
Setelah kondisinya membaik, Gista sudah diijinkan pulang. Om Faisal merasa lega mendengarnya. Om Faisal membantu Gista untuk pulang. Dengan telaten Ia membereskan semua barang istri mudanya itu, lalu memapah istrinya yang masih merasa lemas karena cukup lama berbaring.
"Ngapain sih lu segininya? Bukannya lebih baik gue dan bayi ini mati." Gerutu Gista.
"Gak mungkin dong Gista. Kamu mengandung bayiku. Kesalahanku dimasa lalu gak lantas membuatku jadi tega kalau bayiku kenapa-kenapa."
"Terserah lu deh." Jawab Gista asal. Setelah kejadian tersebut, Gista tetap bersikap ketus kepada Om Faisal. Baginya pernikahan dengan Om Faisal sama saja dengan menghancurkan masa depannya. Ia tidak membayangkan semua orang tau dia menikah dengan lelaki yang seumuran dengan papanya sendiri. Gista berusaha menutupi semua hal yang berkaitan dengan pernikahan dan kehamilannya. Gista terpaksa meninggalkan dunia modelling yang digelutinya selama ini. Baginya, ini cara terbaik untuk menutupi semuanya.
Gista dan Om Faisal sampai di rumah. Gista turun dari mobil dan dibantu oleh Om Faisal. Setelah sampai di kamar Ia meminta Om Faisal meninggalkannya. Gista merasa kesal dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Ia masih berpikir bagaimana untuk menghilangkan kehamilannya sebelum perutnya semakin besar. Pikiran Gista semakin gila. Ia tidak ingin terjebak selamanya sebagai istri tua bangka dan ibu dari anaknya.
"Kamu lapar?" Tanya Om Faisal di ujung pintu kamar. Karena berbadan dua, Gista memang mudah lapar. Ia tidak pikir panjang.
"Iya laper. Aku mau spagetti sama burger. Pokoknya kamu harus beliin, aku gak mau tau." Jawab Gista.
"Tapi aku masakin ikan goreng. Makan itu dulu gimana? Kan sayang kalau buang-buang makanan."
"Sayang buang-buang makanan? Cih, kalau kere ya kere aja. Gak usah alasan sayang buang-buang makanan." Gista kesal.
"Iya enggak gitu Gista. Ada stok ikan di kulkas, jadi aku masak tadi supaya kamu bisa makan. Aku gak tau kalau kamu ada keinginan. Lain kali aku akan belikan makanan yang kamu mau."
"Terserah. Semoga lain kali juga kamu ada duit. Yaudah cepet ambilin aku makan! Aku laper karena bayi kamu nih!"
Om Faisal memilih diam dan mengambilkan makanan untuk Gista. Ia tidak ingin berdebat yang tidak akan ada ujungnya. Saat di dapur Ia menerawang kebersamaannya dengan mantan istrinya. Bagaimana kerelaan mantan istrinya dulu menerima kondisinya saat awal menikah. Bahkan mantan istrinya rela masak setiap hari dan makan makanan yang ada sepiring berdua. Sungguh Om Faisal merasakan penyesalan yang teramat dalam. Namun, itu semua sudah terjadi. Ia kini hanya bertahan dengan Gista demi anak yang dikandung wanita muda itu. Jika nanti Gista memilih berpisah pun, Om Faisal tidak akan bertindak lebih lagi. Sudah cukup untuknya bermain-main dan mendapatkan ganjarannya.
***
Mela berangkat menuju proyek mengendarai mobilnya. Mela memarkir kendaraannya di dekat proyek dan bergegas turun.
"Halo Mela. Selamat pagi." Mela menoleh ke arah sumber suara.
"Ooh iya selamat pagi, Pak Rendy. Eeh, Kak Rendy."
"Pagi sekali datangnya. Sebagai anak magang, kamu sangat rajin sekali." Puji Rendy.
"Terima kasih Kak. Tapi saya cuma ikutin aturan aja kok."
"Hebat sekali." Rendy menatap Mela tajam sambil tersenyum membuat Mela salah tingkah.
"Melaaaa.." Seseorang memanggil nama Mela kembali. Mela menoleh.
"Kak Iqbal."
"Baru dateng?" Iqbal melihat Mela dan beralih kepada Rendy dan mengulas senyum.
