Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Hari Pernikahan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Andre memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan mencari Selly. Ia berharap bisa bicara dari hati ke hati dengan Selly.


Andre melihat Selly yang berjalan menuju lobi rumah sakit dengan tas di pundak. Ia yakin Selly sudah akan pulang.


"Mau bareng?" Sapa Andre mengangetkan Selly.


"Andre.. Emhh, gak usah repot-repot. Aku bisa naik taxi online." Tolak Selly.


"Ada yang mau aku bicarain Sel. Plis. Kita ke tempat lain untuk ngobrol dulu. Bagaimana?"


"Sorry Andre, aku buru-buru. Aku kasian sama anakku kalau harus menunggu lama."


"Aku boleh ketemu anak kamu?" Selly kaget dengan pertanyaan Andre.


"Buat apa?" Selly mengernyitkan dahi.


"Dia tumbuh sangat cantik. Aku yakin semua sangat ingin bertemu dan bermain dengannya."


"Mungkin lain kali." Jawab Selly singkat.


"Apa tidak bisa kita bicara sebentar saja? Atau kalau kamu buru-buru kita duduk disana sebentar. Plis." Andre menunjuk sebuah kursi kosong. Selly akhirnya terpaksa menyetujui keinginan Andre. Mereka berdua duduk di kursi panjang dengan jarak cukup jauh.


"Kamu mau bicara apa?" Tanya Selly.


"Aku mau minta maaf."


"Untuk?"


"Masa lalu kita. Sebenarnya dulu aku tau bahwa aku hanya selingkuhan bagi kamu. Tapi aku tidak memberitau kalau sebenarnya aku waktu itu juga berselingkuh dengan kamu. Hanya bedanya, aku tidak ada keberanian meninggalkan pacarku waktu itu."


"Sudahlah Ndre. Tidak usah dibahas lagi. Itu sudah masa lalu." Selly merasa tidak perlu penjelasan lagi.


"Tapi, semenjak aku tau kamu menyerahkan kesucian kamu ke aku, aku berniat menjadikan kamu satu-satunya. Aku mengajak pacarku bertemu untuk meminta putus dengannya. Tapi sebelum itu terjadi aku yang kaget karena kamu yang lebih dahulu minta hubungan kita berakhir dan pergi begitu saja tanpa aku bisa menghubungimu." Selly kaget dengan penjelasan Andre. Ia pikir Andre tidak peduli dengan itu semua dan hanya menjadikannya mainan saja tanpa menganggap kesuciannya adalah hal yang penting.


"Lalu untuk apa kamu jelasin semua ini? Bukannya hubungan kita dulu terjalin karena satu sama lain sedang bosan dengan pasangan masing-masing. Aku yakin tidak ada keseriusan diantara kita. Aku yang terlalu bodoh memberikan semuanya kepadamu." Selly berkata sambil tersenyum kecut.


"Kamu salah Selly. Aku berusaha sekuat mungkin untuk melupakan kamu, tapi tidak bisa. Aku dan pacarku sudah putus. Aku putus dengannya saat kita bertemu lagi. Aku tidak mau mendekatimu jika masih ada wanita lain makanya aku meninggalkannya. Aku rasa, aku tidak bisa melepaskanmu Selly."


Selly menoleh ke arah Andre. Melihat dalam ke matanya untuk menemukan keraguan. Namun, semua yang nampak hanya kejujuran. Tidak ada kebohongan dalam tatapan Andre. Selly berdegup, Ia teringat pertama kalinya Ia tergoda oleh Andre.


Andre adalah lelaki yang sangat perhatian dan hangat. Dulu, Ia bertemu dengan Andre saat hubungannya dengan Iqbal dalam tahap jenuh. Selly merasa Iqbal terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuknya. Lalu datanglah Andre yang masuk ke dalam hidupnya, memberikan warna dan membuatnya serasa jatuh cinta kembali. Anehnya Ia rela memberikan apapun untuk Andre tanpa Andre memohon padanya. Sampai Ia rela meninggalkan Iqbal dan lebih memilih Andre. Pesona Andre memang sangat kuat untuk Selly, atau mungkin Selly benar-benar jatuh cinta pada Andre. Namun saat mengingat bagaimana sakit yang Andre berikan padanya, Selly segera sadar.


