Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Rambut baru


__ADS_3

"Kakak potong rambut?" Tanya Anya yang baru menemui Adit di depan proyek.


"Lagi bosen aja." Jawab Adit tersipu karena tidak pernah ada yang menyadari perubahan model rambutnya.


"Bagus kak, lebih fresh. Ternyata cocok juga model korea-koreaan gini di wajah kakak." Puji Anya membuat Adit serasa terbang ke langit ke tujuh.


"Bisa aja Nya. Orang gak berubah jauh."


"Iiih beda tau kak. Kalau orang-orang ketemu kakak pasti ngiranya ada boyband lagi liburan di Bandung."


"Hahaha jadi kakak mesti joged dulu nih biar kayak boyband korea-korea."


"Boleh-boleh. Yuk cepet joged, Anya videoin." Anya bersiap mengangkat ponsel sambil tertawa. Keduanya tertawa bersama.


Entah hal apa yang membuat Adit nyaman di dekat Anya. Awal mula bertemu memang Anya memiliki tampak yang menawan. Tapi bagi Adit yang juga memiliki rupa tampan tidak serta merta membuatnya langsung jatuh hati pada Anya.


Lambat laun, Adit mengenal Anya. Wanita polos yang gigih dalam bekerja. Mencoba mandiri dalam kelemahannya. Membuat Adit ingin melindungi Anya. Perasaan Adit kian tumbuh karena kebersamaan mereka yang terukir indah baginya. Suasana pagi proyek dengan kopi dan senyuman manis Anya, sudah cukup membuat Adit bahagia sepanjang hari.


Adit pun tidak menyadari mulai kapan melihat Anya dan membuat Anya tersenyum adalah kebahagiaan pula untuk dirinya. Baginya, Anya adalah bintang yang indah namun sulit digapai. Adit juga tidak ingin Anya tau tentang perasaannya. Biar semua tersimpan rapat karena Adit tidak ingin senyum indah Anya tidak bisa lagi Ia lihat. Sebelum berperang, Adit tau bahwa Ia sudah kalah. Anya sudah memiliki kekasih yang ada di hatinya. Walaupun jarak jauh memisahkan Anya dan kekasih, tidak serta merta membuat Adit ingin bertingkah sebagai perebut kekasih orang lain. Biar semua berjalan wajar dan Adit hanya ingin menikmati saat-saat indah dengan wanita pujaannya. Anya.


Adit memandangi Anya yang masih tertawa. Ia terbahak. Wajah putih dengan sedikit liptint pink di bibir membuatnya terlihat segar. "Sungguh indah makhluk ciptaanNya." Batin Adit terus mengagumi wanita di depannya.


"Oiya, kakak kemarin naik apa pulang ke Bandung?" Tanya Anya sambil mencoba menghentikan tawa.


"Naik kereta. Seru juga bisa healing tipis naik kereta jakarta-bandung."


"Anya jadi gak enak ngerepotin kakak terus. Beneran yah, kayaknya sejak Anya pindah ke bandung dan kerja, cuma kak Adit yang Anya repotin."


"Gak masalah. Kan sama-sama di perantauan, jadi mesti saling bantu."


Anya mengangguk memahami tiap kata dari bibir Adit. Ia juga mulai belajar untuk peka terhadap sekitar. Karena sama-sama jauh dari rumah, Anya harus sigap jika ada teman yang butuh bantuan. Ia tidak boleh egois dan merasa paling merana karena jauh dari rumah. Semua juga berjuang demi keluarga. Jauh dari rumah memang mengajarkan banyak hal bagi Anya.


"Gimana kondisi kakak kamu?"


"Sudah sadar kak. Tapi ponakan aku masih dirawat karena berat lahirnya kurang. Padahal pengen banget gendongin." Curhat Anya.


"Syukurlah. Emang bisa gendong bayi?" Tanya Adit kembali.


"Bisa atuuuh. Ya walaupun kaku dikit sih. Itung-itung belajar kalau nantinya punya baby sendiri."


Adit mengangguk mencoba tersenyum. Ada perih di hati membayangkan Anya menikah dan membangun keluarga dengan kekasihnya.


"Emang udah mau nikah? Kok udah mikir baby sendiri."


