Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Kepingan Puzzle


__ADS_3

Anya menuruni anak tangga untuk menemui Yoga di ruang tamu.


"Anya.." Sapa Yoga dengan raut wajah agak bingung.


Anya duduk di sofa dengan beberapa jarak dari Yoga. Yoga kaget melihat tingkah Anya. Biasanya Ia akan duduk di dekat Yoga. Tapi sekarang Anya sudah memberinya jarak. "Apa dia sudah tau apa yang terjadi?" Batin Yoga.


"Anya.. aku mau bilang sesuatu sama kamu. Ini menyangkut hubungan kita." Ucap Yoga hati-hati.


"Sebelum kakak ngomong. Aku duluan yang ngomong bisa?"


Yoga terdiam. Dia mengiyakan Anya untuk menyampaikan sesuatu yang ingin dibicarakannya.


"Kak, Anya minta kita berdua putus. Anya gak bisa lanjutin hubungan ini." Ucap Anya tegas. Ia sudah menghabiskan airmatanya tadi siang, sehingga malam ini Ia bisa menahan tangisnya.


"Ta tapi kenapa Nya? Salah aku apa sampai kamu pengen kita putus?" Tanya Yoga.


"Aku rasa kakak yang lebih tau alasannya. Tanpa perlu aku jelasin lagi kan."


"Tapi aku bener-bener gak tau Nya alasannya apa. Aku justru kesini karena gak pengen kita putus. Aku mau ceritain suatu masalah yang aku takut bakal pengaruh ke hubungan kita."


"Sudah kak, aku rasa gak ada yang bisa berpengaruh di hubungan ini. Dari awal harusnya hubungan ini gak perlu terjalin." Ucap Anya sinis agar Yoga tidak kekeuh mempertahankannya.


"Gak bisa gitu, Nya. Kasih aku alasan kenapa kamu mau kita putus. Kalau kamu gak kasih alasan, aku gak bakal terima, aku gak mau kita putus pokoknya."


"Aku udah bosen kak sama hubungan ini. Aku juga capek dengan tuntutan nanti harus segera nikah kalau sama kakak. Sekarang kakak bisa nikah sama cewek lain."


"Cewek lain siapa? Aku gak mau nikah sama siapapun selain kamu."


"Plis kak, jangan bikin Anya makin sulit. Anya pengen tenang, Anya capek sama hubungan ini."


"Aku gak mau nikah sama siapapun, Nya. Gak ada cewek lain selain kamu."


"Jangan gitu kak, kamu harus tanggung jawab dengan bayi itu. Plis tinggalin aku, biarin aku bahagia dengan cara aku sendiri."


"Justru itu aku kesini mau jelasin semuanya Anya. Aku gak tau menau soal bayi itu. Aku bahkan tidak pernah menyentuh Gista walaupun seperti apapun dia menggoda aku."


"Plis kak, Anya gak akan marah kok. Plis kakak tanggung jawab dengan semuanya. Biarin Anya sendiri dan ngejalanin hidup Anya. Kalau kakak bertingkah begini, justru akan membuat semuanya makin sulit kak."


"Aku gak peduli. Aku gak akan mau bertanggung jawab kalau memang aku tidak melakukan apapun Anya. Plis dengerin penjelasan aku dulu."


"Gak ada yang perlu dijelasin kak." Anya beranjak dan meninggalkan Yoga.


Yoga menarik tangan Anya.


"Lepasin kak. Aku gak butuh penjelasan apapun." Ucap Anya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Yoga.


"Aku gak akan lepasin sampai kamu mau dengar penjelasan aku."


"Aku udah bilang gak ada yang perlu dijelasin lagi." Ucap Anya dengan nada makin tinggi.


"Enggak. Aku mohon Anya. Dengerin aku sekali ini aja."


Anya memilih mengalah, Ia duduk kembali untuk mendengarkan penjelasan Yoga.


"Untuk terakhir kalinya." Batin Anya.


***


Hari ini Andre mengantarkan kembali mamanya untuk periksa ke rumah sakit. Saat hendak ke kamar mandi, Andre tidak sengaja menabrak anak kecil yang berlarian di lorong. Anak kecil itu terjatuh dan mengelus-elus pantatnya yang terasa sakit.


