
"Halo." Jawab Mela saat melihat ada panggilan di handphonenya. Mela baru saja sampai di rumah setelah menjalani sidang proposal di kampus. Ia sampai di rumah yang sepi karena mamanya masih sibuk bekerja.
"Halo Mel." Sapa Iqbal di seberang telpon.
"Kenapa kak? Kok tumben nelpon Mela?"
"Emmhh, gak kenapa-kenapa sih. Aku ganggu gak?" Tanya Iqbal.
"Enggak kok kak. Mela baru sampe rumah."
"Dari mana memang? Bukannya udah musim liburan?"
"Iya sih, tapi Mela abis sidang proposal kak. Ngejar lulus tepat waktu semester depan. Jadi mau gak mau ngorbanin liburan dulu. Lagian mau liburan juga gak ada tujuan kemana-mana kak." Curhat Mela.
"Iya kalau mau liburan nanti aku ajakin jalan-jalan, mau?" Iqbal mencoba berusaha mengajak Mela keluar berdua.
"Emang kakak bisa? Bukannya kakak malah super sibuk yah."
"Kalau buat kamu aku pasti usahain." Jawab Iqbal gombal.
"Hmmm, gombal banget kak. Tapi Mela masih banyak yang mau dikerjain di kampus kak. Jadi gak ngerti ada waktu jalan-jalan apa enggak." Jelas Mela.
"Oooh gitu. Kalau makan siang atau makan malam mungkin? Walaupun sibuk, kamu harus tetep makan kan?" Iqbal mencoba lagi.
"Hmmm, boleh boleh kak. Kalau makan siang kayaknya Mela masih penelitian di kampus kak. Soalnya Mela skripsinya tentang penelitian gitu, jadi pagi sampe sore full di lab kampus. Ya itung-itung nyibukin diri kak."
"Kalau gitu makan malam ya?"
"Iya boleh kak. Nanti kabarin Mela aja maunya kapan."
"Maunya tiap hari. Tiap hari ditemenin kamu makan biar jadi semangat." Goda Iqbal.
"Iiih kakak apaan coba. Makin lama makin jago gombal banget. Mela udah korban keberapa nih?"
"Enggak ada ya, gombalku eksklusif. Buat kamu doang." Mela terkekeh mendengar penuturan Iqbal.
"Mel.." Panggil Iqbal.
"Kenapa kak?"
"Makasih ya." Ucap Iqbal.
"Makasih buat apa kak?" Tanya Mela.
"Makasih karena gak ngejauhin aku. Aku takut setelah kita sulit ketemu, kamu bakal ngehindari aku." Ucap Iqbal jujur.
"Enggak lah kak. Mela gak ngehindari kakak."
"Iya, makasih."
Iqbal merasa bahagia mengakhiri telponnya dengan Mela. Besok Ia akan janji makan malam bersama Mela. Bahagia terasa di hati Iqbal, perjuangan belum berakhir. Benar apa kata Sonya, Ia harus terus berusaha karena hati Mela memang butuh waktu untuk sembuh. Iqbal kembali bekerja dengan semangat, wajahnya berseri membuat para perawat dan pasien terheran-heran dengan apa yang terjadi pada Iqbal.
***
Anya pergi kerja lebih pagi mengingat apa yang dikatakan Adit kemarin bahwa pagi hari jalanan akan macet. Kemarin memang Anya sengaja datang lebih pagi mengingat hari pertama kerja. Namun, sekarang tetap saja Anya tidak mau terlambat karena macet. Anya sampai di parkiran dan segera mengambil keperluannya di kursi penumpang. Anya dikagetkan dengan ketukan di kaca mobil.
"Eeh kak Adit." Ucap Anya sambil keluar mobil membawa laptop dan tas.
"Hehe kaget ya."
"Iya kak, kirain siapa." Ucap Anya.
"Sini aku bantuin bawa laptop." Tawar Adit.
"Aaah gak usah kak. Gak berat kok." Tolak Anya.
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya bener."
"Yaudah yuk ke kantor." Kedua pemuda pemudi itu berjalan beriringan menuju kantor.
