Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Berpisah


__ADS_3

Anya kaget ketika sedang di kampus, Ia mendapati nomor tidak dikenal menelponnya.


"Halo.."


"Halo, Anya. Ini saya mamanya Yoga."


"Ooh iya, halo tante."


"Bisa kita bicara berdua?"


"Bisa tante."


"Kalau gitu kita ketemu di Mix Cafe. Bagaimana?"


"Baik tante, saya segera kesana."


Perasaan Anya sedikit tidak enak. Namun, Ia berusaha menepis semuanya. Ia berusaha positif thinking bahwa mama Yoga tidak akan berbuat nekat dengan memisahkan dia dan anaknya yang jelas-jelas saling mencintai.


"Tante.. Apa kabar?" Sapa Anya ketika melihat mama Yoga sudah sampai di cafe dan sedang duduk menanti kedatangan Anya dengan segelas minuman di meja.


"Baik. Duduk Anya." Anya segera duduk di kursi depan berhadapan dengan mama Yoga.


Tak lama waitress menghampiri Anya untuk mencatat pesanan Anya.


"Lemon tea satu." Pesan Anya.


"Ada apa tante?" Tanya Anya sepeninggalan waitress.


"Begini Anya.." Mama Yoga berusaha menata kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Belum sempat mama Yoga mengucapkan apa yang diinginkan, waitress kembali datang membawa pesanan minuman Yoga.


"Terima kasih." Ucap Anya.


"Anya.. Maaf sekali kalau apa yang tante ucapkan nanti menyakiti hati kamu."


Anya sedikit kaget mendengar ucapan mama Yoga. Ia mencoba tenang dengan menyedot lemon tea di hadapannya.


"Anya.. Tolong kamu putuskan hubungan kamu dengan Yoga. Saya mohon."


"Tapi tante, saya dan Yoga saling mencintai. Kenapa tante ingin saya dan Yoga putus? Yang justru akan membuat Yoga sedih."


"Jadi, Gista hamil. Dia bilang kalau anak yang dikandungnya adalah anak dari Yoga. Tante dan Om berencana akan menikahkan mereka sebelum berita ini menyebar dan berpengaruh pada bisnis Om. Tante mohon dengan sangat, akhiri hubungan kamu dengan Yoga."


"Gista hamil?" Anya kaget dan shock dengan penuturan mama Yoga.


"Iya Anya. Tante tidak mau cucu tante tumbuh tanpa tanggung jawab dari ayahnya. Mau bagaimanapun, bayi yang dikandung Gista adalah penerus keluarga kami."


"Tapi apa yakin tante, bahwa itu adalah anak Yoga? Apa ada bukti?"


"Untuk sekarang memang tidak bisa dibuktikan karena belum sampai usia kandungan untuk bisa dilakukan tes DNA. Tapi Gista bilang bahwa ayah dari bayinya adalah Yoga."


"Lalu bagaimana dengan Yoga, tante?"


"Yoga memang tidak mengakui pernah melakukan dengan Gista. Tapi itu semua tante yakin karena Ia takut pada om dan tante yang akan marah padanya. Tentunya kami ingin Yoga bisa bertanggung jawab atas semua perbuatannya."


"Tapi tante, kalau memang Yoga bicara yang sebenarnya, bagaimana?"


Mama Yoga terdiam cukup lama.


"Mungkin, itu jalan Yoga dan Gista berjodoh."


Percakapan panjang itu berakhir dengan kesimpulan, hubungan Anya dan Yoga tidak mungkin bisa dilanjutkan lagi. Mama Yoga sudah pergi sejak tadi, Anya masih duduk di kursinya. Dadanya terasa sesak mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Semua percakapan dengan mama Yoga terekam jelas di pikirannya, berulang terputar di ingatannya.


Anya beranjak, Ia berjalan dengan gontai menuju mobil. Setelah masuk dalam mobil, tangisnya pecah.


Dalam hati kecil Anya, Ia tidak percaya bahwa Yoga adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Gista. Namun, Ia tidak ada kuasa apapun. Kedua orang tua Yoga memilih menikahkan Yoga. Jika Ia bersikeras bertahan dengan Yoga, tentunya hal itu akan sangat sulit.


