Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Iya abis kak, dia udah bikin malu Anya. Suaranya udah kayak toa gitu. Ada gitu cewek sengeselin itu. Pake ngancem-ngancem ngerebut kakak segala. Terus ngelaporin ke mamanya kakak kalau aku bar-bar lah. Aku kan gak bar-bar, aku cuma self-defence aja. Gak bisa seenaknya dinjek-injek gitu aja."


"Kamu cemburu sayang?"


"Cemburu? Ngapain aku cemburu." Elak Anya mengakui kecemburuannya.


"Oooh, kirain cemburu sama Gista."


"Aku tuh gak cemburu ya, cuma kesel sama tuh nenek lampir. Berani-beraninya jambak rambut aku, ngehina-hina aku seenaknya. Ngancem-ngancem laporin mama kamu, mau ngerusak hubungan kita lah. Freak banget jadi tante-tante." Curhat Anya dengan penuh emosi.


"Sabar ya sayang. Aku bakal coba selesaiin semuanya, aku bakal coba ngobrol sama mama."


"Iya, tapi aku masih kesel banget kak."


"Mungkin karena kamu lagi dapet tamu bulanan sayang. Jadi bawaannya kesel. Maafin aku yah, ini semua kan juga karena aku. Aku janji bakal selesaiin semuanya, biar Gista itu gak ganggu-ganggu kamu lagi."


Anya mengangguk.


"Iya kak, makasih."


"Senyum dulu dong. Masa aku dari dateng tadi mukanya ditekuk terus. Senyum biar cantik."


"Emang kalau gak senyum jadi gak cantik?" Tanya Anya semakin sewot.


"Aduuh aduuuh bukan gitu sayang. Emang serba salah nih jadi cowok. Kalau cewek udah dapet tamu bulanan, cowok jadi serba salah mau ngomong apa aja."


"Iya makanya jangan bikin emosi, jangan bikin kesel."


"Iya sayangku, cintaku, Anyaku." Yoga mulai gemas. Anya tidak sanggup menahan tawa, Ia sekuat tenaga menahan tawa hingga tersenyum melihat pacarnya yang tak berdaya menghadapinya.


"Sayang.." Panggil Anya.


"Apa?"


"Aku lapeeerrr." Ucap Anya sambil memegang perutnya.


"Mau cari makan?"


"Iya." Ucap Anya sambil mengangguk.


Mereka berdua keluar untuk mencari makanan. Mereka mampir ke sebuah cafe dan saat sedang asik mengobrol mereka mendapati Gista bersama lelaki paruh baya yang baru datang dan duduk agak jauh dari meja mereka. Yoga dan Anya kaget, mereka berusaha menutupi wajahnya agar tidak terlihat Gista.


"Ssstttt.. Nanti ketauan." Ucap Yoga. Mereka berdua duduk di kursi agak jauh agar tidak terlihat. Anya terlihat berpikir keras.


"Kenapa sayang?" Tanya Yoga melihat Anya berpikir.


"Aku kayak gak asing sama bapak yang lagi sama Gista kak. Tapi siapa yah? Kok tiba-tiba Anya lupa."


"Emang kamu kenal? Temennya mama mungkin."


"Iya mungkin ya. Tapi kayak gak asing gitu loh kak. Coba sih Anya inget-inget."


Beberapa saat Anya masih belum bisa mengingat siapa lelaki paruh baya itu. Awalnya Anya mengira lelaki itu papa dari Gista, namun Yoga menjelaskan bahwa itu bukan papa Gista. Anya akhirnya iseng memotret Gista dan lelaki itu. Gesture Gista dan lelaki itu tidak menunjukkan ayah dan anak, mereka lebih terlihat seperti pasangan karena sangat mesra.


"Ayok balik, biar gak ketauan." Ajak Anya.


"Yaudah yukk."


Pasangan ini keluar cafe dan kembali menuju rumah Anya.


***


Ika dan Mela mengerjakan tugas di kosan Ika. Sedangkan disisi lain ada Anya yang duduk menghadap laptopnya, bukannya mengerjakan laporan skripsinya Anya justru sibuk memperbesar foto di handphonenya sambil bergumam sendiri.


Ika dan Mela yang tadinya sibuk berdiskusi akhirnya memperhatikan sahabatnya yang aneh.


"Kenapa Nya?" Tanya Mela membuyarkan kegiatan Anya.


