
Pagi hari Anya berangkat bekerja seperti biasa. Namun, Ia merasa ada yang tidak nyaman dengan tubuhnya. Anya berusaha tidak menggubris dan tetap melaju menuju proyek.
Sesampainya di proyek Anya bekerja seperti biasa. Adit yang memperhatikan gerak-gerik Anya mendekati dan menanyakan kondisi Anya yang terlihat lesu.
"Are you okay?" Tanya Adit yang khawatir dengan kondisi Anya yang pucat.
"I'm okay kak." Jawab Anya singkat sembari mengatur nafas.
"Kamu yakin? Kamu pucet banget."
"Yakin kak. Kayaknya cuma kecapekan aja. Nanti pulang kantor dibuat istirahat pasti udah enakan lagi."
"Iya udah kalau gitu. Kamu gak usah kerja capek-capek. Atau kalau emang mau pulang lebih awal, gak papa kok. Jangan sampai malah jadi makin parah. Okay?"
"Okay. Makasih kak." Anya mencoba mengurai senyum tipis di bibir pucatnya.
Anya hendak melangkah meninggalkan Adit. Seketika badan Anya terasa ringan, pandangannya gelap. Anya ambrukk..
"Anyaaa... Nyaaaa.. Anya..." Teriak Adit yang menangkap badan Anya yang tumbang karena kelelahan.
Adit dibantu pegawai lain membopong Anya menuju mobil. Anya bergegas menuju rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Anya. Adit mengendarai mobil dengan kencang sembari sesekali melihat kondisi Anya yang sedang lemas di kursi penumpang. Masih belum ada tanda-tanda Anya sadar. Adit semakin kencang menginjak pedal gas agar Ia segera sampai di rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Adit menggendong Anya yang belum sadar ala bridal. Ia membawa menuju UGD agar Anya segera mendapat penanganan dari dokter. Adit terpaksa menunggu di luar sembari dokter memeriksa kondisi Anya.
Tak berselang lama dokter memanggil Adit dan menyampaikan kondisi Anya.
"Dok, bagaimana kondisi teman saya?" Tanya Adit pada dokter.
"Teman anda hanya kelelahan. Dibutuhkan istirahat yang cukup agar bisa kembali pulih. Makan makanan yang bergizi juga sangat membantu mengembalikan sistem imunnya. Untuk sementara waktu saya sudah berikan infus agar pasien tidak kekurangan cairan serta vitamin. Sementara kita tunggu sampai pasien sadar. Jika kondisinya masih lemah, kemungkinan di opname agar pemberian vitamin bisa maksimal dan mempercepat pemulihan." Jelas dokter lalu berlalu meninggalkan Adit yang cukup lega setelah mendengar kondisi Anya.
Adit masuk ke ruangan dan duduk disebelah Anya. Ia melihat wajah Anya yang pucat dan tak sadarkan. Hati Adit bergetar melihat Anya, selain wajah cantik Anya, kemandirian dan kegigihan Anya membuat Adit kagum. Namun, Ia harus sadar bahwa Anya sudah memiliki kekasih. Sebelum hatinya semakin tak karuan, Adit memutuskan untuk menunggu di luar ruang UGD dan berpesan pada perawat yang menjaga untuk dipanggil jika sewaktu Anya sadarkan diri.
Tak berselang lama, Anya sadarkan diri walau dengan kondisi kepala yang masih sangat berat. Anya melihat sekeliling, Anya menyadari Ia sedang berada di rumah sakit. Anya memanggil perawat dengan lirih.
"Suster.." Panggil Anya dengan suara yang masih lemah.
Perawat segera menghampiri Anya dan memeriksa kondisinya. Kondisi Anya sudah berangsur memulih karena obat yang diberikan melalui infus walaupun memang badannya masih terasa lemas.
"Mbak istirahat dulu. Saya panggilkan temannya sebentar." Ucap perawat itu setelah memeriksa kondisi Anya dan bergegas mencari keberadaan Adit di luar ruangan.
Adit masuk menemui Anya.
"Sudah enakan?" Tanya Adit.
"Masih agak pusing. Tapi sudah lebih baik." Jawab Anya.
