
Pagi hari Anya bersiap untuk melakukan tes kerja memenuhi panggilan yang telat diterima. Ia berdandan rapi dan sopan. Sesampainya di kantor, Anya segera menuju reseptionist dan bersiap untuk wawancara kerja. Anya menunggu beberapa saat hingga tiba saat gilirannya masuk ke ruang interview.
"Mbak Anya, sudah lulus?" Tanya salah satu dari dua orang yang bertugas melakukan interview dengan Anya.
"Sudah pak. Tapi belum wisuda, masih menunggu jadwalnya saja." Jelas Anya.
"Kalau seandainya anda ditempatkan di luar kota. Apa anda bersedia?" Tanya petugas lainnya melanjutkan percakapan.
"Siap pak, saya bersedia." Jawab Anya mantap. Sesungguhnya Ia tidak tega harus meninggalkan mama Meli serta harus berjauhan dengan Yoga, namun demi menggapai cita-cita, Anya akan berusaha sekuat mungkin menjalani bahkan jika memang harus berjauhan dengan pujaan hati.
"Baik kalau begitu mbak Anya. Jadi setelah melihat hasil tes mbak Anya sebelumnya. Kami menerima mbak Anya, dan untuk proyek yang akan ditangani mbak Anya ada di Bandung. Jadi kami harapkan mbak Anya siap. Mungkin seminggu lagi kami tunggu kehadiran mbak Anya di proyek Bandung. Info lainnya akan kami berikan lewat email ya mbak." Anya antara senang dan sedih mendengar berita tersebut.
Bagaimana pun Ia merasa senang karena Ia bisa bekerja di perusahaan yang cukup besar dengan proyek yang ada di hampir setiap kota. Tapi perasaan sedih meninggalkan mama Meli sendiri dan Yoga, kekasihnya, juga sangat menyayat hati. Anya berusaha kuat.
Dalam perjalanan pulang, Anya berusaha menata kata-kata untuk membicarakan semua pada mama Meli dan Yoga. Waktu yang dimiliki Anya terlalu singkat untuk menundanya. Anya sampai dirumah dan langsung menemui mama Meli di kamar.
"Ma.." Panggil Anya sembari mengetuk pintu perlahan.
"Iya, masuk sayang." Balas mama Meli dari dalam kamar. Anya membuka pintu kamar dan masuk perlahan. Nampak mama Meli duduk di sofa dan sedang membaca sebuah buku di tangannya. Saat melihat Anya mendekat mama Meli meletakkan buku dan melepas kacamata baca lalu meletakkan di atas nakas.
"Ma, Anya mau bicara sesuatu."
"Apa sayang?"
Anya duduk di samping mama Meli.
"Ma, Anya keterima kerja."
"Beneran nak? Selamat sayang. Mama bangga sama kamu sayang." Ucap mama Meli bahagia.
"Tapi ma, Anya harus pindah ke Bandung. Proyek yang Anya tangani ada di Bandung. Mulai minggu depan Anya sudah harus stay disana." Terlihat raut kesedihan di wajah Mama Meli, namun diganti dengan senyum lembut menenangkan.
"Kejar impian kamu sayang. Mama akan selalu mendukung kamu. Mama yakin kamu adalah wanita yang hebat." Ucap Mama Meli menenangkan Anya.
"Tapi Anya gak tega ninggalin mama sendiri di rumah. Apa mama ikut Anya ke Bandung aja?"
Mama Meli tersenyum dan memegang tangan Anya.
"Sayang, mama bukannya tidak mau ikut kamu. Tapi nanti kalau mama pindah, siapa yang akan urus semua usaha disini. Mama akan sering datang ke Bandung. Kamu juga gak perlu takut mama ngerasa kesepian. Mama kan gak sendiri di rumah ini."
"Tapi ma, tetep aja Anya kepikiran pastinya." Ucap Anya memanyunkan bibir tidak tega meninggalkan mamanya sendiri.
"Gak papa sayang. Kalau kepikiran mama, kamu telpon aja langsung."
Anya mengangguk dan memeluk mamanya.
"Makasih ya ma udah dukung keinginan Anya." Mama Meli tersenyum dan mengecup rambut putri kecilnya.
