Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Berbeda


__ADS_3

Sepanjang film Mela tak habis menatap Iqbal di sampingnya. Ia merasa ada yang berbeda dari dirinya. "Sadar Mela.." Mela berusaha menyadarkan diri.


Iqbal asyik menonton film. Sesekali Ia mengajak Mela mengobrol tentang film tersebut, Mela hanya mengangguk dan menjawab sekenanya karena memang Ia tidak mengikuti film sejak awal. Mela tidak bisa fokus dengan film di layar.


"Bagus ya filmnya." Ucap Iqbal saat keduanya berjalan menuju pintu keluar.


"Haah? Eeh iya bagus kok kak." Jawab Mela.


"Mau makan dulu?"


"I iya boleh."


Mela mengikuti Iqbal dari belakang, Ia sengaja memberi sedikit jarak.


"Kemana? Kok jauh banget. Siniii.." Panggil Iqbal saat mendapati Mela masih cukup jauh di belakangnya.


"Kakak duluan aja gak papa. Mela ikutin dari belakang."


"Yeee kok gitu. Kita kan dateng barengan buat ngedate. Masa jaga jarak sejauh ini." Protes Iqbal.


"Yukk siniii." Iqbal meraih tangan Mela dan menggandengnya hingga sampai di resto. Mela hanya bisa terdiam sambil mencoba mengatur detak jantungnya yang makin gak karuan.


Mela dan Iqbal masuk ke dalam resto dan memilih tempat duduk. Tanpa sadar keduanya tidak melepaskan genggaman hingga sama-sama duduk.


"Mau pesen apa?" Tanya waitress yang membawa buku menu.


"Mau apa Mel?" Tanya Iqbal.


"Mela gak bisa liat menu kalau masih kakak gandeng." Bisik Mela mengingatkan Iqbal yang sontak membuat Iqbal sadar dan melepaskan genggamannya dengan malu-malu. Waitress yang melihat gerak-gerik Mela dan Iqbal juga menahan senyum.


"Aku pesan pangsit mie ayam yah mbak, sama minumnya lemon tea. Kak Iqbal apa?" Ucap Mela pada waitress dan kemudian menanyakan pesanan Iqbal.


"Aku pangsit mie bakso sama orange juice yah mbak."


Waitress meninggalkan Mela dan Iqbal yang nampak canggung. Keduanya salah tingkah.


"Maaf ya, tadi lupa kalau masih gandengan tangan." Ucap Iqbal.


"Gak papa kok kak, cuma kalau digandeng terus Mela gak bisa lihat buku menu. Tapi kalau udah gak liat buku menu, boleh kok digandeng lagi." Ucap Mela membuat Iqbal semakin grogi.


Iqbal meraih tangan Mela yang menyatu diatas meja. Ia menyatukan tangan kanan Mela dengan tangan kirinya. Pipi Mela bersemu merah.


"Tapi kalau mau makan mesti di lepas lagi gandengannya kak, nanti Mela gak bisa makan." Ucap Mela.


"Hmmm, gak mau. Nanti aku suapin aja makannya." Jawab Iqbal mulai berani.


"Iiih gak mauu. Malu, masa udah gede disuapin."


"Ngapain malu, justru itu yang so sweet. Bikin orang lain ngiri."


"Iiih gak mau aah. Mela bisa makan sendiri. Weeekkk." Ucap Mela menjulurkan lidah.


"Jangan sok imut gitu. Nanti aku makan baru tau rasa kamu." Iqbal tak tahan melihat Mela mengejek khas anak kecil dengan menjulurkan lidah. Bukannya jengkel, Iqbal justru semakin gemas dengan tingkah Mela.


Iqbal masih bermain dengan jari-jari Mela sambil menunggu pesanan mereka datang. Iqbal memandangi jari Mela yang kurus dan panjang. Memang perawakan Mela yang tinggi dan kurus menyebabkan jari-jari Mela yang lentik.


