
Yoga menarik tangan Anya dan memeluk Anya dari belakang.
"Nanti aku makan sayang. Belum terasa laper. Begini aja bentar. Aku tuh butuhnya kamu, kangen banget sama kamu." Ucap Yoga sangat manja membuat Anya tersenyum. Anya membiarkan kekasihnya melepas semua lelah dengan sebuah pelukan yang menghangatkan hati. Dengan sebuah pelukan, Yoga merasa semua beban terasa hilang dan memiliki semangat kembali menyambut hari-hari.
"Sayang kenapa? Lagi ada masalah kah?" Anya serasa memahami kekasihnya sedang ada pikiran yang sedang mengganggu.
Yoga tidak ingin memberitau Anya tentang Gista yang memberi ide pada Agam tentang hal buruk yang menimpa adik semata wayangnya. Baginya sudah cukup dengan hukuman yang diterima Agam. Untuk membuktikan kesalahan Gista dan menangkapnya juga tidak semudah itu. Yoga hanya berharap hubungan pernikahan Gina dan Boy selalu langgeng sampai kapanpun serta Gina bisa menghilangkan rasa traumanya.
"Enggak kok sayang. Aku lagi capek aja. Butuh suntikan energi." Jawab Yoga berkilah.
"Makan dulu kak. Jangan sampe sakit." Ucap Anya perhatian.
"Emmhhh, males makan. Kalau disuapin baru mau." Jawab Yoga dengan mode manja.
"Manja bangeeet sih. Yaudah yuk, Anya suapin." Yoga duduk di sofa dan Anya menyiapkan makanan yang dibawa lalu menyuapi kekasihnya yang nampak sangat manja.
"Aaaakkkk.." Ucap Anya seperti menyuapi bayi.
Yoga membuka mulut dan makan dari suapan Anya dengan senyum-senyum sendiri.
"Maaf ya sayang." Ucap Yoga.
"Maaf buat apaan?" Tanya Anya bingung.
"Maaf tadi buat kamu nunggu lama. Sampe ketiduran."
"Sayang, gak papa. Lagian aku gak ada kegiatan apapun. Jadi gak masalah nungguin kakak." Ucap Anya menenangkan. Yoga tersenyum melihat reaksi Anya. Pasti kalau wanita kebanyakan akan merasa sangat kesal harus menunggu kekasihnya dalam waktu cukup lama.
Yoga mengambil piring di tangan Anya dan meletakkan di meja. Ia menggeser badan mendekat pada Anya lalu spontan mengecup bibir Anya. Anya kaget dengan ulah kekasihnya dan langsung menutup bibir dengan telapak tangan
"Sayang iiih. Nakal iih curi-curi kesempatan." Ucap Anya.
"Tuh kan aku jadi semangat lagi." Ucap Yoga membuat Anya keheranan dengan reaksi Yoga yang beralasan seperti itu.
"Nakal banget deh. Anya pulang aja deh." Gerutu Anya.
"Jangan pulang dong sayang. Temenin dulu sebentar." Yoga masih dengan mode manja pada Anya. Ia menempelkan dagu ke bahu Anya membuat Anya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah manja Yoga.
***
Sesampainya di Bandung, Boy dan Gina menuju rumah orang tua Boy. Mereka mampir dan mengobrol sejenak setelah itu pergi menuju hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya. Sekarang sampailah kedua pasangan baru itu di hotel yang sudah dipesan. Hari menjelang malam, keduanya mulai membersihkan badan masing-masing. Boy yang melihat Gina menggunakan celana pendek dan kaos rumahan membuat gairah sebagai laki-laki meningkat. Tapi disisi lain, Boy mengingat apa yang baru saja menimpa Gina. Pasti tidak mudah bagi Gina untuk melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Boy memilih menonton tv agar suasana mencair dan Gina tidak merasa tertekan. Gina yang sejak awal masuk hotel menunjukkan ekspresi ketakutan sekarang berubah mulai tenang. Gina lega karena Boy ternyata sosok suami yang memahami kondisi istrinya.
Setelah cukup lama menonton tv, Boy memutuskan untuk tidur. Ia menahan semua keinginan malam ini agar Gina merasa nyaman dan aman. Gina melihat Boy yang mengerti keadaannya hanya bisa tersenyum tulus atas semua pengorbanan Boy. Boy tidur dengan posisi terlentang, walau belum sepenuhnya terjaga Ia sudah memejamkan mata. Gina masuk ke dalam pelukan Boy.
