
Mela mengangkat telpon mama dari kekasihnya. Anya hendak kembali dengan posisi tidurnya terkaget dengan teriakan Mela diikuti bunyi handphone yang terjatuh. Tak lama Mela bersimpuh dan menangis.
"Melaaa.. Melaaa.. Lu kenapa? Mela.." Anya mendekati Mela, Ia panik dengan kondisi sahabatnya. Tatapan Mela kosong, Ia terus menangis.
"Mela.. lu kenapa, Mel?"
Anya melihat handphone Mela yang masih terhubung dengan penelponnya. Anya mengangkatnya untuk mendapatkan jawaban.
"Ha halooo.. Saya temannya Mela." Terdengar suara di seberang telepon menangis terisak.
"Halo tante.. Ada apa tante?" Tanya Anya kembali.
Suara di seberang terdengar mencoba menenangkan diri dari tangisannya.
"Nak, tolong jaga nak Mela. Semoga nak Mela di beri kekuatan dan ketabahahan."
"Maaf, ada apa tante? Apa yang terjadi?"
"Kemarin pesawat yang Vico tumpangi mengalami kecelakaan. Setelah dilakukan pencarian bangkai pesawat, dipastikan bahwa tidak ada korban selamat. Nak Vico meninggal dunia." Tangis Mama Vico kembali pecah. Lutut Anya lemas mendengarnya. Anya duduk bersila di depan Mela yang masih menangis tiada henti. Anya kaget dan shock seketika mendengar kabar tersebut.
Ika terbangun dan melihat Mela menangis. Ika mendekati Anya dengan hati-hati, memegang pundak Anya dan menanyakan apa yang terjadi. Anya menceritakan apa yang terjadi. Ika kaget mendengarnya. Ia duduk di samping Mela. Kedua sahabat itu kini menangis melihat Mela yang terus saja histeris dengan tangisannya. Mereka mencoba memeluk Mela.
"Melaaa, kuat Mel. Kuat." Ucap Ika sambil menangis tidak tega dengan apa yang menimpa sahabatnya.
"Tenang Mela." Ucap Anya.
Perlahan Mela mengakhiri tangis histerisnya namun airmatanya tetap mengalir dari pelupuk matanya.
"Kenapa? kenapa harus terjadi sama Vico?" Ucap Mela. Mela tak kuasa tangisnya pecah kembali. Ika dan Anya memutuskan untuk menunggu Mela mencurahkan kesedihannya dalam tangis.
Mela tertidur saat fajar terbit karena lelah menangis. Matanya nampak sembab sekali karena airmata terus keluar dari matanya. Anya dan Ika memutuskan tidak tidur untuk melihat kondisi Mela. Mereka takut terjadi hal yang buruk pada sahabatnya, terlebih kejadian yang menimpanya sangat membuatnya terguncang. Anya dan Ika teringat bagaimana bahagianya Mela saat Vico datang memberinya kejutan dan memberinya cincin tanda keseriusan hubungan mereka. Mereka juga teringat bagaimana Mela yang sangat berat melepas kepergian Vico kemarin. Apa mungkin semua pertanda bahwa Vico akan pergi selamanya? Mungkin Vico hanya ingin membuktikan seberapa besar cintanya pada Mela yang hanya sempat menemaninya sejenak dalam hidupnya. Dan mungkin Mela merasakan kepergian Vico kemarin berbeda dengan kepergian sementara yang dilakukan dahulu, kali ini kepergian Vico selamanya dan tidak akan kembali. Tak terasa air mata Anya dan Ika juga ikut menetes, bagaimana mungkin kebahagiaan sahabatnya bisa semudah itu terenggut.
Kematian adalah sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang akan terungkap saat kematian itu telah terjadi. Rahasia besar yang tidak bisa kita sembunyikan. Pada akhirnya semua akan tau rahasia tersebut. Sekuat apapun kita menutupinya, tidak akan ada yang lolos darinya. Kematian memisahkan raga dua insan manusia. Namun rasa cinta, terus bersemi walaupun terkikis waktu. Mungkin cinta akan memudar, namun kenangan akan terus melekat hingga menua. Kematian saat masih muda memang keberuntungan karena banyak dikenang dan banyak disayang.