"Sorry Ndre, aku rasa kamu hanya buang-buang waktu. Aku sudah lama melupakan kamu. Bahkan aku tidak ingin bertemu dengan kamu." Selly beranjak dan meninggalkan Andre begitu saja.


***


Pernikahan Sonya dan Ezza akan berlangsung esok hari. Sonya nampak gugup dan tidak bisa tidur. Anya menemani Sonya di kamarnya. Anya merasa senang sekaligus sedih. Ia senang kakaknya akan menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tapi Ia juga sedih karena akan kehilangan kakaknya yang nanti akan mengikuti suaminya. Anya akan merasa kesepian dirumah tanpa kehadiran Sonya.


"Kakak deg-degan banget nih Nya."


"Tenang kak, baru juga besok nikahnya kok sekarang udah grogi."


"Iya nih, kakak juga bingung. Tapi rasa groginya gak bisa ilang. Kakak gak bayangin besok bakal jadi istrinya Ezza." Sonya tersipu malu.


"Ckckck bucin akut nih."


"Biariiiinnnn. Ezza itu cowok yang pantas dibucinin."


"Hemmm, tapi Anya juga sedih kak."

__ADS_1


"Kenapa lagi sama Yoga?" Tanya Sonya.


"Bukan masalah sama kak Yoga. Anya sedih karena kakak besok bakal pindah dari sini. Anya pasti kesepian. Gak bisa curhat-curhat lagi." Anya menunduk menahan airmata dimatanya.


Sonya memeluk adik semata wayangnya. Ia sadar mereka kurang memiliki waktu bersama karena kesibukan masing-masing. Namun tetap saja, mereka saling menyayangi satu sama lain sebagai saudara.


"Kalau butuh cerita apapun, kamu bisa telpon atau datengin kakak. Kakak juga pasti kangen banget sama adik kakak yang rewel dan bawel ini." Ledek Sonya.


"Iiih siapa yang rewel dan bawel coba. Kakak tuh yang cerewet banget." Gerutu Anya tak terima.


Tak lama mama Meli masuk ke kamar Sonya. Mama Meli memberi wejangan untuk Sonya agar menjadi istri yang baik. Sonya mendengarkan semua wejangan mamanya dengan seksama. Anya juga ikut mendengarkan semua wejangan itu. Tak lupa Sonya kembali meminta restu dan doa agar pernikahannya besok berjalan lancar tanpa hambatan.


Pagi hari, keluarga Ezza sudah sampai di masjid tempat akad akan dilakukan. Keluarga Sonya juga datang. Akad dilakukan dengan sakral dan khitmat.


Mama Meli tak sanggup membendung airmatanya , Ia membayangkan jika saja suaminya masih ada. Pasti pernikahan ini akan terasa sangat lengkap. Namun, tetap saja Mama Meli merasa bahagia dengan Sonya yang telah menemukan tambatan hatinya.


Sonya dan Ezza sudah resmi menjadi suami istri. Raut bahagia terpancar dari wajah kedua pasangan tersebut. Sonya tak hentinya tersenyum bahagia setelah akad nikah. Keduanya sungkem kepada kedua orang tua, tangis tak terbendung oleh keduanya. Mereka terharu bisa sampai di titik ini setelah semua perjalanan yang mereka lalui.


Setelah itu keduanya berfoto dengan buku nikah dan cincin nikah. Dilanjutkan dengan seluruh keluarga juga. Setelah acara akad nikah selesai, Sonya dan Ezza menuju hotel untuk resepsi sederhana yang dihadiri teman-teman dosen Ezza dan teman dokter Sonya. Keduanya disulap bak raja dan ratu. Cantik dan tampan, nampak bagai pasangan serasi. Sangat menawan tanpa cela.


Keduanya duduk di kuade dengan malu-malu namun tetap nampak mesra. Mereka lalu menyalami tamu-tamu yang hadir dan mengucapkan selamat pada keduanya.


Anya dan Yoga berfoto dengan pengantin, lalu setelah itu keduanya mencari makanan.


"Kamu gak pengen?" Goda Yoga.


