
Laporan obat yang diberikan pada Sonya diubah oleh Selly. Iqbal yang memeriksa semuanya dibuat pusing. Ia memanggil Sonya guna membicarakan semuanya.
"Sorry banget Bal, gue kemarin cek yang sebelumnya normal. Sekarang kok bisa begini juga gue bingung. Gue perbaiki dulu ya laporannya." Ucap Sonya. Sejujurnya Sonya cukup lelah dengan banyaknya pasien dan persiapan pernikahan yang menguras tenaganya. Ia tak menyangka ada masalah lain yang datang.
Sonya memutuskan menanyakan semuanya pada atasan Selly yang bertugas sebagai kepala farmasi. Atasan Selly juga merasa bingung kenapa bisa laporannya berbeda drastis, padahal sebelumnya Ia sudah mengecek dan tidak seperti itu.
Atasan Selly memanggil Selly dan menanyainya perihal laporan tersebut. Selly berkelit dan berpura-pura tidak mengetahui. Dalam hati Selly sangat bahagia, pasti rencananya membuat karir Sonya hancur berjalan dengan baik.
Selly keluar ruangan atasannya dengan bahagia. Ia melihat Sonya yang menunggunya diluar ruangan sambil bersandar di dinding.
"Ups, ada yang bakalan hancur nih karirnya. Karena korupsi ya. Dokter bisa-bisanya korupsi. ckck." Ucap Selly mengompori Sonya.
"Gue tau ini semua ulah lu kan."
"Haah? Ulah gue? Emang gue ngapain coba. Tapi yang jelas, rumah sakit pasti bakal mecat lu dari sini. Selamat membuka praktek sendiri DOKTER SONYA." Ucap Selly dengan tersenyum sinis.
"Siapa bilang gue bakal dipecat? Ngarep banget lu? Gue bakal cari bukti kalau lu yang berulah dibalik ini semua."
Sonya berlalu meninggalkan Selly yang kesal. Ia sudah sangat berharap Sonya pergi dari rumah sakit tersebut. "Bisa-bisanya dia gak dipecat. Apa mungkin dia ada hubungan sama direktur rumah sakit." Gumam Selly saat berjalan menuju ruang farmasi. "Pasti dia disuruh tanggung jawab dulu. Seenggaknya dia kena sanksi pastinya. Biar tau rasa tuh cewek." Gumam Selly kembali.
Sonya geram dengan ulah Selly. Ia memutuskan menuju ruang keamanan untuk mencari bukti cctv di depan ruangannya. Benar saja Ia melihat rekaman Selly yang diam-diam mengendap ke ruangannya dan mengganti berkas laporan tersebut. Sonya segera menyimpan bukti itu dan mencari Selly di ruangan farmasi.
Selly sedang mengobrol dengan pegawai yang lain. Sonya datang menghampiri.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Sonya.
Semua mata tertuju pada Sonya yang berbicara dengan nada geram. Selly dengan cuek melihat Sonya.
"Kalau mau bicara ya langsung bicara aja disini." Tantang Selly.
"Kalau kamu mau malu disini, ya gak masalah." Pegawai lain menatap keduanya menaruh curiga apa yang terjadi antara keduanya.
Selly akhirnya berdiri dan mengikuti Sonya ke tempat yang sepi untuk berbicara.
"Kenapa? Udah dipecat? Mau protes lagi ke gue?" Tanya Selly dengan ketus dan melipat tangan di dada.
"Kayaknya gue gak bakalan dipecat. Gue malah takut lu yang bakal dipecat. Gue dapet rekaman cctv lu masuk ke ruangan gue."
Raut wajah Selly berubah panik, Ia segera menoleh ke arah Sonya.
"Lu mau apa? Gu gue gak ngerti apa maksudnya." Selly tetap berusaha tenang.
"Oke kalau lu gak mau jujur. Gue akan sampaiin rekaman ini ke direktur. Soal keputusannya kita lihat nanti. Siapa yang bakal keluar dari sini."
Sonya meninggalkan Selly yang panik.
Selly kembali ke ruangannya dan pegawai lain sedikit bingung dengan Selly yang mimik mukanya panik dan pucat.
"Kenapa Sel?" Tanya seorang temannya.
