
Gina pulang ke rumah dengan senyum-senyum sendiri. Hatinya berbunga-bunga membayangkan saat Ia makan siang bersama Yoga dan Boy. Ia berharap semoga semua niatan baiknya bisa berjalan lancar.
Sesampainya di rumah, Gina dikagetkan dengan kehadiran Agam, mantan kekasihnya. Agam nampak sedang asik mengobrol dengan mama Gina. Gina yang tadinya sumringah seketika berubah menjadi bertanya-tanya.
"Sudah pulang sayang?" Mama Gina menyapa.
"Iya ma."
"Ini tadi ada nak Agam datang. Nungguin kamu loh daritadi. Yaudah temenin ngobrol dulu. Mama masuk ke dalam." Gina mengangguk terpaksa.
Ia berjalan dengan berat menuju ruang tamu dan duduk di depan Agam.
"Ngapain lu kesini?" Tanya Gina sinis.
"Apa kabar Gin? Aku kesini mau minta maaf atas semua yang terjadi."
"Kabar gue baik banget. Justru kedatangan lu kesini yang bikin gue males. Kalau soal masa lalu, gue udah maafin. Jadi lu gak perlu repot-repot kesini."
"Jangan gitu dong Gin. Niat aku bener-bener tulus. Aku pingin hubungan kita membaik. Aku pingin kita seperti dulu?"
"Apa kamu bilang? Mau kita seperti dulu? Kamu lupa apa yang udah kamu lakuin?"
"Iya Gina. Makanya aku kesini untuk minta maaf. Aku tau aku salah. Gak seharusnya aku selingkuh hanya karena kamu yang sibuk bekerja dan tidak ada waktu denganku." Gina tersenyum kecut.
"Kesibukan gue kerja? Itu cuma lu jadiin alasan aja. Kalau lu gak ada niatan selingkuh, gue rasa kesibukan gue gak akan jadi masalah."
"Iya Gina. Aku sadar kalau aku udah salah nyia-nyiain wanita sebaik kamu. Aku mau memperbaiki semuanya Gina. Plis kasih aku kesempatan sekali lagi." Agam memohon kepada Gina.
"Sorry, gue gak bisa. Gue udah gak ada perasaan sama lu lagi." Tolak Gina.
"Aku mohon Gina. Aku bakal lakuin apapun yang kamu mau." Paksa Agam.
"Gue gak bisa Agam. Gue udah ada orang lain yang gak mungkin gue sakiti."
"Siapa? Aku gak percaya. Ini pasti alasan kamu supaya aku gak ganggu kamu lagi kan." Ucap Agam tak percaya.
"Gini yah, apa untungnya buat gue boongin lu. Gue beneran sudah ada seseorang yang baru. Mau lu percaya atau enggak, itu urusan lu. Mending lu balik sekarang, gue mau istirahat." Usir Gina kesal.
"Aku yakin kamu bohong. Mama kamu sendiri yang bilang kalau kamu masih sendiri dan belum punya pacar." Agam menjawab dengan ekspresi selidik.
"Emang punya seseorang harus pacaran? Gue mah ogah pacaran-pacaran endingnya diselingkuhi. Gue nyari yang mau nikahin gue. Dan gue udah nemuin lelaki yang tepat itu." Jawab Gina percaya diri.
"Gak bisa Gina. Kamu gak boleh nikah sama siapapun. Kamu harus nikah sama aku, karena cuma aku yang benar-benar sayang sama kamu." Agam berpindah ke sebelah Gina dan memegang kedua tangan Gina. Gina segera menepisnya dan beranjak.
"Kalau lu gak sopan gini. Mending lu pulang sekarang. Atau.."
"Atau apa?"
"Atau gue teriak supaya orang-orang kesini dan mukulin lu sekalian." Ancam Gina.
"Inget ya Gina, aku gak akan nyerah. Aku yakin sama perasaanku. Aku sudah menyesal dan minta maaf sama kamu, gak seharusnya kamu giniin aku. Aku akan pastikan kamu jadi milik aku lagi."
"Udah cepet pergi!" Usir Gina dan segera masuk menuju kamarnya dengan kesal.
