
Sesampainya di rumah sakit, Selly hanya bisa memikirkan apa yang Andre ucapkan di jalan. Ada perasaan lega yang Ia rasakan karena Andre bisa menerima Airelle. Ketakutannya selama ini hilang begitu saja. Ia bersyukur Andre justru ingin dekat dengan Airelle. Jauh di lubuk hati yang dalam, Selly masih sangat merindukan sosok Andre. Sosok yang bagi Selly mampu mengisi hatinya.
Selly mengingat semua kenangan dengan Andre yang singkat namun membekas di hati. Bagi Selly, apapun yang terjadi Andre tak akan pernah ia hapus dari hatinya. Andre yang mengambil kesuciannya, bahkan Andre telah memberi putri kecil yang sangat dicintai oleh Selly. Semua memang terjadi karena kesalahan, hubungan dengan Andre dimulai dari penghianatan, perselingkuhan yang menyakiti hati Iqbal. Bahkan kesalahan memberi hal berharga dalam hidup Selly juga ia lakukan. Tentu saja semua tidak bisa hilang dari ingatan Selly begitu saja.
Selly berjalan menuju ruang farmasi tanpa sadar ada Iqbal di depannya yang juga berjalan sambil melamun.
Bruuukkkk..
"Aduuuhhh.. Sorry sorry.." Ucap Selly sambil mengusap kening yang terasa sakit karena menabrak dada bidang Iqbal.
"Sorry sorry, gue gak liat." Iqbal juga tersentak saat menabrak seseorang. Keduanya sama-sama melihat siapa yang ditabrak.
"Selly.."
"Iqbal.." Keduanya sama-sama terkejut dan salah tingkah hingga sama-sama ingin menghindar.
"Bal.." Panggil Selly sesaat setelah Iqbal melewatinya.
Iqbal menoleh tanpa berucap.
"Gue mau ngobrol sama lu bentar, bisa?"
"Iya udah ayok. Kita ngobrol di cafetaria aja gimana? Gue mau kesana beli kopi."
"Iya udah."
Iqbal dan Selly berjalan beriringan menuju cafetaria.
"Bal, gue mau minta maaf sama lu." Ucap Selly lirih dan tulus.
"Minta maaf untuk apa?" Iqbal kebingungan.
"Semuanya Bal."
Iqbal terdiam mencoba memberi waktu Selly menjelaskan dan mengeluarkan semua perasaannya.
"Gue tau gue dulu udah salah banget sama lu. Gue jahat dulu nyelingkuhin lu. Gue sadar sekarang seperti apa gue yang dulu. Hanya berusaha dapetin apa yang gue inginkan tanpa perduliin perasaan orang lain." Selly menahan ucapan karena mencoba menahan air matanya.
"Selly, gue udah maafin semua."
"Terima kasih Bal. Gue juga pengen minta maaf atas semua yang gue lakuin sama Sonya. Tapi gue masih malu untuk ketemu Sonya."
"Selly, gue seneng lu sadar atas semua. Semoga lu bisa menjadi lebih baik lagi dan mendapat pelajaran dari semua hal ini."
"Iya. Gue akan berubah lebih baik demi Airelle. Gue akan berusaha menjadi ibu yang baik dan membanggakan untuknya."
"Airelle pasti bangga punya ibu hebat." Keduanya bertatap dan saling melempar senyum tulus satu sama lain.
Mela yang melihat itu semua, mengurungkan niat menemui Iqbal. Entah kenapa Mela merasa tidak suka dengan kebersamaan Iqbal dengan wanita itu, terlebih Iqbal tersenyum tulus padanya. Mela kembali ke proyek dengan perasaan yang membingungkan.
"Gue kenapa sih. Kenapa rasanya kesel banget liat Iqbal tadi." Batin Mela.
"Mela.." Panggil Rendy.
Mela tak bergeming. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan namanya. Pikiran Mela fokus dengan senyuman Iqbal pada Selly yang dlihattadi.
"Ciihh, gue juga bisa senyum-senyum begitu ke cowok lain. Ngeselin amat tuh orang!" Gerutu Mela.
"Woooiii.. Mela.." Rendy menyentuh bahu Mela membuat Mela terperanjat.