"Kamu gak papa?" Tanya Andre segera menolong anak tersebut.


"Gak papa kok om. Maaf ya om, udah gak sengaja nabrak." Andre tersenyum mendengar anak kecil itu. Andre berlutut agar tingginya sejajar dengan tinggi anak tersebut.


"It's okay girl. Nama kamu siapa?" Tanya Andre.


"Namaku Airelle om."


"Nama yang cantik, secantik anaknya." Ucap Andre membuat Airelle tersenyum.


"Airelle." Ucap Sonya dari belakang Andre. Andre menoleh ke arah suara itu.


"Halo tante dokter yang cantik."


"Halo sayang." Sonya mendekati Airelle sambil mengelus rambutnya.


"Kamu kenal anak ini?" Tanya Andre penasaran.


Sonya mengangguk.


"Ini anaknya mantan istri Ezza. Sempat dirawat disini beberapa waktu yang lalu."


"Anaknya mantan istri? Memang bukan anaknya Ezza." Andre merasa bahasa Sonya yang aneh, karena harusnya dia bilang anak Ezza bukan anak mantan istrinya. Sonya menggeleng sambil tersenyum tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Andre juga berusaha tidak bertanya lebih lanjut walaupun masih sangat penasaran.

__ADS_1


"Mau cokelat sayang?" Sonya mengeluarkan permen coklat di saku jas dokternya dan menyodorkan pada Airelle.


Airelle menggeleng.


"Maaf tante, Airelle alergi coklat." Ucap Airelle dengan wajah polosnya.


Sonya menyodorkan coklat ke arah Andre. Andre juga menggeleng.


"Aku juga alergi coklat."


Tak berselang lama Selly datang dengan terengah mencari Airelle.


"Airelle..." Panggil Selly.


"Mamaaa.." Airelle berhambur ke pelukan mamanya. Andre kaget dengan pemandangan yang dilihatnya.


Andre berjalan pelan ke dekat Selly dan Airelle yang sedang berpelukan.


"Jadi ini anak kamu, Sel?" Ucap Andre membuat Selly menoleh ke arahnya dan langsung kaget.


"Kalian saling kenal?" Sonya juga terheran ternyata Andre mengenal Selly.


"Aku pamit dulu, Airelle waktunya ketemu dokter." Selly bergegas meninggalkan Andre dan Sonya yang masih berdiri di posisi mereka.


Andre nampak berpikir. Ia merasa ada yang janggal dengan yang baru saja terjadi baginya. Instingnya sebagai pengacara sangat kuat memang jika ada hal yang janggal Ia sangat peka.


"Ndre, kamu nanti malam apa ada waktu?"


"Hmmm, kenapa memang?"


"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu. Apa bisa kita janji untuk bertemu?"


"Bisa, nanti aku hubungi kamu. Kayaknya juga ada yang mau aku tanyakan sama kamu."


"Apaan?"


"Nanti malam aja, aku mau ke toilet dulu sekarang."


"Oke kalau gitu. Aku ke ruang praktek dulu."


Sonya dan Andre berpisah, mereka bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing. Pikiran Andre masih menerawang, serasa ada kepingan puzzle yang ada dipikirannya, namun belum bisa Ia tata dengan benar. Sementara itu, saat di jalan menuju ruang prakteknya, Sonya segera menelpon seseorang untuk memberi info bahwa nanti malam Ia bisa mempertemukannya dengan Andre yang ingin ditemuinya.


***


Di depan ruangan Iqbal, Ia celingukan melihat ke dalam. Namun, sepertinya tidak ada kehidupan di dalamnya. Saat ada perawat lewat, Mela menanyakan keberadaan Iqbal yang ternyata sedang ada praktek. Mela memutuskan menunggu di kursi depan ruangan Iqbal.


Tak berselang lama Iqbal datang menuju ruangannya. Mela tersenyum melihat Iqbal. Namun, Iqbal justru tak melihatnya karena panggilan seseorang di belakangnya. Nampak wanita yang sedang menggandeng anak kecil mengobrol dengan Iqbal. Sorot mata Iqbal seperti malas menanggapi obrolan wanita itu. Entah kenapa merasa tertarik, Mela memperhatikan momen tersebut. Ia menyadari bahwa Iqbal sepertinya tidak nyaman dengan obrolan tersebut. Mela berinisiatif menghampiri Iqbal dan menyapanya agar pembicaraan mereka segera berakhir.