Pagi hari Mela dan sahabat-sahabatnya pergi ke rumah duka. Dan benar saja, rumah duka nampak sangat ramai dengan keluarga, kerabat dan teman-teman Vico yang tak percaya semua terjadi. Banyak doa terpanjatkan untuk Vico. Ika dan Anya memegang Mela di sampingnya. Mereka menguatkan genggaman tangan di lengan Mela memberi kekuatan agar Mela sanggup melalui hari yang berat ini.
Tak berselang lama, peti jenazah Vico datang. Keluarga Vico sangat bersyukur jenazah Vico dapat ditemukan secara utuh. Mela tak kuasa melihat peti jenazah yang datang. Lututnya terasa lemas, pandangannya buram.
Bruuukkkk.. Mela jatuh pingsan..
"Melaaa... Mel.." Anya dan Ika panik. Keluarga dan kerabat banyak yang membantu membawa Mela ke tempat yang lebih tenang dan tidak ramai. Tak berselang lama Mela sadar, Anya dan Ika disamping Mela merasa lega sahabatnya kembali sadar. Mulai saat ini, hari-hari Mela berubah. Ia bagai tak punya arah. Para sahabatnya ikut sedih melihatnya.
***
Seminggu sudah kepergian Vico. Beberapa hari ini, Ika dan Anya bergantian menemani Mela. Mela juga ijin dari magangnya seminggu ini. Namun sekarang perkuliahan sudah kembali dimulai. Anya bergegas ke kampus pagi hari, sebelumnya Ia menjemput Mela dan Ika terlebih dulu karena Mela menginap di kosan Ika.
"Yukk berangkat.." Ajak Anya.
"Yuk.." Jawab Ika.
Diperjalanan pandangan Mela menerawang keluar jendela. Ia melihat indahnya dunia yang masih menjadi tempatnya berpijak. Mela melihat ke arah langit, Ia membayangkan wajah Vico tersenyum padanya.
"Apa kamu bahagia disana, Vico? Sedangkan aku disini merasa sesak." Batin Mela. Ia memejamkan mata, airmatanya meleleh kembali. Mela menangis dalam diam, dia tidak ingin kedua sahabatnya khawatir dengannya.
Beberapa saat mereka sampai di kampus. Perkuliahan dimulai seperti biasanya.
"Kok gue ngerasa beda ya sama Oki." Curhat Anya pada Ika yang duduk disebelahnya sembari mengemasi buku-buku mereka setelah perkuliahan selesai.
"Beda gimana?"
"Iya kayak ngejauh dari gue gitu. Lu inget pas Mela pingsan di rumah dukanya Vico, gue sempet kan saat itu telpon Oki dan gak diangkat. Gak lama lu yang telpon diangkat."
"Itu mah kebetulan aja Nya."
__ADS_1
"Awalnya gue pikir juga kebetulan, Ka. Tapi gue sempet chat dia nanya gimana konsultasi dia tentang skripsinya juga gak dibales, cuma dibaca aja. Tadi pagi juga kita kan dateng barengan. Biasanya dia bakal nungguin kita, tapi dia langsung ke kelas. Dan yang bikin gue ngerasa banget, pas kita datang yang disapa cuma lu sama Mela. Giliran gue lewat dia ngobrol sama Andi."
"Masa sih Nya? Kok gue gak nyadarin yah. Emang kalian ada masalah?"
"Emmhh enggak sih. Seinget gue yang masalah tentang mantan pacarnya itu udah selesai juga. Gue gak ada mempermasalahkan itu semua bahkan. Kenapa ya kira-kira? Kok gue jadi ngerasa gak enak."
"Yaudah kita samperin dia aja, paling dia di kantin. Yukk."
Mereka mempercepat mengemasi barang-barang. Lalu bergegas ke kantin. Sebelumnya Anya dan Ika mengajak Mela. Tetapi Mela menolak, Mela ingin pergi ke proyek karena sudah lama Ia tidak masuk di proyek magang. Ia merasa tidak enak dengan pamannya walaupun pamannya memahami tentang hal yang menimpa Mela saat ini.
"Lu yakin Mel? Terus lu naik apa kesana?" Tanya Ika cemas.
"Gue naik taxi online. Udah gak usah khawatir. Gue bisa kok sendiri, gue kan kuat." Mela mengulas senyum getir. Sorot matanya terlihat menyimpan banyak kesedihan. Anya dan Ika tak sanggup melarang Mela.
