Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Sakit demi ingin perhatian


__ADS_3

Satu hari dua hari hingga satu Minggu kepergian Kalila, Rayan belum mau menandatangani surat perceraian yang dikirim untuknya.


Rayan yakin jika yang mengirimkan surat itu bukanlah Kalila melainkan papanya Ardian.


Dalam hati Rayan masih menegaskan jika Kalila masih mencintainya, dan Rayan yakin jika Kalila tidak mungkin mengirimkan surat itu apalagi Kalila belum menandatangani surat itu membuat Rayan semakin yakin.


"Tuan, makan siang anda." Ronal masuk ruangan Rayan, pria itu masih fokus pada pekerjaannya sedari pagi.


"Makan dulu tuan, anda belum makan dari pagi." Ucap Ronal lagi yang melihat Rayan tanpa mau menatapnya.


Sejak satu Minggu Ronal terlihat sibuk hanya untuk menyuruh Rayan untuk makan, jika harus memilih Ronal lebih baik membujuk anak kecil dari pada membujuk Rayan yang bisa saja memakinya.


"Pergilah." Ucap Rayan dingin tanpa melihat kearah Ronal.


"Jika anda sakit saya juga yang repot." Ucap Ronal keceplosan.


Rayan menatap tajam aisistenya itu, membuat Ronal menutup mulutnya rapat-rapat.


"Jika aku sakit, apa Kalila akan datang." Gumamnya dalam hati, Rayan tersenyum tipis.


"Pergilah, lebih baik kau makan saja dari pada mibazir." Ketus Rayan masih berkutat dengan pekerjaannya.


Ronal pun memilih pergi, jika sudah seperti itu dirinya tidak akan bisa membujuk bos-nya.


Dirumah sakit Kalila bekerja seperti biasa, dirinya menjalani hari-harinya seminggu ini dengan baik, meskipun jika dalam keadaan sendiri Kalila masih mengingat Rayan.


Ketika bekerja pikiranya selalu teralihkan, Kalila masih memikirkan Rayan meskipun pria itu hanya memberi luka padanya.


"Kal, apa kau mau ikut." tanya Fani dokter kandungan yang akrab dengan Kalila, wanita itu membuka pintu kerja Kalila dan menyembulkan kepalanya.


Kalila yang masih menulis agenda mendongak. " Kemana Mbak," Kalila menutup agenda laporan pasien milikinya.


"Aku mau pergi ke cafe yang baru buka di seberang, kebetulan pasien ku sudah selesai." Fani masih berada diambang pintu.


Kalila menatap jam dipergelangan tangannya, "Apa masih ada jadwal pasien lagi sus?" Tanya Kalila pada suster yang membantunya.


"Sudah tidak ada dok, tadi yang terakhir, ada lagi nanti pukul tiga."


Kalila mengangguk, dan Fani tersenyum itu berarti Kalila akan ikut.

__ADS_1


"Oke mbak, kita pergi." Fani tertawa melihat Kalila yang tertawa.


Jam masih menunjukan 11:10 siang dan kedua wanita itu sudah berada di dalam cafe yang baru saja buka, cafe yang menyediakan tempat outdoor dan Instagramabel bagi pencinta selfie dan vlog.


"Tempatnya lumayan keren mbak." Kalila terseyum, matanya mengedar kesekeliling, yang lumayan cukup ramai.


"Ya, dan yang aku dengar pemiliknya pemuda tampan yang sukses di bidang bisnis, hanya saja dia tidak terlalu kaya di Asia tapi nomor satu dia Eropa." Ucap Fani yang sudah mendengar desas desus gosip pemilik cafe yang konon katanya milik pria tampan.


Kalila hanya berOh ria, dirinya tidak terlalu memikirkan, hanya saja nama cafe ini sedikit mengusik pikiranya. 'Kal_Khan Cafe'.


Kalila seperti tidak asing dengan nama itu tapi dirinya tidak menemukan apa yang sedang dia pikirkan.


"Nah, makananya datang." Fani begitu senang ketika makanan yang mereka pesan datang, apalagi sedang melakukan grand opening mereka mendapatkan diskon.


"Mbak mah, girang kalau makan dapat diskon." ucap Kalila terkekeh.


"Ck, kamu kan tau Kal kalau aku tuh pencinta makan apalagi makan gratis." Dokter spesialis kandungan itu lain dari pada yang lain.


Fani memang memiliki tubuh ideal, meskipun dirinya makan banyak tapi tidak mempengaruhi berat badannya, dan Fani bukan tipe pemilih makanan, yang penting makanan sehat untuk di konsumsi.


