengan Airelle dan menggantikan sosok ayah kandungnya yang sebenarnya kamu rindukan, sehingga kamu merasa tidak rela jika nantinya Ezza berpaling dari Airelle dan menyayangi anaknya sendiri. Tapi Selly, coba kamu buka hati kamu buat ayah kandung Airelle. Dia pasti menyesali semuanya, aku yakin. Dia pasti akan bahagia mengetahui memiliki anak dari kamu."
Selly mengangkat kepalanya menatap Sonya. Ia bingung Sonya seolah mengerti perasaan ayah kandung dari Airelle, sama seperti sorot mata yang dilihatnya tadi. "Mungkinkah dia benar-benar menyesal?" Batin Selly.
Selly keluar ruangan Sonya dengan gontai. Entah kenapa Ia ragu untuk mengungkap semuanya pada ayah kandung Airelle. Ia terlalu takut jika kenyataannya akan menjadi pahit dan tidak sesuai dengan harapannya yang akhirnya Airelle lah yang merasakan kepahitan itu.
***
Pagi hari Mela terbangun dengan perasaan galau. Entah kenapa rindu menyeruak dalam batinnya. Ia kalah dalam pergolakan batin untuk tidak hanyut dalam kesedihan. Ia bangun sambil menitikkan air mata.
Wajah Vico masih terekam lekat dibenaknya. Vico datang dalam mimpi Mela semalam. Dengan senyum dan mereka bermain bersama di pantai. Berlari-lari saling mengejar seperti sedia kala saat masih bersama. Vico seolah mengucap sesuatu yang tidak bisa diingat Mela. Sembari mengusap kepala Mela dan akhirnya pergi meninggalkan Mela dengan senyum. Mela memanggil dan berteriak, namun Vico tak kembali.
Mela merasa sesak mengingat mimpinya yang terasa nyata. Pilu rasanya. Disaat Mela mulai terbiasa dengan keseharian, Ia disadarkan kembali dengan kesedihan. Mela menangis tersedu di pagi hari.
30 menit berlalu, Mela merasa sedikit tenang. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan hendak ke proyek untuk magang. Mela sekuat hati mencoba menata diri dan perasaannya.
Sesampainya di parkiran Mela turun masih dengan perasaan berkecamuk. Sebenarnya Ia ingin seharian berdiam diri di rumah untuk menenangkan diri, tapi itu tidak mungkin mengingat Ia sudah banyak tidak datang magang saat awal kepergian Vico. Sehingga mau tidak mau Ia harus melakukan kewajibannya.
Saat jam makan siang, Mela ingin tetap di proyek karena Ia tidak merasakan lapar. Namun, ponselnya berdering.
"Halo."
"Halo kak Iqbal, ada apa?"
"Lagi dimana?"
"Di proyek."
"Udah makan?"
"Belum kak, Mela belum laper."
"Eeehh, gak boleh gitu. Ayook makan dulu. Aku jemput kesana."
"Eeh tapi aku.." Telpon terputus sebelum Mela sempat berbicara. Mela terpaksa membereskan mejanya dan mengambil tasnya. Ia berjalan keluar proyek dan nampak Iqbal melambaikan tangannya.
"Aku lagi males makan kak." Mela memanyunkan bibirnya.
"Iya udah temenin aku aja. Mendadak aku pengen makan ramen."
"Mau makan dimana emang?"
"Ikut aku aja yukk."
Mobil Iqbal melaju ke sebuah restoran jepang. Ia memesan banyak makanan. Ada sushi, sashimi, ramen, katsu dan teriyaki. Mela kaget melihatnya.
"Kakak yakin abisin semua ini?"
"Iya liat aja. Jangan kaget kalau semuanya tiba-tiba habis."
Mela menggelengkan kepala melihat kelakuan laki-laki di depannya. Ia makan ramen dengan lahapnya. Menimbulkan suara makan yang membuat Mela menelan salivanya.
"Enak kak?" Mela bertanya melihat Iqbal yang makan tanpa jeda seperti orang kelaparan.
"Enak banget. Mau nyoba?" Mela semakin ingin mencoba saat Iqbal menyodorkan sumpit padanya.
"Coba aja yah kak, icip." Mela beralasan.
Iqbal tersenyum tipis melihat kelakuan Mela yang malu-malu mau.
"Sllluuurrrppppp." Mela menyeruput ramen dengan lahap. Sekali suapan Mela merasa belum puas namun malu untuk mengambil suapan kedua. Mela mengembalikan mangkuk pada Iqbal dengan terpaksa.
"Mau pesan juga?" Tawar Iqbal.
Mela mengangguk malu sambil tersenyum.
Iqbal memesankan ramen untuk Mela. Mela makan dengan lahapnya. Melihat Mela makan membuat Iqbal senang dan tenang. Sangking senangnya Iqbal refleks menyeka bibir Mela yang belepotan karena kuah ramen. Mela kaget, jantungnya berdegup.
"Enak banget yah sampe belepotan." Goda Iqbal.
"Eeh iya, enak banget." Mela mengambil tisu untuk mengelap bibirnya dengan kondisi pipi yang sudah merah merona.
"Maaf ya, tadi refleks karena liat kamu belepotan."
"I iya gak papa kak." Mela mencoba menenangkan diri yang deg-degan.
Mela dan Iqbal merasa kenyang setelah menghabiskan semua hidangan.
"Habis kan?" Goda Iqbal.
"Iya nih, habis." Mela tertawa. Kedua tertawa bersamaan.
"Yuk balik ke rumah sakit." Ajak Iqbal.
"Yuk."