"Gila tuh cowok! Ngeselin banget! Sudah tau salah malah maksa banget. Awas aja lu ntar kalau liat gue nikah sama kak Boy, nangis kejer lu pasti." Gumam Gina kesal. Saat membayangkan pernikahannya dengan Boy membuat kekesalan Gina menguap. Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan momen tersebut. Ditambah dengan momen setelah pernikahan yang membuat Gina semakin bersemu merah dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aaaakkkhhhh.. Malu banget.." Gumam Gina tetap dengan senyum-senyum sendiri.
***
Dengan semangat juang tanpa kenal menyerah, Andre kembali datang ke rumah sakit untuk mencari Selly.
"Selly.. Mau kemana?" Andre menghadang jalan Selly.
"Gue mau balik, plis jangan halangin jalan gue."
"Aku anter balik yuk."
"Enggak usah, makasih."
__ADS_1
"Plis Selly. Aku jauh-jauh kesini buat ketemu sama kamu."
"Gak ada yang nyuruh kamu kesini, Ndre. Itu kemauan lu sendiri." Selly mencoba melewati Andre. Andre menarik tangannya.
"Lepasin!" Ucap Selly.
"Aku bakal lepasin kalau kamu mau aku anter pulang."
"Lepasin atau aku teriak disini."
"Aku gak akan lepasin. Aku bakal lepasin kalau kamu mau pulang bareng aku." Andre keras kepala.
"TOLOOOONNGGG! TOLLOOOONNNGG!" Teriak Selly kencang. Security yang mendengar teriakan Selly segera datang mendekat ke arah Selly dan Andre. Sorot mata orang-orang disekitar juga tertuju pada mereka berdua. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa pikir panjang Andre segera memeluk bahu Selly. Selly kaget dibuatnya.
"Ada apa ini Pak, Bu?" Tanya security rumah sakit.
"Ini pak ada orang...." Selly berusaha menjelaskan.
"Maaf ya Pak, istri saya lagi ngambek. Maklum lagi PMS. Sudah saya rayu tapi masih kesel sama saya karena saya telat jemputnya." Potong Andre membuat Selly menoleh kaget sambil melotot.
"Maaf semuanya sudah mengganggu kenyamanan, maklum ini istri saya lagi ngambek karena saya telat jemput." Andre berteriak ke arah kerumunan yang berseru "ooohhh" setelah mendengar penjelasan Andre dan membuat Selly semakin malu.
"Ooh begitu Pak. Yaudah kalau begitu kami permisi." Security pamit dan kerumunan juga sudah menghilang. Menyisakan Selly yang masih kesal dengan sikap seenaknya dari Andre.
"Bugh." Selly menyikut perut Andre yang memeluk bahunya sedari tadi hingga pelukannya terlepas.
"Aaaawww, aaawww sakit sayang." Keluh Andre memegang perutnya sambil meringis.
"Sayang sayang pala lu." Selly kesal dan bergegas pergi. Andre segera mengejarnya dan memegang tangannya kemudian menarik Selly mengikuti langkah kakinya. Selly berusaha menarik tangannya namun percuma. Segala usahanya itu hanya akan membuat pergelangan tangannya terasa sakit karena kuatnya tangan Andre memeganginya. Andre menggandeng Selly menuju parkiran mobilnya. Ia membukakan pintu kursi penumpang dan mempersilakan Selly masuk.
Ia berlari kecil menuju kursi kemudi dan masuk ke dalam, lalu tersenyum menoleh ke arah Selly disebelahnya yang memasang wajah kesal.
"Kamu tuh ya, masih aja tukang maksa. Gak pernah berubah." Omel Selly kesal sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.
"Tapi suka kan?" Goda Andre.
"Gak papa dong kepedean. Lagian kamu juga masih inget kalau aku suka maksa-maksa kamu." Andre senyum-senyum.
"Apa senyum-senyum? Udah cepetan jalan."
"Oke. Siap istriku sayang."
"Awas aja lu ngaku-ngaku begitu lagi. Bakal gue.." Selly berpikir akan melakukan apa untuk mengancam Andre.
"Bakal apa?" Tanya Andre.
"Bakal emmhh bakal gue tendang." Jawab Selly asal.
