
Anya baru saja pulang dari kampus sore hari. Ia merasa senang karena pertemuannya dengan dosen tadi membuahkan hasil yang baik untuk tugas akhirnya. Tugas akhir Anya sudah akan selesai. Sebentar lagi Ia bisa menjalani sidang akhir dan lulus, tentu hal itu membuatnya bahagia.
Saat mobil Anya memasuki parkiran rumah Ia terkejut dengan adanya mobil Yoga yang sedang terparkir. Ia yakin jika Yoga ada di dalam rumah menunggunya. Anya ragu untuk masuk ke dalam rumah, namun mau tidak mau Ia harus masuk. Ia turun dari mobil dengan malas. Anya memperlambat langkahnya berharap Yoga lelah menunggunya dan sudah akan segera pulang. Tapi bukan Yoga namanya jika menyerah begitu saja.
Anya masuk dan melihat Yoga yang duduk di ruang tamu. Yoga duduk di sofa yang membelakanginya sehingga Yoga tidak sadar Anya sudah pulang. Anya mencoba mengendap masuk ke dalam rumah agar bisa bebas dari Yoga. Saat ditengah langkah, Mama Meli membuyarkan rencana Anya.
"Sudah pulang sayang?" Sapa Mama Meli sontak membuat Yoga menoleh. Anya hanya bisa meringis melihat mamanya.
"I iya ma, barusan pulang." Jawab Anya.
"Itu nak Yoga udah nungguin daritadi. Masa gak keliatan segede itu sih." Mama Meli bicara sambil menunjuk Yoga yang duduk di sofa ruang tamu dan menoleh ke arah Anya.
"I iya tau ma. Anya tadi mau naruh laptop sama tas dulu di kamar, sekalian ganti baju ma, gerah soalnya." Ucap Anya beralasan.
"Ooh yaudah kalau gitu, kamu ke kamar dulu abis itu turun temenin nak Yoga tuh. Mama mau ke dapur."
"Nak Yoga, tante tinggal ke dapur ya." Mama Meli menoleh ke arah Yoga yang memandangi ibu dan anak mengobrol sedari tadi.
"Iya tante."
Mama Meli bergegas masuk kembali dan hendak menuju dapur, diikuti Anya yang masuk menuju kamarnya. Anya menaruh laptop dan tasnya. Ia juga mengganti pakaiannya karena merasa gerah ketika tadi sibuk dengan urusan kampusnya. Setelah mengganti kemejanya dengan kaos rumahan, Anya turun ke dapur untuk mengambil minuman. Ia sengaja memperlambat agar Yoga bosan menunggunya.
"Loh kok malah masih disini sih. Itu kasian nak Yoga udah nunggu dari tadi." Ucap Mama Meli menepuk bahu Anya.
"Iya iya ma. Anaknya haus masa gak boleh minum sih." Gerutu Anya.
Anya berjalan menuju ruang tamu dengan langkah malas. Dalam hati kecil Anya sesungguhnya Ia merasa bahagia dengan kehadiran Yoga, namun Ia takut merasakan perih kehilangan mantan kekasihnya itu. Dengan beberapa kesibukan, Anya sudah merasa bisa mengalahkan kesedihannya. Jika Yoga datang kembali dan membuatnya galau, sulit baginya untuk menata pikirannya kembali.
"Haii." Sapa Yoga melihat Anya melangkah mendekatinya.
"Haii." Balas Anya.
"Baru pulang dari kampus?" Tanya Yoga basa-basi. Anya mengangguk.
"Ada apa kesini?" Tanya Anya to the point.
"Ada yang mau aku obrolin sama kamu, tapi aku mau ajak kamu keluar. Mau gak?"
"Kalau gak mau, gimana?"
"Aku paksa sampai mau." Jawab Yoga sambil nyengir.
"Maksa banget."
"Mau yaah, pliiis. Bentar aja kok." Yoga memohon.
"Bicara disini aja gak bisa emang kak?"
Yoga menggeleng.
"Tapi jangan lama-lama. Aku capek mau istirahat."
"Siap tuan putri."