"Belum sih. Tapi kan gak ada salahnya belajar kak. Jadi kalau sudah waktunya gak bingung."


"Iya yah, nanti udah punya baby sendiri malah bingung gendongnya. Lucu juga."


"Makanya kan, jadi gak salah Anya belajar sejak awal."


"Iya iya deh, terserah aja deh. Ayok masuk, absen dulu."


"Siap pak boss." Jawab Anya.


***


Kondisi Sonya berangsung membaik, Ia mulai belajar duduk lalu berdiri. Masa kritis telah dilewati. Ezza tak henti bersyukur, Sonya kembali di pelukannya. Tak henti ucapan sayang dilontarkan pada Sonya. Sonya tersenyum manis melihat suaminya yang selalu setia disampingnya.


"I love you." Bisik Ezza saat membantu Sonya naik ke atas ranjang.


"I love you too sayang."


Ezza duduk diatas ranjang, disamping Sonya yang setengah berbaring.


"Aku takut banget kehilangan kamu sayang. Aku cuma ingin liat istri tersayangku bahagia." Ezza menatap Sonya tajam namun penuh cinta. Sonya dibuat salah tingkah, walaupun sudah hampir setahun menikah, Sonya tetap berdebar dengan tatapan cinta Ezza.

__ADS_1


"Iih sayang, jangan diliatin gitu. Aku gak make up, jelek banget. Nanti kamu ilfil." Jawab Sonya menutupi rasa malunya.


"Kamu cantik sayang, cantik banget. Wanita paling cantik di dunia ini." Ezza semakin gombal.


"Gombaaal iiih." Sonya menepuk dada Ezza.


"Serius sayangku. Setelah lihat semua pengorbanan kamu demi bayi kita, gak ada yang lebih berharga dari kamu dan keluarga kita. Aku akan berusaha menjaga keluarga kecil kita." Ucap Ezza mantap membuat hati Sonya teduh.


Mata Sonya mulai basah, Ia berusaha menahan tangis haru karena bahagia memiliki sosok suami seperti Ezza. Sonya mengangkat kedua tangan ingin memeluk Ezza. Pasangan suami istri berpelukan erat.


Ezza melepaskan pelukan, Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Sonya. Ci*man kerinduan dirasakan keduanya. Rasa mencintai yang terus tumbuh membuat kedua manusia ini tidak ingin melepas pagutan.


Cekleeekkkk... Pintu terbuka.


"Ma..maafff.. Sa.. saya bawakan obat bu, untuk penghilang rasa nyeri." Perawat yang nyelonong masuk itu salah tingkah sendiri karena pemandangan di depannya.


"Aahh eehh i iya sus. Terima kasih." Ucap Sonya bingung. Ia saat berjalan tadi memang merasakan nyeri di bekas luka jahitan dan meminta obat pereda nyeri. Ia lupa kalau perawat akan mengantarkan obat ke kamar.


Perawat itu segera pergi setelah meletakkan obat di meja dan menyisakan Sonya yang tersipu malu karena kejadian barusan.


"Sayaaangg.. Malu banget." Sonya menutup wajahnya.


"Gak usah malu sayang, kan kita suami istri." Ezza menenangkan.


"Iya tetep aja malu sayang. Diliat orang lagi ciuman, di rumah sakit pula." Sonya masih menutup wajahnya.


Ezza mencoba menarik tangan Sonya perlahan untuk melihat wajah cantik Sonya yang merah padam.


"Gak papa sayang. Gak usah malu. Gak ada larangan dilarang ci*man kok disini."


"Sayaaaanggg.." Sonya gemas dengan respon Ezza.


Bukannya takut Ezza justru melancarkan serangan kembali, Ia segera menutup bibir Sonya dengan bibirnya kembali. Sonya hanya bisa pasrah.


***


"Yoga, Boy.. Masuk." Mama Meli yang menjaga Sonya mempersilakan masuk. Mama Meli pamit sebentar meninggalkan ketiganya.


"Haaaiiiiii.." Sapa Sonya yang sudah nampak segar.


"Waaahhh, udah jadi mama kece aja lu sekarang."


"Hahahaha makasih loh pujiannya."


"Selamat yah atas kelahirannya." Ucap Yoga kaku. Ia menaruh hadiah di atas meja.