"Pagiii.." Sapa Adit ke beberapa pegawai lain yang sudah datang terlebih dahulu. Anya kagum dibuatnya, Adit yang memiliki jabatan cukup mumpuni di proyek sangat ramah kepada semua pegawai di proyek. Tak pandang jabatan apapun Adit bersikap ramah terhadap semuanya.
Adit dan Anya sedang berdiskusi perihal proyek dengan kepala proyek, Pak Abi. Pak Abi mendengarkan usulan dari Adit ataupun Anya. Beliau salut dengan jiwa muda yang memiliki semangat kerja yang baik seperti Anya dan Adit.
"Saya salut sama kalian berdua. Masih muda tapi sangat inspiratif. Ide-ide kalian hebat." Puji Pak Abi.
"Terima kasih banyak Pak. Ini semua berkat bimbingan Kak Adit dan Bapak." Ucap Anya.
"Waah enggak Pak, justru semua karena bimbingan bapak dan juga ide Anya ini Pak. Masih muda tapi hebat banget." Puji Adit sembari mengacungkan jempol ke arah Anya membuatnya tersenyum malu.
"Pokoknya saya setuju dengan ide kalian. Bisa kita terapkan nanti di pelaksanaan proyek. Kalian bisa kerja dalam tim supaya mudah untuk koordinasinya." Perintah Pak Abi agar keduanya menjadi satu tim dan bisa mengatur pelaksanaan proyek bersama.
"I iya pak. Terima kasih." Ucap Anya.
"Terima kasih pak." Ucap Adit juga.
"Kalian berdua masih single?" Tanya Pak Abi tiba-tiba membuat keduanya berpandangan dan salah tingkah. Keduanya hanya tersenyum tanpa memberi jawaban pasti.
"Saya dan istri saya dulu persis seperti kalian. Sama-sama punya semangat kerja yang tinggi. Lalu benih-benih cinta timbul diantara saya dan istri saya. Sampai sekarang kami selalu berdiskusi masalah pekerjaan dan masalah apapun. Saya serasa memiliki teman yang paling memahami saya." Cerita Pak Abi. Anya dan Adit tersenyum mendengar cerita Pak Abi.
"Pekerjaan memang sangat penting. Tapi dengan adanya cinta hidup kita sangat berarti dan bermakna. Bahkan kita bisa memiliki semangat kerja karena hadirnya cinta." Lanjut Pak Abi.
"Iya pak." Jawab Adit.
Pak Abi kemudian berpamitan untuk pergi setelah dirasa perbincangan telah usai. Adit memandang Anya yang masih melihat kepergian Pak Abi. Adit memahami bahwa Ia dan Anya tidak akan bisa seperti pak Abi dan istrinya. Adit hanya tidak mau hubungan keduanya menjadi canggung.
"Jangan dipikirin omongannya Pak Abi. Pak Abi kan gak tau kalau kamu punya pacar." Ucap Adit.
"Iya kak, gak papa kok. Anya yang malah gak enak sama kak Adit."
"Aku juga gak papa kok, jadi gak usah dipikirin lagi. Yuk lanjut kerja." Anya mengangguk dan tersenyum.
***
"Eeh elu Ki. Ngagetin aja." Protes Ika.
"Iya salah sendiri ngelamun. Ada masalah apa?" Tanya Oki.
"Gue galau."
"Galau kenapa?"
"Kak Eric. Dia sampai sekarang belum dapet kerja yang bener. Emang sesekali dia ada proyek freelance gitu. Tapi gue tau banget dia pengen kerjaan yang settle. Udah berkali-kali gue liat dia gagal. Gue gak tega banget, pengen bantu dia tapi gue bisa apa." Curhat Ika. Oki mengangguk mendengar curhatan Ika.
"Sabar Ka. Ujian orang beda-beda. Mungkin kak Eric di uji dengan kerjaannya. Rejeki sudah ada yang atur Ka."
"Iya lu bener Ki. Tapi tetep aja rasanya gue gak tega. Berasa gak guna banget jadi ceweknya. Disaat dia galau, dia berusaha nutupin kesedihannya dari gue. Gue tau dia gak pengen gue kepikiran."