"Iya baru dateng kak. Ooh iya, ini pimpinan proyek Mela kak. Namanya Pak Rendy. Pak Rendy ini dokter di rumah sakit ini, namanya Iqbal." Mela merasa canggung berada diantara dua lelaki.
"Pak?" Rendy mengulang ucapan Mela.
"Eehh, Kak Rendy maksudnya." Mela kembali salah tingkah.
Iqbal memberi senyum pada Rendy dengan terpaksa. Sebagai sesama lelaki Ia melihat gelagat yang aneh antara pimpinan proyek terhadap pegawai magangnya. Tidak seharusnya seorang pimpinan proyek mementingkan panggilannya. Namun, Iqbal berusaha menutupi rasa tidak nyamannya.
"Nanti makan siang bareng ya?" Ajak Iqbal.
"Hmm, Mela usahain ya Kak. Yaudah, Mela duluan. Bye." Mela berpamitan dengan Iqbal.
"Mari, saya duluan." Rendy juga berpamitan pada Iqbal, lalu berjalan berdampingan bersama Mela menuju proyek. Iqbal hanya melihat kedua orang itu meninggalkannya. Entah kenapa Ia merasa Rendy ada sesuatu dengan Mela. Tapi tetap Ia tidak ingin cemburu buta karena Mela pasti tidak akan berbuat yang aneh-aneh.
Saat sedang bekerja, Iqbal tidak bisa berkonsenterasi. Pikirannya terus tertuju pada Rendy. Iqbal sebenarnya merasa takut jika Mela pada akhirnya menambatkan hati pada Rendy. Rendy pasti bisa mengobrol hal yang sama dengan Mela, dia juga terlihat lebih muda dan tampan. Perasaan insecure timbul di hati Iqbal. Iqbal mengacak-acak rambutnya dan terus melihat jam di dinding. Ia berharap jam makan siang segera datang agar bisa melihat Mela kembali.
***
Anya hari ini bersiap untuk asistensi terakhir kalinya. Ia segera menuju kampus dan menunggu dosen pembimbingnya. Cukup lama Ia di ruangan dosennya, tidak seperti biasanya. Setelah keluar, Anya segera menuju ruang tata usaha untuk mengurus semua persyaratan sidang akhirnya. Ia bertemu Oki yang sedang mengurus sertifikat asistennya.
"Ki.." Sapa Anya.
"Hai Nya. Ngapain?"
"Ngurus berkas buat sidang. Lu ngapain Ki?" Jawab Anya.
"Waaah, hebat banget lu. Abis ini lulus deh. Gue lagi ngurus sertifikat asisten."
"Doain ya, supaya sidangnya lancar."
__ADS_1
"Iya, gue doain pasti."
"Eeh, terus gimana masalah lu sama Sisil? Udah beres?"
"Beres, Sisil ternyata juga pengen nikah setelah lulus kuliah. Jadi dia bakal coba bilang ke orangtuanya kalau dia gak pengen cepet nikah sekarang."
"Syukur deh kalau urusan kalian udah beres. Kirain bakal cepet sebar undangan."
"Ahahaha ya enggak lah. Gila aja lu. Nyebar undangan gue sih bisa-bisa aja, tapi setelahnya, mau makan apa anak orang."
"Ahahaha yaa makan nasi lah Ki. Kecuali kalau Sisil minta mie atau singkong ya beda lagi ceritanya."
"Iya bener makan nasi, gue beli berasnya gimana Anyaaa. Emang rejeki sudah ada yang atur, tapi kalau belum siap nantinya malah tiap hari tengkar masalah beras doang."
"Iya sih, lu bener. Nikah itu mesti siap semua-muanya. Mau materi siap kalau mentalnya gak siap juga gak bakal lancar. Gue jadi bingung juga kapan gue siap nikah." Ucap Anya menopang dagu.
"Lah lah, kok jadi lu yang galau. Padahal masalah gue udah beres. Emang pak polisi lu ngajakin nikah?"
"Iya pernah ngajakin. Bahkan adiknya gak bisa nikah sebelum dia nikah, kan kasian adiknya, cewek padahal adiknya."
"Tapi ya emang secara umur pak polisi udah mateng banget buat nikah ya. Lu sih cari pacar jaraknya jauh amat."
"Iya mau gimana lagi, nyantolnya sama yang tua-tua. Makin tua makin menggoda." Keduanya tertawa bersama-sama.
