Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Cemburu


__ADS_3

Yoga dan Anya berjalan menyusuri mall untuk mencari celana guna keperluan presentasi Anya. Yoga dengan langkah cepatnya masih kepikiran soal menggagalkan rencana Gista mendekatinya. Tanpa sadar Ia meninggalkan Anya yang sedang melihat celana pada mannequin. Anya melihat Yoga berjalan meninggalkannya terheran, Ia berlari kecil menyusul Yoga. Tangan Anya menelusup ke jari-jari Yoga yang dibiarkan menjuntai di sebelah pahanya. Yoga tersentak.


"Sorry sorry."


"Biar gak ilang kak." Anya menunjukkan genggaman tangan mereka. Yoga tersenyum.


"Kakak ada masalah? Kok kayaknya banyak pikiran banget."


"Enggak kok. Yaudah yuk cari celananya dulu, abis itu makan."


"Oke." Anya menyadari ada yang sedang mengganggu pikiran Yoga, namun Ia memutuskan untuk diam. Ia menunggu Yoga siap menceritakan masalahnya sendiri.


Mereka menuju store yang menjual pakaian formal. Setelah menemukan celana yang pas dan membayarnya, mereka menuju resto untuk makan malam bersama.


"Gimana makan malamnya kemarin Kak? Seru?"


"Lumayan."


Anya tersenyum sambil memainkan jemari Yoga. "Nya.."


"Hmmm.. Apa?" Anya menaikkan alisnya.


"Kalau aku kenalin kamu ke mama. Kamu mau gak?"


Anya terhenti memainkan jemari Yoga. Ia berfikir sejenak.


"Menurut Anya, gak masalah Kak kalau hanya kenalan."


"Kamu yakin? Karakter mamaku beda banget sama mama kamu, Nya."


"Maksudnya beda itu gimana?"


"Iya, sebenarnya mama sudah berpikir buat aku menikah."


"Menikah? Tapi kan hubungan kita masih baru banget Kak."


"Iya aku tau itu. Makanya aku bilang kalau karakter mama kita berdua itu beda. Mama sudah mendesak aku untuk menikah."


"Gimana yah Kak. Kalau untuk menikah, Anya belum siap. Anya bahkan belum lulus kuliah."


"Iya aku tau itu. Maaf ya, aku gak maksud bikin kamu kepikiran." Yoga mencoba tersenyum.


"Aku yang harusnya minta maaf Kak, kalau untuk berkenalan Anya mau banget Kak. Tapi kalau untuk sampai menikah dalam waktu dekat Anya belum siap."


"Iya kakak paham." Yoga tersenyum dan mengelus punggung tangan Anya untuk menenangkannya.


Setelah makan malam mereka pulang. Sesampainya di kamar Anya merenungi percakapannya dengan Yoga. "Mungkin itu yang jadi pikiran Yoga selama ini." Batin Anya. "Ini konsekuensi gue emang. Dari awal gue tau kalau umur kita beda jauh. Pasti keluarganya berharap sesuatu yang serius. Beda sama gue yang masih pengen seneng-seneng." Pikir Anya. "Gue mesti gimana yah, gak mungkin juga gue minta keluarganya nunggu 4 atau 5 tahun lagi. Tapi gue masih pengen kerja dan mandiri. Kalau nikah, pastinya gue bakal mengubur semua mimpi-mimpi gue." Pikiran Anya terus terusik. Tanpa sadar hingga tengah malam Ia masih terjaga memikirkan masalah yang tidak ada jalan keluarnya.


***


Iqbal selesai visite, Airelle sudah diperbolehkan pulang. Setelah visite, Iqbal menemui perawat yang merawat Airelle sejak awal dia masuk ke rumah sakit untuk menanyakan hal janggal yang Ia temukan di rekam medis Airelle. Setelah mengobrol dengan perawat tersebut, Iqbal segera menuju ruangan Sonya. Iqbal langsung nyelonong masuk begitu saja.


"Sonyaa.. Gue beneran yakin sama info gue kemarin." Sonya yang sibuk dengan pekerjaannya kaget melihat kedatangan Iqbal.


"Ngagetin aja lu, gue lagi konsen nih."


"Abis ini penting banget."


"Iya udah ceritain info lu, kok bisa sampe yakin banget tuh gimana ceritanya."


