
"Maaf Pak, istri anda mengalami keguguran. Kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda. Kami juga menyampaikan bahwa rahim istri bapak juga tidak bisa berfungsi lagi. Kami harus melakukan operasi pengangkatan bayi dan rahim sebentar lagi demi menyelamatkan nyawa istri bapak." Jelas dokter pada Om Faisal yang menunggu kejelasan kondisi istri dan calon bayinya. Lutut Om Faisal lemas. Ia merasa sangat terpukul dengan kehilangan calon bayinya dan kini Ia menerima kenyataan bahwa Gista harus mengalami pengangkatan rahim. Tentu Om Faisal tidak tega dengan nasib Gista yang selamanya tidak akan bisa memiliki keturunan.
Dokter sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi dan pengangkatan rahim. Sekali lagi Om Faisal menunggu di depan ruang operasi untuk keselamatan Gista. Hanya bedanya sekarang Ia harus menerima bahwa bayi yang diharapkan hadir di dunia telah tiada.
Sekian jam Om Faisal menunggu, operasi akhirnya selesai. Perawat keluar membawakan jenazah bayi mungil. Bayi itu sudah berbentuk utuh karena mengingat kondisi kehamilan Gista sudah kurang lebih menginjak usia 7 bulan. Perawat itu menyerahkan jenazah bayi yang sudah dibersihkan dan dibungkus kain kepada Om Faisal. Om Faisal menangis tersedu. Bayi mungil yang tak bersalah menjadi korban dari ketidaksiapan seorang ibu yang mengandungnya.
Om Faisal berjalan gontai keluar rumah sakit, Ia seakan tidak perduli dengan kondisi Gista. Ia berpikir untuk menguburkan jenazah bayinya, semakin cepat semakin baik. Om Faisal mengurus pemakaman bayinya seorang diri karena Gista masih terbaring tidak sadar di rumah sakit.
"Dimana aku?" Tanya Gista yang sudah sadar dari operasi dan kini di ruang inap.
"Di rumah sakit." Jawab Om Faisal.
"Lalu apa yang terjadi?"Tanya Gista masih tidak paham.
"Kamu keguguran, bayi di perut kamu meninggal. Dan juga rahim kamu tidak bisa berfungsi kembali, rahim kamu sudah diangkat." Jawab Om Faisal menahan kesedihan kehilangan anaknya.
"A apaaa? Gak mungkin. Tidaaaakkkk. Ini semua karena kamu tua bangka."
"Karena aku? Apa kamu bilang?" Tanya Om Faisal.
"Karena kamu aku kehilangan bayi dan rahim aku. Karena kamu!"
"Cukup Gista! Aku sudah cukup sabar menanggapi kamu. Mulai sekarang, kita cerai." Ucap Om Faisal emosi.
"Maksud kamu? Gak bisa kamu seenaknya nyeraiin aku. Aku keguguran dan kehilangan rahim karena kamu." Teriak Gista.
"Kamu salah! Kamu keguguran dan kehilangan rahim itu semua karena ulah kamu sendiri yang tidak bisa menjaga kehamilan. Berapa kali kamu minum alkohol saat kamu mengandung. Sudah berapa lama bayi di perut kamu tersiksa dengan apa yang kamu lakukan. Sekarang kamu terima semua akibatnya." Ucap Om Faisal.
"Kamu gak bisa ceraiin aku seenaknya. Kamu harus serahin rumah buat aku. Baru aku setuju buat cerai." Ancam Gista.
"Rumah kamu bilang? Ambil tuh rumah. Asal kamu tau, rumah yang kita tempati sudah jadi jaminan hutang. Hutang buat apa? Buat menuhi semua gaya hidup kamu selama ini. Kalau kamu mau rumah itu, ambil aja dan tunggu saat petugas datang menyita rumah itu lalu maksa kamu untuk pindah. Jelas?"
"Kamu gak bisa seenaknya gitu dong. Rugi banget aku nikah sama kamu. Kamu gak bisa tinggalin aku seenaknya disaat aku sakit begitu. Jangan cuma mau enaknya aja."