Setelah itu keduanya mengurus semua keperluan masing-masing.
***
Sonya dan Ezza kembali melakukan aktivitas masing-masing setelah sah sebagai suami istri. Sonya praktek di rumah sakit dan Ezza harus ke kampus untuk mengajar. Keduanya berada di apartemen dan bersiap-siap di pagi hari.
"Aaahhhh, gak mau pisah. Gak mau kerja." Sonya memeluk Ezza dari belakang.
"Pengennya juga gitu sayang." Ezza mengelus tangan Sonya dan berbalik badan berhadapan dengan Sonya. Ia memeluk erat istrinya dan mengecup rambut Sonya.
"Cuti lagi sayang, cuti setahun." Ucap Sonya dengan nada manja.
"Hahaha terus langsung di pecat aku sayang kalau cuti setahun. Sabar yah sayang, nanti malem kan bisa peluk-pelukan lagi."
"Ternyata begini rasanya menikah, seneng banget tiap hari bisa bareng sama orang yang disayang. Kalau kerja pasti bawaannya pengen cepet pulang." Ucap Sonya.
"Tapi justru sekarang aku harus makin semangat kerja, karena ada istri yang menjadi tanggung jawab aku. Aku gak mau kamu kekurangan sayang." Jelas Ezza.
"Sayaaang, makasih ya. Sudah mau jadi suami yang bertanggung jawab. Aku gak akan nuntut berlebih kok sebagai istri, secukupnya aja. Cukup beli mobil baru, beli rumah baru, beli tas branded." Goda Sonya terkekeh.
"Ahahaha doain ya sayang." Ezza makin mempererat pelukannya saking gemas dengan istrinya.
"Aamiiinnn."
"Yaudah ayok berangkat kerja. Biar gak telat."
Keduanya berangkat masing-masing menuju tempat kerja setelah Ezza mendaratkan ciuman di kening Sonya. Sonya mengemudi dengan perasaan berbunga-bunga. Sebagai pengantin baru, Sonya merasakan indahnya membangun biduk rumah tangga yang sangat indah. Ia membayangkan hadirnya bayi ditengah-tengah mereka berdua. Pasti kebahagian mereka akan semakin bertambah.
Sonya sampai dirumah sakit dan memarkir mobilnya. Ia berjalan dengan sumringah membuat orang-orang yang melihatnya kebingungan. Sonya menuju ruangannya, Ia melewati ruangan Iqbal dan melihat ruangan sudah menyala. Ia memutuskan menyapa sepupunya terlebih dahulu.
"Selamat pagiiii.." Sapa Sonya dengan nyelonong masuk ke ruangan Iqbal.
"Ngapain lu? Mau pamer ke gue?" Iqbal nampak sibuk di depan laptopnya.
"Gue kan cuma nyapa aja, masa gak boleh. Gue mau cerita indahnya jadi pengantin baru, nikmatnya malah pertama. Aaahhh pokoknya.."
"Udah cukup. Gue ogah dengerin."
"Yeee kok gitu. Lu kenapa emang? Kok kayak ditekuk gitu mukanya."
"Gue lagi sensi."
"Sensi sama siapa?"
"Sama seseorang. Kayaknya gue gak berharap banyak deh sama Mela." Iqbal bercerita dengan wajah lemas. Sonya memutuskan duduk di kursi depan Iqbal untuk mendengar curhatan sepupunya.
"Emang Mela kenapa?"
"Mela sih gak kenapa-kenapa. Tapi kayaknya pimpinan proyek naksir Mela. Pimpinan proyeknya masih muda, ganteng dan keliatan banget kalau ngejar Mela. Apalah gue yang udah tua begini."
__ADS_1
"Eeehh, lu kok jadi insecure gitu. Lu juga ganteng kok. Ya emang udah keliatan tua. Tapi cewek tuh justru suka yang lebih tua gitu tau. Lebih ngemong, lebih dewasa. Jadi kalau lu mau dapetin hati Mela lu mesti bisa lebih dewasa dan mengerti apa yang diinginkan Mela."
"Gitu ya. Oke deh, gue bakal berusaha ngertiin Mela."
