Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Sesuatu Tersembunyi


__ADS_3

Ezza dan Sonya bertemu untuk makan siang. Setelah itu mereka berencana menjenguk Airelle yang kondisinya sudah berangsur membaik. Pertemuan dengan Mama Meli tempo hari berjalan baik dan lancar. Mama Meli juga melihat Ezza sebagai laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Tentunya juga serius menjalani hubungan dengan Sonya. Mama Meli berpesan pada Sonya agar terlebih dahulu dekat dengan anak Ezza agar hubungan mereka tidak menyakiti perasaan anak kecil yang tak berdosa. Sonya menyetujui saran mamanya. Hal tersebut benar karena perasaan anak kecil sangatlah sensitif. Ia tidak ingin Airelle nantinya merasa kehilangan sosok ayahnya. Sonya juga bertekad ingin dekat dengan Airelle sehingga kelak mereka bisa bermain bersama.


"Kamu yakin mau dekat dengan Airelle?"


"Iya dong sayang, itu kan anak kamu. Tentunya aku harus berusaha dekat dengan dia kalau ingin serius sama kamu." Ezza tersenyum, ada sesuatu yang Ia pikirkan namun Ia urung mengatakannya.


Mereka berdua makan siang di cafetaria lalu bersama menuju ruang inap Airelle. Airelle sedang makan saat Ezza dan Sonya datang. Masih terlihat selang infus di tangannya, namun kondisinya sudah lebih membaik dibanding waktu Sonya menjenguknya seorang diri.


"Halo Airelle." Sapa Sonya.


"Halo tante cantik." Sapa Airelle yang ternyata sangat berani bertemu orang baru.


"Waaah lagi makan yah, pinter banget sih. Harus makan banyak biar cepet sehat dan bisa lari-lari."


"Iya tante. Airelle udah pengen main sama temen-temen." Ucapnya sambil memanyunkan bibirnya dan terlihat menggemaskan.


"Airelle cepat sembuh ya. Nanti kalau sembuh main sama tante, mau?"


"Mau tante. Oiya, nama tante siapa?"


"Tante Sonya."


"Oke tante Sonya. Janji yah ajak Airelle main kalau udah sembuh."


Sonya mengangguk dan tersenyum melihat Airelle melahap makanannnya kembali. Selly dan Ezza yang menyaksikan pemandangan tersebut tersenyum juga.


***


Masa ujian baru saja berakhir. Anya tinggal menyiapkan presentasi proposalnya dan bisa dengan nyaman menikmati liburannya.


Hari ini Anya memilih seharian dikamar untuk menyelesaikan proposalnya. Yoga yang tadi siang menelpon dan mengetahui rencana Anya, urung mengajaknya kemana-mana. Ia tau kalau Anya sedang on fire untuk mengerjakan proposal dan harus sesuai dengan targetnya.


Yoga akhirnya memilih pulang ke rumah utamanya. Di rumah sedang ada papa, mama dan adiknya Gina.


"Yoga. Kok baru kesini sih nak." Mama Yoga, Mama Inneke mendatangi Yoga yang baru sampai di depan pintu. Yoga menyalami punggung tangan Mama Inneke. Yoga masuk ke ruang keluarga dan tersenyum kepada Papa Ridwan yang duduk di sofa, lalu menyalami punggung tangannya juga.


"Sehat Ma, Pa?"


"Sehat nak. Kamu bagaimana kerjaanya?"


"Lancar kok Pa."


"Coba aja kamu ikut bantuin papa di perusahaan nak." Papa Ridwan berandai-andai.


"Ya kan sudah ada Gina, Pa. Gina juga kompeten banget." Papa Ridwan mengangguk.


"Tapi, Gina nantinya akan menikah. Pasti akan ada saatnya dia fokus ke keluarganya."


Yoga memaklumi kecemasan papanya. Namun, bagi Yoga menjadi polisi adalah cita-citanya semenjak kecil. Dulu sewaktu kecil Yoga sering bersama kakeknya saat bermain. Kakek dulu adalah seorang polisi yang mengabdi untuk negara. Banyak cerita heroik yang kakek ceritakan kepada Yoga semasa kecil. Hal tersebut membuatnya ingin menjadi polisi seperti kakeknya. Bagi Yoga, kakek adalah sosok yang selalu ada untuknya saat masa kecil. Menggantikan kasih sayang kedua orang tuanya yang sibuk dengan usahanya. Kakek Yoga meninggal saat Yoga duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kesedihan menjalari Yoga, hingga membuatnya dingin kepada semua orang yang mendekatinya. Keinginannya menjadi seperti kakeknya membawa Yoga pada titik yang sekarang.