"Cuma mau enaknya? Kamu lupa bagaimana aku perhatiin kamu dan ngerawat kamu selama ini? Kamu yang semena-mena dan gak anggep aku. Bahkan datang hanya saat butuh uang dari aku. Seperti itu kamu memperlakukan aku sebagai suami. Kamu lupa? Haaah? Tapi kamu tenang aja. Biaya rumah sakit sudah aku tanggung. Kamu bisa disini sampai pulih. Tapi jangan harap aku datang dan merawat kamu lagi. Cukup untuk semuanya, Gista." Om Faisal keluar dari kamar inap Gista meninggalkan Gista yang masih terbaring sambil meneriakinya.
"Kamu gak bisa gituin akuuu! Kamu gak bisa ceraiin aku seenaknya! Aku yang berhak nyeraiin dan ninggalin kamu! Dasar tua bangka gak berguna!" Teriak Gista mengeluarkan semua emosinya yang tetap tidak membuat Om Faisal bergeming. Om Faisal tetap melangkah meninggalkan Gista tanpa berpikir menengok kembali pada istri mudanya itu.
Om Faisal menuju rumah dan membereskan semua barang. Ia mengemas pakaian dan benda yang bisa Ia bawa. Om Faisal segera pergi meninggalkan Ibukota dan kembali ke tempat asal kelahirannya. Om Faisal berasal dari daerah yang cukup terpencil. Disana Ia masih memiliki rumah peninggalan kedua orang tuanya yang sangat sederhana serta ada lahan kecil yang digunakan untuk bercocok tanam. Sesampainya di rumah kecil itu Om Faisal kembali mengenang masa kecilnya yang hidup disana dan sangat sulit untuk makan. Saat derajat hidupnya naik Ia justru lupa daratan dan bersikap seolah semua bisa di dapatkan dengan mudah. Kini semua tiada yang tersisa, hanya kembali ke masa sulitnya dulu menjadi jalan satu-satunya menyambung hidup.
***
Seminggu berlalu, Anya menghadapi babak baru dalam kehidupan. Ia pergi ke Bandung dan menetap guna bekerja mengejar impian. Sedangkan Yoga hanya bisa meratapi hari-hari yang terasa sepi tanpa kehadiran Anya. Biasanya jika rindu melanda, Yoga akan segera mendatangi sang pujaan hati. Ataupun sebaliknya, Ia dengan mode manja dan Anya akan mendatangi Yoga untuk memberi rasa semangat bagi Yoga. Sekarang semua sudah berbeda, perlu perjuangan yang cukup keras untuk mempertahankan hubungan keduanya. Cinta yang besar saja tidak akan cukup, butuh pengertian dan kepercayaan yang tidak terbatas. Sekali bersikap egois dan tidak percaya, tentu akan menyulut pertikaian dalam hubungan mereka.
"Selamat pagi, saya pegawai baru. Nama saya Anya. Salam kenal semuanya." Ucap Anya saat perkenalan tidak formal di lokasi proyek.
"Selamat pagi." Sapa semua pegawai lain.
Setelah selesai perkenalan, Anya memulai hari pertama bekerja. Ia sangat antusias dengan semua jobdesk yang dimiliki.
__ADS_1
"Halo, Anya kan?" Tanya seorang laki-laki yang cukup muda dengan setelan rapi.
"Iya kak."
"Aku Adit, aku ditugasin buat bimbing kamu dulu. Jadi kalau ada yang kurang jelas tentang kerjaan kamu, kamu bisa tanyain ke aku, gak usah sungkan." Ucap Adit dengan senyum ramah.
"Iya kak, terima kasih banyak." Jawab Anya.
Adit mempunyai paras yang tampan. Walaupun kerja di proyek tidak membuat kulitnya kusam. Wajah dan tubuhnya nampak terawat, kulit wajah bersih dengan perawakan tubuh yang ideal menunjukkan jika Ia gemar berolahraga. Belum lagi senyumnya yang manis dengan lesung pipi yang membuat Adit terlihat muda.
Saat jam istirahat makan siang, Anya berjanji akan mengabari Yoga agar Yoga tau kegiatan Anya di hari pertama. Baru akan menelpon Yoga, Adit yang melihat Anya segera menghampirinya.
"Mau makan siang bareng? Sekalian bicarain kerjaan. Mau?" Tawar Adit membuat Anya kebingungan.
"Eeh i iya kak, boleh." Jawab Anya asal.
"Aduuuh, aku kan ada janji telpon kak Yoga." Batin Anya.
