
"Aku boleh tanya sesuatu gak Kak?" Tanya Anya saat menemani Yoga makan siang bersama.
"Boleh sayang, memang mau tanya apa?"
"Emh, bener Oki sempet nemuin kakak?"
Yoga sedikit kaget mendengar pertanyaan Anya. Ia menghentikan aktivitas makannya.
"Si Oki cerita ke kamu?"
"Emang penting yah aku tau darimananya."
"Ya enggak sih."
"Terus berarti Oki beneran nemuin kakak?"
"Iya, temen kamu itu jelasin semuanya dan minta maaf." Jawab Yoga seperti menyembunyikan sesuatu. Anya melihat gelagat yang aneh. Ia curiga perubahan sikap Oki padanya ada ikut campur dari Yoga.
"Yakin cuma ngobrol itu doang? Gak ada yang lain?" Anya mencoba memancing.
"Ya sama aku minta dia hati-hati aja ke depannya. Biar gak ngerugiin kamu." Jawab Yoga mencari aman.
"Maksudnya hati-hati dan gak ngerugiin Anya itu gimana Kak?"
"Iya gitulah pokoknya." Jawab Yoga mencoba mengakhiri obrolan tentang Oki.
"Kakak nyuruh Oki ngejauhin Anya?" Tanya Anya to the point. Yoga terdiam kaget dengan pertanyaan Anya.
"Bukan begitu Nya. Aku cuma minta dia supaya lebih hati-hati. Jaga jarak supaya nantinya kamu gak terlibat masalah lagi." Terang Yoga.
"Berarti intinya kakak nyuruh Oki buat gak temenan sama Anya, gitu?"
"Bukan gitu Anya. Maksud kakak cuma nantinya kamu gak terlibat masalah apapun lagi. Aku cuma takut gitu aja."
"Enggak kak, bukan itu alasan kakak. Aku yakin. Anya gak nyangka ya kakak sampe tega bilang kayak gitu ke Oki. Asal kakak tau, Anya sampe bingung kak, apa salah Anya sampe Oki sahabat Anya ngejauhin Anya begitu aja."
"Tapi sayang, dengerin aku dulu. Kamu udah punya aku, kamu bisa ceritain semua masalah kamu ke aku."
"Cukup Kak. Anya tau kakak pacar Anya, tapi kakak gak berhak mengatur pertemanan Anya. Aku sudah dewasa, aku bisa menentukan pergaulanku sendiri kak."
"Iya tapi aku cuma mengatur sama Oki aja. Aku gak mau nantinya hal buruk terjadi lagi."
"Asal kakak tau, aku kenal Oki jauh lebih lama daripada aku kenal kakak. Plis kak, jangan pernah atur pergaulan Anya seperti ini. Aku bener-bener gak suka." Ucap Anya emosi.
"Aku larang tuh cowok deket sama kamu karena aku tau dia dulu gimana sama kamu." Yoga ikut tersulut.
"Anya rasa itu bukan untuk kebaikan Anya, tapi karena kecemburuan kakak sama Oki. Asal kakak tau, kalau kami mau pacaran, dari dulu kak. Gak perlu nungguin pacaran sama kakak bahkan. Anya bener-bener kecewa sama yang kakak lakuin."
"Enggak gitu Anya. Kamu tau sendiri apa yang dilakuin mantan pacarnya sama kamu. Berarti bukan aku aja yang merasa hubungan kalian gak seharusnya seperti itu."
"Anya tanya sekarang, apa yang Anya lakuin sama Oki? Hubungan seperti apa? Hah? Jawab kak. Aku dan Oki berteman baik Kak. Setiap Anya kesulitan, kesusahan kuliah di teknik, dia yang bantu Anya. Dia bahkan ngelindungi Anya. Hubungan kita kayaknya sodara. Tapi hanya karena pikiran kakak yang gak karuan, kakak hancurin pertemanan kami. Gak nyangka aku kakak tega seperti ini. Anya memang pacar kakak, tapi Anya punya kehidupan kak. Anya gak bisa diatur seperti itu. Anya bisa membedakan mana yang baik buat Anya dan mana yang tidak baik." Anya meninggalkan Yoga begitu saja.
"Anya.. Tunggu.. Dengerin dulu. Jangan marah gitu ." Yoga menahan Anya pergi.