"Ya, Kalila paham." Mereka menikmati makanan yang tersedia.


"Maaf nona, selamat anda mendapatkan hidangan spesial di kafe kami dengan gratis." Ucap pelayan yang membawakan dua menu spesial di kafe mereka.


Kalila tertawa, dokter cantik didepanya ini ternayata memiliki sifat bar-bar yang membuatnya tertawa.


"Iya mbak, kalau mbak masih kurang nanti aku pesankan lagi."


Fani membulatkan matanya, "Kalau itu aku sudah nyerah Kal, meskipun aku suka makan tapi aku bukan gentong."


Kalila ikut membulatkan matanya mendengar kata istilah dari wanita didepanya.


Rayan duduk di kursi tunggu sudah hampir satu jam, dirinya menunggu Kalila yang kata suster pendamping Kalila sedang makan diluar.


Rayan merasakan tubuhnya bergetar, keringat dingin mulai muncul dipelipis dan keningnya, pria itu menyadarkan kepalanya pada punggung kursi dengan sedikit menurunkan tubuhnya agar kepalanya bisa bersandar.


Kepalanya terasa begitu berat, Rayan sengaja mendatangi tempat Kalila bekerja karena dirinya merasa rindu.


Rindu?

__ADS_1


Ya Rayan merindukan wanita yang dia benci itu, hingga sangking bencinya Rayan tidak bisa melupakan bayangan Kalila. Berbeda dengan Cintya, Rayan tidak pernah sengaja ingin sakit hanya untuk mendapatkan perhatian dari Kalila.


"Kak." Kalila berdiri didepan Rayan yang memejamkan matanya.


sebenarnya Kalila enggan untuk mendekati Rayan, tapi entah mengapa melihat bibir Rayan yang pucat Kalila sedikit merasa kasihan. Kasihan karena jiwanya yang memang perduli kepada sesama.


Rayan membuka matanya, bibirnya terseyum melihat wanita yang di tunggu berada didepannya, meskipun wajah Kalila biasa saja, tidak ada senyum tapi sudah cukup membuatnya merasa lebih baik.


"Apa kabar Kal.?" tanya Rayan dengan menegakkan tubuhnya, agar bisa duduk dengan benar.


"Sedang apa kakak disini, bukankah kaki kakak sudah sembuh." Ucap Kalila melirik kaki Rayan.


Kalila sebenarnya masih kesal ketika Rayan membohonginya, bukan hanya dirinya melainkan semua kelaurga.


"Aku butuh diperiksa Kal, kepalaku sakit." Ucap Rayan jujur, meskipun terselip maksud disengaja.


"Dimana Ronal, kenapa kakak sendiri."


Rayan tersenyum mendengar ucapan Kalila yang sepertinya khawatir.


"Ronal sendang sibuk, dan aku tidak mau melihatnya memakan gaji buta."


Kalila menghela napas. "Baiklah tunggu sebentar." Ucap Kalila pergi meninggalkan Rayan yang tersenyum lebar.


"Aku tahu Kalila, jika kamu tidak akan membiarkanku." Gumamnya menatap punggung Kalila yang semakin menjauh.


Rayan berpikir jika Kalila perduli, pasti cinta Kalila masih ada untuknya, dan Rayan akan terus berusaha untuk mengembalikan perasaan Kalila yang sempat gamang.


"Kak, suster Eka akan membatu kakak menemui dokter Ricky, dan sebaiknya menggunakan kursi roda agar lebih nyaman." Ucap Kalila yang menunjukan seorang suster dengan kursi roda ditanganya.


Rayan menatap suster itu, berpindah pada Kalila. "Kal, aku mau kamu yang merawatku bukan dokter lain m" Ucap Rayan yang melupakan sesuatu.


Kalila menatap Rayan dengan kening berkerut. "Apa kakak lupa jika aku bukan dokter umum, aku dokter spesialis neurologi."


Rayan menelan ludah. "Tapi Kal aku_"


"Sus tolong bawa pasien pada dokter Ricky." Ucap Kalila memotong ucapan Rayan.


"Maaf kak, aku masih ada urusan penting." Kalila tersenyum, dan berlalu dari depan hadapan Rayan dengan santainya. Sedangkan Rayan merasa sedih ternyata Kalila malah pergi.

__ADS_1


Rayan pikir Kalila akan mengurusnya tapi pemikiran Rayan tidak benar sama sekali, bahkan Kalila mementingkan urusan lain dari pada dirinya.


'Lah lu pikir, lu sapa????'


__ADS_2