Hati Anya sangat sakit. Baru kali ini Ia merasakan yang namanya patah hati. Rasanya dadanya sesak, dan hanya tangis yang bisa meredakan rasa sesak itu. Anya menangis cukup lama, matanya sudah nampak bengkak. Tangisnya terhenti karena adanya panggilan telepon. Yoga.


"Halo." Ucap Anya membuat suaranya senatural mungkin sambil mengusap air matanya.


"Halo Anya. Kamu lagi dimana?"


"Aku di jalan kak. Kenapa?"

__ADS_1


"Aku mau ketemu sayang, ada yang mau aku bicarain."


"Sama, ada yang mau aku bicarain juga kok. Ketemu sekarang atau nanti malam?"


"Nanti malam, aku jemput ya?"


"Gak usah kak, aku bawa mobil sendiri aja. Biar kakak gak bolak balik." Anya membuat alasan. Padahal Ia tau jelas tujuannya bertemu Yoga nantinya. Jika Ia hendak memutuskan hubungan saat bertemu, akan sangat canggung jika Ia pulang bersama dengan Yoga.


"Ooh ya udah kalau gitu. Nanti aku shareloc cafenya ya."


"Iya kak."


Sambungan telpon terputus. Anya menarik nafas panjang untuk mencari ketenangan. Setelah cukup tenang Ia mengendarai mobilnya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan bergumul dengan ranjangnya.


***


Sonya sedang asik bercengkerama dengan dokter magang di rumah sakit. Ia melihat Iqbal berjalan dengan lesu menuju ruangannya. Sonya yang melihatnya segera pamit kepada dokter magang dan mengejar Iqbal.


Sonya langsung nyelonong masuk ke ruangan Iqbal. Iqbal yang mengetahui, bertingkah tak acuh, Ia sedang malas berdebat atau berargumen.


"Kenapa, Bal?"


"Gue ngerasa galau."


"Galau masalah apa? Kerjaan?"


Iqbal menggeleng.


"Pasangan hidup." Iqbal menghela nafas kasar.


"Lu tau gak, gue kerja dari pagi sampai malam. Weekend pun gue kerja disaat dokter lain menikmati liburannya."


"Iya karena lu kan cucu pendiri rumah sakit ini. Lu dokter dan lu cowok pula. Jadi ya pasti tanggung jawab akan jatuh di tangan lu."


"Tapi kalau gue idup begini terus, gue bakal jadi bujang lapuk."


"Emang lu udah ada gebetan? Kok tumben sampe segalau ini?" Tanya Sonya.


"Gebetan sih ada. Tapi tampaknya sampai kapanpun perasaan gue gak bakal dapat balasan. Itu kayaknya yang bikin gue galau akut." Curhat Iqbal.


"Lu kenal kok. Gak usah repot-repot. Gue udah deket sama dia. Tapi emang kedekatan ini cuma sebatas kakak dan adik. Menyakitkan banget." Sonya memandang sepupunya dengan pandangan tak tega.


"Lu sabar ya. Gue doain, lu segera dapat wanita yang akan nerima lu apa adanya. Dengan segala kesibukan lu, dia akan tetap mengerti dan gak menjadikan itu semua masalah."


"Makasiiihh ya Nya." Sonya mengangguk.


"Lu udah makan? Badan lu kurusan Nya." Iqbal menatap Sonya dari atas hingga bawah.


"Gue udah makan, salad."


"Lah, kenapa makan salad? Lu udah gak doyan ayam geprek?"


"Gue kan diet. Biar gaun gue bagus pas dipake nikahan."


"Ya ampun Sonya. Segitu amat lu. Yakin nih gak mau makan lagi? Gue pesen ayam geprek aah. Lu beneran gak mau?"


"Iiih Iqbal, gue gak kurus-kurus nanti. Malah gak cukup nanti gaunnya."


"Yaudah kalau gak mau, gue pesen sendiri." Iqbal mengambil handphonenya di meja memesan makanan secara online.


"Eemhh lu beneran mau pesen?"


"Beneran lah, gue belum makan siang. Lu mau kagak? Kalau mau gue pesenin sekalian."


"Aduuhhh, yaudah kalau lu emang maksa. Gue kan orangnya gak suka dipaksa. Jadi gue mau deh sekalian, yang dada aja yah, biar gak merasa bersalah banget kalau makan."