"Pengan apa? Makan ini?" Tanya Anya kebingungan.


"Pengen nyusul Sonya maksudnya." Ucap Yoga cengengesan.


"Kemarin bilangnya gak mau maksa Anya buat nikah. Sekarang sama aja. Dasar lelaki." Anya pura-pura ngambek.


"Aku cuma nanya kok, siapa tau ada keinginan. Bukan maksa." Yoga panik takut Anya ngambek.


"Aku cariin, ternyata disini sayang." Ucap Yoga lembut walaupun hatinya terasa panas.


"Ooh iya, lagi ketemu kakak kelas Anya."


"Kakak kelas?"


"Iya kak, ini Kak Reynald kakak kelas SMA Anya. Dia masuk kedokteran dan lagi koass kebetulan pembimbingnya kak Sonya."


"Oooh gitu. Kenalin aku pacarnya Anya. Yoga." Yoga mengenalkan diri pada lelaki di depannya dengan menekankan kata pacar sambil mengulurkan tangan. Yoga tidak ingin lelaki lain memiliki celah untuk mendekati Anya. Reynald menerima uluran tangan dengan canggung.


Setelah berpamitan pada Reynald, Anya menunjukkan rasa kesal pada Yoga.


"Kakak ngapain iih kenalan kayak gitu. Norak tau gak."


"Norak gimana? Aku kan cuma gak mau pacar aku ketawa-ketawa sama cowok lain. Makanya aku kasih tau tuh cowok kalau kamu udah punya pacar. Bener kan?"


"Iiiisssh, kakak nih. Posesif akut. Kakak tau, Kak Reynald itu gak mungkin deketin Anya."


"Loh semua cowok itu sama aja. Kesan awalnya kayak gak deketin, padahal naksir tapi gak bilang. Cara biar dia gak deketin kamu, ya aku bilang kalau kamu sudah punya pacar. Kan mencegah biar tuh cowok gak macem-macem."


"Kakak, aku udah bilang kalau kak Reynald itu gak mungkin deketin Anya. Dia tuh udah nikah. Istrinya itu temen SMA seangkatan Anya. Makanya semuanya itu nanya dulu. Gak asal kayak gitu. Kesel deh sama kakak." Anya meninggalkan Yoga kembali. Yoga segera mengejarnya agar tidak ada lelaki yang mendekati kekasihnya.


Mela datang bersama Iqbal serta Ika dan Eric. Mereka menyalami Sonya dan berfoto bersama.


"Ciieeee.. Lu kok bisa barengan sama Mela?" Bisik Sonya pada Iqbal saat berfoto.

__ADS_1


"Besok kalau lu masuk kerja gue ceritain." Jawab Iqbal.


"Okee siap. Lancar pedekatenya ye."


Resepsi berlangsung lancar. Ezza dan Sonya juga sudah merasa lelah dengan acara hari ini namun tetap bahagia dan lega semuanya berjalan lancar.


***


Setelah acara selesai , Anya pulang dengan mama Meli dan diantar oleh Yoga. Sesampainya dirumah mereka merasakan sepi. Walau biasanya Sonya juga sibuk di rumah sakit dan jarang dirumah, namun tetap saja saat ini semua terasa beda. Rumah yang sudah bukan menjadi tempat pulang bagi Sonya terasa sunyi. Anya merasakan kesedihan yang dirasakan Mama Meli namun berusaha disembunyikan sekuat tenaga. Ia menyadari mamanya pasti merasakan kehilangan. Ia membayangkan jika nantinya Ia juga menikah dan meninggalkan mama Meli sendiri di rumah, pasti hanya perasaan tidak tega menyelimutinya.


Semua hal dibenak Anya membuatnya kembali takut untuk menikah. Ia tidak bisa membayangkan mamanya merasakan kesepian di hari tuanya, sedangkan Ia hidup bersama dengan orang lain.


Yoga segera pamit pulang setelah mengantar Anya pulang. Sebenarnya Ia ingin mampir, namun Yoga melihat Anya yang lelah dan membutuhkan istirahat.


"Aku pulang ya. Kamu istirahat." Ucap Yoga sambil membelai rambut Anya.


"Kakak mau minum teh dulu?" Tanya Anya tiba-tiba.