"Terima kasih kak."
"Buat apa?" Boy membuka matanya kaget dengan Gina yang tertidur dalam pelukan Boy.
"Buat kesabaran kakak. Gina tau kakak menahan semua keinginan kakak. Padahal kita sudah suami istri, gak semestinya kakak menahan itu semua. Tapi kakak melakukan semua demi Gina." Boy mengusap lembut rambut Gina yang ada di dada bidangnya.
"Sayang, aku tau kita sudah jadi pasangan sah dan halal. Tapi aku tidak mau melakukan semua hanya karena keterpaksaan. Semua harus dilakukan agar kita berdua bisa sama-sama merasakan kenyamanan dan kebahagiaan. Aku gak mau mengorbankan perasaan kamu demi kepentingan diriku sendiri." Jawab Boy dewasa.
"Makasih ya kak. Gina bahagia bisa menikah dengan kakak. Gina merasa menjadi wanita yang beruntung. Gina harap kakak bisa sabar menunggu sampai Gina siap menyerahkan semua pada kakak."
"Iya sayang, jangan memaksakan diri. Aku akan coba menunggu semuanya sampai kamu merasa diri kamu siap." Jawab Boy.
Gina mempererat pelukan dan terlelap dalam pelukan suaminya. Begitupun Boy yang juga ikut terlelap dengan posisi memeluk Gina.
Pagi hari keduanya bangun dengan posisi berpelukan. Gina merasa sedikit malu karena ini pengalaman pertama bagi Gina melewati malam bersama laki-laki yang kini sah sebagai suami. Boy yang merasakan Gina sudah bangun juga terbangun dan mencoba tetap cool walaupun ini juga menjadi hal yang canggung baginya.
"Sudah bangun, sayang?" Tanya Boy.
Gina mengangguk perlahan dan bangun.
"Aku ke kamar mandi dulu ya." Gina bergegas turun dari kasur dan menuju kamar mandi untuk menenangkan diri.
Boy dan Gina memulai hari dengan sarapan bersama dan bersiap untuk menikmati kota Bandung berdua. Keduanya berjalan-jalan ke daerah dago dan menikmati waktu bersama sebagai suami istri.
__ADS_1
***
Mela berpapasan dengan Iqbal di parkiran. Mela nyelonong begitu saja tanpa menyapa Iqbal. Iqbal yang hendak menyapa kaget dengan reaksi Mela yang menghindarinya. Ia berlari kecil menuju Mela yang tak menghiraukan kehadiran Iqbal.
"Mela.. Kok nyelonong gitu aja." Ucap Iqbal membersamai langkah kaki Mela.
"Oooh sorry kak. Mela lagi sibuk." Jawab Mela sekenanya dan melangkah lebih cepat mendahului Iqbal.
"Melaaa, tunggu." Iqbal berlari kembali mendekati Mela.
"Apa lagi kak?" Tanya Mela acuh.
"Kamu kenapa Mel? Aku ada salah sama kamu?" Tanya Iqbal bingung.
"Salah? Ngapain kakak salah sama Mela." Jawab Mela.
"Iya terus kenapa kamu berubah gini Mel? Plis kasih tau kalau aku ada salah."
"Kan Mela udah bilang kakak gak ada salah apapun. Udah deh kak, Mela sibuk." Jawab Mela terkesan ketus.
"Mela pliiis. Jangan begini. Kasih tau aku apa yang bikin kamu begini." Pinta Iqbal.
"Kak, Mela udah bilang gak ada apa-apa."
"Oke-oke kalau gitu. Emmhh, kita bicara sebentar bisa?" Mela tersenyum kecut.
"Emang kebiasaan kakak yah ajak semua cewek bicara. Gak usah bicara sama Mela, ajak bicara aja cewek lain yang biasa kakak aja bicara." Ucap Mela sambil menahan kekesalan.
"Cewek siapa Mela? Siapa yang kamu maksud?"
"Iya mana Mela tau. Kan kakak sendiri yang tau."
Iqbal berpikir sejenak.
"Selly? Maksud kamu Selly?" Iqbal mengingat-ingat bahwa beberapa waktu lalu Ia memang mengobrol dengan Selly.