"Iih apaan sih kak. Biasa aja. Yaudah tunggu, aku ijin mama dulu."
Setelah mendapat ijin dari Mama Meli mereka pergi mengendarai mobil Yoga. Mobil Yoga melaju menuju sebuah cafe dengan tema outdoor di rooftop. Dari lantai 5 gedung tersebut mereka bisa melihat lampu ibukota dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Yoga memberikan jaket pada Anya yang hanya menggunakan kaos.
"Makasih." Jawab Anya mengambil jaket dari tangan Yoga.
__ADS_1
Mereka duduk dan memesan makanan. Tak berselang lama, waitress datang menyajikan makanan.
"Kakak mau ngobrolin apa?" Tanya Anya mempercepat waktu. Ia merasa tidak enak mengobrol dengan calon suami orang lain.
"Aku mau kasih tau kalau akhirnya masalah aku sama Gista sudah selesai. Aku udah bisa buktiin siapa ayah kandung bayi yang dikandungnya, yang pasti bukan aku. Aku juga tau kalau mama sempat bertemu sama kamu untuk meminta kita putus."
Anya memang sengaja tidak jujur perihal pertemuannya dengan mama Yoga. Ia tidak ingin Yoga menjadi marah dengan mamanya.
"Syukurlah kalau semua sudah selesai dengan baik."
"Aku pengen kita seperti dulu, Anya. Aku sudah bilang sama mama dan papa tentang kita. Aku gak mau mereka memaksa kamu untuk hal apapun lagi, termasuk pernikahan. Aku mau jalanin semua sama kamu, sampai kamu yakin sama aku." Yoga memohon sambil memegang kedua tangan Anya. Anya terdiam menatap Yoga, melihat ketulusan di mata Yoga. Anya luluh mendengar kata-kata Yoga. Sudut matanya mulai basah. Sekuat tenaga Ia menjaga agar air matanya tidak tumpah. Namun, Ia gagal. Air mata itu tumpah juga. Perasaan sedih, kecewa, bahagia dan rindu tentunya berkecamuk di hati Anya beberapa minggu ini. Anya hanya mampu berusaha kuat.
Yoga yang melihat Anya meneteskan air mata langsung beranjak ke samping Anya dan memeluknya.
"Maafin aku Anya. Aku udah nyakitin kamu."
Anya menggeleng dalam pelukan Yoga dan terus mencoba menahan tangisnya.
"Menangis aja biar perasaan kamu lega."
Anya menumpahkan semua perasaannya. Ia menangis dalam pelukan Yoga. Pelukan yang sangat dirindukannya.
Setelah cukup tenang, Anya mengangkat kepalanya yang tadi bersandar di dada Yoga.
Yoga mengusap sisa air mata di pipi Anya. Ia tak tega dengan Anya yang memendam semua kesedihannya.
"Aku bener-bener minta maaf Anya. Maafin aku dan kasih aku kesempatan sekali lagi untuk berjuang bahagiain kamu." Yoga memohon.
Anya mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi kita balikan?" Yoga masih tidak percaya.
Anya mengangguk kembali. Yoga langsung memeluk Anya erat saking bahagianya.
***
Pernikahan Sonya dan Ezza sudah semakin dekat. Hal itu tentu membuat Sonya menjadi grogi tak karuan. 2 minggu lagi tepatnya, Ia akan mengikat janji suci pernikahan dengan lelaki yang dicintainya. Tapi entah kenapa dibalik rasa grogi dan bahagia yang dirasakannya, ada perasaan khawatir dengan sesuatu hal. Sonya hanya bisa berharap itu semua bukan pertanda buruk akan suatu hal.
Sonya bergegas ke rumah sakit untuk bekerja. Saat diparkiran mobil, Ia dikagetkan dengan kehadiran Selly yang berlari mengikuti Ezza. Sonya ingat bahwa pagi hari ini Ezza memang hendak ke proyek paviliun di rumah sakit. Sonya segera turun dan memanggil Ezza.
"Sayang.." Ezza menoleh ke arah sumber suara yang sangat Ia kenal. Selly juga ikut menoleh dan memasang wajah tak suka.
