Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Wanita yang mirip


__ADS_3

Kirana manatap tajam Kalila yang masih diam duduk didepannya, sejak tadi Kalila belum buka suara tentang apa yang Kirana dengar tadi, gadis itu masih diam dengan pikirannya sendiri.


"Oke, gue akan cari tahu jawabannya sendiri." Kirana ingin beranjak pergi, karena sudah kesal menunggu mulut Kalila bicara.


"Jangan kak." Kalila menahan tangan Kirana yang ingin pergi, Kalila menatap kakanya dengan wajah memelas. "Jangan tanyakan apapun sama kak Ray kak, aku mohon." Kalila tidak ingin dirinya terkena masalah lagi sudah cukup baginya untuk menerima perlakuan Rayan, dan Kalila tidak ingin membuat pria itu murka kembali.


"Kalau begitu ceritakan apa yang terjadi." Ucap Kirana tegas, membuat Kalila terpaksa mengangguk setuju.


Kirana kembali duduk didepan Kalila, bersiap mendengarkan apa yang akan Kalila katakan.


.


.


"Maaf Ray aku pikir kamu menyukai makanan seafood." Cantika merasa bersalah, ketika melihat Rayan yang terpaksa memakan makanan yang dia pesan.


"Uhuk, aku memang tidak bisa memakannya Can." Ucap Rayan, sambil terbatuk.


"Tapi kenapa kamu memaksa, sekarang aku yang khawatir." Cantika mencoba untuk memapah Rayan, tapi Rayan memilih untuk meminta Cantika menghubungi Ronal.


"Aku hanya merasa tidak enak menolak makanan yang kau pesan, karena itu juga makanan kesukaan Cintya." Ucap Rayan dengan berat, rasanya lehernya terasa sakit.


Cantika pun menguhungi nomor yang Rayan sebutkan, hingga baru dering pertama langsung diangkat.


"H-halo bisa minta tolong_"


Tut ..Tut..Tut..


Sambungan telepon langsung terputus sebelum Cantika meneyelsaikan ucapanya.


"Tuan.." Ronal langsung membantu Rayan untuk berdiri. "Kenapa anda memakan makanan yang pantang untuk anda makan." Ucap Ronal yang melihat menu makanan yang tuanya pesan, dan itu sama persis dengan milik wanita yang bertemu dengan tuanya.


"Aku_uhuk..uhuk.."


"Sebaiknya kita kerumah sakit." Ronal langsung memapah Rayan untuk menuju mobil. Cantika yang juga merasa panik dan takut mengikuti Rayan yang di papah.


"Tuan apa tidak sebaiknya Rayan di kursi belakang." Ucap Cantika yang melihat Ronal akan memasukkan Rayan di kursi depan.


Ronal menatap Cantika sekilas, membuat Cantika merasa terintimidasi melihat tatapan Ronal.


Pada akhirnya Ronal memilih untuk mendudukkan Rayan dikursi belakang agar lebih nyaman.


"Lain kali tidak perlu sok tahu, jika ingin membahayakan nyawa orang." Setelah itu Ronal masuk dan duduk di kursi kemudi.


Cantika mengepalkan tangannya kuat mendengar ucapan Ronal, dan Cantika ikut masuk menemani Rayan dibelakang.

__ADS_1


"Rayan hanya bisa menahan sakit dengan memejamkan mata, kepalanya Ia sandarkan di bahu kursi.


"Ray, maaf kan aku." Cantika, perlahan menyentuh kepala Rayan, dan menyandarkannya dibahunya. "Maaf aku tidak tahu, dan membuatmu seperti ini." Cantika mengusap kening Rayan yang berkeringat, pria itu hanya merintih dengan napas yang sesak.


Lima belas menit Ronal berhasil mempersingkat waktu sepuluh menit, pria itu membawa mobil dengan kecepatan tinggi, dan masih dibatas aman bagi pengguna jalan lainnya.


Ronal segera mencari pertolongan, untuk membantu Rayan, asisten itu begitu sigap untuk penanganan Rayan.


"Tolong lebih cepat." Ronal membantu mendorong brankar ke ruang UGD, pria itu takut jika tuanya semakin tersiksa.


"Lakukan yang terbaik." Ucap Ronal ketika melihat dokter masuk keruang UGD.


"Kak Ronal..!!"


Kalila yang kebetulan berjalan dari arah kantin melihat Ronal yang sedang membantu mendorong brankar seseorang.


"Nona." Ronal sedikit menunduk.


"Kak Rayan kenapa?" Kalila langsung bertanya, karena dia tahu jika ada Ronal pasti ada Rayan.