"Setiap cowok pasti galau soal kerjaan Ka. Itu hal yang wajar. Selama kak Eric selalu semangat berjuang, lu jangan galau begini. Gue yakin kak Eric akan sukses ke depannya."
"Makasih ya Ki. Gue juga mesti semangat terus buat kasih semangat ke kak Eric."
"Sama-sama. Udah jangan galau-galauan. Nanti gak selesai-selesai skripsinya kalau kebanyakan galau."
"Iya iya. Terus lu sama Sisil gimana?"
"Gue sama Sisil gak gimana-gimana. Baik-baik aja." Jawab Oki.
"Terus sama orang tuanya gimana? Masih disuruh married gak?"
"Iya kadang masih ditanyain kapan gue lulus. Rencana gue apa. Tapi soal married udah dijelasin Sisil ke orang tuanya kalau dia mau married setelah lulus." Ika mengangguk-angguk mendengar ucapan Oki.
"Berarti dari kita berempat lu duluan yang sebar undangan dong."
__ADS_1
"Ya gak secepet itu."
"Iya kan nunggu Sisil lulus. Setahunan lagi paling. Udah lu langsung cek harga gedung, dekor sama souvenir deh. Apa perlu gue bantuin booking?"
"Gila lu. Masih lamaaa."
"Eeh gak ya, bentar lagi. Lu siapin aja sekarang tau tau gak kerasa kalau udah mau married."
"Enggak gitu juga. Gue lulus aja belum, kerja apalagi. Mau tinggal dimana anak orang, kos-kosan kayak gue? Belum lagi makannya, emangnya makan gak pake duit." Curhat Oki.
"Ahahaha rejeki sudah ada yang atur Ki." Ucap Ika menirukan ucapan Oki tadi.
"Ahahaha dibalik omongan gue." Kedua sahabat itu tertawa bersama.
"Wiiih bahas apaan sampe ketawa-ketawa begitu?" Tanya Mela yang tiba-tiba datang.
"Eeh elu Mel. Ini si Oki mau sebar undangan bentar lagi." Jawab Ika asal.
"Eeeh gila lu. Enggak kok Mel." Oki mengelak.
"Waaah, hebat banget lu Ki. Udah gak kuat banget si Joni sampe pengen cepet nikah?" Ucap Mela makin ngawur membuat Ika tertawa.
"Heeehhh, ini anak makin gila. Udah aah, capek gue jelasin. Ngawur semua nih." Semua tertawa bersama.
***
Sudah hampir sebulan Gina dan Boy menjalani status baru sebagai suami istri. Keduanya tinggal di apartemen Boy. Hari-hari keduanya tidak berbeda jauh seperti sebelum mereka menikah. Pagi hari, Gina dan Boy berangkat kerja masing-masing. Sore hari keduanya bertemu di apartemen sepulang kerja dan mengobrol seperti teman biasa. Sebulan perjalanan rumah tangga belum ada kemajuan untuk Gina dan Boy melakukan hubungan layaknya suami istri. Gina merasa takut memulai walaupun Ia tidak tega pada Boy. Sedangkan Boy tidak berani memulai karena tidak ingin membuat Gina ketakutan.
Saat jam makan siang, Gina pergi ke mall dekat dengan kantor. Teman kerjanya tau bahwa Gina adalah anak pemilik kantor tempatnya bekerja. Namun, sikap Gina yang tidak ingin diistimewakan membuatnya memiliki banyak teman. Para karyawan lain nyaman berteman dengan Gina karena sikapnya yang tidak bossy namun tegas dan cerdas. Gina pergi ke resto di mall dengan ketiga teman kerjanya. Mereka berempat makan bersama sambil berbincang.
"Kalian tau Sofia gak? Anak humas." Bisik salah satu teman Gina. Kedua teman Gina mengangguk, Gina hanya mendengarkan sekilas tanpa memberi respon. Pikirannya terpaku pada Boy.
"Kenapa emang sama Sofia?" Tanya teman yang lain.
"Dia habis cerai kemarin. Suaminya ketauan selingkuh sama sahabatnya sendiri."
"Haaah? Serius lu? Padahal dia cantik dan seksi loh."
