
Sonya bahagia sekali dengan keputusannya. Sepanjang perjalanan Ia hanya senyum-senyum saja. Ia tak menyangka Ezza sangat mencintainya. "Semoga ini semua awal yang baik." Batin Sonya. Sonya tentu tidak lupa dengan yang dibicarakan Selly tentang perasaannya pada Ezza. Tapi cukup dengan tau pilihan Ezza sudah membuat Sonya lega. Sonya sudah bertekat akan berjuang sekuatnya untuk mempertahankan hubungan yang sudah mereka bina. Tidak ingin orang lain semudah itu menghancurkannya.
Sesampainya di rumah Sonya menyampaikan niat Ezza untuk minggu depan datang ke rumah bersama keluarganya.
"Maaaaa.." Sonya memeluk mamanya dari belakang yang sedang ada di dapur.
"Eeh kenapa sayang?" Mama Meli kaget.
"Ma, Sonya mau ngomong sesuatu." Sonya melepaskan pelukannya. Mama Meli menoleh ke arah Sonya.
"Apa nak?"
"Minggu depan, Ezza sama keluarganya mau datang kesini." Ucap Sonya sambil senyum-senyum.
"Oiya, mau main aja kesini?" Jawab Mama Meli pura-pura tidak tau maksud anaknya. Padahal setiap orang tua pasti tau jika anak gadisnya didatangi oleh lelaki dan orangtuanya, pasti akan ada niat serius dari lelaki tersebut.
"Iya main, tapi sambil.." Sonya sedikit malu mengucapkannya.
"Sambil kenalan?" Tebak Mama Meli cengar cengir.
"Iiih enggak Ma, Ezza sama keluarganya kesini mau ngelamar Sonya." Ucap Sonya bersemu. Mama Meli tersenyum.
"Kamu yakin sama nak Ezza?" Sonya mengangguk mantap.
"Yasudah kalau gitu. Suruh nak Ezza sama keluarganya datang kesini."
"Aaaahhh makasih Mama." Sonya memeluk Mama Meli bahagia.
***
"Aku nginep di Ika sayang, gak aneh-aneh kok."
"Iya tetep aja aku kawatir, Anya." Ucap Yoga.
"Kosan Ika aman kak, kosan cewek juga. Kalau Anya pulang malem-malem gini malah bahaya. Anya juga ijin ke mama dibolehin."
"Iya deh iya, besok pagi pulang ya."
"Siap."
Anya menyelesaikan sesi meminta ijin pada pacarnya akan menginap di tempat Ika. Mela yang mendengar sesi meminta ijin Anya tadi cengar cengir.
"Ngapain senyum-senyum lu?"
"Buciiiinnn buciin. Dasar.." Mela tertawa sambil melempar bantal ke arah Anya.
"Biariiin, gue bucin belajar dari lu juga." Mereka tergelak bersama.
"Eeh Nya, gue kepo nih Eric sama Ika di depan ngomongin apa. Gimana respon Eric liat Ika yang cantik banget gitu."
"Gue juga kepo, kita tunggu aja bentar. Paling abis ini kak Eric balik. Masa iya ke kosan cewek sampe malem-malem. Di grebek tetangga nanti."
"Iya, kalau Ika udah balik kita introgasi dia."
"Setuju.. Kalau bisa sampe begadang dengerin ceritanya." Mereka kembali tertawa bersama.
Tak lama Ika masuk kembali ke kamar. Anya dan Mela langsung muncul di depan pintu membuat Ika kaget.
"Kak Eric ngomong apa?"
"Gimana responnya Eric?"
Tanya Anya dan Mela serentak.
"Sabar.. sabar.. masuk dulu baru gue ceritain."
Mereka bertiga masuk dan segera mengambil posisi nyaman masing-masing.
"Jadi gimana gimana?" Mela sudah tak sabar.
"Jadi tadi..."
#Flashback On..
"Halo kak.."
Eric masih terpana dengan penampilan Ika.
"Kak Eric?" Ika memanggil Eric kembali karena tidak ada jawaban sambil menepuk bahu Eric.
"Eeh iya sorry." Eric tersadar.
"Ngelamunin apa kak? Ika kira kesambet."
"Yeee enak aja. Aku heran sama tampilan kamu. Tumben dandan begini."
"Aku kamu lagi. Kenapa kak Eric nih. Kirain yang tadi siang cuma salah ngomong." Batin Ika.
"Tadi lagi main make up-make up an sama Mela dan Anya." Jawab Ika pura-pura tenang.