"Kak Iqbal." Kedua manusia yang mengobrol itu menoleh ke sumber suara.


"Mela.."


"Kok lama banget kak, Mela udah nungguin dari tadi."


"Oooh iya udah kalau gitu. Ayok ke ruangan aku."


Wanita di depannya nampak tidak suka dengan kehadiran Mela, namun terpaksa pembicaraan mereka harus terputus.


"Aku ke ruangan dulu, Selly. Ada yang perlu diomongin sama Mela."


"O oke." Ucap Selly.


Mela dan Iqbal bergegas pergi menuju ruangan Iqbal.


"Makasih ya Mel." Ucap Iqbal tiba-tiba.


"Sama-sama kak. Keliatan banget kakak gak enjoy tadi saat ngobrol. Mela inisiatif aja jadinya. Kalau boleh kepo emang ada urusan apa kak?"


Mereka berdua masuk ke ruangan Iqbal dan duduk di sofa.


"Jadi Selly itu mantan aku 3 tahun yang lalu. Dia sempat nikah sama dosen kamu, pak Ezza, lalu berpisah. Nah sekarang Ezza mau nikah sama Sonya, kakaknya Anya, temen kamu." Iqbal menelan ludah sambil berpikir kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari bibirnya.


"Cuma yang ada dia malah minta Sonya untuk batalin nikahannya sama Ezza supaya dia bisa rujuk sama Ezza. Dia tadi nyari aku karena mau minta tolong ke aku supaya bilangin ke Sonya untuk batalin rencana pernikahan, demi anaknya."


"Memang anaknya gak setuju ayahnya nikah lagi?"


"Sebenarnya itu bukan anaknya Ezza. Namun, karena Ezza terlalu polos makanya dia tetap baik sama anak itu. Ternyata Selly gak rela ngelepas Ezza jadinya."


"Lah, kenapa gak minta rujuk sama ayah kandungnya aja kak?" Tanya Mela jadi penasaran.


Iqbal menggeleng.


"Gak ada yang tau siapa ayah kandung anak itu, kecuali Selly sendiri."

__ADS_1


"Terus kenapa muka kakak ditekuk gitu kalau gak mau bantu kan tinggal bilang aja gak mau."


"Iya aku udah bilang gak mau. Yang ada dia malah nuduh aku masih sakit hati karena dulu pisah sama dia. Dulu dia sempet nyelingkuhi aku, terus dia lebih memilih selingkuhannya daripada aku. Memang sejak putus sama dia aku belum punya pacar. Bukan karena gak pengen pacaran, tapi aku terlalu sibuk kerja kan. Mungkin dia kira aku belum bisa move on dari dia." Ucap Iqbal dengan wajah cemberut.


"Sabar ya kak."


"Aku yakin dia bakal neror aku lagi. Apalagi tadi obrolan kami kesannya belum selesai. Padahal aku sudah move on, tapi dia seakan mutar balikin keadaan kalau aku gak terima dia bahagia karena masih sakit hati. Kesel banget dengernya."


"Eehhmm, Mela punya ide kak."


"Apaan?"


Mela membisikan sebuah rencana pada Iqbal. Rencana itu membuat Iqbal terperangah tak percaya.


"Kamu yakin?" Tanya Iqbal tak percaya dengan rencana Mela.


"Yakin dong kak. Biar tuh cewek gak seenaknya aja, makanya aku mau bantu kakak."


Iqbal mengangguk.


"Makasih ya Mel."


"Sama-sama kak." Mela tersenyum.


"Oiya, kamu tadi kesini ada apa Mel?" Tanya Iqbal merubah topik pembicaraan setelah sedikit salah tingkah melihat senyuman Mela yang membiusnya.


"Astaga, lupa. hahaha. Aku mau ngasih ini kak. Tadi Mela pesen makan online, terus ada promo kalau beli dua. Pas makan satu aja gak abis. Jadi ini dari pada gak kemakan mau Mela kasih ke kakak. Kakak mau?" Tawar Mela.


