Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Membangun keluarga


__ADS_3

Hari demi hari dilalui Ezza dengan sangat berat. Harusnya momen persalinan anaknya menjadi momen membahagiakan. Tapi semua berbeda, yang tersisa hanya harapan agar tidak kehilangan kedua wanita yang dicintai tanpa cela.


Kedua wanita Ezza memberikan respon positif bagi kesehatan masing-masing. Namun, tetap saja raga tak bisa direngkuh oleh Ezza. Kerinduan yang dalam pada istrinya, Sonya. Sonya sudah sadar dengan kondisi lemah. Kerinduan memuncak di hati Ezza. Ingin Ia sampaikan betapa bahagia karena melihat perjuangan hebat Sonya. Ia sangat salut dan kagum dengan istrinya.


"Sayang.. putri kita sudah lahir. Kamu cepat pulih ya." Ucap Ezza.


Sonya yang masih lemas belum sanggup menjawab Ezza. Ia hanya mengedipkan mata tanda mengiyakan ucapan suami tersayang.


"Makasih sayang, semua perjuangan kamu sangat berharga. Makasih sudah melahirkan putri cantik kita. Putri kita sangat cantik, persis mamanya yang sangat cantik dah hebat." Ucap Ezza dengan mengusap lembut kening Sonya.


Mama Meli terharu melihat pemandangan di depannya. Kemesraan Sonya dan Ezza mengingatkan Ia pada kenangan masa lalu. Masa dimana kebahagiaannya dengan almarhum suami ketika baru memiliki bayi. Semua sangat indah dan tiada hari dilewati tanpa penuh dengan cinta kasih. Sayang semua kebahagiaan itu sirna semenjak kepergian tiba-tiba. Mama Meli merasa dunianya runtuh dan tidak sanggup bertahan hidup. Namun, saat melihat putri-putrinya kini. Ia bersyukur pernah berjuang dan bangkit dari titik terendahnya.


"Kakak, cepat pulih ya. Kakak bikin Anya khawatir." Anya mendekati Sonya yang terbaring dari sisi lain karena ada Ezza yang mendampingi.


Sonya mencoba tersenyum.


"Anya juga pamit, abis Anya balik lagi ke Bandung. Besok gak bisa cuti kerja soalnya. Kakak lekas sehat. Kak Ezza, Anya titip kak Sonya." Ezza mengangguk.


"Makan dulu sayang sebelum pulang ke Bandung." Ucap Mama Meli.


"Emmhhh, mau makan kalau ditemani mama." Ucap Anya manja diiringi senyum Sonya dan Ezza yang merasa terhibur dengan kedatangan Anya. Iya, kadang saat kita tertimpa musibah, kedatangan keluarga terdekat memberi semangat sudah cukup menjadi pelipur lara dan semangat berjuang akan meningkat.


"Iya, ayok makan dulu. Mama suapin kalau perlu."


***


"Izinkan aku jujur bahwa dia putriku." Ucap Andre membuat Selly terperanjat.


Saat jam istirahat makan siang, Andre datang menemui Selly di rumah sakit. Sudah berkali-kali Selly menjaga jarak demi tidak terbawa perasaan masa lalu. Ia tidak mau terjebak sakit hati kedua kali pada orang yang sama. Apa bedanya dengan keledai? Itu yang ada di benak Selly.

__ADS_1


Selly menoleh ke arah Andre yang beberapa langkah sempat Ia tinggalkan.


"Apa tujuan kamu, Ndre?" Tanya Selly mencoba tenang.


"Tujuan aku, ingin menjaga kalian berdua. Aku tau semakin lama aku semakin egois. Tapi aku gak bisa kamu jauhin aku begini terus, Sel."


"Plis Ndre. Kita gak ada hubungan apapun lagi. Aku biarin kamu dekat dengan Airelle karena dulu kamu bilang semua demi kebahagiaan Airelle, agar dia mendapatkan kasih sayang dari sosok ayah. Tapi sekarang? Kamu mau membuat Airelle bingung dan kaget dengan kejujuran yang akan kamu lakukan. Seberapa besar kamu perduli sama perasaan Airelle, Ndre? Kenapa yang aku rasa, kamu hanya perduli dengan perasaan kamu aja." Ucap Selly panjang lebar serasa menampar Andre. Selly benar, Ia semakin dikuasai keserakahan. Sejak awal Ia ingin dekat dengan Airelle walaupun gadis mungil itu tidak tau bahwa Andre adalah ayah kandungnya. Namun, kini saat Airelle sudah sangat dekat dengannya, Ia ingin mengungkap semuanya. Tentu semua demi diri sendiri, Andre berpikir dengan mengungkap semuanya, Airelle dan Selly akan menjadi milik dia seutuhnya.


Andre tertunduk lesu memikirkan ucapan Selly. Tapi Selly masih melanjutkan ucapannya.


"Aku kira kamu sudah berubah, Ndre. Nyatanya, kamu masih tetap menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginanmu."


"Selly, aku hanya ingin kita bertiga membangun keluarga kecil yang sempat terhalang dulu." Ucap Andre lirih.