"Ooh kirain sengaja dandan buat aku."
__ADS_1
"Iiih geer banget. Kakak mau ngomong apa sama Ika?"
"Emmhh, Ka. Sebenarnya aku bingung ngomongnya bagaimana. Tapi buat memendam semua aku juga gak sanggup."
"Apaan sih Kak? Kok kayaknya serius banget."
"Emang serius Ika."
"Iya udah lanjut deh."
"Ika, aku mau jujur kalau aku punya perasaan ke kamu. Aku pengen hubungan kita lebih dari yang sekarang."
"Kakak yakin sama perasaan kakak?"
"Aku yakin Ka. Aku tau kalau kamu gak mungkin percaya sama aku. Aku bakal berusaha buktiin ke kamu."
"Iya kak, aku gak bisa percaya sama kakak dengan mudah." Ika tertunduk.
"Trauma masa lalu membuat aku pengen membina hubungan yang tenang kak. Kakak dikenal playboy, gimana aku bisa percaya."
"Aku tau Ika. Kasih aku kesempatan buat ngeyakinin kamu."
"Gimana caranya kak? Aku gak mau ketika nanti perasaan kakak ilang, lalu aku dibuang begitu aja sama kayak mantan-mantan kakak yang dulu. Aku bukan mainan kak."
"Ikaaa, aku gak ada niat mainin kamu. Sejak awal aku liat kamu sama Mela, aku tertarik sama kamu. Aku menahan diri takut dengan perasaanku sendiri nantinya berubah-ubah. Tapi semakin aku kenal kamu, semakin aku gak bisa lupain kamu. Hidup aku selalu penuh dengan, Ika lagi apa, Ika lagi dimana. Kayak gitu." Jelas Eric.
"Maaf kak, Ika bener-bener gak bisa yakin sama kakak. Ika takut nantinya akan terluka sendirian."
"Iya Ika, aku paham. Aku gak maksa kamu. Aku harap kamu jangan ngejauh, beri aku kesempatan buktiin semua ke kamu kalau aku serius."
Ika mengangguk dan tersenyum kikuk.
"Maaf ya kak."
"Iya Ika, its okay." Eric tersenyum menenangkan Ika yang merasa bersalah.
"Yaudah aku balik dulu yah. Udah malem."
"Iya kak, ati-ati."
Ika beranjak hendak masuk.
"Ka.." Panggil Eric membuat Ika menoleh ke arahnya.
"Apa kak?"
"Kamu cantik malam ini." Eric tersenyum dan melaju meninggalkan Ika. Ika tersipu.
#Flashback Off..
"Gue gak yakin Nya. Dia selama ini nerima cewek-cewek yang suka sama dia, terus kalau emang gak bisa suka, dia terus terang ke cewek itu dan mutusin gitu aja. Jahat banget kan?"
"Emmhh gak jahat juga. Eric kan berhak nentuin perasaannya juga. Lagian lu bilang tadi cewek-ceweknya yang suka, bukan Ericnya kan. Beda kalau Eric yang suka terus deketin terus diputusin begitu aja tanpa kejelasan, baru itu playboy." Jelas Mela.
"Tapi tetep aja Mela. Dia itu mainin perasaan cewek kan jatuhnya. Mentang-mentang ganteng, kaya jadi seenaknya aja mainin perasaan cewek. Kan gak boleh gitu."
"Ooh jadi kak Eric ganteng ya?" Goda Mela.
"Emmhh gue sih setuju sama Mela. Kak Eric juga berhak untuk bilang sejujurnya tentang perasaannya. Walaupun terkesan kejam karena yang bilang gak suka itu cowok ke cewek. Tapi itu menandakan Kak Eric cowok yang jujur, dia gak mau mainin perasaan cewek-cewek. Coba lu pikir, cewek kalau udah bucin bisa apa aja dikasih kan. Tapi Kak Eric gak memanfaatkan hal itu, dia dengan jujur bilang kalau enggak suka ya gak suka." Terang Anya.
"Nih denger pemikirannya anak pinter. Eric tuh baik. Kalau gak baik dia bakalan macem-macem sama mantan-mantannya, nyari keuntungan lah. Buktinya Eric gak begitu kan."
Ika terdiam. Menurutnya benar memang pemikiran Anya. Alih-alih memanfaatkan wanita yang suka padanya, Eric justru jujur kalau tidak bisa membalas perasaan cewek-cewek itu. Tapi entah kenapa masih ada ketakutan dihatinya untuk memulai dengan Eric.