"Eeh Mel. Enggak nih, gue kemarin liat seseorang gitu. Tapi gue ngerasa pernah tau orang ini, tapi gak inget gitu deh."


"Siapa emang?" Tanya Ika.


Anya menggeleng.


"Gue juga gak tau, tapi kayaknya temennya mama deh."


"Coba tanya mama kamu aja. Eeh, atau tanya kak Sonya. Siapa tau inget." Jawab Mela memberi solusi.


"Ide bagus tuh. Gue agak gak enak nanya ke mama. Soalnya ini ada hubungannya sama cewek yang dijodohin ke kak Yoga. Takutnya mama jadi mikir yang enggak-enggak tentang kak Yoga."


"Yaudah ntar tanyain kak Sonya aja."


Anya mengangguk.

__ADS_1


Ika dan Mela mengerjakan tugas kembali. Anya juga kembali fokus dengan laporan skripsinya. Cukup lama mereka bertiga disibukkan dengan tanggung jawab, mereka merasakan cacing di perut mereka mulai berdemo.


"Pesen online makan yuk." Anya Anya.


"Boleh. Mau pesen apa?" Jawab Ika.


"Emmh, katsu mau?"


"Boleh, gue yang ramen katsu aja deh. Lagi males makan nasi." Request Ika.


"Lu apa Mel?"


"Gue samain aja. Bingung makan apa."


Anya mengangguk dan memilih tidak banyak bertanya. Ia tau sahabatnya itu masih sangat bersedih, untuk Mela mau makan saja Ika dan Anya sudah sangat bersyukur. Kalaupun mereka makan bersama, Mela tidak ikut makan dengan alasan masih kenyang. Namun, kesedihan itu membuat tubuh Mela semakin kurus. Mela memang sangat ahli menutupi perasaannya, Ia berusaha sebisa mungkin tidak membuat sahabatnya kepikiran. Anya dan Ika cukup tenang melihat Mela yang berusaha keluar dari kesedihannya.


"Udah gue pesen. Tunggu ya."


Mereka bertiga bercanda sambil menunggu pesanan makanan.


"Gimana lu sama Eric?" Tanya Mela.


"Gue sama Eric...... udah jadian."


"Aaaahhh seriusan?" Anya tak percaya.


Ika mengangguk malu.


"Kapan jadiannya? Yang lu bilang mau keluar bareng itu?"


Ika mengangguk lagi dan pipinya bersemu merah.


#Flashback On..


"Udah nunggu lama Kak?"


"Enggak sih, barusan kok. Udah selesai kuliahnya?"


Ika mengangguk.


"Yaudah yukk. Mau makan dimana?"


"Ikut arah Ika aja, ada cafe baru yang bagus kak. Dapet info dari temen-temen kampus."


Ika berkelit. Padahal Ia awalnya bingung mau mengajak Eric makan dimana. Ia sengaja mencari info di internet cafe yang sekiranya nyaman untuk mereka bicara berdua karena Ika merasa harus menyelesaikan semuanya.


Mereka sampai di cafe yang dituju. Benar saja, tempatnya yang luas membuat Ika cukup nyaman untuk mengobrol dengan Eric.


"Kakak pesan apa?"


"Aku pesen ayam goreng aja, sama mango squash. Kamu?"


"Aku ayam goreng sama lemon squash."


Mereka menunggu makanan datang sambil berbicara basa basi. Tak lama makanan datang, mereka berdua makan dengan lahap.


"Bagus tempatnya ya." Ucap Eric.


"Iya kak, Ika liat diinternet dan langsung suka." Ika tidak sadar kalau keceplosan.


"Internet?" Eric tidak paham.


"Eeh maksudnya pas baru tau dari temen-temen, aku langsung cari di internet dan emang gambar-gambarnya bagus gitu. Ditambah juga penilaian dari costumer baik semua kak. Eeh kakak kapan wisudanya?" Ika sedikit gelagapan menjawabnya takut ketauan bahwa Ia dengan sengaja mencari tempat yang nyaman untuk mereka berdua. Ika segera mengalihkan pembicaraannya.


"Ikut bulan depan wisudanya. Tapi galau nih, belum ada panggilan kerja."


"Semangat yah kak, jangan pantang menyerah. Kakak pasti bisa dapat kerja dan sukses. Kakak tuh pinter, cuma kurang motivasi aja."


