
Pagi hari Sonya terbangun karena suara tangisan bayi. Sudah hampir 3 hari ini Zia pulang ke rumah. Sonya sangat bahagia. Ia menikmati hari-hari sebagai ibu baru.
Sonya bergegas menggendong bayi mungilnya. Semakin hari Sonya dibuat gemas oleh tingkah Zia. Bagi Sonya tangisan Zia adalah sebuah keajaiban. Ia ingat bagaimana momen kelahiran prematur yang dilaluinya. Sehingga suatu mukjizat kini Zia bisa berada didekapannya. Zia menyusu langsung pada Sonya. Membuat Sonya semakin bahagia bisa menjadi ibu seutuhnya.
"Makasih sayang, makasih sudah berjuang dan hadir di dunia ini. Sehat selalu kesayangan mama." Gumam Sonya sambil mengusap-usap lengan Zia yang menggemaskan.
"Makasih juga kalian berdua hadir di hidupku." Ezza mengagetkan Sonya yang duduk membelakangi Ezza yang tadi masih tertidur. Ezza memeluk Sonya dari belakang dan mencium pipi istrinya. Tak lupa Ia juga mengecup dahi Zia.
"Sayang, ngagetin iih. Kirain masih tidur. Kan weekend sayang, kamu mesti istirahat." Ucap Sonya penuh perhatian.
"Enggak kok sayang, aku udah seger. Aku gak mau ngelewatin pemandangan indah ini. Kan aku pengen juga kayak Zia." Ucap Ezza dengan pandangan nakal yang tertuju pada aset Sonya yang sedang diperuntukkan bagi Zia.
"Sayaaaaanggg. Nakal banget iiih. Sabar yah, masih dipinjem Zia." Jawab Sonya menimpali.
"Yaaah, Zia. Itu kan punya papa. Kok dipinjem sih." Jawab Ezza bercanda.
"Ngalah dulu bentar sayang. Nanti kalau Zia udah kenyang juga dibalikin kok."
"Hahahaha iya iya. Aku sabar menunggu sampe Zia kenyang. Biar cepet gemuk dan sehat. Gak sabar liat Zia nanti udah bisa main lari-larian. Pengen tiap hari ajak Zia main." Ezza berandai-andai.
"Sabar sayang. Rasanya memang pengen cepet-cepet gede. Pas nanti udah gede baru galau kok cepet banget gedenya."
"Iya sih. Nikmati aja prosesnya. Aku bakal sabar dan senantiasa hadir dalam tumbuh kembang putri tersayangku ini." Sonya tersenyum mendengarnya.
"Kalau gitu aku siapin mandinya Zia dulu yah." Ezza segera menyiapkan berbagai keperluan. Ezza adalah ayah siaga. Ia tidak membiarkan Sonya sendirian merawat Zia. Ia sadar merawat buah hati adalah tugas bersama. Sonya sangat bersyukur memiliki Ezza yang tidak membiarkan istrinya terlalu repot merawat anak sendirian.
***
"Airelle mau naik prusutan itu om ganteeeng." Airelle sumringah melihat prusutan tinggi sembari berlari kencang menuju prusutan.
"Airelle, pelan-pelan sayang." Teriak Selly berusaha mengejar Airelle.
__ADS_1
"Udah sayang, aku aja yang nemenin Airelle. Kamu tunggu di cafe sana aja. Pesen hot chocolate biar good mood." Ucap Andre yang paham bahwa Selly sedang masa datang bulan sehingga emosinya naik turun. Andre mengeluarkan kartu dari dompetnya.
"Pakai ini aja bayarnya, sekalian pesenin aku hot americano yah." Andre segera berlalu mengejar Airelle.
Selly menuruti ucapan Andre. Ia memilih menyendiri dan menenangkan diri di cafe tersebut. Ia cukup lelah beberapa saat ini. Pekerjaan yang sangat banyak, belum lagi dirumah Airelle sudah banyak bertingkah karena se usia Airelle jika ada keinginan yang tidak dituruti akan menjadi tantrum. Selly butuh me time sejenak untuk mendapatkan dirinya kembali.
Setelah memesan minuman, Selly duduk di meja dekat kaca yang bisa melihat playground. Nampak Airelle dan Andre yang main bersama dari kejauhan. Keduanya nampak bahagia dan tertawa bersama. Tanpa disadari Selly tersenyum melihat pemandangan itu. Matanya berembun menahan haru bahagia. Ia tak menyangka bahwa Airelle kini bisa bermain dengan ayahnya walaupun Airelle belum menyadari bahwa Andre memang ayah kandungnya.
Selly mengeluarkan ponsel dan merekam momen kebersamaan ayah dan anak. Walaupun sedikit buram namun Airelle bahagia melihat momen berkesan itu. "Andai sejak awal kita menjadi satu keluarga Ndre. Apa akan berjalan seperti ini juga?" Gumam Selly sambil tersenyum tipis.
***
"Kusem amat bro. Katanya nikah enak, kok kusem kayak orang jomblo." Goda Yoga pada Boy yang sejak pagi wajahnya ditekuk.
"Gue mah lebih parah dari pada jomblo. Ngenes gue." Ujar Boy dengan nada lemas.