"Apa mungkin gue insecure yah? Mantannya yang cantik begitu aja dia bilang gak suka, sedangkan gue yang biasa banget malah dia nembak gue dan bilang suka. Gue ngerasa kayak kambing cong*k." Batin Ika.
"Aaaarrrggghhh.. Tau dah. Pusing gue." Ika mengacak-acak rambutnya.
"Sekarang lu liat dalam hati lu Ka, ada gak secuil perasaan buat Kak Eric. Kalau memang ada, jangan takut dengan resiko apapun. Setiap hubungan pasti tidak lepas dari masalah." Ucap Anya dewasa.
"Uuuhh pinter banget temenku ini sekarang." Mela mencolek dagu Anya.
"Iya pinter dong. Kan berguru sama lu Mel."
"Aah pusing gue. Gue pikirin sambil mandi aja deh." Ika beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan pikirannya.
"Ngapain Mel? Panik amat?" Anya melihat Mela yang menatap handphonenya dengan wajah cemas.
"Kok Vico dari tadi gue chat gak masuk-masuk yah. Gue mau tanya kabarnya."
"Apa mungkin lupa ngerubah mode di handphonenya Mel. Ditunggu aja dulu. Kamu yang tenang."
"Kenapa?" Ika yang sudah selesai dari aktivitas mandinya kepo dengan obrolan Mela dan Anya.
"Vico dari tadi belum aktif handphonenya. Padahal harusnya sore tadi udah sampai." Jelas Mela.
"Mungkin pesawatnya delay. Positif thinking dulu ya. Nanti kalau dia udah gak sibuk pasti hubungi tunangannya yang super bucin ini." Hibur Ika.
Mela tersenyum mencoba melupakan hal yang mengusik pikirannya.
Mereka bertiga bersiap untuk tidur. Anya sudah pulas terlebih dahulu. Sedangkan Mela dan Ika masih terjaga dari tidurnya. Pikiran mereka berdua menerawang pada hal yang membuat kegalauan di hati mereka. Sampai tengah malam akhirnya kedua dara itu tertidur setelah lelah memikirkan semua kegundahannya yang tidak ada titik terang.
__ADS_1
***
Oki pulang dari kantor polisi dengan muka yang kusut. Percakapannya dengan Yoga membuatnya berpikir berulang kali tentang banyak hal. Saat di parkiran handphonenya berdering. Sisil.
"Halo."
"Halo, kakak dimana?"
"Abis dari kantor polisi."
"Haaah? Ngapain lagi kak?"
"Enggak ngapa-ngapain kok, cuma nyelesaiin masalah yang kemarin. Ada perlu apa?"
"Emmhh Sisil mau ngajak Kak Oki makan. Sisil lagi di deket angkringan yang kita dulu pernah makan bareng. Kakak kan masih utang makan bareng sama aku." Bujuk Sisil.
"Oooh yaudah kalau gitu kakak bayar utangnya. Tunggu disana, aku on the way."
"Siap Kak."
Tak lama Oki sudah sampai ditempat janjian mereka. Angkringan agak ramai, membuat Oki celingak-celinguk mencari keberadaan Sisil. Sisil melambaikan tangan hingga akhirnya Oki dapat menemukannya.
"Udah lama nunggunya?" Sapa Oki.
"Enggak kok. Tadi Sisil dari kosan temen deket sini. Pas mau pulang laper, pengennya mampir sini bareng kakak." Sisil tersenyum.
"Udah pesen?"
"Belum sih, ayok pesen dulu."
Mereka berdua memesan makanan dan minuman. Lalu duduk kembali.
"Kakak ngapain tadi ke kantor polisi?"
"Cuma minta maaf sama pacarnya Anya. Aku ngerasa bersalah karena pacarnya yang jadi korban kejahatannya mantanku."
"Mantan kakak pasti cemburu banget sama Kak Anya yah. Tapi gak nyalahin sih Kak, semua cewek pasti akan cemburu kalau cowoknya punya sahabat secantik dan semenarik Kak Anya. Sisil juga mungkin bakal cemburu."
"Gitu yah Sil? Kamu juga bakal cemburu? Walaupun hanya berteman?" Selidik Oki.
"Yakin hanya berteman? Kakak gak punya perasaan sama Kak Anya?" Pertanyaan Sisil yang berani tersebut membuat Oki terdiam. Sisil tersenyum seolah mengetahui jawabannya.