"Iya gitu, asal lu jangan nyerah aja. Kadang cewek yang trauma begitu malah luluh dengan cowok yang terus berusaha dan berjuang buat dapetin hatinya. Lu mesti punya mental baja buat dapetin Mela, apalagi dengan traumanya yang pernah kehilangan."
"Iya lu bener, gue akan berusaha sekuat gue dapetin Mela. Gue gak akan menyerah, gue akan bersaing sehat sama pimpinan proyek itu."
"Naaah gitu dong. Selama janur kuning belum melengkung, jangan menyerah. Anggap aja ada pesaing, justru makin seru kalau ada saingan."
"Seru?" Iqbal melotot.
"Iya dong seru. Kalau lu beneran jadi sama Mela, lu bisa cerita ke anak cucu kalau dulu lu dapetin Mela dengan segala usaha bahkan saingannya ganteng tetep lu yang menang."
"Jauh amat pikiran lu." Iqbal menggeleng-gelengkan kepala tak menyangka sepupunya punya pikiran sejauh itu.
"Ahahaha kan gak papa dong."
"Terus lu udah beres cutinya nih? Udah masuk full? Bantuin gue yah."
"Iya, udah selesai cuti. Ezza gak bisa lama-lama ninggalin mahasiswanya. Daripada gue sendiri dirumah kan mending kerja aja. Iya iya gue bantuin. Tapi gue urusin kerjaan gue dulu."
"Yeeess, akhirnya gue gak lembur sendirian."
"Tapi gue bawa ke rumah ya kerjaannya, gue gak bisa malem-malem. Nanti kasian Ezza dirumah sendirian."
"Terserah deh, yang penting dibantuin."
"Oke. Yaudah gue balik ke ruangan. Lu jangan galau-galau lagi."
"Iya, thanks ya."
***
Agam kembali menemui Gina di kantornya saat jam makan siang, namun Ia terlambat dan melihat Gina sudah pergi mengendarai mobilnya. Agam berlari mengambil mobilnya dan mengikuti Gina. Gina sampai di sebuah resto dan melihat Boy melambaikan tangan ke arahnya.
"Haii. Udah lama kak nunggunya?" Tanya Gina sambil duduk di kursi depan Boy.
"Enggak lama kok, barusan sampai juga. Kamu mau pesan apa?" Boy menyerahkan buku menu pada Gina.
"Emmh, aku makan sirloin steik sama air mineral aja kak. Kakak makan apa?"
"Aku samain aja."
"Oke."
Keduanya selesai memesan makanan dan mengobrol ringan tentang kegiatan masing-masing.
"Hai Gina." Agam menyapa dan duduk di kursi sebelah Gina membuat Gina dan Boy kebingungan.
"Ngapain lu kesini?" Tanya Gina tak nyaman.
"Mau makan siang. Boleh gabung?"
"Enggak, sorry. Gue lagi bicara serius sama calon suami gue." Jelas Gina tegas.
"Oooh jadi ini calon suami kamu, yang belum ditau sama mama papa kamu?" Pancing Agam. Boy kesal mendengarnya namun Ia berusaha menahan emosinya.
"Gue minta sama lu pergi dari meja ini. Lu bisa cari meja kosong yang lain."
"Aku kangen makan bareng kamu. Jadi keinget momen-momen kebersamaan kita dulu. Persis seperti ini kan?" Agam mulai berulah dan melirik Boy yang terlihat geram sekali.
"Gue bilang cari meja lain atau.."
"Emmhh, aku gak mau cari meja lain. Aku mau makan sama kamu Gina sayang." Agam mencoba menggenggam tangan Gina.
Plaaakkkkkk.. Tamparan mendarat di pipi Agam. Semua pengunjung resto melihat ke arah keduanya.
"Lu kira gue diem aja karena takut sama lu? Gue diem karena gue masih anggep lu manusia. Kalau lu gak mau gue anggep manusia, jangan salahin gue bakal perlakuin lu lebih hina dari ini."
Gina beranjak dan menggandeng tangan Boy untuk berpindah meja. "Lu makan sendiri disini, kita yang pindah."
Agam nampak kesal dengan hinaan yang dilontarkan Gina. Ia tidak terima dengan semua penghinaan ini. Ia merasa tidak layak diperlakukan serendah ini padahal Ia sudah berusaha merendah untuk mendapatkan hati Gina. Belum pernah Ia mendapatkan penolakan dalam hidupnya.
__ADS_1