"Barusan sampai?" Tanya Ezza.
"Iya, kamu mau kemana? Kok bisa barengan sama Selly tadi?" Tanya Sonya tenang dan tetap memasang senyum. Selly nampak panas melihat kemesraan pasangan di depannya.
"Ini mau ke proyek sayang, tadi gak sengaja ketemu Selly. Ya kan Sel?"
"I iya. Tadi ketemu di parkiran."
"Yaudah aku duluan gak papa kan sayang?"
"Iya gak papa. Bye."
Sonya mengangguk sambil tersenyum. Saat Sonya hendak pergi, Selly mencegahnya.
"Gue kaget liat Ezza disini. Tapi gue anggep itu tanda kalau kami sebenarnya berjodoh." Ucap Selly ingin membuat Sonya panas.
"Bukannya kalian sempat berjodoh memang, tapi kamu tidak bisa menjaga semuanya dengan baik. Penyesalan selalu datang terlambat, karena kalau diawal namanya pendaftaran." Sonya berlalu meninggalkan Selly yang makin geram.
__ADS_1
"Liat aja, kalau gue gak bisa dapet Ezza, gue jamin lu akan kehilangan yang lu anggap penting." Gumam Selly.
Selly bergegas menuju ruang farmasi untuk bekerja. Hari ini Selly sangat sibuk, banyak permintaan obat yang membuat farmasi sangat kewalahan. Saat jam makan siang, Selly diperintah oleh atasannya untuk membawakan laporan obat ke ruang dokter Sonya. Selly kaget dan bingung, kenapa harus menyerahkan laporan tersebut ke ruangan dokter Sonya. Namun, Ia urung menanyakannya. Ia berpikir pasti Sonya diberi tugas oleh atasannya untuk memeriksa laporan obat yang telah digunakan.
Selly dengan gontai menuju ruangan Sonya. Ia mengetuk dan masuk untuk memberikan laporan tersebut. Sonya menerima tanpa basa basi, hanya ucapan terima kasih yang Ia ucapkan.
"Sombong amat, kayaknya baru dapat jabatan aja belagu." Batin Selly.
Selly tidak tau bahwa keluarga Sonya dan Iqbal adalah pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Waktu Ia berpacaran dengan Iqbal dulu, Iqbal juga tidak menceritakan tentang hal itu. Iqbal malah memiliki gaya yang sederhana karena Iqbal tidak mau menunjukkan kekayaan milik keluarganya.
Selly kembali ke ruangan farmasi dengan kesal. Ia memikirkan cara untuk mengerjai Sonya. "Enak aja udah ngerebut Ezza, gue bikin karir lu ancur pasti seru." Batin Selly sambil senyum-senyum sendiri. Selly bertanya pada atasannya yang tadi memberi tugas perihal dokter Sonya, Ia tau bahwa Sonya yang bertanggung jawab untuk pengecekan obat. Selly memiliki ide licik untuk nantinya merubah laporan obat sehingga Sonya akan disalahkan dan akan mendapat sanksi.
***
Hari ini Gista menikah dengan Om Faisal. Isak tangis tak bisa ditahan oleh Gista. Sang papa yang menjadi wali nampak tak acuh dengan tangisan Gista. Ia tau betul bahwa itu bukan tangisan bahagia dari anaknya. Tapi ini semua terjadi karena ulah anaknya sendiri. Papa Gista terpaksa melakukan semuanya tentu demi kebaikan putrinya.
SAH..
Ucap beberapa tamu hadir dari tetangga hingga adik dari Om Faisal yang menjadi saksi pernikahan tersebut. Kini Gista resmi menjadi istri Om Faisal.
"Mulai hari ini kamu tinggal disini. Papa dan mama pulang dulu." Ucap papa Gista.
"Iya pa." Jawab Gista masih dengan menangis.
"Ingat, kamu lagi hamil. Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh. Kamu juga harus melayani suami kamu, mulai saat ini kamu sah menjadi istrinya." Petuah mama Gista.
"Iya ma. Mama papa nginep sini aja dulu hari ini." Pinta Gista.