"Papa pengen kamu resign dan lanjutin usaha papa nak." Sambung Papa Ridwan.


"Maaf Pa, Yoga gak bisa."


"Sudah Pa, jangan dipaksa anaknya kalau tidak mau." Mama Inneke menengahi.


"Terus kapan kamu bawa calon kesini, Yoga?" Mama Inneke mengalihkan obrolan.


Yoga hanya tersenyum.


"Gimana kalau mama kenalin anak temen mama nak. Dia cantik dan seumuran kamu. Sudah siap menikah. Usia kamu sudah cukup untuk usia menikah, Yoga. Kasian Gina kalau nunggu kamu terus, nanti adik kamu gak nikah-nikah."


"Nungguin Yoga nikah? Ngapain Ma, kalau Gina mau nikah dulu ya gak papa. Yoga belum kepikiran nikah, dan soal anak temen mama, Yoga gak tertarik Ma." Ucap Yoga.


"Mama dan Papa yang melarang Gina melangkahi kamu. Dia sempat cerita kalau ada yang ingin melamarnya, tapi kami gak pingin kamu dilangkahi."


"Astaga Ma, Yoga gak masalah. Lagian Yoga kan cowok, gak masalah buat dilangkahi."


"Pokoknya Mama Papa tetep gak mau kamu dilangkahi. Mending kamu ketemu anak temen mama dulu aja."


"Gak bisa Ma, Yoga udah punya pacar." Mama Inneke dan Papa Ridwan kaget mendengar penjelasan Yoga.


"Kamu yakin? Bukan alasan biar gak dijodohin mama kan?" Selidik Mama Inneke.

__ADS_1


"Yakinlah Ma. Kami baru jadian."


"Yaudah kalau gitu kenalin ke Mama Papa dong. Nanti kalau udah cocok kalian bisa langsung nikah secepatnya, jadi adikmu juga bisa secepatnya menikah."


"Iya gak bisa secepat itu Ma. Dia pasti belum kepikiran nikah juga. Kami masih saling mengenal, butuh waktu." Ucap Yoga.


"Kalau dia gak mau nikah, artinya dia gak serius dong sama kamu."


"Ya gak gitu Ma, hubungan kami serius. Tapi masih terlalu dini ngomongin pernikahan."


Mama Inneke nampak berpikir.


"Gini aja, Mama kenalin sama anak temen mama aja dulu. Siapa tau kalian cocok. Gimana?"


"Ma, plis stop. Yoga sudah punya pacar. Yoga gak mau dikenal-kenalin orang lain."


"No no no, keputusan Mama sudah bulat. Besok kita makan malam keluarga. Mama undang keluarga teman Mama. Kamu harus datang."


Yoga tidak sanggup berkata-kata. Sejak kecil mamanya selalu memaksakan semua padanya. Tanpa tau apa yang diinginkannya. Menjadi polisipun bukan hal yang mudah baginya. Diam-diam dia mendaftar dan bisa lolos akademi. Itupun dia harus mengalami pertengkaran hebat dengan orangtuanya. Mama dan Papa Yoga tidak mau mengerti perasaan dan keinginan Yoga, selalu bersembunyi dibalik benteng pilihan orangtua pasti yang terbaik untuk anaknya. Apakah yakin yang terbaik? Bukankah orangtua juga mencoba-coba dengan pilihannya dan mencobakan kepada anaknya. Dengan bermodalkan menimbang untung dan rugi dari pilihannya, yang sebagian besar keuntungan tersebut hanya untuk mereka tanpa memikirkan perasaan anaknya.


Sudah berulang kali Yoga mengalami hal seperti ini. Soal pekerjaan Ia masih bisa terselamatkan karena Gina yang memang bisa membantu usaha orangtua. Kalau Gina menikah pasti nantinya Yoga akan ditekan terus menerus.


Yoga berjalan gontai ke kamarnya. Ia menyesali kedatangannya ke rumah. Itulah sebabnya Ia suka hidup sendiri di apartemennya. Hatinya gundah. Ia bingung menjelaskan pada Anya, takut adanya salah paham. Yoga memutuskan untuk tidak menjelaskan pada Anya, mungkin dengan menolak perjodohan semua akan beres, pikir Yoga.


Tak berselang lama ponsel Yoga berdering.