"Gak jaminan cantik dan seksi kalau suaminya gak dikasih jatah, ya pasti lari ke cewek lain." Gina yang sedari tadi acuh mendengar percakapan teman-temannya mulai sedikit tertarik.
"Jatah apaan? Kan yang wajib nafkahin suami bukan istri." Protes Gina tiba-tiba.
"Aduuuh, bukan jatah duit maksudnya. Jatah ranjang maksudnya. Sofia kan baru jadi kepala humas, hampir tiap hari lembur pulang malem. Ya alasan suaminya selingkuh karena Sofia selalu nolak dan akhirnya sahabatnya yang selalu ada buat suaminya. Tragis sih emang." Jelas teman Gina membuat Gina berpikir yang aneh.
"Iya salah suaminya dong kenapa gak ngertiin istri yang lagi sibuk." Protes Gina kembali.
"Iya awalnya ngerti mungkin. Lama-lama si adiknya yang gak bisa ngerti." Jawab teman Gina yang lain.
"Adik?" Tanya Gina dengan mimik wajah tidak paham.
"Iya Ginaaa.. Itunya.. Kalau cowok udah nikah tuh bawaannya ya begitu aja. Itu wajar. Kalau semisal gak dikasih jatah kelamaan, pasti pusing deh laki-laki. Jadinya ya cari pelampiasan ke cewek lain. Suami gue aja seminggu gak gue kasih jatah udah uring-uringan." Jawab teman Gina yang memang sudah cukup lama menikah.
"Seminggu doang kan cepet. Masa gak bisa nahan sih. Cewek yang sebulan bahkan dua bulan lebih bisa-bisa aja." Jawab Gina kembali tidak terima.
"Iya itu bedanya cowok dan cewek Gina. Lu suruh cowok nunggu sebulan dua bulan ya bisa-bisa cari pelampiasan. Apa coba fungsi nikah kalau bukan buat hal itu juga. Kalau tanpa nikah ya cowok manapun bisa jajan doang tanpa nikah. Justru dengan nikah itu harapannya kan bisa dilayani dengan orang yang disayangi setiap saat." Jawab teman Gina membuat Gina terbungkam.
Pikiran Gina tak hentinya pada apa yang terjadi pada rumah tangganya. Hubungan yang tidak semestinya untuk suami istri. Tidak ada kecupan atau pelukan mesra karena Boy tidak ingin membuat Gina tidak nyaman. Boy terlalu berhati-hati karena tidak mau membuat Gina teringat semua kenangan buruk yang terjadi pada Gina. Namun, hal tersebut kini membuat pikiran Gina kacau balau. Gina berpikir apakah Boy memiliki wanita lain sehingga tidak ada hasrat dengan dirinya. Apakah Boy menikah dengannya hanya karena kasian melihat apa yang sudah terjadi padanya. Pikiran Gina tak hentinya berpikir hal-hal buruk.
Saat berjalan menuju parkiran untuk kembali ke kantor, Gina melihat manequin yang menggunakan baju lingerie.
"Gaes, kalian balik duluan aja. Gue lupa ada yang mau gue cari buat nyokap." Ucap Gina berkilah.
"Terus lu balik naik apa?"
"Gampang, gue bisa naik taksi kok. Udah kalian balik dulu aja biar gak telat masuk. Byee."
Gina memastikan teman-temannya kembali ke kantor agar tidak tau bahwa Gina sengaja tinggal di mall untuk membeli lingerie.
__ADS_1
Gina melangkah masuk kembali ke dalam mall. Ia menuju salah satu toko yang menjual lingerie. Gina membayangkan saat menggunakannya di depan suaminya, sungguh sangat malu. Ia ingin mengurungkan niat membeli. Namun, ucapan teman Gina tadi kembali terlintas. Gina tidak mau sampai suaminya memiliki wanita lain karena Gina tidak segera melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Gina memantapkan diri untuk membeli lingerie.
"Malam ini, gue harus bisa jadi istri sepenuhnya." Batin Gina. Gina masuk ke toko tersebut dan memilih beberapa buah lingerie yang cukup seksi jika digunakan di depan Boy.