"Apa lagi yang harus Anya dengerin Kak? Percuma Anya dengerin toh kakak akan kekeuh dengan alasan kakak, alasan yang membenarkan tindakan kakak." Anya melenggang pergi. Yoga merasa sangat bingung. Jika membiarkan Anya tetap menjalani pertemanannya Ia merasa tidak rela, tapi jika sebaliknya Anya akan marah padanya karena membatasi pergaulan Anya. Yoga memukul meja kerjanya dan mengacak rambutnya kesal.
***
Eric datang ke rumah sakit untuk menjenguk kondisi Mela. Ia tau bahwa Mela pasti merasa sangat terpuruk dengan kehilangan Vico. Eric juga sangat merasa kaget dan kehilangan saat mendengar berita meninggalnya Vico. Dia mengenal Vico adalah sahabat yang baik.
Memang mereka baru dekat setelah tahun-tahun terakhir karena sudah banyak teman yang lulus. Namun, kedekatan yang singkat itu sangat berkesan. Bagaimana pribadi Vico yang sangat positif. Dulu saat melihat Vico sangat mencintai Mela pun Eric merasa hal tersebut sangat konyol. Vico sampai rela berusaha merebut hati Mela yang jelas-jelas suka gonta ganti pacar. Namun, Eric melihat hasil dari usaha Vico. Mela yang awalnya main-main dengan Vico merasakan keseriusan dari Vico dan hubungan mereka yang sangat mesra.
Eric sampai di depan kamar inap Mela, Ia mengetuk pintu. Tak berapa lama Ia membuka pintu.
__ADS_1
"Permisi." Ucap Eric melihat ke dalam kamar sambil memegang gagang pintu.
"Masuk kak." Mela menyuruh Eric masuk.
"Hai Mel." Sapa Eric pada Mela yang sedang berbaring.
"Halo tante.." Sapa Eric juga pada Mama Mela yang ada disamping Mela.
"Kak Eric kok bisa tau Mela disini? Dapet info dari mana?"
"Dapet info dari Ika. Kemarin sempet nanyain kondisi lu ke Ika dan dia cerita kalau lu opname. Lu gimana kondisinya?" Tanya Eric sambil menaruh bingkisan di meja sebelahnya.
"Gak usah repot-repot kak. Makasih banyak ya. Sudah baikan kok kak, paling besok sudah bisa pulang"
"Iya sama-sama. Wah syukur deh kalau udah bisa pulang."
"Oiya ma, ini temennya Vico kuliah." Mela mengenalkan Eric pada mamanya di sampingnya.
"Halo tante , saya Eric temen deketnya Vico." Ucap Eric memperkenalkan dirinya kepada mamanya Mela sambil memberikan seutas senyum, mama Mela membalas dengan senyuman dan anggukan. "Kamu yang sabar yah Mel. Senantiasa diberi kekuatan." Ucap Vico sambil melihat kondisi Mela. Mela nampak sangat kurus. Matanya sembab walaupun Ia mencoba mengukir senyum. Terlihat kesedihan menyelimuti hatinya. Entah sampai kapan hatinya bisa pulih seperti sedia kala.
Kehilangan memang sangat membekas di hati, apalagi kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita. Kehilangan yang membawa segala pelajaran berharga. Tentunya menjalani sisa hidup selanjutnya bagaikan terkurung dalam penjara. Terasa sesak namun harus tetap bertahan.
Tak lama Ika datang, Ika memang sudah berjanji pada mamanya Mela untuk membantu menjaga Mela. Mama Mela adalah pekerja kantoran. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama sehingga meminta bantuan Ika menjaga Mela.
"Haloo.." Sapa Ika sambil membuka pintu. Ia kaget melihat ada Eric di dalam. Jantungnya berdegup kencang, Ia berusaha menutupi rasa gugupnya. Padahal setelah Ia menolak Eric, mereka masih sering bertukar kabar. Namun, baru sekarang mereka bertemu langsung setelah momen penolakan Ika.
"Eeh ada kak Eric. Halo tante. Halo Mel." Sapa Ika pada semuanya.
"Waah untung nak Ika datang cepet. Tante ada rapat mendadak. Tante pamit dulu yah." Mama Mela pergi meninggalkan mereka bertiga, tidak lupa mencium kening Mela terlebih dulu sebelum pergi.
"Gimana kondisi lu?" Tanya Ika.