"Yah abis yang dipengen jadi motivasi malah nolak."


Ika tersipu dengan ucapan Eric.


"Iya abis kakak playboy banget. Kan wajar bikin cewek jadi gak yakin."


"Aku gak playboy padahal. Sedih amat deh nasibku ini. Semoga segala pembuktian aku bisa bikin dia yakin dan percaya aku gak playboy." Ucap Eric memelas.


"Ahahaha. Kurang keras kali usaha sama pembuktiannya. Jadi dia gak yakin-yakin." Ucap Ika sambil senyum-senyum.


"Mau usaha gimana lagi emang? Sampe bingung jadinya." Eric masih dengan mode memelas.


"Iya, nyatain perasaan lagi mungkin. Biar ceweknya yakin." Pancing Ika.


"Jadi kamu maunya gitu?" Ucap Eric bersemangat.

__ADS_1


Ika sedikit malu karena suara Eric tiba-tiba kencang membuat beberapa pengunjung ada yang menoleh pada mereka.


"Kak, jangan kenceng-kenceng. Diliatin orang-orang. Malu tau."


"Iya sorry sorry. Abis kamu bikin aku semangat. Emmhh, Ika.. Aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?"


"Kakak serius?" Tanya Ika. Eric mengangguk.


"Serius banget. Demi kamu, aku rela dipukul pencopet, aku rela nungguin kamu setiap selesai kuliah, anter jemput kamu, semua demi kamu, Ika. Aku cuma berharap itu semua bisa bikin kamu yakin sama perasaanku. Plis percaya kalau aku bener-bener serius dan gak main-main sama kamu. Aku pengen jalanin hubungan yang bener-bener, Ika."


Ika tertegun mendengar pernyataan Eric.


"Kak, sejujurnya Ika juga suka sama kakak. Tapi ketakutan Ika jauh lebih besar. Ika takut kakak ngecewain Ika dan semuanya cuma ninggalin luka. Ika akan berusaha percaya dan memulai semuanya dengan kakak. Ika harap kakak gak akan hianati Ika."


"Pasti Ka. Pasti. Percaya sama aku." Eric tersenyum sumringah. Refleks Ia hendak memeluk Ika.


"Eeehhh, jangan kak. Malu banyak orang." Ika menepis pelukan Eric.


"Eeh iya, sorry sorry. Jadi kita fix jadian ya ini?"


Tanya Eric memastikan.


"Iya kak." Ika mengangguk dan tersenyum malu. Hati Ika juga berbunga-bunga. Perasaan Ika akhirnya menyerah juga dengan seseorang yang Ia anggap playboy selama ini. Tapi semoga anggapan itu hanyalah persepsi semata, tidak sesuai dengan kenyataan. Semoga hati Eric memang mencari cinta sejati dan tidak ingin menjalani hubungan hanya dengan mencari keuntungan dari wanita yang memiliki perasaan untuknya.


#Flashback Off..


"Gue seneng banget dengernya, Ka." Ucap Mela.


"Gue juga seneng banget. Akhirnya luluh juga sama playboy." Goda Anya.


Ika makin tersipu.


"Semoga dia beneran serius ya. Gue bener-bener takut soalnya." Ucap Ika.


"Lu mesti yakin. Jangan pikiran negatif terus. Nanti lu dikit-dikit bawaannya jadi curiga sama Eric. Itu yang jadi pemicu pertengkaran. Kita pasti juga gak mau kan dicurigai terus menerus." Mela memberitau dengan bijak.


"Iya bener Mel, gue mesti percaya sama Eric. Jangan sampai rasa gak percaya dan insecure gue ini jadi bikin gue sama Eric ribut."


"Naaah gitu dong. Anak pinter." Ucap Mela disertai tawa mereka bersama.


Makanan pesanan mereka pun datang. Ika dan Anya makan dengan lahap. Mela makan sekenanya untuk menghilangkan rasa lapar dan menjaga kesehatannya. Ia berjanji untuk tetap sehat agar tidak membuat orang terdekatnya sedih dan kepikiran. Kehilangan Vico memang menyedihkan, namun sudah cukup beberapa bulan hidupnya hancur karena rasa kehilangan tersebut. Sudah waktunya Ia merangkak untuk menata kembali kepingan-kepingan hatinya yang telah hancur. Dengan segala pelajaran hidup dari Vico dan kenangan indah, Mela mampu bangkit dan berusaha menjadi sosok yang lebih baik.