"Yukk." Adit mengajak Anya mengikutinya.
Keduanya menuju parkiran mobil dan memasuki mobil Adit lalu melaju ke sebuah resto yang dekat dengan lokasi proyek.
"Sudah kemana aja di Bandung?" Tanya Adit memecah keheningan.
"Aaahh, belum sempat kemana-mana kak. Baru dapat tempat tinggal udah langsung beberes pindahan. Terus sekarang sudah langsung kerja." Jawab Anya jujur.
"Lain kali kalau mau kemana-mana bisa aku temenin kok. Aku udah kurang lebih 4 tahun di Bandung. Sejak lulus kuliah langsung stay disini." Jelas Adit.
"Aku asli Surabaya. Tapi kuliah di Jogja. Setelah lulus langsung kerja dan penempatan Bandung kayak kamu gini. Eeeh jadi betah sampai sekarang. Semoga kamu juga betah disini." Harap Adit. Anya membalas senyuman. Pikirannya masih menerawang pada kekasihnya, Yoga. Anya memutuskan mengirim pesan singkat karena sedang makan siang dengan atasannya. Entah itu termasuk berbohong atau bukan, tapi Adit memang seperti atasan bagi Anya. Jika Anya jujur sedang makan siang bersama Adit, yang nampak muda dan baik pasti bisa jadi kesalahpahaman bagi hubungan Anya dan Yoga. Anya tidak mau hari pertama kerja menimbulkan salah paham untuknya dan Yoga. Anya harus sebisa mungkin menjaga hubungan mereka karena memang hati Anya hanya untuk Yoga.
Adit melihat Anya yang menatap layar handphonenya menunggu balasan pesan dari Yoga.
"Kenapa? Nungguin telpon seseorang?" Goda Adit.
"Aaah eeehh, enggak kok kak. Cuma nunggu balasan chat aja." Jawab Anya tergagap.
"Oooh gitu. Balasan siapa? Pacar?" Tebak Adit.
"Eehhmmm, i iya kak." Jawab Anya jujur.
"Kamu udah punya pacar? LDR?"
"Iya kak."
"Semangat ya. Aku dulu juga pejuang LDR seperti kamu."
"Bandung dan?" Tanya Anya.
"Bandung dan Surabaya. Aku keterima kerja di Bandung, dia keterima kerja di Surabaya. Kelamaan kami terasa makin jauh karena kesibukan masing-masing. Lalu.." Curhat Adit.
__ADS_1
"Lalu apa kak?"
"Lalu kami putus karena dia lebih nyaman dengan rekan kantornya yang selalu ada buat dia. Gak seperti aku yang tidak ada disisinya secara nyata."
Anya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Adit.
"Tapi aku gak menyalahkan dia. Aku tau aku juga salah. Bahkan disaat dia butuh temen cerita aja, aku masih sibuk ngurus laporan. Sampai setiap kami bertemu, semua terasa hambar." Lanjut Adit.
"Sabar ya kak." Jawab Anya bingung harus berkata apa.
"Eeeh, sorry sorry. Aku malah jadi curhat ke kamu." Ucap Adit.
"Iya kak, gak papa kok." Jawab Anya tersenyum.
Keduanya sampai di resto dan makan bersama sambil membicarakan pekerjaan mereka. Anya banyak belajar dari pengalaman Adit. Karena walau Anya sangat pintar di perkuliahan, saat di lapangan akan banyak perbedaan dan Anya perlu beradaptasi dan belajar lebih giat lagi. Anya merasa terbantu dengan kehadiran Adit yang mau membantu mengajari Anya.
"Makasih ya kak, Anya jadi paham sekarang. Memang beda banget teori di kuliah sama di lapangan." Ucap Anya tulus.
"Iya sama-sama. Kalau nanti ada yang gak paham lagi, jangan sungkan tanya ke aku. Aku siap membantu."
"Iya kak, sementara ini Anya sudah agak paham. Mungkin sembari kerja nanti Anya akan tanya kalau ada yang gak dipahami lagi."
"Kamu pasti pinter banget di kampus ya. Di ajarin sebentar sudah langsung paham." Puji Adit.
"Aah, enggak kak. Biasa aja kok." Ucap Anya merendah.