Setelah itu Anya menuju kamar dan menelpon Yoga untuk bertemu guna membicarakan rencana perpindahan secara langsung.
"Halo." Sapa Yoga diseberang telpon.
"Halo kak. Lagi apa?" Tanya Anya.
"Ini siap-siap mau pulang sayang. Kenapa?"
"Kak, bisa ketemu sebentar? Ada yang mau Anya omongin."
"Mau ketemu dimana?"
"Di cafe biasa aja yah kak. Anya kesana sekarang." "Oke sayang."
Anya berganti pakaian lalu bergegas menuju cafe.
Anya menunggu kedatangan Yoga. Tak berselang lama Yoga menampakkan batang hidungnya dan segera menghampiri Anya.
"Maaf lama sayang, tadi macet."
"Iya sayang gakpapa. Mau pesen apa?"
__ADS_1
"Apa aja deh terserah sayang."
Anya dan Yoga memesan minuman sebelum mengobrol lebih lanjut.
"Jadi mau ngomong apa sayang?" Tanya Yoga.
"Kak, Anya keterima kerja."
Yoga kaget dan sumringah mendengar berita dari Anya.
"Selamat sayang."
"Tapi.." Lanjut Anya.
"Tapi apa sayang?"
"Tapi proyek yang Anya tangani ada di Bandung. Aku harus stay di Bandung mulai minggu depan kak." Anya tertunduk sambil bicara karena tidak tega melihat kesedihan di wajah kekasihnya.
Yoga mencoba menahan kesedihan. Ia seakan tau konsekuensi dari hubungan dengan Anya. Anya baru di masa ingin mengejar semua mimpi. Tentu sangat ingin untuk mengejar kemanapun sampai Ia merasa mimpinya terwujud.
"It's Okay sayang. Kita jalani semua sama-sama. Jangan sedih begitu ya. Kan baru keterima kerja, harus seneng dong gak boleh sedih." Hibur Yoga walaupun hati kecilnya merasa sedih.
"Iya kak, makasih sudah mau ngertiin Anya."
Kedua membicarakan rencana bersama kedepannya untuk menghilangkan kesedihan dan gundah gulana yang dirasakan masing-masing.
***
Gista bangun di sore hari setelah seharian tidur karena mabuk. Ia bangun dan membuka lemari es untuk mencari makanan yang bisa digunakan mengganjal rasa lapar. Setelah berbadan dua Ia tidak sanggup menahan rasa lapar terlalu lama. Hal ini berdampak pada tubuh Gista yang kini mulai terlihat berisi dan padat.
"Cari apa?" Tanya Om Faisal saat melihat Gista mengacak-acak kulkas.
"Cari makanan lah."
"Gak ada. Kalau mau makan, masak dulu atau beli sendiri di luar." Ucap Om Faisal sembari berlalu.
"Dasar tua bangka! Gue laper tauuu, gue hamil anak lu ini." Gista emosi karena menahan lapar dan tak mendapati adanya makanan sama sekali. Ia terpaksa membuat mie instan untuk menahan rasa lapar yang sudah membuat perutnya perih.
Gista kembali ke kamar dan hendak membersihkan badan. Saat sedang di kamar mandi, betapa kaget Gista mendapati darah segar mengucur dari tubuhnya. Gista tak paham apa yang terjadi, namun seketika badannya terasa lemas. Ia berteriak memanggil suaminya. Om Faisal yang mendengar teriakan Gista bergegas mencari arah suara Gista dan membuka pintu kamar mandi. Ia kaget mendapati Gista terbaring lemas dengan darah berceceran di lantai. Om Faisal segera menggendongnya dan membawa Gista menuju rumah sakit.
Om Faisal menunggu cukup lama di luar ruangan UGD. Dokter masih memeriksa apa yang terjadi pada istrinya. Tak lama berselang dokter keluar ruangan.
"Bagaimana dok kondisi istri saya?" Tanya Om Faisal.
"Istri bapak mengalami pendarahan hebat. Kami sedang melakukan transfusi darah. Sekarang sedang dilakukan pengecekan janin, mohon tunggu sebentar lagi."
"I iya dok." Om Faisal terduduk lemas. Ia takut hal buruk terjadi pada Gista dan calon buah hatinya.
