Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Diapelin


__ADS_3

Sudah setengah jalan penelitian tugas akhir Anya. Ia mempercepat pengerjaan laporan skripsinya mengingat sebentar lagi Ia akan cukup sibuk dengan persiapan pernikahan kakaknya. Setelah mengerjakan laporan dan bertemu dosen, hari ini rencananya Anya akan mencoba dress yang akan digunakan saat hari pernikahan. Anya pergi seorang diri agar bisa lebih leluasa, mengingat Yoga juga masih sibuk bekerja.


Sesampainya di butik, Anya segera mencoba dressnya. Ia mematut diri di depan cermin untuk melihat keseluruhan pakaian yang dikenakan. "Bagus." Batin Anya. Pakaian berwarna merah muda dengan bahan sifon itu memang terlihat sangat pas di badan Anya. Bagian pundak yang sedikit terbuka dibagian kanan menambah efek seksi namun tetap elegan.


Anya keluar dari fitting room bersamaan dengan seseorang di fitting room sebelah yang juga keluar setelah mencoba pakaiannya. Mereka saling pandang, Gista. Gista mencoba pakaian untuk pemotretan di butik tersebut.


"Elu.." Ucap Gista.


Anya tak menghiraukannya. Ia melenggang menuju pegawai yang melayaninya dan menjelaskan bahwa pakaiannya sudah pas di badannya.


"Waaah, gila ya. Songong banget lu anak bau kencur." Gista terus menyulut pertengkaran, Ia berjalan di belakang Anya. Anya berusaha tetap cuek. Ia ingin segera pergi dari butik tersebut. Namun, Ia masih harus menunggu pegawai butik mengurus pembayaran.


"Heeh, gue ngomong sama lu ya." Ucap Gista kencang membuat pegawai dan beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka. Anya melihat sekeliling, Ia menyadari sedang menjadi tontonan di sana.


"Maaf, tante siapa yah? Saya gak kenal sama tante. Mungkin salah orang." Ucap Anya berusaha tenang.


"Waaah, anak bauk kencur gak tau diri ya lu. Gue gak akan biarin lu bahagia di atas penderitaan gue."


"Tunggu, menderita karena saya? Kok bisa ya? Saya gak ngerasa ngapa-ngapain tuh." Anya hendak berbalik badan tapi Gista menjambak rambutnya. Sontak Anya kesakitan. Tidak tinggal diam Anya langsung memegang tangan Gista dan memelintirnya hingga sekarang Gista yang berteriak kesakitan.


"Gue diem bukan berarti bisa lu injek seenaknya. Gue cuma gak mau punya masalah sama cewek kayak tante." Ucap Anya. Ia melepaskan tangan Gista, lalu mengambil paperbagnya yang berisi dress yang sudah dicobanya tadi dan bergegas keluar butik.


"Dasar cewek bar-bar. Liat aja lu, gue akan rebut Yoga dan ceritain gimana barbarnya anak bau kencur ini ke mamanya Yoga. Biar sekalian gak akan direstuin." Teriak Gista yang tentu masih bisa terdengar oleh Anya.


Gista kesal melihat kelakuan Anya. Ia tak terima dengan semua yang dilakukan Anya. Gista memutuskan balas dendam padanya dengan cara mengadukan pada mama Yoga. Begitupun Anya yang juga merasakan hal yang sama, dia merasa kesal dengan kejadian tadi. Ditambah Ia sedang masa tamu bulanan yang membuatnya semakin badmood. Ia segera meminta Yoga untuk nanti malam datang kerumahnya.


***


Mela sedang di proyek untuk menyelesaikan laporan magangnya. Ia baru tersadar hari sudah menjelang malam. Perutnya bergemuruh tanda butuh asupan makanan. "Ngajak makan siapa ya." Pikir Mela.


Mela terpikir untuk mengajak Iqbal makan, sekaligus mentraktirnya. Mela segera menelpon Iqbal.


"Halo.."


"Halo kak Iqbal."


"Iya Mela, kenapa?"


"Kakak masih kerja apa udah pulang?"


"Kerjanya sudah selesai. Tapi ini masih di rumah sakit. Kenapa emang?"


"Sibuk gak?"


"Iya ini lagi ngecekin laporan audit keuangan rumah sakit."


