Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Salah Tingkah


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Anya dan Yoga masih tak berkomunikasi. Segala macam cara dilakukan Yoga untuk menemui Anya namun nihil. Anya hanya bicara singkat dan meninggalkan Yoga. Baik telpon atau pesan singkat juga tidak mendapat balasan dari Anya. Anya sangat kesal dengan apa yang dilakukan Yoga. Ia masih tak menyangka Yoga sedangkal itu berpikir tentang dirinya. Anya sangat kecewa dan lebih memilih meredakan emosi dengan cara menghindari Yoga. Hal ini tentu agar Yoga bisa instropeksi kesalahan yang dilakukan.


Pagi hari di ibu kota, dengan langkah gontai Yoga menuju kantor. Seperti biasa Ia bertemu dengan Boy yang berseri di pagi hari. Penampilan kedua sahabat tersebut bagai langit dan bumi, sangat jauh dan kontra. Yang satu sedang menikmati kebahagiaan sebagai pasangan, sedang satu lagi sedang mengalami perang dingin dengan pasangan. Sungguh memilukan.


"Makin kucel aja bro.." Ucap Boy menggoda Yoga.


"Sial*n lu. Gue lagi di diemin sama Anya, udah hampir seminggu gue di diemin." Ucap Yoga.


"Masalah apaan bro? Lu aneh-aneh ya."


"Gue gak aneh-aneh. Cuma gue kelepasan ngomong kasar banget ke dia. Gue nuduh dia selingkuh padahal jelas-jelas dia gak ada hubungan sama teman kerjanya itu. Gue cemburu buta gak karuan dan berakhir emosi." Yoga menceritakan keluh kesahnya pada Boy.


"Lu selalu kalau emosi pasti gak mikir panjang. Itu anak orang woi. Gimana mau nikah kalau lu belum bisa ngontrol emosi."


Yoga tertunduk. Bukannya marah atau kesal pada ucapan Boy, Yoga justru merasa ucapan Boy sangat benar. Ia sangat ingin menikah, namun mau jadi apa rumah tangganya nanti jika sikapnya saat emosi bisa membuat pasangan sakit hati. Jangankan pernikahan seumur hidup, awet sampai seumur jagung aja sudah untung. Anya bahkan sangat sabar dengan sikap cemburu Yoga sejak awal mereka berkencan. Yoga sangat merasa bersalah, kenapa Ia masih sangat merasa cemburu buta dan tidak mampu mengontrol emosi.


"Lu bener bro. Anya udah sabar banget ngadepin gue." Yoga lesu.


"Lu mesti berusaha minta maaf bro. Gue yakin Anya cuma butuh waktu nenangin diri."


"Kalau dia gak mau pacaran lagi sama gue, gimana bro?" Yoga nampak putus asa.


"Iya usaha dulu bro. Apapun yang Anya putusin lu harus terima. Itu semua konsekuensi atas apa yang lu lakuin. Tapi gue yakin, Anya gak akan setega itu mutusin lu. Asal lu bisa lebih ngontrol emosi lu ke depannya. Lu mestinya bersyukur bisa punya Anya, udah cantik dan gak neko-neko. Kalau lu gak bisa percaya sama dia, ya jangan salahin kalau dia nantinya pergi. Kita aja kalau gak dipercaya sama pasangan kita, rasanya gak enak bro."


"Iya, gue juga pernah di posisi sulit. Tapi Anya justru tetap percaya sama gue. Tapi gue, karena cuma liat dia ngobrol sama laki-laki lain sudah mikir buruk dan aneh-aneh. Jahat banget gue sama Anya." Yoga sangat menyadari kesalahan yang dilakukan. Ia sangat rindu momen kebersamaan dengan Anya saat hubungan mereka masih baik-baik saja.


"Aaaahhhh, gue bego banget bro." Yoga mengusap wajahnya kasar karena kesal dengan kebodohan yang dilakukan.


"Semangat bro. Lu mesti berusaha minta maaf dan belajar percaya sama Anya. Ngerti."


Yoga mengangguk.


***


Mela bingung sudah 2 hari tidak mendapat kabar dari Iqbal. Biasanya Iqbal selalu saja mengabari apa yang dilakukan. Namun sudah 2 hari ini Iqbal tak menghubunginya sama sekali. Mela sangat penasaran apa yang terjadi pada Iqbal. Namun, rasa gengsi untuk memulai komunikasi duluan membuat urung memulai chat.