***
Pagi hari Andre kembali muncul di depan rumah Selly. Airelle yang sedang bermain di taman rumah langsung berhambur memeluk Andre.
"Om ganteeenggg.." Seru Airelle.
"Haloooo anak cantik." Andre membalas pelukan Airelle dengan sumringah.
Selly mendekati Andre yang tiba-tiba muncul pagi hari di rumahnya.
"Kenapa pagi-pagi kesini?" Tanya Selly.
"Mau ketemu Airelle, sekalian ketemu mamanya juga." Jawab Andre.
"Aku mau kerja Ndre."
"Aku tau, makanya aku kesini pagi-pagi. Buat nemuin kamu sekalian mau anter kerja."
"Gak usah Andre. Aku bisa berangkat sendiri." Tolak Selly.
"Yaaah, padahal aku udah jauh-jauh kesini." Jawab Andre sambil memasang wajah sedih.
__ADS_1
"Mama, jangan gitu dong. Kan kasian om gantengnya." Airelle membela Andre.
"Bukan gitu sayang. Maksud mama itu cuma.." Selly berusaha menjelaskan pada Airelle.
"Gak boleh gitu mama. Mama tega banget bikin om ganteng sedih. Padahal mama bilang sendiri kalau kita gak boleh bikin orang lain sedih." Ucap Airelle dengan ucapan khas anak kecil.
"Uuuwww, pinter banget sih anak cantik ini." Puji Andre.
"Iya dong om. Airelle kan anak pinter dan cantik." Ucap Airelle sambil tersenyum lebar dan menaruh kedua telapaknya dibawah dagu.
"Jadi mau ya aku anter kerja?" Tanya Andre kembali.
"Jangan ditolak mama." Bujuk Airelle.
"I iya deh. Aku mau kamu anter kerja." Jawab Selly terpaksa membuat Airelle dan Andre kegirangan sampai keduanya melakukan hifive.
"Makasih ya Airelle cantik udah bantu om. Lain kali om beliin es krim dan mainan."
"Beneran ya om?" Tanya Airelle sumringah.
"Bener dong sayang." Kalau gitu om berangkat dulu ya, biar mama kamu gak telat kerja. Byeee." Andre berpamitan pada Airelle.
Andre dan Selly berangkat bersama menuju tempat kerja Selly.
***
"Pagi.." Sapa Iqbal yang sedari tadi menunggu kedatangan Mela di parkiran.
"Kak Iqbal nungguin Mela?" Tanya Mela.
"Iya. Aku harap kamu udah gak cemberut kayak kemarin lagi." Ucap Iqbal.
"Siapa yang cemberut coba." Jawab Mela mengelak.
"Oiya Mel, nanti makan siang bareng gimana?" Tanya Iqbal.
"Maaf kak, Mela gak bisa. Mela ikut makan siang sama pegawai lain." Jawab Mela.
"Kok tumben?"
"Iya, soalnya sekalian perpisahan. Ini hari terakhir Mela magang disini kak. Besok Mela gak kesini lagi." Iqbal dibuat kaget dengan ucapan Mela.
"Maksudnya mulai besok kita gak bisa ketemu disini lagi?" Tanya Iqbal memastikan.
"Kalau disini gak bisa lagi kak. Mela mulai besok udah gak magang lagi soalnya. Proyeknya juga sudah hampir selesai, tinggal finishing aja." Jelas Mela kembali.
Iqbal merasa sedih merasuki tubuhnya. Entah kenapa kebahagiaan beberapa bulan saat menemui Mela setiap saat kini akan sirna. Tak terasa hampir 6 bulan kebersamaan ini, hingga membuat Iqbal terlena bahwa kehadiran Mela di dekatnya akan selamanya. Cepat atau lambat Mela akan menyelesaikan magang, kembali melanjutkan pendidikan dan bertemu dengan orang lain lagi yang mungkin bisa mengetuk pintu hati Mela. Sedangkan Iqbal, Ia akan kembali dengan rutinitas kesehariannya. Entah kapan Ia bisa membuka hati kembali disaat semua kesedihan hinggap di hatinya.
"Kakak, kak Iqbal?" Panggil Mela yang melihat Iqbal terdiam melamun. Mela menepuk-nepuk lengan Iqbal.