"Gue kemarin cek berkas Airelle. Golongan darah dia B. Terus pas transfusi dia dapet dari PMI."


"Iya terus kenapa emang? PMI punya stok darah kan emang. Ya wajar dong."


"Bukan gitunya. Gue sebelum operasi sudah infoin ke Selly dan Ezza buat mereka tes golongan darah buat transfusinya Airelle. Namanya orang tuanya pasti salah satunya ada yang cocok."


"Tunggu.. Maksud lu mereka gak ikut tes darah gitu?"


"Awalnya gue mikir mungkin mereka gak tes darah."


"Iya bisa jadi gitu kan."


Iqbal menggeleng.


"Mereka berdua tes darah. Aku dapat info dari suster Ani yang dari awal ngehandle Airelle."


"Jadi gak ada yang cocok?"


"Yup, gak ada yang cocok. Anehnya lagi golongan darah Selly dan Ezza sama-sama B, tapi Airelle, golongan darahnya A."

__ADS_1


"Serius lu?"


"Serius, gue bahkan liat hasilnya tadi. Makanya dibuat penyediaan darah dari PMI waktu operasi karena hal ini."


"Tunggu, jadi ini maksudnya Airelle ini bukan anak kandung Ezza, atau memang bukan anak Selly dan Ezza?" Sonya semakin bingung.


"Kalau soal itu gue gak paham. Apa coba lu tanyain ke Ezza siapa itu Airelle." Sonya mengangguk dan menyetujui saran Iqbal.


Iqbal meninggalkan ruangan Sonya. Sonya segera menelpon Ezza untuk bertemu. Namun, sepertinya Ezza sedikit sibuk karena deadline pengumpulan nilai mahasiswa. Terpaksa Sonya menunggu hingga nanti malam sampai Ezza selesai bekerja.


***


Siang hari Anya bergegas ke kampus, setelah emailnya dibalas oleh dosen dan disetujui, Anya segera ingin mendapatkan tanda tangan pembimbingnya agar bisa mengurus sidang proposalnya. Anya berusaha menghilangkan pikirannya tentang omongan Yoga kemarin. Namun tetap saja hal tersebut sangat mengusiknya.


Anya sudah selesai mengurus semua persiapan sidang proposalnya. Semuanya berjalan lancar. Ia berjalan menuju parkiran mobil. Pikirannya masih sama seperti kemarin. Entah kenapa Ia merasa masalah ini belum tuntas. Belum ada kejelasan, dan Ia tidak mau nantinya akan menjadi masalah yang besar. Anya memutuskan membicarakan semua dengan Yoga. Ia mencoba menghubungi Yoga.


"Halo.."


"Halo, Kakak lagi dimana? Apa masih di kantor?"


"Barusan sampai apartemen. Kenapa?"


"Anya ada yang mau dibicarain. Anya boleh kesana?"


"Ooh iya boleh."


Anya menutup telponnya dan mengecek lokasi apartemen Yoga. Ia melaju kesana. Tak butuh waktu lama, Anya sampai dan segera memarkir mobilnya. Anya mencari unit apartemen Yoga, saat menemukannya Ia melihat seorang wanita dengan make up tebal dan pakaian yang sangat minim berdiri di depan pintu dan menekan bel. Anya mendekat perlahan mengecek nomor unit apartemen yang menempel di pintu dan benar itu adalah nomor unit yang Yoga beritaukan. Pintu apartemen terbuka..


"Gista.." Raut wajah Yoga kaget dengan kedatangan Gista. Tangan Gista langsung bergelayut di pinggang Yoga dan mencium pipi Yoga.


"Haii.. Surprise.." Sapa Gista sambil tersenyum.


Yoga masih terdiam, Ia melihat ke belakang Gista ada Anya yang menyaksikan semuanya. Anya berbalik meninggalkan Yoga dan Gista setengah berlari.


"Anyaa tunggu.." Yoga mengejar Anya.


Tapi tangan Gista memegang pinggang Yoga erat. Yoga berusaha melepaskan tangan Gista dan segera mengejar Anya namun terlambat. Anya sudah masuk ke dalam lift. Yoga masuk ke apartemen dan mengambil kunci mobil dan dompetnya bergegas pergi ke basement. Ia meninggalkan Gista sendiri tanpa sepatah kata, Ia tak perduli dengan Gista.