"Oooh gitu yah. Yaudah kakak lanjut lagi deh."


"Loh kenapa emang? Ngomong dulu ada apaan?"


"Enggak ada apa-apa. Tadi cuma mau ajak kakak makan malem aja, sekalian traktir kakak karena waktu itu udah nolongin Mela waktu pingsan dan waktu mabuk."


"Hmm gitu yah. Gimana kalau makan di ruangan gue aja? Pesen online aja makanannya."


"Gak ganggu emang?"


"Enggaklah. Gue masih butuh makan kok Mel. Belum sempet makan malem juga."


"Oke oke kalau gitu Mela pesenin makan online. Tapi ruangan kak Iqbal dimana?"


"Tunggu di lobi aja, gue jemput."


Mela bergegas pergi ke lobi rumah sakit dan bertemu dengan Iqbal. Sembari menanti makanan terlebih dahulu mereka menunggu di taman sambil mengobrol ringan. Tak berapa lama makanan datang, mereka berjalan beriringan menuju ruangan Iqbal.


"Makasih loh Mel udah ditraktir." Ujar Iqbal sambil melahap makanan.


"Sama-sama kak. Kan kakak juga udah tolongin Mela waktu pingsan dan mabuk kemarin."


Iqbal mengangguk sambil tersenyum.


"Are you okay, Mel?"


"Now, I"m okay."

__ADS_1


"Lu kalau ngerasa sedih, atau kesepian. Gue siap kok jadi temen curhat lu. Jadi temen makan lu, atau bahkan sekedar nemenin lu nangis biar tenang pun, bakal gue usahain. Yang penting, jangan mabuk-mabukan lagi."


"Iya kak, makasih banyak. Mela juga usahain gak terlalu larut dalam kesedihan, walaupun berat, tapi jujur gak tega banget liat orang sekitar Mela. Ika, Anya, mama. Semua kayak ikut sedih pas gue sedih banget. Sebisa mungkin pokoknya gue bakal cari kegiatan positif supaya bisa lebih baik. Vico juga akan bangga liat Mela yang lebih positif pastinya." Ucap Mela dengan kabut di sudut matanya menahan tangis.


"Gak masalah Mel, sesekali lu nangis. Sesekali lu nunjukin kesedihan. Kita manusia biasa yang punya perasaan, kalau nangis bikin lu lebih kuat menjalani hari esok, ya nangis aja dulu. Kalau sungkan sama Ika atau Anya, lu bisa panggil gue."


"Iya Kak, makasih banget kakak udah baik sama Mela. Rasanya seneng banget, Mela seperti punya sosok kakak laki-laki yang ngelindungi Mela."


Jleb..


Ada perih yang tiba-tiba menusuk di hati Iqbal. Kakak? Iya, benar juga. Seberapa pun perhatian Iqbal pada Mela, pasti akan dianggap perhatian seorang kakak. Secara perbedaan umur mereka yang jauh. Iqbal hanya tersenyum, Ia mencoba menutupi perih dihatinya. Baginya, menyembuhkan kesedihan Mela lebih penting daripada status hubungan mereka.


***


Ika bergegas pergi menuju kampus, seperti biasa karena asik begadang marathon drama korea Ika kesiangan. Kemarin Ia bertukar kabar dengan Eric bahwa Ia akan marathon drama korea terbaru.


Ika kebingungan cara berangkat ke kampus karena pasti akan makin terlambat. Ika berinisiatif keluar kosan untuk mencari tukang ojek di ujung jalan. Namun, belum sempat mencari tukang ojek, Ika dibuat kaget dengan kehadiran Eric di depan kosannya.


"Pasti kesiangan yah. Yuk buruan naik."


Tanpa pikir panjang, Ika langsung naik ke motor Eric, Ia juga memeluknya tanpa ada paksaan. Eric tersenyum bahagia di balik helm fullfacenya. Eric mengemudi sangat kencang bak pembalap. Karena memang jalanan sangat ramai. Mereka sampai di kampus, untungnya Ika belum terlambat datang.


"Makasih ya kak." Ika bergegas masuk ke kampus meninggalkan Eric.


"Sama-sama." Teriak Eric yang masih bisa terdengar oleh Ika.