Seharian Mela tak bisa berkonsentrasi. Setelah selesai dengan penelitian tugas akhir, Mela bersama Mela duduk bersama Ika dan Oki di kantin. Mela memutuskan mengirim pesan singkat untuk tau kondisi Iqbal.


"Kak, lagi apa?" Mela sambil menutup mata menekan tombol send. Oki dan Ika yang melihat Mela sibuk dengan ponsel hanya terheran.


Mela berkali-kali mengecek ponsel melihat apakah pesannya sudah terkirim dan terbaca. Hampir 30 menit menunggu, pesan Mela tak jua di baca. Mela memasang wajah gusar. "Apa mungkin gue ada salah ngomong sama kak Iqbal ya." Batin Mela.


Mela mencoba melupakan kegundahannya dengan mengobrol bersama Ika dan Oki. Namun obrolan itu terpotong saat mendengar adanya telpon masuk di ponsel Mela. Mela sumringah melihat siapa yang menelponnya dan bergegas keluar kantin mencari sudut sepi untuk mengangkat panggilan. Ika dan Oki semakin geleng-geleng kepala dengan kelakuan Mela yang lagi kasmaran.


"Halo.."


"Halo kak."


"Lagi dimana Mel?"


"Di kampus. Kakak dirumah sakit?"

__ADS_1


"Enggak, lagi dirumah."


"Loh, gak kerja siang-siang begini?"


"Pengennya sih kerja. Badannya yang gak kuat, kemarin tumbang dan butuh istirahat." Jelas Iqbal.


"Kak Iqbal sakit?" Tanya Mela kaget.


"Iya, cuma kecapekan aja."


"Kecapekan gimana coba. Terus kondisi kakak sekarang gimana? Kakak sama keluarga kan?"


"Enggak, lagi sendiri. Kemarin udah gak kuat nyetir sampai rumah mama papa karena lumayan jauh. Jadi mampir ke rumahku yang lumayan deket rumah sakit buat istirahat. Tapi ya gitu, rumahnya orang jomblo gak ada isi apapun."


"Lah kok bisa sih. Yaudah kakak shareloc, Mela kesana sekarang bawain obat sama makanan. Gak boleh komplain. Oke? Cepet shareloc!" Titah Mela pada Iqbal karena khawatir dengan kondisi Iqbal. Iqbal dengan polosnya patuh pada perintah Mela yang nadanya sudah naik beberapa oktaf. Iqbal segera mengirim lokasinya sekarang.


Mela menutup sambungan telpon dan mengecek lokasi yang dikirim Iqbal. Ia sedikit mengerti daerah tersebut karena cukup dekat dengan lokasi magang Mela. Mela bergegas mengambil tas dan barang lalu berpamitan pada sahabatnya.


"Mau kemana Mel?" Tanya Ika yang melihat Mela berkemas.


"Gue cabut ya gaes, ada urusan." Pamit Mela.


"Urusan apa? Percintaan?" Goda Oki.


"Iiih, urusan penting." Jawab Mela.


Mela segera menuju parkiran mobil dan mengemudikan mobil ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Setelah dirasa sudah cukup, Mela segera menuju kasir dan melanjutkan perjalanan ke tempat Iqbal. Tak butuh waktu lama Mela sampai di kompleks perumahan karena memang di siang hari jalanan cukup lengang. Mela mencari nomor rumah Iqbal. Belum sempat menemukan rumah Iqbal, Mela sudah dibuat tercengang dengan perumahan tersebut yang memang terlihat elit. Mela melaju perlahan dan sampailah ke rumah bernuansa modern dengan cat coklat. Mela melihat mobil Iqbal terparkir di carpot.


"Mela. Beneran kesini." Iqbal tak menyangka Mela rela jauh-jauh datang.


"Iya beneran. Siapa yang tega coba tau orang sakit ngerawat dirinya sendirian. Kakak nih juga aneh-aneh. Kan bisa kabarin Mela kalau memang sakit." Cerocos Mela.


"Memang kalau aku minta kamu datang, kamu bakalan datang?" Tanya Iqbal dengan nada serius membuat Mela berdegup.


"I iya Mela usahain." Mela gugup dengan tatapan tajam Iqbal.


"Terus Mela disuruh di depan pintu gini aja? Mana bawaan Mela banyak dan berat." Mela mengalihkan obrolan.