"Hahaha emang kenapa? Berantem sama Gina? Udah, biarin aja. Gina tuh emang cerewet. Gue aja capek serumah sama dia, lu kok mau-maunya minta serumah seumur hidup sama dia."
Yoga cuma bisa berdecak melihat kebucinan sahabatnya pada adik perempuan satu-satunya Yoga. Benar kata Boy, Gina memang perhatian sampai Yoga merasa adiknya terlalu cerewet dan kepo. Namun, pada siapa lagi Gina memberikan perhatian jika tidak pada saudara dan keluarganya. Kadang sempat terbesit kerinduan di hati Yoga setelah mendapati kenyataan adik semata wayangnya sudah menikah. Tapi Yoga terlalu malu untuk mengakui kerinduannya. Bagai tom and jerry hubungan saudara Gina dan Yoga.
Setidaknya kini Yoga sudah tenang. Ia bersyukur Gina menikah dengan Boy. Boy terlihat sangat mencintai Gina. Jikalau terjadi hal buruk pun Yoga juga tak akan segan menghajar dan menghabisi Boy.
"Terus lu kenapa? Belum ngopi lu?" Tanya Yoga kembali. Sejujurnya Yoga tidak ingin ikut campur rumah tangga Boy. Hanya saja Ia khawatir jika ada pertengkaran antara adik dan adik iparnya.
"Gue kesepian. Gina kan balik ke rumah mama papa."
"HAAAHHH? GILA LU YAAAA!!! LU APAIN ADIK GUE SAMPE DIA BALIK KE RUMAH LAGI?" Yoga kaget dan tersulut.
"Gila lu. Gak gue apa-apain laaah. Jadi si Gina kan hamil. Dia itu morning sicknessnya parah banget. Yang lebih parahnya lagi, dia kalau gue deketin langsung ngerasa mual. Gue kasian gak ada yang ngerawat Gina di rumah saat kondisinya lemah gitu. Jadilah gue minta tolong mama papa buat jaga Gina." Jelas Boy.
"Oooh kirain lu ribut-ribut sama Gina. Mana dia lagi hamil masa lu balikin ke rumah mama papa. Udah emosi duluan gue, untung belum gue tonjok." Jawab Yoga jujur.
__ADS_1
"Yeee enak aja. Mana tega gue. Apalagi Gina hamil anak gue, gak bakal tega gue nyakitin Gina. Gue justru pengen bisa ngerawat dia. Tapi jarak berapa meter aja dia udah muntah kena bau parfum atau yang lain-lain dari gue."
"Hahahahaha." Yoga tertawa terbahak.
"Sorry sorry bro." Yoga mengakhiri tertawanya dan mencoba menahan tawa sekuat mungkin.
"Parah lu bro. Gue lagi sedih begini lu ngetawain gue."
"Sorry sorry. Abisnya ada aja sih masalahnya kalian. Eeh tapi setau gue kalau wanita hamil terus gak mau sama suaminya itu pertanda kalau anaknya nanti mirip sama bapaknya." Ujar Yoga.
"Yang bener lu? Emang lu tau dari mana? Gue gak pernah denger info begituan."
"Iya tau aja."
"Tapi masalahnya sampe kapan Gina gak mau sama gue. Gue jadi minder tau gak, emangnya gue ini sebau apa sampai Gina gak mau deket sama gue."
"Iya sabar aja bro. Lu kan tau sendiri wanita hamil emang terkadang sensitif. Pokoknya lu mesti siap sedia aja. Gue yakin Gina secepatnya gak akan terganggu lagi sama lu di dekatnya." Ucap Yoga bijak. Bagaimanapun Ia tetap tidak tega pada Boy. Ia berusaha menenangkan hati Boy. Jangan sampai karena hal sepele itu, rumah tangga adiknya menjadi renggang. Yoga tentu ingin mereka senantiasa harmonis dan bisa melewati masa sulit tersebut. Sungguh ada saja ujian dalam rumah tangga yang kadang nampak sepele, namun lama kelamaan bisa membuat pasangan menjadi lelah dan hubungan menjadi renggang.
"Iya gue mesti sabar." Boy mengangguk.
"Selain sabar, lu juga tetep bisa perhatian dengan cara lain kok. Tetep nengok kondisi Gina walaupun kalian beda rumah. Bawain keperluan Gina dan tetap saling kontak."
"Hmmm, iya sih. Bener juga lu."
"Iya dong. Kalau Gina liat perjuangan suaminya, dia juga bakal berusaha sekuat mungkin ngelawan morning sicknessnya. Bukan cuma lu yang kesulitan, gue yakin Gina juga kesulitan. Bayangin, badan udah sakit pengen manja-manjaan sama suami, eeh malah gak bisa karena mual-mual."
Boy mengangguk. Boy tidak mau egois hanya memikirkan perasaannya. Ia harusnya lebih mengerti kondisi Gina yang sangat kesulitan. Sejak awal menikah Gina sudah menjadi istri yang sempurna. Ia pasti ingin melayani suami dengan baik, namun apa daya hormon kehamilanlah yang memaksa tubuh Gina menjauh dari Boy.
"Bener lu bro. Gina pasti tersiksa banget. Semoga morning sickness ini segera usai. Gue udah kangen banget sama Gina. Gue mesti semangat kasih perhatian buat bumil dan dedek bayi."
"Nah gitu dong. Badai pasti berlalu."
__ADS_1
***