"Mau dong. Pas banget abis praktek dan belum makan siang, langsung ada yang anterin makan." Ucap Iqbal sangat berharap. Hati Iqbal sangat berbunga-bunga mendapat makanan dari Mela, walaupun itu makanan dari promo. Namun, bagi Iqbal, Mela sudah datang ke ruangannya membawakan makanan tersebut itu artinya dia ada di pikiran Mela.


Iqbal memakan makanan tersebut sambil senyum-senyum sendiri. Mela melihatnya.


"Ngapain senyum-senyum kak?" Tanya Mela bingung sambil mengernyitkan dahinya.


"Haaah? Siapa yang senyum-senyum?"


"Kakak, tadi kakak tuh senyum-senyum sendiri. Makanya Mela tanyain."


"Enggak kok, tadi senyum karena makanannya enak." Jawab Iqbal mencari alasan.


"Oooh kirain kenapa."


"Kakak ada praktek lagi abis ini?"


"Nanti sore ada jadwal praktek lagi. Harusnya tadi ada jadwal operasi, tapi gak jadi karena kondisi pasiennya yang tensinya tiba-tiba tinggi."


Mela manggut-manggut mendengarkan penjelasan Iqbal.


"Kalau kakak gak ada jadwal praktek abis ini, Mela boleh disini bentar?"


"Boleh dong Mel, kenapa emang?"


"Tugas di proyek udah selesai soalnya. Gak ada jadwal kuliah juga. Makanya mending disini aja deh ngobrol-ngobrol sama kakak."


"Iya udah kalau emang bosen di proyek, pengen main kesini tinggal bilang aja."


"Oke kak, nanti kalau bosen di proyek, Mela coba kabarin kakak. Mela jaga kewarasan soalnya kak, takutnya kalau sendirian, larut dalam kesedihan lagi jadinya malah ngelakuin hal yang aneh-aneh."


"Iya bener itu Mela. Kalau ngerasa sedih lagi, jangan dipendam. Ceritain, lampiasan dengan tangisan supaya hati kamu lega."


Mela mengangguk mendengar penjelasan Iqbal.


"Mela tau kak, awalnya Mela cuma gak enak sama teman-teman kalau terus-terusan cerita. Mereka pasti muak juga kalau Mela cerita hal yang sama."


"Enggak Mela. Justru sahabat kamu seneng kalau kamu mau berbagi kesedihan. Artinya kamu berjuang melepaskan diri kamu dari kesedihan itu semua. Memang tidak mudah dan sangat butuh waktu tapi kita semua yakin kamu bisa melalui semua kesedihan ini dengan cara yang baik. Sehingga kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik juga tentunya."


"Kakak bener. Nampaknya kalau Mela galau, Mela langsung kesini aja deh." Ucap Mela sambil tersenyum.


"Iya gak papa langsung kesini. Jangan ke club-club lagi." Gurau Iqbal. Mereka berdua tertawa bersama.


***


Andre mengirim pesan pada Sonya bahwa dia sudah sampai di cafe. Sonya sedang dalam perjalanan menuju lokasi temu mereka. Tak lama mobil Sonya sampai dan segera mencari tempat parkir. Sonya turun dari kursi kemudi berbarengan dengan seseorang turun dari kursi penumpang. Mereka berdua berjalan bersama menuju cafe dan mencari keberadaan Andre.


Andre melambaikan tangannya kepada Sonya yang celingukan mencari keberadaan Andre. Sonya menemukan tempat duduk Andre dan langsung menghampirinya, diikuti oleh seseorang dibelakangnya.


"Halo Ndre, sorry udah lama nunggu kah? Tadi agak macet soalnya."


"Enggak kok, gak nunggu lama. Baru sampai juga."


Sonya duduk di seberang Andre.


"Jadi begini Andre, sebenarnya aku ngajak kamu ketemu ada yang mau diobrolin. Tapi bukan aku, dia yang mau ngobrol dan nanya sesuatu sama kamu." Ucap Sonya sambil menunjuk seseorang disebelahnya. Seseorang itu memberi senyum pada Andre, Andre membalasnya.

__ADS_1


"Memang apaan yang mau ditanyakan?" Tanya Andre dengan raut wajah bertanya-tanya.


__ADS_2