"Pokoknya kabarin kalau udah sampai disana. Terus kalau kita telpon, lu harus langsung angkat. Kalau enggak, jangan salahin kita langsung meluncur kesana. Ngerti?" Ucap Anya.
"Iyaaaaa, siap."
Mela sampai di proyek. Ia masuk dan membicarakan tugas apa saja yang sudah Ia lewatkan. Setelah mengetahui progress proyek, Mela mulai mengerjakan laporan untuk menghilangkan semua kesedihannya. Jam makan siang tiba, namun Mela memutuskan tetap di proyek menyelesaikan laporan. Sebenarnya sudah sejak kemarin Mela belum makan dengan benar. Hanya beberapa suap makanan saja yang masuk ke lambungnya, itupun karena paksaan Ika. Mela merasa tak sedikitpun kelaparan. Rasa stress karena kehilangan membuat tubuhnya kehilangan nafsu makan. Beberapa saat melanjutkan laporan, mata Mela berkunang-kunang.
"Tolongg..." Ucap Mela lirih namun tidak ada yang mendengar karena para pekerja sedang makan siang. Bruuukkkk... Mela tersungkur di lantai.
***
Tok.. tok.. tok..
Mama Mirna membuka pintu melihat siapa yang datang ke rumahnya. Airelle dan Selly berdiri di depan pintu dengan senyum sumringah.
"Neneeek." Teriak Airelle memeluk Mama Mirna. Mama Mirna tersenyum kikuk.
"Apa kabar Ma?" Selly mencium punggung tangan Mama Mirna.
"Baik. Silakan masuk."
"Airelle, kamu main dulu di taman yah. Mama mau bicara sama nenek." Titah Selly. Airelle menuruti perintah mamanya, Ia berlari ke taman yang ada sebuah perosotan dan ayunan yang memang sengaja Mama Mirna tempatkan disana untuk Airelle bermain.
"Ma, Selly mau bicara sesuatu." Ucap Selly.
"Bicara apa Nak?"
"Ma, Selly ingin rujuk sama Ezza."
Mama Mirna terbelalak dengan penuturan Selly.
"Maksudnya apa? Memang Ezza sudah setuju?"
"Ezza pasti setuju kalau semua untuk kebahagiaan Airelle, Ma."
"Kalau Ezza setuju. Mama yang tidak setuju."
Selly kaget.
"Kenapa gitu Ma?"
"Mama hanya ingin anak semata wayang mama bahagia. Pernikahan yang kedua yang akan dia jalani harus dilakukan atas dasar cinta, bukan lagi karena paksaan. Mama sudah cukup merasa bersalah dulu ikut memaksa Ezza menyetujui pernikahan kalian. Kalau kamu ingin rujuk dengan Ezza hanya karena Ezza memikirkan kebahagiaan Airelle, lalu siapa yang menjamin kebahagiaan Ezza, anak mama satu-satunya. Ezza sudah cukup menderita selama ini." Selly tidak terima dengan penjelasan Mama Mirna.
"Tapi Selly akan berusaha membuat Ezza bahagia Ma. Perpisahan kami dulu karena kami masih sama-sama egois. Setelah Airelle hadir, Selly yakin kalau Ezza pasti memiliki perasaan pada Selly, apalagi perhatian Ezza pada Airelle yang menunjukkan kalau dia sangat membutuhkan kami. Kalau nantinya kami bersama, Selly berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Ezza." Jelas Selly.
"Nampaknya kamu salah paham Selly. Ezza memang anak mama yang selalu perhatian pada semua orang. Bahkan sama anak kecil, Ezza tentu tidak mungkin bisa abai begitu saja. Terlebih anak kecil yang tidak memiliki ayah." Ucap Mama Mirna.
"A apaa? Dari mana mama tau?" Tanya Selly panik.
"Mama sudah tau semuanya dari Ezza. Ezza juga sudah mengenalkan calonnya sama mama. Wanita yang membuat Ezza merasakan cinta. Mama ingin dia bahagia dengan wanita pilihannya. Mama mohon, jangan ganggu kebahagiaan Ezza. Berdamailah dengan masa lalumu, Nak. Sudah waktunya kamu beritau siapa ayah kandung Airelle, dan pertemukan mereka. Jangan sampai kamu menyesal nantinya sudah menorehkan luka di hati Airelle."