"Selly waktu itu minta maaf sama aku karena semua kejadian yang lalu Mel. Kami gak ada apa-apa." Mela kaget mendengar semuanya tapi masih gengsi untuk berbaik hati menanggapi Iqbal.
"Oooh gitu. Yaudah terus apa masalahnya sama Mela. Mela gak ada urusan sama Selly Selly itu. Kan dari dulu kalian udah sering ngobrol tapi gak selesai-selesai obrolannya."
"Iya jangan jutek gini dong Mela. Pliiisss. Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu dan bikin kamu kesel." Mela luluh mendengar Iqbal yang dengan sabar menganggapi sikap juteknya. Namun Ia tetap malu untuk langsung memaafkan saat itu juga.
"Iya udah, gak ada yang perlu dimaafin. Mela pergi dulu."
"Gak boleh pergi kalau masih jutek gitu. Senyum dong." Iqbal memegang tangan Mela menghalangi gadis itu meninggalkan Iqbal.
"Iiih apaan sih kak." Jawab Mela kesal.
"Kamu kenapa emang kok jutek aku ngobrol sama cewek lain? Cemburu yah? Padahal Selly kan taunya kamu pacar aku." Goda Iqbal.
"Iiihhh apaan sih kak. Pede banget. Mela itu cuma gak mau aja ganggu kakak dan bikin orang lain salah paham. Lagian kita cuma pura-pura aja pacarannya." Jawab Mela berkelit.
"Siapa yang salah paham. Gak ada kok yang salah paham. Justru kalau kamu marah karena aku ngobrol sama cewek lain, malah bikin aku kegeeran. Pacaran beneran aku juga gak keberatan loh." Ucap Iqbal sambil senyum-senyum sendiri.
"Yeeeyyy, apaan kakak nih. Kepedean banget. Dibilang Mela gak mau ada salah paham. Ntar Mela yang salah kalau cewek-cewek itu jauhin kakak. Makanya mending Mela aja yang ngejauh."
"Enggak, gak boleh. Kamu gak boleh ngejauh dari aku Mel. Kamu udah masuk dalam hidup aku. Kamu yang buat aku semangat saat aku mulai lelah sama semua kegiatanku. Plis jangan ngejauh." Ucap Iqbal serius dengan tatapan tajam pada mata Mela. Mela berdegup mendengar semua keseriusan Mela. Entah kenapa ada perasaan bahagia di hati Mela namun tetap Ia tidak mau menunjukkan semua perasaan itu di depan Iqbal.
"Iiih iya udah lepasin deh kak tangannya. Sakit tau." Mela mengalihkan pembicaraan agar perasaannya tidak semakin terguncang karena ucapan Iqbal.
"Iya sorry sorry. Jangan jutek-jutek lagi ya."
"Iya iya. Mela pergi dulu. Bye." Pamit Mela meninggalkan Iqbal.
***
Dengan langkah gontai setelah sibuk berpesta, Gista pulang kerumah Om Faisal karena banyaknya panggilan telpon dari Om Faisal. Sesampainya dirumah Om Faisal mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Gista memantik emosinya.
__ADS_1
"Kamu minum? Kamu lagi hamil Gista." Ucap Om Faisal mencoba menahan diri.
"Hadeeeh, aku minum dikit doang. Mana asik sih party tapi gak minum. Kayak kamu gak pernah minum aja." Jawab Gista.
"Tapi kamu lagi hamil Gista. Alkohol bahaya buat kandungan kamu."
"Ahahahahaha.. Terus kenapa? Kenapa harus aku yang ngalah karena ada bayi di perutku? Enak aja. Semua suka-suka aku. Mau minum, mau party. Sudah bagus tuh bayi aku kasih tempat di perut aku." Jawab Gista kesal karena larangan dari Om Faisal.
"Gista! Sadar kamu! Bagaimanapun itu adalah anak kamu. Bayi kamu. Gak semestinya seorang ibu bicara seperti itu." Om Faisal mulai terpancing emosi.
"Gini yah, aku gak minta hamil nih anak. Lagian aku gak mau cuma karena dia ada di perut aku, terus hidup aku bisa diubah seenaknya aja. Ini hidup aku yang bebas aku mau ngapain aja. Kalau dia gak tahan sama kelakuan aku, dia cabut aja dari perut ini." Ucap Gista asal membuat Om Faisal geram namun berusaha menahan semua emosinya mengingat ada bayi di perut Gista.