"Kamu gak capek memang? Kalau enggak, ya gak papa."


"Enggak, Anya gak capek. Kakak tunggu di taman situ yah, Anya bikinin teh dulu."


Yoga menuruti perintah Anya.


Tak lama Anya kembali dengan dua cangkir teh ditangannya dan duduk ditaman bersama Yoga. Mereka berdua menatap langit cerah yang dihiasi bintang sambil menikmati teh hangat.


"Dulu, waktu Anya kecil, Anya sering duduk disini sama Kak Sonya, kami berjanji untuk menjadi anak yang kuat walaupun sering menangis. Setelah kami remaja, kami duduk disini bersama dan berjanji untuk tidak jatuh cinta. Setelah dewasa, kami duduk disini kembali dan berjanji untuk tidak menikah karena tidak ingin mama seorang diri di masa tua." Curhat Anya.


"Tapi nyatanya, semua janji bisa berubah kak." Sambung Anya.


Yoga mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Anya.


"Kami berjanji kuat, padahal kami sangat lemah melihat mama yang menderita setelah kehilangan papa. Kami tidak ingin jatuh cinta, tapi sekarang kami berdua jatuh cinta. Kami tidak ingin menikah, namun baru saja kak Sonya menikah."


"Kamu merasa Sonya tidak menepati janji?" Tanya Yoga tak memahami maksud Anya.


Anya menggeleng.


"Anya hanya khawatir kak. Anya takut kelak tiba saatnya Anya yakin untuk menikah dan meninggalkan mama. Anya mengingkari janji Anya. Anya gak bisa meninggalkan mama sendirian sedangkan Anya sibuk mengejar kebahagiaan." Anya merasa sudut matanya basah.


"Kalau Anya bisa, Anya tidak ingin menikah dan meninggalkan mama seorang diri."


Yoga yang tadinya duduk segera berlutut di depan Anya. Ia memegang tangan Anya yang mengepal diatas pahanya untuk menahan tangisnya pecah.


"Sayang, mamamu pasti bahagia jika kamu dan Sonya bahagia. Yang aku tau, kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anaknya bahagia dengan orang yang dicintainya. Ketika kamu menikah nanti, kamu tidak harus meninggalkan mama kamu." Anya menatap Yoga.


"Kalau kita menikah, aku rela kita tinggal dengan mama atau kamu mau mama ikut dengan kita, aku tidak masalah."


Anya sedikit tenang dengan penghiburan dari Yoga. Anya menarik nafas dalam agar tangisannya tidak tumpah.


"Kakak yakin mau menikah sama Anya? Walaupun Anya wanita keras kepala, gak pinter jadi ibu rumah tangga, gak keibuan juga."


"Yakin. Aku nerima semua kekuranganmu, sama seperti kamu nerima kekuranganku. Kekurangan yang kayak tadi, norak kalau ketemu cowok lain ngobrol sama kamu." Anya tertawa mendengar ucapan Yoga.


"Walaupun aku norak karena cemburu, kamu tetap nerima semua kekurangan itu. Gak ada alasan aku untuk menuntut kamu sempurna, Anya. Bagiku, kamu yang sekarang sudah sangat sempurna." Anya tersenyum mendengarnya.


"Makasih ya kak."


"Aku tau hati kecil kamu sangat ketakutan dengan pernikahan dan komitmen karena apa yang kamu liat dari mama kamu dulu saat kehilangan almarhum papa. Tapi kamu harus ingat Anya, bersama dan saling mencintai itu sangat indah. Dan aku yakin, mama kamu sekarang juga sangat bahagia memiliki kenangan bersama dengan seseorang yang dicintainya." Ucap Yoga menatap mata Anya. Jantung Anya berdegup, Ia melihat keteduhan di mata Yoga. Tatapan mata Yoga membiusnya membuat Anya tidak bisa mengalihkan pandangan, justru semakin ingin mendekap erat laki-laki di depannya itu.

__ADS_1


"Makasih ya kak. Aku harap kakak mau nunggu sampai aku siap."


"Pasti sayang." Yoga membelai pipi Anya dan mengecup kening Anya. Anya memeluk Yoga erat.


__ADS_2