***


Iqbal menemui Sonya di cafe dekat rumah sakit.


"Kenapa sayang? Mau ngomong apa kok kayaknya penting banget." Ezza meluangkan waktunya karena memang Sonya tadi ingin bicara serius. Sekarang Sonya juga memasang raut serius.


"Airelle itu siapa, Za?"


"Di dia putriku. Kenapa emang?" Ezza sedikit panik dengan pertanyaan yang tiba-tiba.


"Anak kandung kamu? Plis jujur Za, aku gak mau ada yang ditutup-tutupin diantara kita."


Ezza bingung. Ia terpaksa mengungkap semuanya.


"Sebenarnya, Airelle anak Selly."


Sonya mengernyitkan dahi.


"Jadi dia bukan putri kandung kamu? Ooh, aku paham. Jadi kamu nikah sama Selly waktu dia sudah janda. Gitu?"


Ezza menggeleng karena tebakan Sonya yang salah.


"Iya terus yang sebenarnya gimana, Za? Aku pengen kita saling terbuka dalam hubungan ini. Gak ada rahasia apapun."


Ezza tersenyum mendengar ucapan Sonya. Sonya benar, dalam hubungan harusnya Ia jujur sejak awal pada Sonya. Apalagi selama ini Airelle juga cukup menjadi pikiran untuk Sonya. Bagaimana Sonya berusaha dekat dengan Airelle yang Ia kira adalah anak kandung Sonya.


"Maaf aku gak jujur sama kamu. Aku juga gak pengen membuka aib rumah tanggaku dulu."


Ezza menunduk memikirkan ucapan selanjutnya.


"Tapi kamu memang berhak tau, agar kelak tidak ada salah paham antara kita."


Sonya tersenyum.


"Jadi, aku dah Selly dijodohkan dan menikah dalam waktu singkat. Awalnya aku tidak mengenal Selly. Kami menikah 2 minggu setelah kami bertemu. Aku berusaha menerima semua itu dan mungkin aku nantinya bisa mencintai Selly seiring berjalannya pernikahan tersebut." Ezza terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Setelah aku menikah, aku belum berani menyentuh Selly karena kita belum saling cinta. Hingga berjalan 2 minggu kami menikah, aku mendapati Selly seperti sedang sakit. Mual setiap pagi dan lemas."


"Dia hamil? Jadi dia hamil bukan sama kamu?" Sonya menebak.


Ezza mengangguk.

__ADS_1


"Iya, sampai sekarang pun Selly tidak memberitauku siapa ayah dari Airelle. Hanya dia yang tau. Aku meminta pisah setelah aku tau kalau dia ternyata hamil saat kami menikah. Menurutku itu bukan pernikahan yang sah, karena pernikahan tidak bisa dilakukan disaat wanita sedang hamil Tapi apa mau dikata, kami sudah menikah di depan orang-orang. Cara berpisah yang benar ya dengan perceraian. Setelah Airelle lahir, aku menengoknya dan melihat betapa lucu dan mungilnya bayi tak berdosa itu. Hal itu membuatku bersedia kalau bayi kecil itu memanggilku ayah."


"Ezza.." Sonya tertegun dengan penuturan Ezza.


"Hati kamu benar-benar sangat baik."


"Enggak Sonya aku gak sebaik itu, aku cuma takjub melihat bayi mungil tanpa dosa, hal tersebut yang membuat aku mau dipanggil ayah, sampai nanti ibunya siap memberitau siapa ayah Airelle yang sebenarnya."


"Aku jadi bayangin kalau aku punya malaikat kecil yang lucu seperti itu, nantinya dia panggil aku ayah. Aah, pasti bahagia banget dan setiap hari rasanya bersemangat. Karena ada alasan untuk siapa kita bekerja dan berjuang." Sambung Ezza sambil tersenyum membayangkan.


"Mesti nikah dulu kalau mau punya bayi yang lucu begitu." Goda Sonya.


"Hahaha iya yah. Kalau kita nikah gimana?"


"Iihh apaan sih bercandanya. " Ujar Sonya salah tingkah.


"Emang kayak bercanda yah? Padahal aku serius. Kita sudah cukup umur, gak ada halangan untuk menikah." Ezza mencoba meyakinkan.