__ADS_1
"Syukurlah. Aku khawatir banget saat kamu pingsan tadi."
"Maaf ya kak, Anya jadi ngerepotin." Ucap Anya dengan wajah sungkan.
"Gak ngerepotin. Justru aku yang gak enak, kesannya ngasih banyak kerjaan sampai kamu jadi jatuh sakit."
"Enggak kok kak, Anya justru senang bisa banyak belajar hal baru sama kakak. Anya aja yang lemah. Pengen banyak yang dikerjain, tapi fisik gak bisa bohong."
"Iyaudah, kamu istirahat dulu. Tunggu dokter visit dulu buat tau kamu boleh pulang atau harus nginep."
"Anya pulang aja kak." Cegah Anya tidak mau menginap di rumah sakit.
"Iya tunggu apa kata dokter dulu. Kalau memang harus nginep demi kesehatan kamu nginep aja. Masalah kerjaan gak usah dipikirin."
"Tapi.."
"Udah gak usah tapi tapian. Kamu mesti istirahat sampai pulih." Ucap Adit mengakhiri semua perdebatan.
***
Mela mengutak atik handphone barunya. Ada banyak fitur canggih di dalamnya. Mela merasa tak percaya Iqbal sampai sebegitunya untuk bisa menghubunginya. Mela mengambil secarik notes di dalam dustbag dan menyimpan deretan nomor yang tertulis di atasnya. "Kak Iqbal".
"Kak, makasih handphonenya.." Mela mengirim chat pada Iqbal. Tak lama ada panggilan masuk dari Iqbal.
"Halo.." Sapa Mela.
"Lagi utak atik handphone dari kakak, ini barusan nyimpen nomor kakak dan ngabarin kak Iqbal." Iqbal senyum-senyum mendengar ucapan Mela.
"Mau disave apa nomorku?" Tanya Iqbal.
"Mela save kak Iqbal. Memang kenapa?"
"Oooh kak Iqbal. Emmhh, disave yang lain juga gak nolak kok." Jawab Iqbal tidak jelas.
"Maksudnya diganti nama 'yang lain' gitu?" Tanya Mela polos.
"Ya bukan gitu Melaaa. Emmhh, diganti nama sayang, cintaku, atau apa gituu." Goda Iqbal.
"Hmmm.. Mau banget?" Tanya Mela menahan tawa.
"Alay ya?" Tanya Iqbal sedikit malu.
"Emhhh, agak gak cocok sama umur aja sih kak. hehe." Jawab Mela diikuti cengir kudanya.
"Iya namanya juga lagi kasmaran. Oiya, kalau kamu gak sibuk, kabarin ya. Inget kamu punya utang ngedate 10 kali sama aku."
__ADS_1
"Iya kak Iqbal. Mela inget. Weekend aja gimana kak? Kalau weekday Mela sibuk sama skripsi."
"Boleh juga. Yaudah weekend besok kabarin ya kamu bisa aku jemput jam berapa."
"Siap kak."
Percakapan keduanya terhenti setelah Iqbal menyuruh Mela beristirahat. Iqbal tau bahwa Mela setiap pagi harus ke kampus guna menyelesaikan penelitiannya. Ia tidak ingin egois membuat Mela kesiangan hanya karena menemaninya mengobrol di malam hari. Walau sebenarnya Iqbal masih ingin mendengar suara Mela, tapi Ia harus mengalah.
Mela masih mencoba mengutak atik handphone barunya dan mencoba fitur kamera. Ia memotret benda di sekitarnya dan merasa kagum dengan kualitas gambar yang diambilnya.
"Kak Iqbal kak Iqbal.." Gumam Mela sambil menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir Iqbal rela sampai membelikannya handphone keluaran terbaru yang tak murah. Walaupun Mela tau Iqbal dokter dan juga cucu pemilik rumah sakit, namun membelikan benda mahal untuk gadis yang bahkan belum menerima perasaannya sungguh membuat Mela terheran.
***
Sonya dan Ezza memeriksakan kandungan. Dalam jadwal bulan ini, harusnya mereka bisa mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Namun, mereka memutuskan untuk tidak mencari tau. Bagi mereka jenis kelamin akan menjadi kejutan saat melahirkan nanti.