"Kak Rendy? Iya kak, kenapa?" Tanya Mela dengan ekspresi kaget.
"Aku manggil kamu dari tadi. Gak denger ya? Ngelamunin apa emang?" Tanya Rendy.
"Eeh emang iya kak? Maaf Mela gak denger kalau kakak manggil." Jawab Mela tidak enak.
"Kamu lagi ada masalah?"
"Enggak kok kak, cuma lagi capek aja." Jawab Mela sekenanya.
"Kalau kamu gak mood kerja, gak masuk gak papa kok. Lagian proyek udah mau selesai kan."
"Gak lah kak, Mela kan yang minta magang, masa malah seenaknya gitu." Tolak Mela.
"Kalau gitu mau ikut aku bentar gak? Biar kamu gak badmood lagi." Ajak Rendy.
__ADS_1
"Kemana kak?" Tanya Mela bingung.
"Ikut aja yukk."
Rendy dan Mela menaiki mobil dan meninggalkan lokasi proyek.
***
"Makasih ya sayang sudah jagain aku di rumah sakit." Ucap Sonya pada Ezza setelah keduanya sampai di apartemen.
"Sama-sama sayangku. Pokoknya kamu dan dedek harus sehat-sehat." Ezza memeluk Sonya dari belakang dan mencium tengkuk Sonya.
"Sayang, pengen.." Ucap Ezza lembut.
"Boleh gak sih kalau lagi hamil gini?" Tanya Ezza.
"Maaf sayang, bukannya gak mau. Tapi kalau hamil muda sebaiknya jangan dulu." Jawab Sonya.
"Yaaah, penonton kecewa." Ezza menyandarkan kening di bahu Sonya.
"Maaf ya sayang. Apalagi kehamilanku kemarin di bilang lemah sama dokter, jadi sementara jangan dulu."
"Iya sayang, aku akan berusaha buat kalian." Ucapan Ezza membuat Sonya tertawa.
"Tapi aku bisa bantu pakai cara yang lain kok."
"Jangan aah sayang. Nanti kamu capek. Pokoknya kamu harus istirahat aja sampai benar-benar pulih."
Sonya mengangguk menuruti perintah suami tercinta.
"Sayang, besok aku carikan asisten rumah tangga yah. Biar kamu gak capek." Ucap Ezza.
"Gak usah sayang, aku masih bisa beberes sendiri kok." Tolak Sonya.
"Enggak boleh, pokoknya kamu istirahat full di rumah. Gak boleh kerja apapun." Sonya memanyunkan bibir membuat Ezza gemas. Walaupun begitu Sonya juga senang karena perhatian dari Ezza padanya.
"Iya deh, aku nurut." Ucap Sonya layaknya anak kecil yang dinasihati orang tua hingga membuat
Ezza semakin gemas dengan istrinya dan mencium pipi Sonya.
"Biariiinn. Siapa suruh gemesin gitu." Sonya tak mau kalah, ia balik mengecup bibir Ezza.
"Mancing-mancing ya. Aku udah usaha biar gak inget yang begitu loh sayang." Sonya tersenyum dibuatnya.
"Iya iya maaf. Abis kan sayang duluan yang mulai."
"Yaudah sekarang kamu istirahat pokoknya. Ingat jangan kerja yang berat-berat."
"Iya sayang, aku gak papa. Kamu ada kelas kan hari ini? Udah sana siap-siap."
Ezza menggeleng. Aku gak mau kamu sendirian dirumah.
"Terus gimana?" Tanya Sonya bingung.
"Kemarin aku minta tolong sama Anya waktu gak sengaja ketemu di kampus. Dia gak ada kegiatan hari ini, makanya bentar lagi dia kesini nemenin kamu. Sekalian temu kangen."
"Serius sayang? Aah aku juga seneng banget." Ezza tersenyum. Ia tau setelah menikah waktu Sonya dengan keluarganya berkurang drastis. Momen seperti ini pasti membuat Sonya bahagia bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan Anya.
"Yaudah, aku siap-siap sebentar ya sayang."
***
Pernikahan Boy dan Gina dilakukan secara tertutup. Keduanya kini sudah sah sebagai suami istri. Para tetangga yang mengetahui pernikahan Gina namun tidak diundang membicarakannya. Banyak yang beranggapan bahwa Gina hamil di luar nikah sehingga terpaksa menikah secara diam-diam.