Keduanya terasa akrab di hari pertama mereka berbincang. Anya sendiri merasa nyambung mengobrol dengan Adit yang sangat ramah padanya. Setelah makan siang selesai kedua pekerja itu kembali ke proyek.
***
Sonya bangun pagi hari dan langsung berlari menuju kamar mandi.
"Hoooeeeekk.. Hooooeeekkkk.." Sonya memuntahkan semua isi di perutnya. Bahkan saat semua isi dalam perut telah keluar, mual masih sangat mengganggu Sonya.
Ezza terperanjat saat melihat istrinya tiba-tiba berlari menuju kamar mandi. Ia mengikuti Sonya dan memijat pundak Sonya yang sedang mual-mual. Hampir tiap pagi pemandangan seperti ini menjadi hal rutin bagi Ezza. Tidak tega tentunya saat melihat Sonya harus berjuang demi buah hati mereka. Sonya menahan semua rasa tidak nyaman seorang diri membuat Ezza merasa tidak berguna dan sangat bersalah.
"Mau air hangat sayang?" Tanya Ezza saat mual yang dirasakan Sonya sudah mulai berkurang.
"Boleh sayang, teh hangat saja sayang. Aku lemes banget soalnya." Jawab Sonya.
"Yaudah ayok keluar dulu." Ezza memapah istrinya keluar kamar mandi. Wajah Sonya sudah pucat lemas karena asupan makanan keluar dari tubuhnya. Entah sudah berapa lama Ia merasakan hal seperti itu sepanjang hari. Pagi hingga siang, mual itu tidak sanggup ditahan oleh Sonya sehingga tidak ada makanan yang sanggup masuk dalam tubuh Sonya. Sebaliknya saat menjelang malam, banyak yang diinginkan oleh Sonya sehingga nafsu makan Sonya meningkat setelah pagi hingga sore tidak bisa makan. Dan semua yang telah Ia makan di malam hari akan dikeluarkan kembali esok pagi karena mual yang parah.
Sudah hampir satu setengah bulan kehamilan, bukannya bertambah berat badan, tubuh Sonya malah terlihat makin kurus. Saat berkunjung ke dokter kandungan, dokter menyarankan Sonya untuk benar-benar beristirahat dan tidak bekerja dulu sementara waktu. Sonya terpaksa cuti bekerja dan melimpahkan pasiennya ke dokter jaga lain. Sonya juga dilarang keras oleh Ezza melakukan pekerjaan rumah tangga karena mereka sudah menemukan asisten rumah tangga yang membantu Sonya dirumah. Bik Tatik. Bik Tatik datang di pagi hari untuk masak dan membersihkan apartemen Ezza dan Sonya. Saat sore hari setelah Ezza pulang, Bik Tatik baru boleh pulang. Ezza sama sekali tidak membolehkan Sonya seorang diri di rumah. Pernah sekali waktu Bik Tatik tidak bisa masuk karena sakit, Ezza menegur agar Bik Tatik memberi tahu terlebih dahulu jika tidak masuk. Dengan begitu Ezza bisa menitipkan Sonya ke rumah mama Meli agar kondisinya bisa terpantau. Ezza sangat protektif pada Sonya, mengingat kondisi Sonya yang sangat lemah pada kehamilannya.
"Ini tehnya sayang." Ezza menyerahkan gelas berisi teh hangat pada Sonya.
"Makasih sayang, maaf aku ngerepotin kamu tiap pagi." Jawab Sonya merasa bersalah.
"Sayang, udah jadi kewajiban aku menjaga istri dan anak aku. Aku gak mau kalian ada apa-apa. Jadi jangan sampai merasa bersalah atau bahkan ngerepotin aku. Pengorbanan kamu mengandung anak kita jauh lebih besar dibanding aku yang cuma direpotin kamu."
__ADS_1
Mendengar ucapan Ezza, Sonya tiba-tiba menangis tersedu. Entah kenapa kehamilan ini membuat Sonya terlampau sensitif. Bahkan saat sedang menonton tv saja, saat ada berita bencana Sonya bisa menangis tersedu-sedu memikirkan korban bencana.
"Sayang, jangan nangis dong. Semenjak kamu hamil jadi sensitif banget deh." Goda Ezza sambil memegang dagu Sonya dan mengecup pipi Sonya. Sonya tersenyum malu dengan mata yang menahan air mata.