"Udah enakan kok. Besok kayaknya udah bisa pulang."
"Jangan gue yang diteror dong. Ini aja yang diteror." Jawab Mela sambil nunjuk Eric.
"Kalau yang neror begini ya gak nolak gue. Apalagi plus disuapin juga." Ucap Eric membuat Ika tersipu.
"Iih apaan sih." Ika menutupi rasa malunya. Ika sebenarnya bahagia bisa bertemu Eric disini. Tapi entah kenapa Ia merasa sudah kehilangan Eric setelah kejadian di depan kosannya itu. Ika merasa harus belajar melupakan Eric, karena memiliki perasaan sekarang pun akan terlambat. Eric juga lambat laun akan berusaha melupakannya pasti. Hal tersebut terus terlintas di pikiran Ika. Ika berusaha menganggap Eric hanya sebatas teman.
Eric pamit pulang setelah beberapa saat menjenguk Ika. Kini hanya ada Mela dan Ika di kamar.
"Lu udah makan?" Tanya Ika.
"Udah kok."
"Yaudah, istirahat aja dulu kalau gitu Mel."
"Ka, lu yakin mau kayak gini terus." Ucap Mela.
"Kayak gini apa Mel? Ngejagain lu?" Tanya Ika tidak paham arah pembicaraan Mela.
"Bukan, maksud gue sampe kapan lu boongin perasaan lu sendiri. Gue tau lu suka kan sama Kak Eric."
"Enggak Mela. Gue biasa aja. Kita cuma bertemen kok." Ucap Ika bingung. Ia merasa tidak ingin menelan ludahnya sendiri. Dulu Ia bersikeras tidak mau mendapatkan playboy, masa iya sekarang harus jatuh ke pelukan playboy. Kalaupun jadian, nantinya berujung sama seperti dengan mantannya, berarti Ia merasa telah melakukan kebodohan dua kali.
"Gue tau lu gak mau keliatan bego milih cowok. Tapi yang namanya perasaan sayang dan cinta kadang memang bikin kita kayak orang bego, Ka. Mau sekeras apapun kita lawan, yang ada rasa itu justru tumbuh makin besar. Gue cuma gak mau lu ngerasain sakitnya kehilangan kayak yang gue rasain."
"Mel, lu jangan ngomong gitu. Lu masih punya gue yang bakal nemenin lu."
"Iya iya gue tau. Intinya gue cuma gak mau lu sakit karena kehilangan. Jadi plis jangan overthinking. Ikuti perasaan lu aja."
Ika mengangguk mendengarkan petuah dari Mela.
__ADS_1
"Oiya, Anya mana?" Tanya Mela.
"Dia lagi sidang proposal."
"Ya ampun iya, gue lupa. Kasian banget, dia sidang dan sahabatnya kita berdua gak ada yang dateng. Eeh tapi seenggaknya ada Oki."
Ika menggeleng.
"Oki juga gak dateng menurut gue."
"Loh emang kenapa? Gue ketinggalan gosip apaan?"
"Kemarin Anya curhat kalau ternyata pacar Anya nyuruh Oki ngejauhin Anya. Pantesan selama ini Anya tuh ngerasa Oki ngehindar dari dia. Ya awalnya gue kira perasaan dia doang, eeh beneran dong. Pas kita lagi di kantin, Oki lagi sama cewek barunya. Ngeliat Anya pun gak disapa."
"Cewek baru? Siapa ceweknya Oki?"
"Sisil. Adik tingkat, yang putih anaknya."
"Iya iya , kayaknya gue pernah tau yang namanya Sisil. Terus terus gimana sekarang Oki sama Anya?"
"Iya masih jauh-jauhan. Anya kemarin bilang mau ngobrolin sama Oki. Cuma gue rasa mending dia fokus sama proposalnya dulu. Daripada gak maksimal kan. Abis sidang baru diobrolin. Mungkin nanti atau besok dia bakal ngobrol sama Oki. Yang gue heran ngapain juga pacar Anya sampe ngelarang segitunya. Apa karena kasus kemarin ya? Jadi dia kira Oki itu kriminal gitu mungkin."
"Kalau feeling gue sih, pacar Anya cemburu buta. Secara mantan Oki aja sampe berbuat kayak gitu sama Anya. Pasti kedekatan Anya dan Oki buat pacarnya Anya juga ketar ketir."