"Haloo sayang."


"Halo. Tumben panggil sayang-sayang begini." Yoga menjawab dengan sedikit lemas.


"Kakak kenapa? Kok lemes suaranya. Katanya kemarin suruh panggil sayang, giliran dipanggil sayang malah curiga. Heran deh."


"Hahaha iya iya. Jangan ngambek dong. Kakak capek aja, tapi ini lagi tiduran kok." Yoga beralasan.


"Ooh yaudah kakak istirahat gih."


"Iya nanti kakak istirahat. Kamu lagi ngapain?"


"Lagi rebahan juga. Proposalnya udah selesai. Terus baru kepikiran kakak, dari tadi aku cuekin. Jadi pengen telpon deh."


"Iyaaa, kangen. Seneng?"


Yoga tersenyum. Hubungannya dengan Anya memang semakin dekat dan tak berjarak. Namun membicarakan pernikahan tentu tidak mungkin. Anya masih punya banyak impian, yang tidak ingin Ia patahkan hanya karena ingin menikahinya. Kalaupun Anya mau menikah, Anya sangat banyak berkorban nantinya. Yoga hanya ingin menanti saat yang tepat saat Anya sudah mencoba meraih semua mimpinya. Yoga senantiasa menunggu waktu itu.


"Mau ketemu?"


"Jangan, kakak kan lagi capek."


"Kalau ketemu kamu capeknya langsung ilang."


"Gombal. Besok aja ketemunya. Kakak besok ke kantor?"


"Emmh, besok kayaknya ngelatih junior di lemdiklat."


Lemdiklat adalah lembaga pendidikan dan pelatihan untuk polisi. Tempatnya cukup dekat dengan kantor Yoga.


"Aku boleh kesana? Mau liat kakak kerja."


"Tapi banyak cowoknya disana nanti."


"Ya terus kenapa? Di kampus Anya juga banyakan cowoknya daripada ceweknya."


"Hmm yaudah. Tapi ati-ati kesananya."


"Siap Boss. Yaudah kakak istirahat gih. Byee."


"Byee. Anyaaa.."


"Apa kak?"


"Love you."


Anya tersipu mendengarnya.

__ADS_1


"Byeeee." Anya mematikan telponnya, ada perasaan senang mendengar ungkapan Yoga tadi. Hatinya berdebar-debar. Di sisi lain hati Yoga sedikit tenang mendengar suara Anya. Ia benar-benar dimabuk asmara dengan gadis kuliah itu. Pesona Anya yang kuat dan mandiri membuat Yoga tertarik. Namun, semakin mengenalnya ada sifat manja yang Anya tunjukkan membuatnya semakin ingin dekat dan melindunginya.


***


Musim liburan akan datang, Mela yang sedih karena nantinya tidak bisa menikmati liburan dengan Vico terpaksa menyibukkan diri di proyek tempat Ia magang. Sesekali Ia makan di cafetaria rumah sakit, Ia beberapa kali bertemu Iqbal. Awalnya ada perasaan jengkel padanya karena kejadian tempat parkir. Namun Ia menyadari bahwa Iqbal adalah saudara sahabatnya. Mela akhirnya mencoba menyapa Iqbal terlebih dahulu dengan melempar senyum.


Hari ini Mela kembali makan siang di cafetaria seorang diri. Setelah memesan Ia mencari tempat untuk duduk. Tak berselang lama Iqbal juga akan makan siang di cafetaria, Ia memesan makanan. Iqbal melihat Mela yang duduk sendiri. Ia menghampirinya.


"Boleh gabung?" Mela yang sedang asyik makan melihat ke arah suara.


"Iya kak, silakan." Mela mengijinkan.


Iqbal duduk di depan Mela, mereka sedikit kikuk.


"Sorry ya kejadian di parkiran. Bener kata Sonya, gue buru-buru karena telat. Jadi gak pikir panjang pas mau parkir."


"Iya kak, sudah di maafin. Cuma lain kali jangan gitu lagi. Bahaya. Kalau nabrak kan jadinya kakak makin telat lagi."


"Iya yah, bener juga kamu." Mela tersenyum. Iqbal serasa terbius dengan senyuman Mela. "Sadar Iqbal, dia masih anak kuliahan." Batin Iqbal.


"Lu seangkatan sama Anya kan?"


"Iya kak, sahabatan juga."


"Kenapa magang disini?" Iqbal kepo.