Ika terhenti, Ia memutar balik badannya dan berlari menuju Eric.


"Nanti kita makan malem bareng kalau kakak gak sibuk, mau? Aku selesai kuliah sore."


Eric kaget dengan ajakan Ika yang dadakan. Ia sempat terdiam kebingungan.


"Sibuk ya kak?" Lanjut Ika.


"Aahh eehh, enggak. Aku bisa kok. Aku jemput nanti abis kuliah."


"Oke kalau gitu." Jawab Ika sambil tersenyum.


"Udah buruan masuk, nanti telat jadinya."


Ika beruntung Ia datang berbarengan dengan dosennya. Ia segera masuk dan menuju tempat duduk yang sudah disediakan sahabatnya, Mela.


"Dari mana aja, Ka?" Bisik Mela.


"Biasa, kesiangan abis marathon drama korea."


Mela hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Mesti nih kebiasaan."


"Hehehe ya maaf." Cengir Ika.


Perkuliahan berlangsung 120 menit. Membuat kedua sahabat itu merasakan kantuk yang tak tertahan. Dengan sabar mereka mengikuti kuliah dan akhirnya kuliah berakhir.


"Kantin yuk, Mel. Gue butuh kopi."


"Ayuuuk cuss."


Mereka berdua menuju kantin dan segera memesan kopi serta makanan untuk menghilangkan kantuknya.


"Ngantuk banget gue. Tapi seneng karena dramanya happy ending." Ujar Ika.


"Emang drama tentang apaan?"


"Jadi ada playboy tobat gitu karena kepentok sama cewek polos. Cowoknya itu chaebol gitu, dijodohin sama kakeknya sama cewek polos biar bisa tobat. Awalnya nikah kontrak, eh taunya malah jadi bucin gitu deh. Gemes aah. Mana cowoknya ganteng banget."


"Memang nih, jangan kebanyakan nonton drama korea. Ibarat lu idup di dunia khayalan jadinya. Mau nemu dimana coba cowok-cowok macam drama korea itu di dunia nyata begini."


"Yeee, biarin aah. Justru dengan nonton drama korea itu ibarat kita refreshing. Bisa nontonin cowok-cowok cakep. Kan seneng banget jadinya, kuliah bisa semangat deh."


"Yaelah, terserah deh. Terus kalau tuh playboy di drama korea bisa tobat, berarti playboy di dunia nyata juga bisa dong."


"Iya bisa-bisa aja, tergantung niat." Jawab Ika asal tidak paham dengan omongan Mela.

__ADS_1


"Jadi Eric juga bisa tobat dan harusnya dapet kepercayaan juga dong."


Ika tersentak saat sedang menyeruput kopinya.


"Iya itu kan beda Mel."


"Apa bedanya coba?"


"Iya beda aah pokoknya."


"Tuh kan, mesti cari alasan aja. Padahal kan gak beda. Apalagi kalau Eric ngebuktiin ke elu perasaannya."


"Iya sih Mel. Tapi kenapa gue masih ragu yah. Gue takut aja ternyata nanti bakal gak sesuai harapan gue, sakit hati lagi."


"Ika, elu gak bisa selalu kayak gitu. Semua itu sepaket, sudah konsekuensinya suatu hubungan, kalau gak sakit hati, ya sakit hati. Ibarat kita kuliah, pilihannya lulus atau gak lulus. Kalau mau hubungan gak sakit hati ya perlu usaha. Komunikasi, saling ngerti, saling percaya. Tapi yang jelas, gak mesti seindah drama korea."


"Gue tetep ngerasa takut Mel. Tapi jujur, gue juga tertarik sama Eric. Dia selalu tau yang gue butuh tanpa gue harus panjang lebar ngomong ke dia. Tapi ya itu, gue gak yakin dia beneran serius sama cewek biasa kayak gue."


"Cewek biasa gimana? Elu itu cantik Ika. Tanya deh sama cowok-cowok disini."


"Yang deket sama dia itu bener-bener tampilan cewek Mel. Gak macam kita yang dandanannya preman begini."


"Iya kalau kita mau dandan cewek yang ada bakal digodain sama anak-anak. Justru kita bisa sesuaiin sikon dan menjaga diri dong. Kita tau kuliah kita di teknik, mayoritas cowok. Kalau kita pakai baju yang seksi itu sama aja kita masuk kandang macan tanpa pelindung."