"Tuan mengalami alergi mak_"


"Bagaimana? apa sudah ditangani." Cantika menundukkan tumbuhnya, dengan tangan menyentuh lutut, wanita itu terlihat kelelahan dan napasnya pun naik turun dengan tak beraturan.


"Kak.." Kalilah melirik wanita cantik yang masih mengatur napasnya yang masih berkejaran.


"Saya tidak tahu nona." Ucap Ronal yang mengerti akan tatapan Kalila.


Kalila hanya mengaguk, wanita cantik yang masih menggunakan snelli itu juga nampak panik ketika Rayan dilarikan keruang UGD.


Ronal memilih untuk duduk di kursi tunggu yang berada didepan pintu UGD.


Cantika yang sudah bisa menyetabilkan napasnya kini bisa bernapas lega, wanita itu baru menyadari jika ada wanita lain yang seperti dokter terlihat cemas didepan pintu.


Meskipun begitu Cantika tidak perduli, karena dia tidak mengenal wanita yang memakai jas dokter itu.


Ceklek


Pintu UGD dibuka dari dalam, dan dokter pun keluar, membuat Ronal dan Kalila memberondong pertanyaan yang sama, sedangkan Cantika hany diam menyimak.


"Dokter bagaimana keadaannya?"


"Tuan Rayan sudah melewati masa kritisnya, beliau sedang beristirahat, dan saya sudah memberikan obat agar bisa menetralisir makanan yang masuk ke tubuhnya, dan lain kali kejadian seperti ini jangan terjadi lagi, kalau tidak akan berakibat fatal."


Setelah mengatakan itu, dokter pun pergi. Ronal meminta Kalila masuk lebih dulu setelah Rayan dipindahkan ke rawat inap.

__ADS_1


Ronal dan Cantika mengikuti dari belakang, meskipun banyak pertanyaan di benak Cantika, tapi gadis itu hanya diam saja.


"Kenapa bisa begini kak." Kalila mengusap rambut Rayan dengan tatapan sendu.


Cantika yang melihatnya merasa marah, tidak suka.


"Engh.." Rayan meleguh dengan bibir bergerak kecil.


Kalila yang melihatnya tersenyum.


"Nona mau kemana?" Tanya Ronal yang melihat tuanya melakukan pergerakan kecil dan sadarkan diri, tapi Kalila malah ingin pergi.


"Aku akan panggil dokter Erik untuk memeriksa Ray." Kalila tersenyum, dan berlalu meninggalkan Ronal yang menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan.


Sedangkan Cantika sudah berdiri disamping ranjang Rayan yang terbaring.


"Kamu sudah sadar?" Cantika membantu Rayan yang ingin duduk, dan Cantika menaruh bantal dipunggung Rayan agar nyaman.


"Em," Rayan hanya mengaguk, dirinya menatap Ronal yang berdiri tidak jauh darinya, tapi asistennya itu tidak menpilkan reaksi apa-apa, hanya diam.


Rayan melihat kesekeliling, dirinya melihat logo rumah sakit yang dia tempati.


"Aku haus." Ucap Rayan pelan.


Cantika yang berada disampingnya pun langsung sigap mengambilkannya.


"Ray, maaf aku benar-benar minta maaf." Cantika dengan wajah menyesal meminta maaf.


"It's ok, sekarang aku sudah baik-baik saja." Rayan tersenyum tipis.


Ronal yang melihat tuanya sudah membaik pun memilih pergi keluar meninggalkan mereka berdua.


"Nona." Ronal yang baru keluar terkejut melihat Kalila yang berdiri disamping pintu dengan senyum tipis.


"Dia sudah lebih baik kan." Ucap Raya yang di angguki oleh Ronal.


"Sepetinya wanita itu mirip dengan mendiang tunangan kak Ray." Kalila menatap Ronal yang berdiri didepannya. "Apa mereka juga memiliki hubungan." Entah mengapa hati Kalila begitu sakit mengatakan hal itu, apalagi dia melihat wanita yang mirip dengan mendiang tunangan Rayan yang sangat dicintai.


"Saya tidak tahu pasti nona, dan mereka baru bertemu hari ini." Ronal pun berkata jujur karena dirinya memang tidak akan mengurusi hal yang tidak diperintahkan.


"Apa saya perlu cari tahu tentang wanita itu?" Tanya Ronal, yang langsung mendapat gelengan dari Kalila.


"Tidak perlu kak, tolong kasih kabar jika ada apa-apa." Setelah mengatakan itu Kalila pamit pergi.


Ronal hanya diam melihat punggung Kalila yang semakin menjauh dengan tatapan sendu. "Semoga tuan tidak terlambat menyadari."

__ADS_1


__ADS_2