__ADS_1
Selly menunduk, hatinya teriris. Niat hatinya menciptakan keluarga bahagia untuk Airelle kembali pupus. Semua karena kehadiran Sonya yang sudah mencuri hati Ezza. Seandainya dia dulu berusaha merebut hati Ezza pada masa 3 tahun kesempatan dimana tidak ada seseorang dihati Ezza. Mungkin jika dulu tidak Ia sia-siakan pasti hasilnya tidak akan seperti ini. Kini sudah ada sosok Sonya yang mengisi hatinya.
***
Pemotretan Gista dilakukan di cafe dekat apartemen Yoga. Ia terpikirkan ide untuk mampir kesana. Gista memutuskan untuk menyuruh managernya pulang karena ada urusan penting di daerah tersebut. Tanpa Ia sadari ada seseorang yang melihat Gista seorang diri meninggalkan cafe.
Gista mengendarai mobilnya menuju apartemen Yoga lalu dengan segera naik ke lantai tempat unit Yoga berada. Ia menekan bel tak lama pintu terbuka. Gista langsung berhambur ke pelukan Yoga. Yoga kaget dengan perlakuan agresif Gista. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat dan mengabadikan momen pelukan mereka.
"Lepasin Gista.. Ngapain sih lu kesini." Yoga mendorong tubuh Gista.
"Ya emang gak boleh kalau calon istri nyamperin calon suami." Jawab Gista manja.
"Gue gak mau jadi calon suami lu."
"Kenapa gak mau? Apa karena cewek bau kencur itu?"
"Dia punya nama, namanya Anya."
"Whatever.."
Dan satu lagi, dia lebih segalanya dari lu."
"What? Mana ada Yoga. Gue jauh lebih cantik, lebih seksi dibanding cewek lu itu. Come on.. Cewek lu gak ada disini, stop buat menahan diri." Gista mendekatkan dirinya pada Yoga.
"Gila lu ya, di depan pintu masih bisa bertingkah kayak pec*n begini."
"Kalau gitu mau di dalem aja?" Ucap Gista tak peduli dengan Yoga yang makin emosi. Gista yakin laki-laki akan takhluk juga jika dirayu dengan kecantikan dan keseksiannya.
"Sakit jiwa lu bener-bener. Pergi dari sini!" Yoga mendorong Gista menjauh dari tubuhnya. Gista kaget dengan perlakuan Yoga. Ditambah dengan pintu yang tertutup dengan kencang.
"Si*l. Awas aja kamu.. Gak ada yang bisa nolak kecantikan dan keseksian Gista. Akan datang saatnya kamu bakal bertekuk lutut di hadapan Gista." Gumam Gista.
***
Di kampus, Ika dan Anya melihat Oki sedang duduk berdua dengan Sisil. Mereka bercanda tawa bersama. Anya sedikit bingung dengan sikap Oki. Awalnya Ia hendak bertanya apa penyebab sikap Oki berubah, tapi Ia mengurungkan niatnya.
"Kenapa yah Ka, kok Oki berubah ke gue?"
"Sabar Nya, nanti lu obrolin sama Oki."
"Apa mungkin mereka jadian ya? Terus Oki gak dibolehin deket sama gue. Sama kayak mantannya dulu yang cemburu sama gue."
"Jangan pikiran buruk dulu. Ehh, gimana Mela? Udah ada kabar kalau sampe di proyek?" Tanya Ika.
"Belum ada tuh. Coba gue telpon."
Beberapa kali Anya menelpon Mela, namun tak kunjung ada jawaban. Anya mulai panik dengan kondisi Mela.
"Coba telpon Kak Sonya aja. Minta tolong cek kondisi Mela." Usul Ika.
Anya mencoba menghubungi Kak Sonya namun panggilannya tidak tersambung.
"Duuh kok gue cemas banget yah. Eeh bentar, gue coba minta tolong Kak Iqbal dulu."
Anya menelpon Iqbal yang baru saja selesai praktek.
"Haloo.."
"Haloo Kak Iqbal. Lagi dimana?"
"Lagi di rumah sakit. Kenapa?"
"Kak, Anya bisa minta tolong gak sama kak Iqbal?" Ucap Anya.
__ADS_1
"Iya boleh."