__ADS_1
***
Anya dan Yoga berniat untuk menjenguk Gista di rumah sakit. Bagaimanapun mereka berdua tetap kasian dengan apa yang dialami Gista. Keduanya sampai di ruangan kamar Gista. Anya mengetuk pintu. Om Faisal membukakan pintu dan mempersilakan Yoga dan Anya masuk.
Anya menaruh buah yang dibawanya di nakas. Ia melihat kondisi Gista yang tertidur. Gista tadi sempat bangun dan minum obat, sehingga tertidur kembali. Efek biusnya juga masih membuat Gista lemas. Om Faisal nampak sedih dengan kondisi yang menimpa Gista.
"Saya gak nyangka dia akan tega menyakiti diri dan calon bayinya." Om Faisal tertunduk.
"Sabar yah Om. Semoga bayi dan ibunya lekas sehat kembali." Hibur Anya. Om Faisal mengangguk mendengar ucapan Anya.
"Iya Anya. Saya bersyukur mereka masih diberi keselamatan. Walaupun saya seburuk ini, saya tidak akan tega melihat bayi saya kenapa-kenapa. Saya tetap akan berjuang untuk buah hati saya." Yoga dan Anya terharu mendengar curhatan Om Faisal. Om Faisal merasa Ia telah mendapatkan karma atas perbuatannya. Kini saatnya Ia melakukan hal baik sebisa dan sekuat kemampuannya. Oleh karena itu, Ia bertekad membesarkan bayinya dengan baik. Tapi siapa sangka, ibu bayi tersebut nyaris membunuhnya. Namun, Om Faisal tetap bersabar. Ia tau ini semua konsekuensi atas perbuatannya yang lalu.
Anya dan Yoga pamit pulang kepada Om Faisal setelah melihat kondisi Gista yang sudah lebih baik pasca operasi.
"Kasian yah kak Om Faisal." Anya berbicara sambil menatap ke depan saat duduk di kursi penumpang.
"Iya, aku juga gak tega. Ia pasti shock banget dan takut bayinya kenapa-kenapa."
"Semoga bayinya sehat selalu. Apapun yang terjadi, bayi itu tidak berdosa. Kasian kalau harus menjadi korban keegoisan orang tuanya."
"Iya kamu benar sayang. Itulah pentingnya kesiapan untuk memiliki anak. Aku jadi banyak belajar dari kejadian Gista kemarin. Aku gak mau maksain kamu untuk masa depan kita. Biar semua berjalan semestinya. Sampai kamu benar-benar yakin sama aku dan mau kita menikah."
"Hmmm, kok jadi nyambung ke hubungan kita kak." Anya kebingungan.
"Iya enggak, aku kan cuma belajar dari hal kemarin itu. Ternyata wanita itu complicated."
Anya mengernyitkan dahi.
"Yang complicated itu cowok lagi. Udah complicated, banyak maunya lagi."
"Aku gak banyak maunya tuh. Cuma satu maunya, kamu doang."
"Huweeek, gombal banget deh kakak. Dasar lelaki, hobinya gombal."
"Aku gak gombal, itu kenyataan sayang."
"Iya iya deh. Terus kita mau kemana ini kak?" Anya melihat ke luar kaca mobil.
"Temenin cari jas bentar sayang."
"Buat apa?"
"Buat nikahannya Sonya."
"Loh bukannya kakak bilang kalau punya jas?"
"Punya sih, tapi udah kekecilan pas kemarin ku coba. Untung sempet nyoba. Coba pas sebelum acara baru nyoba, pasti kelabakan."
"Yaudah, ayok nyari. Sesuaiin sama dressnya Anya yah. Biar keliatan couple."
"Emmhh, mau banget nih keliatan couple an?" Goda Yoga.
"Emang kakak gak mau? Yaudah gak usah. Anya bisa pura-pura jomblo aja. Biar bisa kenalan sama temen-temen kak Sonya. Kan lumayan, sama dokter. Atau sama dokter muda juga boleh."
"Loh loh, jangan dong. Iya iya maaf sayang. Aku kan cuma bercanda."
"Tau aahhh, aku ngambek aja. Kakak ngeselin."
"Pliisss jangan ngambek dong. Aku mau banget couple an kok. Seneng banget malah."
"Enggak, gak usah couple-couple." Anya membuang muka dan memanyunkan bibirnya.
"Kalau manyun-manyun gitu, nanti kena cium loh." Goda Yoga.
"Iiihh apaan sih. Ogah Anya dicium-cium kakak. Kan kita bukan couple."
"Maafin aku sayang, jangan ngambek gitu dong. Aku mesti gimana biar kamu gak ngambek?"
"Hmmm, Anya gak bisa disogok begitu aja. Emangnya aku cewek apaan."
"Anya pliiisss dong. Aku gak jalanin mobilnya nih, aku parkir tengah jalan nih sampe kamu gak ngambek lagi."
"Eeehhh, kakak bikin macet nanti." Jalanan memang sangat padat. Jika Yoga berhenti di tengah jalan tentunya akan membuat keributan pengendara lain.
"Makanya jangan ngambek lagi. Pliiss. Aku gak bisa tenang nyetir kalau kamu ngambek."
"Iya deh iya. Aku gak ngambek lagi" Anya menyerah dan menyudahi sesi ngambeknya. Yoga tersenyum mendengarnya.
Keduanya sampai di mall dan mencari jas untuk Yoga. Saat mencobanya, Anya terpana dengan ketampanan Yoga. Anya menatap Yoga tak berkedip.
"Ganteng ya?"
"Iiih pede banget." Anya tersipu.
"Bagus gak?"
"Bagus kak. Ambil yang ini aja."
__ADS_1
Yoga membeli jas tersebut dan mereka memutuskan untuk pulang karena Anya harus menyelesaikan tugas akhirnya.