"Semudah itu buat kamu Ndre? Mungkin mudah memang buat kamu. Tapi apa kamu yakin membangun keluarga kecil yang kamu ingin itu bisa membuat aku dan Airelle bahagia? Bisa membuat kami berdua menghapus luka masa lalu kami?"


"Aku tau aku salah Selly. Beri aku kesempatan untuk berubah lebih baik. Aku akan buktikan bahwa aku mencintai kamu Selly. Tidak pernah aku melupakan kamu di hatiku."


"Semua sudah berbeda Andre. Aku bukan Selly yang hanya hidup demi laki-laki yang aku cintai. Aku punya putri kecil yang harus aku rawat dan perjuangkan. Masalah hati, aku sudah mencoba mengubur semuanya. Aku hanya ingin menjalani hidup demi kebahagiaan Airelle."


Selly berjalan pergi meninggalkan Andre. Andre menyadari betapa luka bersarang di hati Selly. Betapa sakit perasaan Selly di masa lalu, harus mencoba menutup semua seorang diri demi Airelle. Andre semakin bertekad tidak ingin kehilangan Selly dan Airelle.


"Kalian layak aku perjuangkan. Mulai sekarang, kalian berdua tujuan hidupku. Selly, Airelle." Gumam Andre memandangi punggung Selly yang semakin jauh meninggalkannya.


***


Semakin hari kebucinan Iqbal semakin parah. Ia bahkan selalu menyempatkan mengirim selfie disela kesibukan praktek agar Mela tidak khawatir. Namun, bukannya membuat Mela senang, gempuran selfie di handphone Mela justru membuatnya sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan revisi skripsi.


Mela menggeleng saat melihat chat baru masuk di handphone. Siapa lagi kalau bukan Iqbal yang selfie dengan percaya diri dan menulis pesan bahwa Ia baru selesai praktek dan tidak ada pasien yang cantik karena hanya Mela yang tercantik. Mela terbahak membaca gombalan kekasihnya yang sudah bergaya klasik.

__ADS_1


"Noraaakkk. Udah aah gak usah kirim selfie terus." Balas Mela.


"Loh kok norak sayang, emang ini bukan bagian romantis kah? Kok aku search di gugel ini cara romantis ke pacar. Selalu kasih kabar."


"Hahahaha kalau kebanyakan kabar juga bikin gumoh sayang. Mela percaya sama kakak. Lagian kakak kan kerja, Mela juga dirumah aja. Kecuali kalau kakak mau pergi kemana, boleh kabarin Mela sekali dua kali. Tapi kalau stay di rumah sakit ya gak usah selfie berkali-kali."


"Huuu.. gitu ya. Oke deh, nanti aku coba search cara lain biar romantis deh. Ternyata gagal jadi cowok romantis, malah bikin kamu gumoh."


"Gak perlu romantis kak. Aku suka hubungan yang apa adanya. Romantis terus juga gak seru. Boleh ada momen romantis, tapi kalau keseringan juga jadinya malah bosen diromantisin terus."


"Beneran? emang kamu malah gak pengen punya pacar romantis gitu? Apalagi kalau masih usia muda kan malah seneng diromantisin pacar."


"Hmmm, biasa aja sih kak. Bagi Mela romantis secukupnya aja. Kalau berlebihan juga aneh, apalagi kalau kakak emang aslinya gak romantis. Nanti yang ada malah beban pikiran. Intinya kita jalanin aja apa adanya kak, Mela gak nuntut yang macem-macem."


Iqbal tersenyum membaca pesan dari kekasihnya. Wanita muda yang sederhana. Sangat berbeda dari kesan awal saat Ia bertemu dengan Mela dulu. Siapa sangka justru kini hati Iqbal terjerat pada sosok Mela. Gadis yang apa adanya dan membuat Iqbal selalu kagum.


"Makasih ya sayang. Aku bahagia banget bisa milikin kamu. Sekarang jadi kangen pingin ketemu. Hiks."


"Kan masih sibuk kak, semangat kerjanya sayang. Gak boleh males karena pacaran loh ya. hehehe. Mela juga masih kerjain revisi skripsi. Mesti buru-buru di kumpul."


"Iya sayang, nanti kalau udah gak sibuk kita ketemu ya. Aku praktek lagi ya sayang, nanti kita kabar-kabaran lagi. Byeee.. I love youu."


"Love you too.." Balas Mela singkat dan kembali fokus dengan revisinya.


Mela memang mengejar revisi agar segera bisa terkumpul. Ia ingin segera bisa menyelesaikan semua tanggungan dan bisa wisuda. Mela bersemangat mencari lowongan pekerjaan.


Disaat bersamaan Mela ingat bahwa pamannya sempat menelpon untuk mengajak bertemu. Mela juga berjanji datang ke kantor jika sedang tidak sibuk.


"Besok deh gue kesana." Batin Mela yang tidak enak karena paman Mela sudah banyak membantu memberi kesempatan Mela magang beberapa bulan lalu.

__ADS_1


__ADS_2