"Yeeeyyy, emang lemah iman lu. Diet ya diet aja." Keduanya tertawa bersama.


***


Permintaan pertanggungjawaban Gista bukan hanya berdampak pada Yoga, Gina, adiknya juga mendapat dampaknya. Gina sekarang sulit mendapat ijin keluar rumah, karena mama dan papanya paranoid dengan apa yang terjadi pada Gista. Gina terpaksa membatalkan janjinya dengan Boy.


Dalam hati Gina, sejujurnya Ia memiliki perasaan pada Boy. Ia pun tau bahwa Boy juga menyukainya. Namun, Ia bersikeras untuk nampak terlihat biasa saja di depan Boy. Semua dilakukan karena Ia sudah lelah dengan berpacaran.


Banyak lelaki yang mendekati Gina, namun melihat respon Gina yang nampak tidak tertarik dengan pacaran, perlahan lelaki itu mundur dengan sendirinya.

__ADS_1


Berbeda dengan Boy, saat tau Gina sudah lelah menjalani pacaran, Ia justru membiarkan Gina bebas. Hanya satu hal yang diucapkan Boy yang membuat Gina tak bisa lepas dari bayang sahabat kakaknya tersebut. "Bebaskanlah dirimu selagi ada waktu, jika sudah waktunya tiba, aku akan mengikat kamu selamanya dalam kebahagiaan."


Kalimat tersebut membuat Gina berdebar. Namun, tetap baginya jika harus berpacaran akan sangat membuang waktunya. Beberapa kali Gina bertengkar dengan pacarnya karena masalah waktu Gina yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dua kali gagal berpacaran dengan alasan sibuk bekerja, Gina akhirnya memilih sendiri dan membiarkan jodohnya diatur oleh yang kuasa.


"Sorry ya kak, aku gak bisa bebas nongkrong sekarang." Ucap Gina kepada Boy di sambungan telpon.


"Kenapa memang?"


"Soalnya mama papa lagi marah besar sama kak Yoga. Dan biasa, aku pasti kena dampaknya."


"Marah kenapa memangnya? Kok bisa sampai kamu kena dampaknya?"


"Jadi, beberapa hari lalu, Gista, cewek yang dijodohin sama kak Yoga itu ketauan kalau hamil. Bilangnya anak dari kak Yoga dan minta pertanggungjawaban kak Yoga. Nah dampaknya buat Gina, aku jadi gak bisa bebas keluar rumah. Mama papa kayak masih parno gitu sama kejadian Gista yang hamil di luar nikah. Jadi deh Gina sekarang dikurung begini. Keluar rumah kalau kerja doang. Itupun seringnya pergi sama papa. Gimana mau cepet dapet jodohnya." Keluh Gina.


"Terus Yoga gimana? Yakin kamu itu anaknya Yoga?" Tanya Boy masih kaget mendengar cerita Gina.


"Ya aku juga agak gak percaya kak. Tapi gimana coba cara buktiinnya?"


"Iya juga sih. Tes DNA pun gak bisa asal dilakuin. Terus kakakmu sekarang gimana?"


"Kakak juga sedikit tertekan. Sekarang kakak tinggal dirumah, sering ribut sama mama papa karena dipaksa tanggung jawab. Kak Yoga pasti bingung. Entah kenapa, aku ngerasa kalau kak Yoga itu jujur. Tapi gimana cara ngebuktiin anak dikandungan itu bukan anak kak Yoga? Sebelum nantinya mereka terpaksa dinikahkan."


"Iya jalan satu-satunya kalau bukan tes DNA, ya berusaha nyari siapa bapak yang sebenarnya."


"Caranya?"


"Iya itu belum kepikiran caranya gimana."


"Iya nanti kalau kakak kepikiran ide, kabarin ya."


"Iya aku kabarin nanti. Loh tapi bukannya kamu malah seneng kakakmu nikah?"


"Seneng sih seneng kak, tapi kalau nikahnya memang dengan jodohnya, dengan orang yang dia sayang. Bukan dengan paksaan begini. Aku juga gak tega jadinya."


"Kalau seandainya Yoga udah nikah, aku boleh enggak ngelamar kamu?" Tanya Boy membuat Gina berdebar.