"Gak bisa, besok papa sudah harus kerja lagi. Papa sudah terlalu lama ninggalin kerjaan. Nanti gak ada yang handle." Terang papa Gista.
Gista hanya bisa mengangguk pasrah. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya Ia harus menikah dengan tua bangka.
Setelah tamu pulang, papa dan mama Gista juga ikut pamit pulang. Rumah sederhana itu terasa sepi, hanya menyisakan Om Faisal dan Gista.
"Aku gak mau tau, aku gak mau kita sekamar. Jangan harap juga aku mau ngelayani kamu layaknya suami istri. Ngerti!" Ucap Gista ketus.
Om Faisal hanya bisa pasrah. Sejak awal Ia mengerti tabiat Gista bahwa Ia tidak bisa diandalkan menjadi istri. Gista hanya wanita yang manja dan ingin menang sendiri. Semua memori Om Faisal kembali ke kenangan dengan mantan istrinya. Bagaimana dulu mantan istrinya menerima kekurangannya yang tidak memiliki apapun. Selain menerima, Ia bahkan membuatnya berada di puncak karirnya. Namun, karena ulahnya sendiri Ia kini kembali ke titik awal. Kehilangan wanita yang begitu tulus padanya. Sangat berbeda dengan Gista, Gista justru hanyalah wanita yang rela melakukan apapun demi uang. Bahkan Ia rela menggadaikan harga dirinya hanya demi uang.
Om Faisal membiarkan Gista di dalam kamar. Hari ini Ia memutuskan tidur di sofa depan televisi. Rumah yang sederhana itu memang memiliki dua kamar. Namun, kamar yang satunya masih berisi barang-barang yang belum dibereskan sehingga belum bisa ditempati.
Gista keluar kamar dengan dandanan seksi dan menor. Om Faisal kaget dengan tampilan Gista. Ia terlihat akan keluar rumah.
"Kamu mau kemana?" tanya Om Faisal.
"Aku mau keluar. Siapa yang betah di rumah sempit begini. Oiya, aku minta uang!" Ucap Gista sambil menengadahkan tangan kirinya.
"Kamu mau pulang jam berapa? Ini udah malem."
"Diiih cerewet banget sih. Udah sini aku minta uang. Cepetan! Kamu mau bayi kamu kelaparan apa?" Ancam Gista.
Dengan pasrah Om Faisal mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu.
"Segini doang? Ya ampun kere banget sih sekarang." Gerutu Gista.
"Yaudah disyukuri dong Gista. Uang itu juga cukup kalau buat kamu makan."
"Iya makan apa pake duit segini doang. Udah lah, susah nikah sama tua bangka kere kayak kamu. Nyesel aku hamil anak kamu yang bikin hidup aku jadi susah begini." Gista menumpahkan semua emosinya pada lelaki yang belum 24 jam menjadi suaminya.
Om Faisal terdiam. Mau bagaimanapun Ia berusaha bersabar demi bayi yang dikandung oleh Gista. Om Faisal tidak tega dengan bayi itu kalau tumbuh dalam keadaan kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Gista keluar rumah mengendarai mobilnya. Mobil yang dulu didapatkan dari Om Faisal saat masih berjaya. Banyak harta yang Om Faisal berikan pada Gista. Namun, semua tidak berwujud karena memang tingkah Gista yang banyak menimbulkan masalah. Uang ratusan juta itu raib entah kemana hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh Gista.
Gista melaju ke cafe yang biasa Ia kunjungi. Ia berharap bisa bertemu lelaki hidung belang lainnya disana agar kehidupannya tidak semenderita saat ini. Bagi Gista hidupnya sekarang sangat menderita. Memiliki suami yang tua bangka, hamil anak dengan lelaki tua bangka tersebut, dan yang paling parah baginya, lelaki itu tidak memiliki uang yang bisa Ia gunakan untuk menopang hidupnya. Gista berniat mencari uang dari lelaki hidung belang lain, karena jika mengandalkan Om Faisal pastilah uang yang diberikan sangat tidak mencukupi kehidupan hedon Gista.