"Yaelah, kirain orang yang lebih tua bakal dewasa. Ternyata masih childish juga ya."
"Iya itu yang gue bilang, kalau udah cinta itu bikin orang bego."
"Bener berarti teori lu." Jawab Ika mengangguk.
"Semoga cepet selesai urusan Anya sama Oki. Mereka bisa akur lagi."
"Iya, gue juga gak tega liatnya. Anya kayak galau gitu soalnya."
***
Anya keluar dari ruangan sidang, dia berhasil menyelesaikan dengan lancar. Saatnya Ia melanjutkan skripsinya karena targetnya adalah lulus di semester ini. Semester ini Anya hanya mengambil skripsi untuk kuliahnya. Namun Ia tetap mengikuti kelas bersama teman-temannya karena sudah mendapat ijin dosen untuk mengikutinya. Anya mengikuti kelas tersebut karena materi yang cocok dengan tema skripsinya, Ia berharap bisa mendapatkan ide dalam pengerjaan penelitiannya nanti.
Anya melenggang ke parkiran. Tidak ada sahabatnya yang datang. Mela dan Ika dirumah sakit, Anya memahami kondisi tersebut. Oki? Anya tak habis pikir Oki tidak datang karena menjauhinya. Menjauhi karena permintaan pacar Anya sendiri, sungguh ironi. Anya menerawang jauh, Ia bersender di jok mobil menenangkan diri karena belum ada tujuan untuk berkendara. Ia tak menyangka dibalik sikap Oki yang menjauhinya ada Yoga , sang kekasihnya yang menyuruh Oki. Anya juga bingung bagaimana harus bersikap pada Yoga. Yang jelas untuk saat ini Anya merasa sangat kecewa. Sebegitu tidak percayanyakah Yoga padanya? itu yang sedang Anya rasakan. Berhari-hari Ia memikirkan sebab Oki menjauhinya yang nyatanya adalah ulah Yoga. Ia merasa sangat bodoh.
Beberapa hari setelah bertemu Yoga di kantor polisi Anya tidak pernah menerima panggilan Yoga. Ia merasa kesal padanya. Ia membiarkan Yoga begitu saja. Tidak ada kabar yang Ia sampaikan juga beberapa hari ini.
Lamunan Anya buyar ketika ada ketukan di kaca mobilnya, membuat Anya terperanjat. Yoga datang menemuinya. Anya terpaksa turun dari mobil.
"Kenapa Kak?" Tanya Anya.
"Kamu masih marah?"
"Aku marah atau enggak juga gak penting."
"Maafin aku. Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu."
"Terbaik kakak bilang? Anya rasa enggak. Anya rasa yang kakak lakuin hanya untuk ego kakak sendiri."
"Tapi Nya, aku gak mau suatu saat nanti ada hal buruk."
"Plis stop kak. Dengan kakak ngelakuin ini semua aku makin tau, seberapa besar kakak gak bisa percaya sama Anya."
"Aku percaya sama kamu Nya. Aku gak percaya sama laki-laki di luar sana."
"Enggak kak, kakak gak percaya sama Anya. Kakak renungi baik-baik perasaan kakak. Anya bukan cewek bego kak, Anya tau batasan laki-laki yang deketin Anya dengan ada maksud lain atau enggak. Makanya saat Anya yakin sama kakak, Anya bilang sejujurnya sama Eka. Karena apa? Karena Anya tau niat Eka ke Anya dan Anya gak mau ngasih harapan palsu buat dia. Tapi Oki? Dia sahabat Anya kak, dia udah kayak saudara buat Anya. Sebelum ada kakak , dia selalu bantu Anya dengan tulus. Anya bener-bener kecewa kak."
Yoga merenungi ucapan Anya. Ia merasakan kecemburuan memang saat Oki jujur padanya bahwa awal bertemu Anya rasanya tidak ada laki-laki yang jatuh cinta padanya. Namun, saat Oki mulai mengenal Anya perasaan itu sirna dan dekat dengan Anya sebagai sahabat lebih baik baginya. Perasaan tertariknya menguap begitu saja. Tapi tetap saja bagi Yoga hal itu menyakitkan bagi dirinya hingga akhirnya Ia meminta dengan serius Oki menjauhi Anya. Yoga sangat gelap mata saat itu. Anya masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan Yoga seorang diri.
__ADS_1