"Eeh iya, masuk Mel. Sini aku bawain."


"Gak usah kak. Mela kuat kok. Taruh dimana?"


"Di dapur aja. Memang kamu beli apa aja?"


"Makanan." Jawab Mela singkat.


Iqbal kaget dengan makanan yang dibeli Mela, sangat banyak.


"Banyak banget Mel. Aku disini sendiri, bukannya bawa orang sekampung."


"Iya abis Mela gak tau kak Iqbal suka apaan. Jadi Mela beli banyak deh. Siapa tau bisa bikin orang sakit jadi nafsu makan." Jawab Mela sambil nyengir.

__ADS_1


"Iya udah, kalau gitu kamu ikutan makan disini aja. Sayang makanannya kalau kebuang."


"Emmhh, boleh. Kalau gitu Mela siapin dulu ya."


Iqbal merasa bahagia. Kemarin saat badannya tumbang Ia merasa sial karena drop disaat pekerjaan yang padat dan nantinya membuat pekerjaannya makin menumpuk. Namun kini, Ia bersyukur karena dengan kondisinya yang sakit bisa membuatnya berduaan dengan Mela bahkan Mela rela merawatnya.


Iqbal senyum-senyum sendiri memandangi Mela yang sibuk di dapur.


"Kakak duduk aja, dari pada berdiri disitu sambil senyum-senyum." Titah Mela. Iqbal menuruti.


Tak lama masakan Mela siap. Aroma sedap tercium menggugah selera makan Iqbal.


"Waah, aku gak nyangka kamu bisa masak." Iqbal takjub dengan tampilan masakan Mela.


"Kalau cuma masak simple sih bisa-bisa aja kak. Kalau yang ribet baru gak bisa. Cobain dulu gih. Siapa tau rasanya gak karuan."


"Lah masa rasanya gak karuan. Aku jadi cemas. Masa udah demam di tambah sakit perut juga."


"Iiih seneng amat ngeledeknya. Udah coba dulu."


Iqbal mencoba makanan di depannya. Ia makin takjub, rasanya terbilang sedap untuk masakan wanita muda di depannya.


"Gimana kak?" Tanya Mela antusias mendengar komentar Iqbal.


"Emmhh, lumayan lah. Gak sampai bikin aku sakit perut kayaknya."


"Yeee, bilang aja enak kan." Protes Mela tak terima dibilang masakannya lumayan.


"Iya iya enak kok. Makasih ya sudah dimasakin. Kalau dimasakin gini bisa jadi cepet sembuh." Ucap Iqbal tulus.


"Hmmm, apa hubungannya coba. Udah cepetan makan. Abis itu minum obat." Keduanya makan bersama tanpa bersuara.


Setelah selesai makan, Mela merapikan piring kotor dan menyiapkan obat untuk Iqbal.


"Minum obat dulu kak. Abis itu istirahat." Mela menyerahkan obat dan segelas air pada Iqbal. Iqbal menenggak minum dan menelan obat dengan pasrah.


"Udah." Ucap Iqbal sembari menaruh gelas yang masih berisi setengah air di meja.


"Kalau gitu kakak istirahat lagi. Mela balik dulu. Mela tadi masak agak banyak dan ada di dapur. Kalau kakak laper, kakak makan aja lagi. Terus obatnya ada di meja makan, nanti malam minum obat lagi abis makan. Oke?"


Iqbal merasa sedih mendengar Mela sudah akan pulang. Iqbal terdiam tanpa menjawab penjelasan Mela.


"Kak?" Panggil Mela memastikan Iqbal memahami yang Mela ucapkan.


"Harus balik sekarang Mel?"


"Hmm, emang kenapa kak? Kan biar kak Iqbal bisa istirahat." jawab Mela.


"Kalau aku gak mau kamu balik, gimana?" Iqbal menatap Mela tajam membuat Mela kembali salah tingkah. Mela terdiam tak menjawab.


"Mel, jangan balik dulu. Temenin aku disini ya." Iqbal mendekat ke arah Mela mempersingkat jarak antara mereka. Mela terdiam mematung tak sempat menghindar. Iqbal merengkuh tubuh kurus Mela dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Sebentar saja Mel. Aku senang banget kamu mau kesini ngerawat aku." Mela terdiam, detak jantungnya sudah tak karuan.


__ADS_2