"Kamu gak papa sayang dengan pernikahan sederhana seperti ini?" Tanya mama Gina setelah acara akad yang hanya dihadiri keluarga dekat Boy dan Gina.
"Gak papa mama. Bagi Gina dan Boy yang terpenting adalah sah. Gak perduli apa anggapan orang lain, yang penting Gina gak seperti yang mereka tuduhkan." Jelas Gina.
Mama Gina tidak tega pada anak perempuannya. Ia segera memeluk Gina.
"Semoga kamu bahagia ya sayang. Maafkan mama yang selama ini belum bisa menjadi mama yang baik untuk kamu. Mama harap Gina bisa menjadi istri yang patuh sama suami. Semoga kalian berdua selalu bersama hingga maut memisahkan." Doa mama Gina yang tulus terucap dari bibir saat melihat anak wanitanya sudah berganti gelar menjadi seorang istri.
"Makasih ma. Mama sudah sangat sempurna buat Gina. Makasih untuk kasih sayang mama selama ini. Makasih untuk kesabaran mama mendidik Gina. Mama dan papa sehat selalu yah sampai bisa melihat cucu-cucu." Kedua wanita lintas generasi itu saling tersenyum.
Karena acara akad yang singkat dan tanpa resepsi, setelah acara selesai para keluarga kembali pulang. Hingga menyisakan Boy dan kedua orang tuanya. Para orang tua sedang mengobrol bersama, orang tua Gina menitipkan Gina pada orang tua Boy dan berharap Gina bisa diterima dengan baik. Orang tua Boy pun dengan senang hati menerima Gina sebagai menantu. Kedua orang tua Boy pamit karena mereka segera kembali ke Bandung. Boy dan Gina mengantar kedua orang tua ke Bandung sekaligus menikmati momen bulan madu mereka. Boy dan Gina pamit untuk pergi.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Anya mendapatkan panggilan tes kerja yang dilakukan beberapa hari kemudian. Ia menceritakan semuanya pada Yoga saat mereka sedang video call karena hari ini Yoga merasa sangat mager melakukan apapun hingga hanya berbaring dikasur sepanjang hari.
"Aku doain lancar ya sayang. Kamu bisa dapat kerja sesuai dengan yang diharapkan."
"Makasih ya sayang. Aku juga pengen cepet kerja, gak sabar menghadapi dunia kerja dan tantangan yang baru pastinya."
"Kalau udah siap tantangan berumah tangga jangan lupa kabarin aku ya." Goda Yoga.
"Iiihh kakak, masih lama kayaknya kalau siap berumah tangga. Kakak mesti banyakin stok sabar yah."
"Yaaahhh, okedeh. Aku mesti ke supermarket dulu buat stok sabar lebih banyak."
"Ahahaha uuuwww tatian tayangkuuu."
"Kalau tatian sini dong. Temenin disini. Aku lagi mager banget ngapa-ngapain. Butuh di charge energinya." Curhat Yoga.
"Emang gimana di chargenya? Mau dibawain makanan?" Tanya Anya polos.
"Kayaknya walaupun udah makan bakalan tetep mager. Maunya di charge pake ini sayang." Yoga memanyunkan bibirnya membuat Anya paham maksud kekasihnya itu.
"Sayaaang.. Apaan sih iih. Dasar om om mesum iih." Anya tersipu melihat ulah Yoga.
"Kok om-om sih sayang. Aku kan belum tua-tua banget."
"Tua banget iiih. Ati-ati jadi bujang lapuk om." Goda Anya diikuti tawa renyah dari mulutnya.
"Makanya nikahin aku sayang, biar aku gak jadi bujang lapuk." Ucap Yoga dengan ekspresi memelas.
"Eemhhh, aku pikir-pikir dulu ya. Abis sayang udah tua sih, pengennya Anya tuker tambahin sama yang lebih muda." Ucap Anya membuat Yoga semakin cemberut lagi.
"Sayang aaahhh.. Masa aku ditukerin yang lebih muda sih. Padahal yang lebih tua itu lebih menggoda loh sayang."
"Iya deh iyaaa, menggoda banget. Anya aja sampe tergoda."