Ika terkekeh dengan ucapan Mela.


"Bener juga lu, Mel."


"Intinya, kalau tipe Eric memang suka cewek feminin. Ya tinggal elu sering dandan ketika jalan berdua. Gak ada salahnya juga bahagiain pasangan. Asal Eric juga harus tetap nerima apa adanya elu. Elu yang suka dandan casual begini."


"Gitu yah Mel. Oke deh, nanti gue coba selesaiin deh sama Eric. Nanti selesai kuliah kita mau keluar bareng."


"Naah gitu dong. Jangan sia-siain kesempatan Ka. Gue yakin Eric cowok yang baik kok. Selama dulu kita sering nongkrong bareng sama Viko dia gak yang flirting ke cewek gitu kok. Padahal dengan tampang seganteng Eric pasti cowok-cowok gak bakal sia-siain buat godain cewek cantik kan. Justru cewek-cewek yang cari perhatian sama Eric."


"Makasih ya Mel. Gue jadi yakin sama keputusan gue. Gue harap keputusan kasih kesempatan buat Eric bisa baik ke depannya."


"Aaaakkkhh, I'm so happy for you beeb."


"Aaahhhhhh.. thankyouuuu." Kedua sahabat itu berpelukan membuat pengunjung kantin menoleh ke arah mereka berdua.


***


Malam hari Yoga dengan senang hati mampir ke rumah Anya setelah tadi siang pacarnya minta diapelin. Di depan rumah Yoga yang berharap disambut dengan senyuman justru disambut dengan raut jutek Anya. Muka Anya ditekuk, membuat Yoga kebingungan.


"Kenapa sayang? Kok jutek gitu?"


"Masuk dulu."


Anya bergegas masuk, duduk di ruang tamu yang diikuti Yoga dibelakangnya. Yoga merasa sedikit grogi, Ia merasa seakan akan disidang oleh pacarnya sendiri.


Anya duduk di sofa, Yoga duduk disebelahnya. Anya memicingkan matanya menatap Yoga. Yoga jadi salah tingkah.


"Kenapa sayang? Apa aku ada salah?" Tanya Yoga.


"Aku lagi bete. Dan kebetean ini ada sangkut pautnya sama kakak."


"Emang sangkut pautnya apaan?"


"Kakak tau kan aku lagi PMS?" Yoga mengangguk.


"Asal kakak tau, tadi waktu Anya ke butik ambil gaun, Anya ketemu tuh sama nenek lampir yang ngaku calon istri kakak yang ngeselin itu." Ucap Anya dengan nada kesal.


"Iya terus kenapa sayang? Kan aku juga gak mau juga sama dia." Yoga coba bicara dengan nada sehalus mungkin guna tidak memicu pertengkaran.


"Aku juga gak masalah awalnya kak, eh setelah didiemin, dia malah ngehina-hina Anya di depan umum. Belum lagi pake ngancem-ngancem bakal lapor-lapor ke mamanya kakak." Curhat Anya.


"Maaf ya sayang. Aku kayaknya butuh nyelesaiin masalah Gista. Semakin dibiarin, kayaknya semakin nambah masalah tuh orang. Aku kira dengan diemin dia, dia akan sadar kalau aku gak akan punya perasaan ke dia. Siapa sangka dia justru senekat itu."


"Anya kesel kak, untung Anya gak geprek tuh tante-tante. Anya masih punya malu kalau mau geprek-geprekan ditempat umum."


"Iya jangan geprek-geprekan dong sayang. Nanti kamu malah kenapa-kenapa."


"Iya abis kak, dia udah bikin malu Anya. Suaranya udah kayak toa gitu. Ada gitu cewek sengeselin itu. Pake ngancem-ngancem ngerebut kakak segala. Terus ngelaporin ke mamanya kakak kalau aku bar-bar lah. Aku kan gak bar-bar, aku cuma self-defence aja. Gak bisa seenaknya dinjek-injek gitu aja."

__ADS_1


"Kamu cemburu sayang?"


"Cemburu? Ngapain aku cemburu." Elak Anya mengakui kecemburuannya.


__ADS_2