"Gimana ya Za, duuh kok aku jadi deg-degan gini." Sonya menggaruk telinganya yang tidak gatal, semakin salah tingkah melihat raut Ezza yang serius.


"Kalau kamu masih bingung, kamu pikirin dulu aja. Aku siap nungguin kamu kok."


"Iya Za, makasih buat pengertiannya. Aku cuma takut keputusan kita terlalu cepat."


"Gak papa. Aku bakal siap nungguin kamu dan berusaha buat kamu yakin." Ezza menggenggam tangan Sonya sambil tersenyum lembut.


"Makasih sayang." Sonya membalas senyum Ezza.


***


Gista kesal melihat Yoga meninggalkannya seorang diri tanpa sepatah kata pun. Ia menelpon Mama Inneke.


"Halo Gista."


"Halo Tante.."


"Gimana? Udah sampai di apartemen Yoga."


"Sudah tante, tapi Yoganya malah pergi ninggalin Gista tante." Gista mengadu pada Mama Inneke.


"Yoga tuh kebiasaan deh. Terus sekarang kamu dimana?"


"Gista masih di apartemen Yoga, mau pulang sekarang."


"Kamu yang sabar yah. Tante omelin nanti si Yoga."


"Tadi Yoga ninggalin Gista karena ngejar cewek gitu tante. Gista sedih dan malu banget."


"Maafin Yoga yah Gista. Nanti lain kali biar tante reservasiin tempat buat kalian berdua, supaya bisa ngobrol berdua."


"Tapi apa Yoganya mau tante? Ini tadi aja Gista langsung ditinggal gitu aja."


"Nanti tante yang atur semuanya. Yoga harus mau pokoknya."


"Iya udah, Gista nurut apa yang tante omongin aja."


"Aduuh kamu ini nurut banget sih, udah cantik, nurut lagi, pasti calon istri idaman banget."


"Aah tante bisa aja. Makasih loh tante."


"Iya sama-sama."


Gista menuju basement sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia senang langkahnya menelpon Mama Inneke berbuah solusi yang baik. Gista tau bahwa wanita yang dikejar Yoga itu tadi pasti pacarnya. Namun Gista tidak perduli, baginya laki-laki yang sudah memiliki pasangan jauh lebih menarik dari pada yang masih single. Apalagi Yoga adalah tipenya, dengan sikapnya yang cuek sangat membuat Gista penasaran. Baginya laki-laki yang sudah memiliki pasangan adalah tantangan yang harus Ia taklukan. Ia sangat penasaran dan tentunya ingin mengalahkan pasangan laki-laki tersebut. Ia merasa sempurna sebagai wanita. Kecantikan, kekayaan dan ketenaran semuanya Ia miliki. Oleh karena itu Ia selalu ingin bersaing dengan wanita lain untuk merebut pasangannya. Jika laki-laki itu jatuh ke pelukannya, artinya dia sudah menang.


***


Anya bergegas masuk ke kursi kemudi mobilnya. Yoga dengan sigap berlari dan memegang handle pintu Anya.


"Anya plis dengerin penjelasan aku dulu."


"Apa yang perlu dijelasin Kak? Semuanya udah jelas banget. Kakak gak suka Anya dekat dengan laki-laki lain tapi ternyata dibelakang Anya kakak begitu sama wanita lain."


"Gak kayak gitu Nya. Aku jelasin semuanya dulu."


"Gak ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas." Anya menarik pintu mobilnya dengan kencang hingga tertutup. Ia segera melaju dan meninggalkan Yoga.


Yoga menuju mobilnya dan mengejar Anya. Ia merasa butuh menjelaskan semuanya bahwa Ia dan Gista tidak memiliki hubungan apapun. "Aaaiish sial. Pasti mama ngasih tau apartemenku ke Gista. Bisa-bisanya dia datang kesini." Batin Yoga.


Yoga terus mencoba mengikuti Anya, mobil Anya cukup jauh di depan. Saat mengejar, ada dua pengendara sepeda motor yang mengikuti Anya sejak tadi. Mereka berkendara sangat dekat dengan mobil Anya dan saat kondisi lengang mereka tidak menyalip mobil Anya sama sekali. Yoga merasa ada yang tidak beres dengan kedua pengendara sepeda motor itu. Yoga menginjak pedal gas lebih kencang agar tidak kehilangan jejak mobil Anya. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2