***


Sonya sedang praktek dan kaget dengan pasien yang datang. Andre datang dengan mamanya, Tante Yuni. Sonya berusaha tenang. Setelah mendengarkan keluhan dari pasiennya, ternyata tante Yuni mengidap tumor yang membutuhkan pembedahan.


"Saya akan bantu sebaik mungkin. Nanti biar dilakukan pemeriksaan dulu dan jadwal pembedahan bisa dijadwalkan setelah hasil pemeriksaan keluar."


"Terima kasih ya dok." Ucap tante Yuni. Tante Yuni sejujurnya merasa tidak enak dengan Sonya, mengingat bagaimana kelakuan Andre yang sebenarnya menerima perjodohan karena firma hukum dari ayahnya. Terlebih dengan kenyataan bahwa Andre memiliki pacar.


"Maaf Sonya." Ucap Tante Yuni tiba-tiba.


"Maaf untuk apa tante?"


"Untuk semua yang sudah keluarga tante lakukan."


"Sonya sudah memaafkan dan melupakannya tante."


"Kalau gitu tante permisi." Tante Yuni berjalan keluar diikuti Andre yang sedari terdiam.


"Ma, bentar ya. Andre bicara sebentar sama Sonya." Tante Yuni mengangguk dan Andre masuk kembali ke ruangan Sonya. Sonya kaget dengan kehadiran Andre kembali, namun Ia berusaha tenang.


"Kenapa Ndre?"


"Sonya, aku mau minta maaf untuk semuanya. Maaf kalau aku hanya jadiin kamu alat untuk impian aku. Kamu harus bahagia agar rasa bersalah ini bisa sedikit berkurang. Aku sudah mendapatkan balasanku sendiri. Sekarang keluargaku hancur, papa mama pisah." Hal ini membuat Sonya kaget.


"Tante Yuni dan Om Faisal pisah? Karena apa?"


"Karena orang ketiga. Itu sebabnya mama jadi sakit seperti ini. Mungkin karena kepikiran selama ini tentang perselingkuhan papa."


"Aku turut sedih mendengarnya Ndre."


"Makasih Sonya. Makanya aku mau minta maaf dengan tulus sama kamu atas semua yang terjadi."


"Iya Andre. Aku udah maafin. Aku malah mau berterima kasih karena dengan semua kejadian ini, membuat aku yakin dengan perasaan Ezza dan perasaan aku ke Ezza."


"Semoga kalian bahagia selalu dan segera melangkah ke jenjang pernikahan. Kamu bener-bener wanita yang baik, Sonya."


"Iya, terima kasih Andre." Sonya tersenyum tulus.


Andre keluar ruangan dengan perasaan tenang. Setidaknya perasaan bersalah karena selama ini mempermainkan Sonya sudah berkurang. Ia menghampiri mamanya dan mereka menuju ruang administrasi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.


Awalnya Andre tidak memperdulikan masalah kedua orang tuanya. Baginya membantu perceraian mamanya semata-mata karena tawaran firma hukum dari mamanya yang gagal Ia dapatkan dari papanya akibat pembatalan perjodohan.

__ADS_1


Namun, beberapa minggu lalu Ia mendapat telpon dari pekerja di rumah bahwa tante Yuni pingsan. Beberapa hari mama Yuni sakit. Awalnya mereka hanya mengira demam biasa, namun setelah diperiksa oleh dokter keluarga, tante Yuni bukan hanya sekedar demam.


Tante Yuni berpesan pada Andre untuk menjadi lelaki yang baik, jangan seperti papanya yang menyakiti wanita. Karena kita tidak tau bagaimana wanita itu bertahan dari rasa sakit dan penderitaannya. Andre menjadi takut kehilangan mamanya untuk selamanya, Ia segera mencari pengobatan dan berusaha menyembuhkan mamanya. Untuk pertama kalinya Andre menyadari buruknya kehidupan masa lalunya. Ia ingin berusaha lebih baik, dan mungkin meminta maaf pada Sonya adalah awal yang baik untuk memulai semuanya. "Semoga dengan menjadi lebih baik, bisa membuat mama sembuh dari penyakitnya dan bisa sehat kembali." Batin Andre.


__ADS_2