"Udah ya ceramahnya. Kayak situ paling bener aja. Tukang selingkuh aja sok sok nyeramahin. Aku mau tidur dulu. Byee." Gista masuk ke kamar dan menutup pintu kasar. Om Faisal duduk di sofa ruang tv dan hanya bisa menahan kesabaran karena melihat tingkah Gista.
Om Faisal melihat chat di telpon genggamnya. Ada tagihan jatuh tempo pembayaran hutang. Om Faisal memang mengajukan hutang dengan rumah yang ditinggali sebagai jaminan. Ia terpaksa melakukan itu semua karena keberlangsungan hidup dengan Gista. Gista yang terlampau boros sudah membuat tabungan Om Faisal terkuras habis. Belum lagi membiayai operasi dan perawatan Gista di rumah sakit tempo hari. Om Faisal melakukan ini semua sebagai jalan pintas karena tidak ada jalan lain lagi untuk menyambung hidup. Om Faisal juga memikirkan jika nantinya Gista melahirkan dan ada bayi yang perlu mereka rawat, pasti akan sangat membutuhkan banyak biaya. Dengan terpaksa Om Faisal melakukan ini semua. Ia tertunduk dan merasa sangat malu dengan hidupnya sekarang. Sungguh semua karma telah Ia dapatkan karena ulahnya sendiri. Sembari menahan emosi dan kesedihan, Om Faisal menahan nyeri di dadanya karena semua beban kehidupan yang Ia rasakan kini.
***
"Halooo anak cantik." Sapa Andre saat bertemu Airelle di tempat bermain. Saat weekend, dengan sengaja Andre menemui Selly dan Airelle yang sedang bermain di playground.
"Halooo om ganteng." Jawab Airelle sumringah.
"Lagi main apa?" Tanya Andre sambil berlutut untuk menyamai tinggi badan Airelle.
"Lagi main pasir om. Om mau main pasir juga?"
"Waaah boleh tuh. Ayok bikin istana."
"Aaahh boleh-boleh om, Airelle suka." Jawab Airelle antusias.
Selly melihat Andre dan Airelle bermain bersama. Ia tersenyum tipis namun sebenarnya hatinya sangat bahagia melihat pemandangan di depan mata. Ia bersyukur saat ini Airelle bisa bermain bersama ayah kandungnya walaupun Airelle belum tau siapa Andre yang sebenarnya.
Andre menatap ke arah Selly sejenak dan melempar senyum. Selly yang melihat ke arah Andre membalas senyuman dengan canggung. Andre melanjutkan bermain dengan Airelle hingga gadis kecil itu kecapekan dan merasa lapar.
"Mama, Airelle laper." Airelle berlari ke arah Selly yang duduk di kursi dekat Airelle bermain.
"Laper sayang? Mau makan?" Tanya Selly.
"Mauuu." Jawab Airelle semangat sambil mengangguk.
"Ayok kalau gitu kita cari resto." Ajak Selly.
"Tapi ajak om ganteng ya ma." Pinta Airelle.
Andre yang berdiri di belakang Airelle hanya terdiam.
"Kamu ada janji lain?" Tanya Selly pada Andre.
Andre menggeleng.
"Bisa ikut makan bareng Airelle?"
"Bisa, bisa banget." Jawab Andre cepat.
"Yeeeeaaaaayyyyy." Airelle bersorai kegirangan.
"Yaudah ayok kita keluar dulu."
Mereka bertiga berjalan bersama keluar dari playground dan mencari resto untuk menghilangkan rasa lapar mereka. Sembari mencari resto yang cocok Airelle berjalan dengan menggandeng Selly dan Andre bersamaan. Ia berjalan dengan sumringah.
"Airelle senang banget." Ucap gadis mungil itu.
"Seneng kenapa?" Tanya Selly.
"Seneng karena Airelle serasa jalan sama papa mama Airelle. Lengkap seperti teman-teman Airelle yang biasanya jalan sama papa mama mereka. Hari ini Airelle merasakan semuanya." Ucapnya dengan polos.
Selly dan Andre saling menatap mendengar ucapan Airelle yang begitu menguras emosi mereka.
__ADS_1