"Uuhh takut." Goda Andre memasang wajah pura-pura ketakutan.
"Udah cepetan jalan, atau gue turun sekarang." Andre segera mengunci pintu dan mengidupkan sentral lock.
"Gak boleh turun, belum sampe rumah. Emh, mau makan bareng gak? Aku laper nih. Yah yah? Temenin aku makan dulu."
"Gak bisa Andre. Gue buru-buru. Kasian Airelle nungguin gue. Cepetan!"
"Emmh, kalau gitu kita drive thru aja ya. Sekalian buat Airelle. Oiya, kalau aku ketemu Airelle, boleh?" Tanya Andre lembut. Selly melihat Andre yang tiba-tiba bicara dengan nada lembut dari sebelumnya.
"Gak usah Ndre, Airelle pasti udah makan. Emmh, soal ketemu Airelle iya boleh kok, tapi lain kali jangan sekarang. Sekarang udah malem, dia pasti capek dan butuh istirahat." Jawab Selly.
"Makasih Selly." Andre segera menyalakan mesin mobil dan mengendarai menembus kemacetan jalanan ibukota. Selly melirik Andre sejenak. "Andai kamu tau Ndre, kalau Airelle itu darah daging kamu. Apa kamu bakal mengakuinya?" Batin Selly.
***
Setelah selesai dengan semua urusannya di kampus, Mela bergegas ke proyek karena ada laporan yang harus Ia serahkan kepada pimpinan proyek. Sebenarnya bukan tugas Mela untuk menyerahkan laporan tersebut, namun karena Mela yang memegang hardcopynya, dengan terpaksa Mela harus kembali ke proyek dan memberikannya pada pimpinan proyek karena laporan tersebut dibutuhkan dengan segera.
Mela sampai ke proyek dan bergegas naik ke ruangan pimpinan proyek. Sebenarnya selama magang, Mela belum pernah bertemu pimpinan proyek karena sering kali waktu mereka tidak bersamaan saat ada di proyek. Pimpinan proyek hanya sesekali mengecek kondisi di lapangan, sedangkan untuk laporan sering kali juga adw pegawai yang memberikan padanya sebelum Mela magang disana. Pimpinan proyek adalah pegawai di perusahaan paman Mela. Ia merupakan lulusan teknik sipil dan masih cukup muda. Ia termasuk lelaki yang pandai dan cekatan sehingga diberi kepercayaan oleh paman Mela untuk menjadi pimpinan proyek.
__ADS_1
Mela mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam ruangan. Ia membuka pintu dan berjalan masuk.
"Maaf mengganggu Pak. Saya Mela, pegawai magang disini. Saya mau ngasih laporan mingguan ini." Mela menyerahkan pada lelaki yang cukup muda sebagai pimpinan proyek. Ia cukup tampan dan bergaya necis. Mela menatap sejenak lelaki yang duduk di kursi dan menghadap laptop.
"Terima kasih banyak."
"Iya Pak, sama-sama. Apa masih ada yang diperlukan lagi Pak?" Tanya Mela.
"Coba saya cek dulu ya laporannya. Kamu tunggu sebentar. Duduk dulu silakan." Lelaki itu mempersilakan Mela duduk di kursi tepat didepannya. Beberapa saat lelaki itu memeriksa laporan yang dibawa Mela dan kemudian menutupnya.
"Kayaknya sudah bagus laporannya."
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak."
"Tunggu. Nama kamu siapa?"
"Saya Mela Pak."
Lelaki itu tersenyum menatap Mela.
"Saya Rendy. Tidak perlu panggil Pak. Panggil Kak saja. Saya belum menikah, kesannya tua sekali kalau dipanggil Pak."
"Iya Pak Rendy eeh Kak Rendy."
"Kamu ponakannya Pak Ilham kan?"
"Iya benar." Jawab Mela singkat.
"Saya pamit yah Pak, eh Kak. Permisi."