"Eeh iya Mela. Sorry sorry. Berarti hari ini hari terakhir kita ketemu disini?" Tanya Iqbal.
Mela mengangguk.
"Maaf ya kak. Mela gak ngabarin jauh-jauh hari." Ucap Mela tidak enak.
"Mela cuma takut bikin kak Iqbal sedih aja kalau tau Mela sudah gak lama lagi disininya." Lanjut Mela memberi alasan.
"I iya Mela. Gak papa. Makasih masih perduliin perasaanku." Jawab Iqbal lemas dan tak bersemangat.
"Kakak jangan sedih gitu kak. Kakak mesti semangat kerjanya." Hibur Mela.
"Terus apa rencana kamu ke depan setelah selesai magang?" Tanya Iqbal.
"Mela kan abis ini ujian kak. Semester depan Mela bakal sibuk urus skripsi juga. Jadi ya pasti sibuk dan repot banget buat nyari data-data proyek untuk keperluan penelitian." Iqbal mengangguk memahami kesibukan Mela. Mela begitu mempersiapkan semua kesibukannya guna menghilangkan segala gundah gulana. Bagi Mela, kesibukan magang dan kini mengurus pendidikan adalah cara yang efektif melupakan kepergian Vico. Perlahan tapi pasti Mela bisa mulai menata hati. Mulai merasa nyaman dengan kesendirian dan bisa melanjutkan kehidupan walaupun Vico sudah tidak disisinya. Ia juga sudah bisa mulai menikmati hidup, tertawa bersama sahabatnya serta kembali terbuka pada orang yang dipercaya. Sahabat Mela, Ika dan Anya, merasa senang melihat keadaan Mela sekarang. Ia sudah lebih baik dan jarang menunjukkan kesedihan. Semua itu terjadi karena usaha keras Mela yang tidak ingin larut dalam kesedihan dan ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi demi Vico yang dulu membawa dampak positif bagi kehidupan Mela.
Namun kini, semua kenangan bersama hanya bisa dikenang oleh Iqbal. Ia tau persis bahwa sakit ini hanya Ia yang merasakan. Sekalipun Mela merasakan sakit hati karena perpisahan dengan dirinya, tentu sakit hati itu tidak akan sebesar yang Iqbal rasakan. Iqbal berjalan gontai menuju ruangan. Pikiran Iqbal tertuju pada Mela. Ia merasa sudah selesai semua kesempatan mendekati dan merebut hati Mela. Mela akan pergi dan menjalani kegiatannya seperti sedia kala. Mengejar mimpinya, jauh darinya, dan pasti kenangan dengan dirinya akan terkikis perlahan dari ingatan Mela.
Iqbal hanya bisa pasrah, Ia tertunduk lesu di meja kerja. Semangat kerja di pagi hari menguap begitu saja. Ingin bagi Iqbal untuk tidak bekerja hari ini dan menenangkan perasaan. Namun tentu itu hal yang mustahil. Banyak pasien yang membutuhkan penanganannya. Iqbal mencoba bekerja dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki.
__ADS_1
Saat jam makan siang, Iqbal menuju proyek dan melihat Mela dari kejauhan. Nampak Mela bersama beberapa orang teman kerjanya pergi bersama dan saling bercengkerama. Iqbal juga melihat kebersamaan Mela dengan Rendy. "Apa gue udah kalah? Apa gue udah bener-bener harus menyerah?" Gumam Iqbal mencoba memutuskan apa yang harus dilakukan. Baru kemarin Ia merasa Mela cemburu melihatnya, namun kini Iqbal tau bahwa Ia hanya terlalu percaya diri. "Apa mustahil kamu membuka hati buat aku Mel? Apa kita hanya benar-benar akan menjadi kenangan saja Mel?" Batin Iqbal menuju ruangannya kembali. Saat jam makan siang, nafsu makan Iqbal hilang begitu saja. Ia perlu menata hati kembali, membuang semua kenangan dengan Mela yang membuat Iqbal sangat berharap lebih. "Sejak awal harusnya gue tau kalau gue dan Mela gak akan bisa bersama." Gumam Iqbal sambil meneteskan airmata.