"Sayang beneran gak papa kita gak tau lebih dulu jenis kelamin dedek?" Tanya Sonya meyakinkan kembali saat keduanya sudah sampai di rumah. Ia takut ada kekecewaan dihati suaminya karena keputusan tersebut.
"Enggak papa sayang. Lagian buat aku cowok cewek gak akan berpengaruh rasa sayang aku ke calon anak kita. Aku menyayanginya sejak awal tanpa memandang apapun kondisi anak kita. Tapi aku selalu berdoa anak kita lahir sehat,selamat tanpa kekurangan apapun. Dan ibunya juga selalu sehat." Jelas Ezza membuat Sonya lega.
"Iya sayang, aku pengen mencintainya tanpa syarat. Menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Menerima segala keputusannya kelak. Aku udah bayangin saat menjadi orang tua nantinya. Tapi pasti aku bahagia, karena ada lelaki hebat yang mendampingi aku merawat anak kita kelak sampai dewasa."
"Sayang.. Sebentar lagi kita akan jadi orang tua. Maaf kalau aku belum bisa jadi suami yang sempurna. Semoga aku bisa membahagiakan kalian berdua." Ucap Ezza sambil mengusap perut Sonya.
"Kok bilang gitu sih sayang. Justru aku bahagia banget karena punya suami sesempurna kamu, sesabar kamu nanggepin istrinya yang sering badmood gini. Kamu juga pasti akan jadi papa yang hebat dan dedek akan sangat bangga sama papanya." Sonya mengecup pipi Ezza. Ia juga bergelayut mesra di leher Ezza. Sonya mengecup bibir Ezza membuat Ezza kaget dengan ulah istri cantiknya.
"Sayang, kata dokter di trimester dua sudah boleh kok." Ucap Sonya dengan manja.
"Bo boleh apa sayang?" Tanya Ezza pura-pura tidak paham walaupun hatinya merasa berdebar.
"Aaahhh sayang, masa gak paham. Itu tuuuhhh." Ucap Sonya sambil melirik ke arah bawah Ezza dengan tatapan nakal. Ezza tersenyum melihat tingkah istrinya yang benar-benar berani. Banyak yang bilang bahwa saat hamil, hasrat wanita meningkat dan Ezza sedikit tak percaya mendengarnya. Namun, dengan pemandangan di depannya kini, Ezza baru percaya bahwa benar apa yang dulu Ia dengar.
Keduanya bergegas ke kamar dan melakukan ritual menengok bayi dalam kandungan.
***
"Kalau kamu susah sendiri, aku temenin boleh?" Tanya Adit pada Anya yang memang kesulitan merawat diri sendiri karena selang infus dan badan yang masih lemah.
"Gak usah kak, kasian kakak dari tadi ngurusin Anya. Kakak pulang aja, istirahat. Besok kakak kan kerja." Ucap Anya sungkan.
"Mana tega aku ninggalin kamu. Emmhh, aku besok bisa kok masuk agak siang. Malam ini aku temenin kamu, aku bisa tidur di sofa. Kamu bisa bilang ke aku kalau butuh apapun, gak usah sungkan. Oke?"
"I iya kak, makasih banyak. Maaf Anya jadi ngerepotin."
Sore tadi dokter visit memeriksa kondisi Anya. Kondisinya yang masih lemah membuatnya tidak diijinkan untuk pulang. Setidaknya butuh satu malam untuk dilakukan observasi guna melihat kondisi Anya selanjutkan. Anya hanya bisa pasrah mendengar keputusan dokter yang mengharuskannya menginap di rumah sakit.
__ADS_1
Anya merasa tidak enak pada Adit yang sejak siang sudah lelah menjaganya. Anya baru merasakan betapa tersiksanya hidup jauh dari keluarga saat sakit. Dulu ketika Anya sakit, Ia selalu mendapat perhatian dari mama Meli ataupun Kak Sonya. Namun, kini Ia seorang diri dan ditemani Adit, rekan kerjanya.
Anya memutuskan tidak menyampaikan kondisinya pada keluarga dan Yoga. Ia tidak ingin membuat orang terkasihnya khawatir.