"Tapi bedanya Sisil dengan mantan kakak, sekalipun kakak punya perasaan sama Kak Anya, Sisil akan tetap berusaha merebut hati kakak dengan cara yang jujur. Sisil akan buat kak Oki jatuh cinta sama Sisil. Sisil pasti gak akan nyerah. Bukan malah menyalahkan Kak Anya yang gak salah apapun." Ucap Sisil tajam menatap Oki. Oki salah tingkah.
"Emmh kayaknya kamu salah paham Sil."
"Salah paham apa Kak?"
"Aku gak punya perasaan ke Anya. Dulu saat ospek aku memang sedikit tertarik sama Anya. Tapi seiring berjalannya waktu setelah mengenal Anya perasaan tertarik itu sudah menghilang lama, perasaan itu hanya kekaguman di awal karena kecantikan dan kepintaran Anya. Apalagi kami sudah bersahabat, istilahnya hati aku udah mati rasa, perduli dengan Anya itu seperti keluarga bukan perasaan cinta ke lawan jenis. Mungkin perhatian itu yang membuat banyak orang salah paham, termasuk mantan pacarku dan pacarnya Anya sekarang. Anya dan aku saling memperhatikan satu sama lain, bagi Anya aku seperti saudara laki-lakinya, dia selalu membantu aku kalau kesulitan. Begitu juga sebaliknya, aku menjaga Anya seperti menjaga saudara perempuanku sendiri. Jadi, kamu gak perlu merebut hati kakak karena kakak gak punya perasaan buat Anya. Kalau berusaha membuat kakak jatuh cinta, emmh sepertinya kamu berhasil." Oki kini menatap tajam pada Sisil, Sisil bersemu merah.
"Iiih apaan sih Kak, Sisil gak maksud ngomong gitu tadi." Sisil memalingkan wajahnya.
"Ooh jadi gak maksud ngomong begitu, aaah kakak kecewa deh. Kirain beneran selama ini bikin kakak jatuh cinta, jadi aku doang yang kegeeran ya."
"Eeh jangan kecewa dong Kak. Maksud Sisil bukan bikin kakak kegeeran kok. Sisil emang beneran berusaha sih." Sisil kebingungan dengan jawabannya membuatnya makin tersipu.
"Terus jadinya gimana?"
"Gimana apanya?" Tanya Sisil.
"Hubungan kita Sisil."
"Emmhh, kalau aku mau coba gantiin posisi mantan kakak. Boleh?" Ucap Sisil dengan polosnya. Oki tersenyum mendengar ucapan Sisil.
"Kamu gak perlu gantiin posisi mantan aku, karena kamu sudah punya tempat sendiri di hati aku yang jauh lebih indah. Sisil, kamu mau jadi pacar aku?"
Sisil tersenyum.
"Mau kak." Ucapnya sambil mengangguk.
Oki tersenyum melihat ulah Sisil yang menggemaskan.
***
Tengah malam handphone Mela berdering, Anya yang mendengar deringan itu terbangun dengan mata yang masih melekat. Ia mencari sumber suara yang membangunkannya. Ternyata asalnya dari handphone Mela.
Anya bangkit dari tidurnya mengecek handphone Mela, tertera "Mama Vico" memanggil. Anya melihat Mela masih terlelap. Dengan terpaksa Anya mencoba membangunkan Mela, Ia khawatir panggilan itu cukup penting untuk Mela.
"Mel.. Mela.. Bangun. Ini nyokapnya Vico telpon."
Anya menggoyang-goyangkan lengan Mela.
"Heemmmm.. Apaaa.... Hmmmm.." Ucap Mela tidak sadar.
"Meeelll.. Melaaa... Bangun." Anya menggoyangkan lengan Mela lebih keras. Mela terbangun dengan masih mengumpulkan kesadarannya.
"Kenapa Nya? Gue masih ngantuk banget nih."
"Nih ada telpon dari nyokapnya Vico. Gue takut kalau penting makanya gue bangunin." Ucap Anya menyodorkan handphone Mela yang masih bergetar.
"Tumben telpon malem-malem."
__ADS_1
Mela mengangkat telpon mama dari kekasihnya. Anya hendak kembali dengan posisi tidurnya terkaget dengan teriakan Mela diikuti bunyi handphone yang terjatuh. Tak lama Mela bersimpuh dan menangis.
"Melaaa.. Melaaa.. Lu kenapa? Mela.." Anya mendekati Mela, Ia panik dengan kondisi sahabatnya. Tatapan Mela kosong, Ia terus menangis.