"Iqbal udah kesini?" Tanya Boy.


"Udah tadi pagi, sama pacarnya."


"Waaahhh, pantesan gue ajakin kok aah eeh aah eeh aja tuh anak. Sudah ada pacar ternyata."


"Sudah, pacarnya temen deket Anya."


"Haaah? Seriusan? Anak kuliahan? Waaah, dapet daun muda dong."


"Eheemmm.." Yoga berdehem seolah dibicarakan karena hubungannya dengan Anya yang juga terpaut usia cukup jauh.


"Waaahh, sorry bro. Gak nyindir lu kok."


"Iya gue tau."


"Pacarnya namanya Mela. Lu kenal, Yoga?"


"Mela? Oooh iya kenal."

__ADS_1


"Abis ini lepas masa single juga tuh anak. Gila kerja banget sampai lupa cari jodoh sih."


"Hahahaha doain aja deh. Dia tuh gila kerja karena susah move on. Untung sekarang udah move on. Ikut seneng gue ada yang mau sama dia."


"Hahahaha kejam banget lu." Boy terbahak.


"Lah emang kok. Karena susah move on jadi gila kerja, kelanjutan sampai udah mateng begitu."


"Laaah lu kan juga usia mateng."


"Sorry yaaa, gue masih lebih muda dari lu."


"Iya iya deh, terserah."


Hubungan Sonya dan Boy memang sangat dekat. Ia ingat saat SMA sering bermain bersama Boy dan Iqbal.


"Gimana istri lu? Sehat?"


"Sehat. Lagi isi sekarang."


"Waaah seneng dong. Bentar lagi jadi bapak."


"Iya dong. Terus nih orang jadi pakdhe." Ucap Boy sambil menepuk pundak Yoga yang sedari tadi menyimak perbincangan Sonya dan Boy.


"Oooh iya yah, istri lu adiknya Yoga. Terus pacar Yoga, adik gue. Muter aja terus."


Yoga tersenyum menyadari ucapan Sonya.


"Terus gimana ldran sama Anya, aman?" Tanya Sonya.


"Aman. Ya walaupun ada ribut-ribut dikit. Tapi bisa teratasi kok." Jawab Yoga.


"Mesti sabar banget kalau ngadepin Anya. Tapi percaya deh, Anya gak bakal macem-macem. Sejak kecil dia gak percaya sama cinta-cintaan. Sekarang dia bisa komitmen hubungan sama kamu, tentu bukan keputusan mudah buat Anya. Dia gak akan mudah menyerah sama keputusannya." Jelas Sonya.


"Iya bener. Awalnya gue terlalu cemburu karena takut Anya pindah ke lain hati. Walaupun memang gue yakin Anya gak akan begitu, gue cuma takut laki-laki lain berusaha lebih keras aja." Ucap Yoga mengingat kebodohannya tempo lalu karena cemburu dengan Anya.


"Kalau lu takut laki-laki lain ngerebut hati Anya, ya lu mesti usaha lebih keras juga."


"Iya, Anya sudah sangat berusaha buat hubungan ini. Gue pun juga ingin berusaha lebih dari yang Anya lakukan." Semangat Yoga bertumbuh. Ingin berusaha lebih keras agar tidak ada satu lelaki pun yang sanggup membuat hati Anya berpindah darinya. "Anya hanya milik Yoga." Batin Yoga.


"Semangat pejuang bucin. Gue doain cepet married." Boy menyemangati Yoga.


"Gue aminin aja deh." Yoga mengamini doa Boy.


"Gue ikutan amin deh. Biar bisa liat adek gue bahagia juga. Tapi kalau lu nyakitin Anya, abis lu sama gue."


"Siaaapp. Gue bakal berusaha bahagiain Anya. Gak mungkin gue sia-siain. Dapetinnya super duper susah."


***


Hallo readers..


Author mau mengucapkan..


Selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1444 H.


Minal aidzin wal faidzin.


Mohon maaf lahir batin.


Maafkan apabila ada kata yang kurang berkenan, author hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.


Semoga kedepannya novel "dikejar cinta pak polisi" bisa senantiasa memberikan kebahagiaan buat readers semua.


#Happylebaran..

__ADS_1


__ADS_2