"Biar ada kegiatan kak, Gue barusan jadi pejuang LDR. Jadi biar gak galau-galau amat ya magang aja deh." Curhat Mela.


"Jadi lu udah punya pacar." Mela mengangguk sambil melahap makanannya. Iqbal sedikit kecewa mendengarnya.


"Emang pacar lu kemana?"


"Dia keterima kerja di kalimantan."


Iqbal manggut-manggut.


"Jauh ya."


"Iya kak, jauh. Sibuk juga sekarang, karena masih pegawai baru jadi masih banyak belajar." Mela melanjutkan sesi curhatnya.


"Sabar aja, nanti kalau lulus lu cari kerja kesana aja."


"Rencananya juga gitu sih. Ya semoga aja bisa dapet kerja disana. Biar sekalian nikah." Jawab Mela asal.


"Masih kecil kok udah mikir nikah. Anak muda jaman sekarang."


"Yeee, gue gak kecil-kecil amat. Gue udah 22 tahun. Udah boleh nikah sama negara."


"Iya sih, tapi seenggaknya mesti mapan dulu biar nantinya gak jadiin materi itu permasalahan setelah menikah." Iqbal menggurui.


"Materi itu bisa dicari sama-sama kak. Yang penting itu komitmen. Kalau mau banyak materi tapi enggak ngehargai komitmen ya sama aja." Mela membela.


"Ya tapi dengan materi yang cukup setidaknya mengurangi satu hal penyebab permasalahan rumah tangga."


"Emang kakak udah nikah?"


"Belum, kenapa emang?"


"Kok tau kalau materi jadi penyebab masalah rumah tangga?"


"Iya kebanyakan emang gitu kan. Di kasih berapa, eeh tau-tau kurang akhirnya cek cok akhirnya cerai."


"Menurut gue yang salah bukan materinya. Tapi tetep orangnya. Harusnya kalau sudah saling sayang dan komitmen bisa menerima susah senang bersama, kaya miskin bersama, sehat sakit bersama dong. Materi ibarat kesehatan juga kak, kalau materi sedikit terus cek cok dan cerai, masa pasangan sakit sedikit juga cek cok dan cerai. Harusnya gimana kita menghadapi itu sama-sama. So, masalahnya bukan di materinya. Tapi di si suami dan istrinya." Iqbal dibuat terdiam oleh penuturan Mela. Bagaimana gadis bau kencur seperti itu sudah berpikiran sangat dewasa baginya.


"Lu ngebet nikah ya, sampe bisa mikir segitunya." Jawab Iqbal tidak terima argumennya dipatahkan Mela. Mela menggeleng.


"Ngebet banget sih enggak kak, tapi kalau sama pacar gue, gue yakin."


"Kenapa bisa yakin?"


"Ya dia bisa meyakinkan gue dengan caranya yang belum tentu orang lain bisa lakukan."


Iqbal tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia merasa kecewa sosok di depannya sangat bucin dengan pasangannya. Entah kenapa pesona Mela sangat kuat melekat di benak Iqbal.

__ADS_1


Setelah makan siang, Mela dan Iqbal melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Iqbal kembali keruangannya dan memikirkan ucapan Mela tadi. Benar apa kata Mela, pernikahan sejatinya antara dua orang yang saling jatuh cinta. Permasalahan apapun, materi, kesehatan, orang ketiga atau yang lainnya tidak akan menjadi penghalang hubungan tersebut kalau memang mereka saling berkomitmen. Kalau hal tersebut menjadi permasalahan dalam rumah tangga, intinya yang bermasalah adalah kedua orang yang menjalani rumah tangga tersebut. Kedua orang itulah yang harusnya berbenah diri untuk kelangsungan rumah tangga mereka dengan komitmen yang telah mereka jalin. Iqbal menyadari pemikiran Mela sangat dewasa, Ia kagum. "Seandainya Mela belum punya pacar." Batin Iqbal.


Iqbal mengusap wajahnya kasar untuk menghilangkan pikirannya tentang Mela. Ia ingin kembali fokus terhadap pekerjaannya. Iqbal membuka komputernya dan melihat rekam medis pasiennya, Airelle. Ia membaca dengan seksama karena Airelle sudah sehat dan akan segera pulang. Ia membaca ulang agar tidak ada kondisi yang terlewat, dan semua kondisi sudah membaik. Saat membaca Iqbal menemukan sesuatu hal yang janggal. "Apa mungkin Airelle itu..?" Gumam Iqbal.


__ADS_2