"Emmhhh, apaan sih kak. Udahan jangan bahas yang aneh-aneh. Kak Yoga gak akan nikah karena paksaan begini."


"Iya iya sorry tentang pertanyaanku."


***


Anya masuk ke rumahnya. Ia bergegas naik ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Lelah menangis membuatnya mengantuk. Ia terlelap dalam tidurnya.


"Anya.." Sapa Yoga dengan setelan jas, disamping Yoga berdiri wanita dengan gaun putih. Anya melihat wanita itu, Gista.


"Hai Anya. I'm a winner. And you a loser." Bisik Gista di telinga Anya. Sungguh membuatnya geram mendengar itu semua. "Makanya kalau mau menang, kayak gue, jangan sok suci." Ucap Gista dengan senyum sinisnya.


Anya melihat sekelilingnya, pesta pernikahan yang sangat mewah. Dengan Yoga dan Gista duduk di kursi pelaminan sambil bercanda tawa. Hati Anya teriris, perih melihatnya. Yoga yang selama ini mengejarnya, mengucap sangat menyayangi dan mencintainya, nyatanya bisa berbahagia dengan wanita lain. Bahkan ada kehadirannya di pesta tersebut tidak membuat Yoga canggung bermesraan dengan istrinya.


"Mungkin Ia sangat menanti buah hati bersamanya." Batin Anya melihat Yoga tersenyum sumringah sambil mengelus-elus perut Gista. Gista tak kalah bahagia, Ia juga memegang tangan Yoga dan berbisik manja di telinga Yoga sambil melirik Anya yang sedari tadi tidak lepas pandangan ke arah mereka.


Anya hanya bisa pasrah. Di keramaian pesta itu, Ia merasa kesepian dan sakit teramat dalam. Ia menyesali keputusannya datang ke pesta pernikahan mantan kekasihnya. Walaupun sudah berstatus mantan, tapi perasaan sayang itu tidak bisa pudar begitu saja. Anya merasa terjebak sendirian dalam perasaan cintanya, sedangkan Yoga sudah melangkah maju sendiri bersama wanita lain, meninggalkannya ditempat yang gelap dan menyiksa.


Anya terdiam menatap mesranya pasangan yang menjadi raja dan ratu di malam itu. Tak terasa bulir air mata menetes. Membuat riasan Anya sedikit luntur. Anya menangis sangat keras di sana tanpa memperdulikan pandangan orang lain. Beberapa orang yang melihat Anya menjadi panik mendapati Anya menangis dengan kencang.


Tak lama ada sosok laki-laki yang Ia kenal mendekatinya, Ia memegang bahu Anya yang bergetar karena menangis tersedu-sedu. "Tenang Anya. Tarik nafas. Tenangin diri kamu, jangan nangis disini." Anya hanya memandang lelaki yang berdiri di depannya. Eka. Bukannya berhenti menangis, Anya justru semakin menjadi dan menangis semakin kencang.


"Nyaaa... Anya.... Sadar Nyaaa.. Woi, banguuun!" Anya terperanjat dari tidurnya. Ternyata itu semua hanya mimpi. Perasaannya menjadi tidak enak karena mimpi yang buruk itu tadi. Ia mendapati kak Sonya berdiri disamping kasurnya.


"Kenapa kak?" Tanya Anya sambil mengucek-ngucek matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih sangat terasa.


"Kamu yang kenapa, tidur kok sambil nangis-nangis gitu. Ngigau kok sambil nangis begitu. Mimpi apa coba?"


"Haaah iya kah? Mimpi apa yah. Anya juga lupa mimpi apa." Ucap Anya pura-pura tidak ingat dengan mimpinya.


"Yaudah kalau gitu cepetan turun gih."


"Cepetan turun kenapa kak? Emang ada apaan?"


"Ada pacarmu tuh di bawah. Si pak polisi Yoga nungguin dari tadi."


"Hah, Yoga." Gumam Anya.


Sonya segera melenggang keluar kamar Anya. Anya melihat ponselnya, ada banyak panggilan masuk dan pesan singkat dari Yoga. Ia juga melihat jam, ternyata hari sudah malam. Ia tertidur cukup lama, mungkin efek lelah karens menangis di parkiran siang tadi.

__ADS_1


__ADS_2