"Eeh, gak papa kok. Cuma masalah laporan obat. Mungkin dokter Sonya marah-marah karena takut dipecat." Kilah Selly menutupi semua ulahnya.
"Dipecat? Ya mana mungkin dia dipecat Sel."
"Gak mungkin? Emang dia siapa? Kok bisa-bisanya gak bakal dipecat?"
"Dia kan cucunya yang punya rumah sakit Sel. Lu gak tau? Kakeknya dokter Sonya dan dokter Iqbal itu pendiri rumah sakit ini. Dulu papanya dokter Iqbal yang mengelola, tapi setauku sih sudah pensiun dan sekarang semuanya dijalankan oleh dokter Iqbal dan dokter Sonya."
__ADS_1
Kaki Selly lemas mengetahui kenyataan siapa yang sedang Ia hadapi. Ia hanya bisa meringis menanggapi temannya. Ia tak menyangka bahwa Sonya yang berusaha Ia singkirkan tidak akan tersingkir, justru bisa jadi dirinyalah yang akan dipecat dari pekerjaannya.
"Bego banget lu Sel." Batin Selly.
***
Yoga dan Anya memutuskan untuk berkencan di malam hari. Mereka makan malam bersama disebuah lounge untuk merayakan kembalinya mereka bersama.
Mereka sampai di lounge. Kali ini dandanan keduanya nampak rapi. Anya menggunakan gaun warna maroon dengan potongan dibawah lutut. Wajahnya dihiasi make up tipis natural dengan clutch kecil yang dia bawa. "Kamu cantik banget sayang." Puji Yoga sambil menggenggam tangan Anya membuatnya bersemu merah.
Sepasang kekasih ini duduk di meja yang telah mereka pesan. Tak lama pesanan mereka datang, steik terhidang di atas meja. Mereka makan sambil bercengkerama dan bermesraan layaknya pasangan pada umumnya. Mereka merasa bak dunia milik berdua. Tanpa mereka sadari ada mata yang tertuju pada keduanya. Mata tersebut menunjukkan rasa geram dan tidak terima dengan kemesraan pasangan itu.
Wanita itu mendekati meja Anya dan Yoga.
Braaakkkkk!!! Ia memukul meja dengan keras membuat Anya dan Yoga kaget. Sontak mereka menoleh. "Gista." Ucap keduanya bersamaan.
"Senang ketemu kalian berdua disini. Penghancur kehidupan orang lain." Ucap Gista dengan nada sinis. Semua pengunjung lounge nampak melihat ke arah mereka. Ada yang langsung mengeluarkan ponsel dan merekam kejadian tersebut.
"Ngapain lu disini?" Ucap Yoga.
"Ngapain? Emang aku gak boleh disini? Segitunya kamu sama calon istri kamu. Kamu tega milih cewek bau kencur ini dibanding aku." Oceh Gista.
"Cukup Gista! Pergi dari sini atau aku seret kamu keluar."
"Uuuhhh, aku takut banget pak polisi. Kamu selalu ancam aku ya. Kamu kira aku ini apa. Beraninya hanya membentak, ngusir seenaknya. Sekarang aku gak akan biarkan itu semua terjadi. Aku mau kita semua menderita. Terutama kamu!!" Ucap Gista melihat ke arah Anya.
Gista mengambil pisau yang ada di meja dan menodongkan pada Yoga dan Anya. Yoga kaget dan refleks melindungi Anya. Anya kaget dengan ulah nekat Gista. Para pengunjung pun tak kalah kaget dan ada yang berteriak. Kondisi lounge menjadi ramai dan panik karena ulah Gista yang tersulut emosi.
"Kalian pikir kalian siapa? Bisa seenaknya tertawa diatas penderitaan gue? Asal kalian tau, karena ulah kalian, gue sekarang nikah sama tua bangka itu. Hidup gue hancur karena kalian." Oceh Gista tak karuan sembari tetap menggenggam pisau ditangannya.
"Itu semua karena ulah lu sendiri. Lu yang bahkan rela jadi selingkuhan Om Faisal. Lu yang harus tanggung jawab atas perbuatan lu sendiri." Ucap Yoga mencoba tenang melihat Gista yang emosi dan mengangkat pisau digenggamannya. Ia terus waspada agar Gista tidak sampai melukai Anya.