"Jari kamu panjang-panjang banget." Ucap Iqbal mengamati. Iqbal bahkan menempelkan kedua telapak mereka agar tau perbedaan ukuran dari tangan mereka.


"Tuh kan, jaraknya gak jauh beda. Padahal tangan aku udah tergolong besar." Ucap Iqbal mengamati.


"Emmh emangnya aneh kalau tangan cewek panjang-panjang gitu?" Tanya Mela.


Iqbal menggeleng.

__ADS_1


"Enggak aneh kok. Malah enak digenggam. Pas." Jawab Iqbal.


"Hmmm, gombal banget. Udah berapa banyak korbannya? Sampe masih ada yang minta balikan bahkan." Sindir Mela mengingat Selly yang dulu mengejar Iqbal.


"Siapa emang?"


"Iya siapa yah namanya. Aku juga lupa." Jawab Mela jutek.


"Cemburu?"


"Haaahh? Ngapain coba aku cemburu."


"Aku sayang sama kamu Mela." Ucap Iqbal tenang sambil menatap lekat ke arah Mela. Mela bersemu merah dan salah tingkah. Mela hanya terdiam sambil merasakan genggaman erat di tangannya.


"Melaaa.. Aku serius. Kamu gak perlu cemburu sama siapapun karena perasaan aku buat kamu. Aku rela nunggu kamu sampai siap buka hati untuk aku." Mela tetap diam. Iqbal tak melanjutkan ucapannya melihat tidak ada respon dari Mela.


Tak lama waitress datang membawa pesanan, Mela menarik tangannya dari genggaman dan makan dalam diam.


***


Dokter sudah membolehkan Anya pulang. Ia segera pulang ke rumah dan beristirahat. Tak lama merebahkan tubuhnya, ada notifikasi pesan yang masuk dalam handphonenya. Tak tanggung-tanggung, ada dua pesan baru yang masuk bersamaan. Yoga dan Adit.


"Sudah makan sayang?" Pesan dari Yoga.


"Aku di depan bawain kamu makanan. Keluar bentar ya." Pesan dari Adit.


Anya beranjak perlahan karena tubuhnya masih lemas. Ia segera keluar dan menemui Adit.


"Kak, ngapain repot-repot. Anya nanti bisa beli makan kok." Ucap Anya merasa sungkan.


"Gak papa kok, tadi aku sekalian beli makan. Pasti kamu juga belum makan. Udah gih makan dulu sana. Abis itu istirahat lagi."


"Iya kak, makasih banyak."


"Siap kak."


"Ooh iya Anya." Panggil Adit saat Anya hendak berbalik.


"Iya kak, kenapa?"


"Jangan lupa minum obat, biar cepet sehat dan bisa kerja lagi." Pesan Adit.


"Iya kak, makasih." Jawab Anya patuh dan memberi senyuman.


Anya masuk ke dalam kamar dan mencoba makan walaupun selera makannya belum pulih. Ia tetap harus makan agar bisa minum obat guna bisa cepat sehat. Anya teringat pesan Yoga yang tadi belum Ia balas. Anya segera mencari handphonenya yang Ia letakkan diatas nakas dan menekan tombol panggilan pada Yoga.


"Haloo.." Sapa Yoga dari seberang telpon.


"Haloo.. Lagi apa sayang?" Tanya Anya.


"Baru sampai kantor, abis makan siang sama Boy. Kamu udah makan?"


"Ini lagi makan sayang."


"Sayang.."


"Hmmm.. Kenapa?"


"Aku iri deh sama Boy." Ucap Yoga.


"Iri kenapa?" Tanya Anya sambil menyuap makanan.


"Tadi dia cerita kalau dia sama Gina makin mesra. Banyak lah ceritanya pengantin baru. Aku jadi ngiri, ngiri pengen jadi pengantin baru juga."

__ADS_1


Anya tersenyum mendengar suara manja Yoga yang ingin menjadi pengantin baru.


"Sabar yah sayang, kalau sudah waktunya pasti jadi pengantin baru." Ucap Anya menenangkan.