Mela keluar dari ruangan Rendy dan berjalan menuju tempat parkir. Tanpa disadari Mela, Rendy memandanginya dari balik jendela ruangannya. "Akhirnya kita bisa mengobrol, Mela." Gumam Rendy. Rendy sering melihat Mela ke kantor pamannya. Ia tahu dari pegawai lain bahwa Mela adalah keponakan bosnya. Rendy sejak awal ingin bisa mengenal Mela, namun semua keinginannya harus Ia kubur karena Mela pernah datang ke kantor pamannya ditemani oleh Vico. Pasangan itu nampak mesra dan selalu bersama satu sama lain. Rendy paham bahwa tidak ada celah untuknya hadir di kehidupan Mela. Namun, siapa sangka bahwa takdir membawanya untuk bertemu dengan Mela yang sudah Ia coba untuk hapus dari ingatannya.
"Apa ini takdir Mel? Aku benar-benar ingin bisa mengenalmu. Semoga kamu bisa memberiku kesempatan." Batin Rendy.
***
"Aku penasaran gimana kabarnya si Gista ya Kak." Anya menerawang sambil bertopang dagu saat sedang menunggu pesanan kopi di cafe bersama Yoga.
"Aku juga gak tau yang. Ya semoga baik-baik aja." Jawab Yoga bijak.
"Aku masih gak tega loh bayangin kejadian waktu itu. Sepertinya dia tersiksa sekali dengan kehamilannya sampai melakukan hal seperti kapan hari. Bagi wanita pasti kehamilan yang tidak diinginkan akan membuatnya frustasi."
"Tapi dia hamil karena ulahnya sendiri. Kenapa kamu jadi gak tega? Dia yang bermain api sendiri loh, jadi ya wajar dia yang menghirup asapnya." Jelas Yoga.
"Aku gak tega sama bayinya Kak. Gak ada bayi yang bisa milih mau terlahir dari rahim siapa. Yang diketahui dan diinginkan semua bayi ya pasti disayangi, dilindungi, dicintai sama pemilik rahim tempat Ia tumbuh dan tinggal sebelum mereka lahir. Tapi saat bayi itu lahir lalu nantinya mendapati kenyataan kehadirannya tidak diinginkan ibunya sendiri, pasti menyakitkan sekali Kak. Itu yang bikin Anya ngerasa gak tega."
"Kamu benar. Saat bayi, kita tidak pernah bisa memilih dilahirkan. Semua pilihan ada di ibu kita masing-masing. Mungkin saat tau kenyataan kita tidak diinginkan, yang kita akan ucapkan hanya kenapa aku dilahirkan."
Anya mengangguk.
"Pasti sangat sakit kak. Sakit hati tidak diinginkan dengan ibu sendiri. Tapi Anya berdoa semoga Gista bisa berubah dan menerima kehadiran bayi di rahimnya."
"Iya sayang. Semoga."
"Terus terus gimana ceritanya Kak Boy sama adiknya kakak?"
"Iya gak gimana-gimana. Aku cuma mau bantuin aja ngomong ke mama papa biar bolehin Gina menikah sebelum kita nikah. Kasian kalau dia mesti nunggu sementara sudah ada jodoh yang siap serius sama dia." Anya mengangguk.
"Semoga dibolehin ya Kak. Anya jadi merasa bersalah banget. Rasa bersalah sama banyak orang, sama kakak, sama kak Boy, sama Gina. Semuanya jadi sulit karena aku gak siap menikah dalam waktu dekat. Aku minta maaf ya kak." Anya meminta maaf.
"Sssttt gak usah bilang gitu. Gak ada yang salah kok. Menikah memang butuh persiapan mental. Daripada dipaksakan dan kamu malah menjadi tertekan. Justru malah bisa berdampak buruk juga sama perjalanan rumah tangga. Rumah tangga pasti akan banyak ujiannya, jadi butuh mental yang siap, bukan menikah karena tekanan orang sekitar."
"Makasih ya kak. Anya jadi ngerasa lega karena kakak bisa ngertiin Anya. Anya masih punya banyak mimpi dan Anya gak yakin apa bisa ngewujudin itu semua kalau menikah."
"Iya sayang. Aku ngerti. Walaupun aku gak bakal ngelarang kamu mengejar mimpi setelah menikah, tapi aku tetap ikuti keputusan kamu kok."
Anya tersenyum sumringah mendengar ucapan pacarnya.
__ADS_1