"Memang bukan gue yang harusnya nikahi lu. Stop bikin keributan Gista. Dan gue mohon, lu pergi dari hidup gue."
"Kalau lu minta gue pergi dari hidup lu, gue akan pergi. Tapi gue pastiin lu akan selalu ingat dengan kepergian gue." Yoga kaget dengan ucapan Gista. Ia mengira Gista akan nekat menusukkan pisau ke arahnya, namun Ia salah. Gista justru menusukkan pisau ke perutnya. Perutnya mengeluarkan darah. Seluruh pengunjung lounge berteriak tak karuan. Gista terkapar di lantai tak sadarkan diri.
"Aaaakkkkhhhhhhhh.." Anya kaget dengan apa yang Ia lihat.
"Tolooong! Tolong!" Teriak Yoga dan Anya kepada sekeliling. Pegawai lounge dengan sigap segera memanggil ambulans, setelah tadi diam-diam memanggil polisi saat Gista berulah dengan mengambil pisau.
Tak lama ambulans datang dan segera membawa Gista ke rumah sakit. Yoga dan Anya terpaksa ikut ke rumah sakit karena kondisi Gista yang seorang diri. Mereka berdua menyusul ke rumah sakit setelah memberi keterangan pada polisi.
Ambulans sampai di rumah sakit, tak lama Yoga dan Anya juga datang. Sonya kaget melihat adiknya dirumah sakit.
"Ada apa, Nya?" Tanya Sonya yang melihat Anya di UGD.
"Gista masuk rumah sakit kak, dia tadi nusuk perutnya sendiri."
"Ya ampun. Kamu yang tenang yah." Sonya memeluk adiknya yang masih terlihat tegang dan panik.
Salah seorang perawat datang dan memberikan info pada Sonya bahwa Gista segera membutuhkan pembedahan. Sonya segera menuju ruang operasi. Sebelumnya, Sonya memberi nomor Andre pada Yoga agar Yoga bisa memberitau Om Faisal kondisi Gista.
Yoga menelpon Om Faisal. Ia menginfokan kondisi Gista yang sekarang sedang mendapatkan penanganan dirumah sakit karena tadi menusuk perutnya. Om Faisal kaget mendengar berita tersebut, Ia langsung bergegas menuju rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Om Faisal terengah saat sampai di depan ruang operasi.
"Sabar om, semoga Gista selamat. Om duduk dulu. Yoga akan ceritakan semuanya." Yoga menyuruh Om Faisal duduk dan menceritakan semua yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ya ampun Gista. Segitu tersiksanya dia menikah denganku." Ucap Om Faisal tertunduk.
"Kita berdoa saja untuk keselamatan Gista." Om Faisal hanya bisa mengangguk.
Tak lama, Andre datang. Semua kaget dengan kehadiran Andre termasuk Om Faisal.
"Kak Andre." Ucap Anya heran. Andre memberikan senyum pada Yoga dan Anya. Andre bisa tau semuanya ketika Yoga tadi menelponnya untuk menanyakan nomor Om Faisal. Andre merasa tidak tega dengan papanya. Terlebih, bayi yang dikandung Gista tetaplah adiknya. Rasa tidak tega itu yang membuat Andre melangkah menuju rumah sakit untuk melihat kondisi papanya.
Andre berjalan menuju Om Faisal. Om Faisal segera memeluk Andre erat.
"Maafin papa, Nak. Maafin papa. Papa yang menhancurkan keluarga kita." Kata yang keluar dari bibir Om Faisal yang selama ini sulit Ia katakan pada anak semata wayangnya. Om Faisal sampai tersungkur di bawah kaki Andre, Ia nampak sangat terpukul.
"Andre sudah maafin papa. Sudah jangan begini pa. Papa bangun dulu, kita duduk." Andre dan Om Faisal duduk di kursi.
"Mungkin ini sudah jalan keluarga kita. Andre berusaha menerima ini semua." Ucap Andre sambil mengusap punggung papanya.