"Sini dong sayang. Pengen manja-manjaan." Ucap Yoga seperti bayi yang sangat tidak cocok dengan brewok di wajahnya yang mulai terlihat tumbuh tipis bekas belum dicukur.
"Iya iya, abis ini Anya kesana bawain makanan buat sayang. Anya siap-siap dulu ya."
Anya bergegas siap-siap dan segera keluar rumah. Tak lupa Anya membeli makanan terlebih dulu untuk kekasihnya yang sedang mode manja sekali. Setelah makanan yang dipesan sudah selesai, Anya melajukan si putih ke arah apartemen Yoga. Anya memasuki basement untuk memarkirkan mobil. Setelah dirasa tidak ada yang ketinggalan, Anya segera keluar mobil. Anya menekan tombol lift menuju lantai unit milik Yoga dan sampai di depan pintu.
Anya menekan bel namun tak kunjung ada jawaban dari dalam. Cukup lama Anya menunggu namun tidak ada tanda-tanda Yoga ada di dalam. Anya mengambil telpon genggam dan menekan nomor kekasihnya itu. Panggilan pertama tidak ada jawaban. Anya mencoba menghubungi kembali, sampai akhirnya mendapat jawaban.
"Halo sayang.."
"Halo, kakak lagi dimana? Anya di depan apartemen kakak."
"Bentar ya sayang, aku ada urusan sebentar. Kamu masuk aja dulu ke dalam." Yoga memberi tau kode sandi pintu apartemen agar Anya bisa menunggu di dalam.
Cukup lama Anya menunggu, hingga membuatnya merasa ngantuk. Ia merebahkan diri di sofa dan terlelap.
Yoga pulang setelah urusannya selesai. Ia bergegas ke kantor polisi setelah tadi rekan kerja Yoga menginformasikan bahwa Agam ingin bertemu dengannya. Ternyata Agam ingin meminta maaf atas semua yang dilakukan pada Gina. Agam juga mengakui bahwa awalnya tidak terbesit keinginan seperti itu. Ia melakukan semua hal bejat itu karena ide dari mantan Agam, Gista. Yoga yang mendengar nama itu seakan tersentak, namun Ia berusaha tenang. Yoga memang mengenal Agam karena saat menjalin hubungan dengan Gina, Gina pernah mengenalkannya pada Yoga. Yoga sudah percaya pada Agam untuk menjaga Gina saat mereka bersama. Agam sadar akan semua kesalahan yang telah dilakukan, ia juga pasrah menerima semua hukuman yang patut diterima.
"Sial banget cewek itu, sekali gak bener, selamanya gak bakal bener." Gumam Yoga saat di perjalanan pulang mengingat ucapan Agam tentang Gista.
Yoga sampai di apartemen. Ia masuk dan mendapati Anya terlelap di sofa ruang tivi. Emosi Yoga mengingat pengakuan Agam sirna seketika saat Ia melihat kekasih hatinya yang sedang terlelap.
"Cantik.." Gumam Yoga sambil merapikan helai rambut Anya yang menutupi bagian wajahnya. Anya yang merasakan ada sentuhan di wajah seketika terbangun.
"Kakak.. Udah pulang?" Tanya Anya melihat Yoga tepat di depan.
"Sudah sayang. Kalau masih ngantuk tidur lagi aja."
"Enggak kok, udah lumayan seger. Sayang dari mana?" Tanya Anya.
"Dari kantor sebentar."
"Oooh.." Jawab Anya singkat karena berpikir hanya masalah pekerjaan Yoga.
"Oiya, aku bawain makanan tadi. Kakak makan dulu gih, biar gak sakit." Anya bergegas menuju dapur untuk mengambilkan makanan yang tadi dibawa.
Yoga menarik tangan Anya dan memeluk Anya dari belakang.
"Nanti aku makan sayang. Belum terasa laper. Begini aja bentar. Aku tuh butuhnya kamu, kangen banget sama kamu." Ucap Yoga sangat manja membuat Anya tersenyum. Anya membiarkan kekasihnya melepas semua lelah dengan sebuah pelukan yang menghangatkan hati. Dengan sebuah pelukan, Yoga merasa semua beban terasa hilang dan memiliki semangat kembali menyambut hari-hari.
__ADS_1