"Iya tapi kan jadi pengantin barunya nunggu kesiapan kamu. Kalau kamu siap, aku mah langsung gas polll supaya kita jadi pengantin baru."


"Hmmm, sabar yah kak. Anya bukannya gak mau nikah, tapi jujur Anya masih takut kak. Setiap wanita yang menikah akan menjadi seseorang yang mengalami perubahan paling banyak dibanding laki-laki. Laki-laki tetap bisa dengan leluasa bekerja. Sedangkan wanita punya tanggung jawab menjaga rumah dan merawat suami. Belum kalau nanti hamil dan punya anak, pastinya semua sangat berubah. Anya belum siap kak kalau harus meninggalkan pekerjaan demi kehidupan dan peran baru seperti itu. Anya berkaca dari kak Sonya. Dia terpaksa cuti karena kehamilannya rawan. Kalau itu terjadi sama Anya, Anya pasti akan dipecat dan selamanya berakhir di rumah aja." Jelas Anya panjang lebar.


"Iya sayang. Aku paham. Mungkin aku yang sedikit egois. Tapi bukankah pernikahan menjadi impian setiap wanita? Kalaupun kita menikah, aku tidak akan membatasi dan melarang kamu untuk bekerja."


"Pernikahan memang impian setiap wanita. Apalagi setelah mereka siap dan yakin dengan peran baru yang akan mereka hadapi nanti. Tapi Anya masih terlalu kekanakan untuk memahami semua itu kak. Maafin Anya yang masih belum dewasa dan ngecewain kakak." Ucap Anya sendu.


"Gak perlu minta maaf sayang. Aku akan berusaha memahami kondisi kita. Aku akan lebih bersabar." Jawab Yoga berbesar hati.


***


Andre melihat kalung emas yang sangat cantik. Ia membayangkan Airelle yang memakainya, pasti sangat cantik.


Setelah membeli kalung emas dengan liontin bulan sabit, Andre bergegas menuju rumah Selly. Ia turun dari mobil dan merapikan penampilannya.


Malam ini malam minggu. Malam biasanya para muda-mudi ngapel ke pacarnya. Tapi Andre justru ngapel ke anak kecil yang sangat cantik baginya. Tak lama memberi salam di depan pintu, Selly membukakan pintu. Andre terpana melihat Selly yang cantik di matanya. Tapi Ia sadar betul tak mudah mengambil hati dan kepercayaan Selly. Biar Ia mulai semua perlahan dengan mendekatkan diri pada Airelle.


"Ada apa, Ndre?"


"Mau ketemu Airelle bisa?"


"Sorry banget, Airelle udah tidur. Tadi siang gak mau bobok siang karena asyik main. Jadi sekarang udah tidur." Jelas Selly.


"Oooh gitu yah. Padahal aku ada sesuatu untuk Airelle." Ucap Andre dengan raut kecewa.


"Lain kali aja gimana kamu kasih ke Airelle. Aku gak tega bangunin dia soalnya."


"Iya deh gak papa. Aku titip ke kamu aja gimana?"


"Iya gak papa sih. Tapi kamu gak pengen ngasih langsung emang?"


"Gak papa kok, aku titipin aja ke kamu. Nanti next aku pengen liat Airelle pakai itu, pasti cantik banget."


"Persis seperti mamanya." Lanjut Andre dengan bergumam.


"Haah? Kenapa Ndre?" Tanya Selly yang tidak mendengar dengan jelas.


"Eeeh, gak papa kok. Aku nitip aja deh. Kasih ke Airelle yah."


"Oke nanti aku sampaiin."


"Emmmh, kamu sibuk gak?" Tanya Andre.


"Enggak sih. Kenapa?"


"Mau temenin aku jalan-jalan sebentar?"


"Jalan kemana?"


"Emmhh, kemana aja yang seru."


Selly berpikir sejenak dan menyetujui.


"Aku ganti baju sebentar."


Keduanya keluar menikmati malam minggu bersama layaknya pasangan.


***

__ADS_1


__ADS_2