Om Faisal semakin menunduk malu. Ia sangat malu pada anaknya. Bagaimana Ia memaksakan anaknya untuk menikahi wanita baik-baik, tapi pada kenyataan Ia masih berkeliaran mencari wanita muda untuk menemaninya. Sungguh kenyataan yang ironi. Om Faisal menyesali perbuatannya kini. Jika saja dulu Ia tidak semudah itu menggadaikan cinta istrinya yang begitu tulus, mungkin kehidupannya tidak akan setragis ini.
Anya dan Yoga hanya bisa melihat kedua ayah dan anak itu mencurahkan perasaannya. Bagaimanapun keburukan papanya, Om Faisal tetaplah papa Andre dan tidak akan terganti. Dengan berbuat seperti ini, bisa menerima papanya, Andre berharap kelak seorang gadis kecil yang diyakini putrinya bisa menerima kehadirannya seperti apapun kelamnya masa lalu Andre dahulu.
***
Setelah melakukan operasi, Sonya bergegas bertemu Iqbal memberitahukan bahwa Selly lah yang melakukan kebohongan dengan mengganti laporan. Iqbal yang melihat rekaman tidak menyangka Selly tega melakukan hal rendahan seperti itu.
"Besok akan gue urus semuanya." Ucap Iqbal.
"Makasih ya. Gue harap lu gak pecat dia. Kasian dia punya anak yang harus dibiayain." Sonya tidak tega jika Selly harus dipecat karena hal tersebut.
"Iya liat keputusan besok aja. Gue masih gak nyangka Selly setega itu. Setau gue awal mengenal dia, dia adalah wanita lembut yang baik. Namun, semua kesan awal kita dulu memang tidak menjamin seseorang akan tetap sama." Iqbal menggeleng tak percaya dengan semua yang Ia lihat tentang mantan kekasihnya tersebut.
"Lu bener Bal. Seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu."
Kedua saudara ini merenung bersama sesaat. Iqbal memutuskan merahasiakan masalah ini dari papanya, Om Ehan. Baginya ini masalah yang tidak terlalu krusial, Ia akan berusaha menyelesaikannya sendiri.
Keesokan harinya Selly masuk kerja dengan perasaan cemas akan ancaman dari Sonya. Dan benar saja, Selly dipanggil ke ruangan direktur. Selly kaget saat melihat Iqbal yang ada di kursi direktur rumah sakit. Ternyata benar apa yang Ia dengar dari temannya kemarin.
"Duduk." Titah Iqbal.
Selly mengikuti perintah.
"Saya sudah tau masalah yang terjadi antara kamu dengan dokter Sonya. Saya harap kamu tidak melakukan hal buruk seperti yang saya dengar kemarin."
"Tapi saya tidak melakukan apa-apa." Selly masih berusaha membela diri.
Iqbal memutarkan rekaman video cctv agar Selly tidak bisa berkelit.
"Maaf. Saya tidak bermaksud. Saya hanya ingin membuat dokter Sonya jera karena telah merebut Ezza dari saya." Selly tertunduk. Ia menyadari tindakan bodohnya yang justru kini malah menyerangnya sendiri.
"Kamu tidak seharusnya melakukan hal seperti itu hanya karena masalah pribadi. Sanksi dari hal yang kamu lakukan, harusnya saya memecat kamu dari rumah sakit ini." Ucap Iqbal tegas.
Selly hanya tertunduk pasrah jika memang Ia yang harus dipecat.
"Tapi dokter Sonya meminta saya agar tidak memecat kamu. Saya tau kamu apoteker yang hebat. Tolong Selly, jangan libatkan perasaan kamu untuk pekerjaan. Kita bekerja untuk masyarakat, jangan sampai emosi kamu berdampak buruk bagi orang lain nantinya yang bahkan tidak terlibat dalam masalah kamu."
Selly tertunduk malu. Benar yang diucapkan Iqbal. Tidak seharusnya dia melakukan hal rendah hanya untuk menghancurkan karir seseorang. Hal itupun dilakukan hanya karena kesal masalah cinta.
"Maafin aku bal. Aku janji gak akan mengulanginya." Iqbal mengangguk.
__ADS_1
"Kamu seharusnya meminta maaf sama Sonya. Dia tetap berusaha memperbaiki semua laporan itu seorang diri, Ia juga yang memohon ke saya agar tidak memecat kamu." Selly semakin malu mengangkat wajahnya. Iqbal menyuruh Selly kembali ke ruangannya.