Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Kembali merasakan


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, Rayan baru saja keluar dari ruang kerjanya bersama Ronal, pria itu sejak tadi berada diruang kerja cukup lama. Membahas pekerjaan yang harus Rayan pelajari dan tanda tangani, lusa ada pertemuan pemegang saham, dan Rayan yang harus memimpin sendiri pertemuan itu, karena Rayan sudah resmi mengatikan papanya Roy yang sudah mengajukan pensiun.


Rayan melihat kearah meja makan, disana terlihat Kalila yang menyiapkan masakanya, tapi entah mengapa membuat Rayan tidak suka dan kesal melihat Kalila hanya memakai pakaian rumahan, dress terusan yang tingginya selutut, tanpa lengan memperlihatkan lengan putih mulus milik wanita itu, sedangkan di sana masih ada Ronal yang berdiri disampingnya.


"Kau lebih baik pulang." Rayan berucap pada Ronal.


"Bai_"


"Kak Ronal, ikutlah makan malam. Aku memasak banyak." Kalila tersenyum manis pada Ronal, wanita itu tidak menyadari tatapan tajam Rayan.


"Nona masak apa?" Ronal pun tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ronal mendekati meja makan.


"Banyak, lebih baik kak Ronal menamai kak Ray makan. karena aku sudah makan dan kenyang." Ucap Kalila beralasan, dirinya hanya masih tidak ingin berdekatan dengan Rayan, karena biasanya Rayan akan memintanya berdiri disampingnya hanya untuk menunggui dia makan.


"Sepertinya lezat." Ucap Ronal, sambil melirik Rayan yang berjalan kearahnya, pria dengan tetap datar itu tidak perduli dengan apa yang kedua orang itu bicarakan.


"Coba saja kak, nanti kau akan merasakannya." Ucap Kalila kembali dengan senyum.


"Ck, apa anda lupa nona, kalau saya sudah pernah anda beri bekal." Ucap Ronal mengingatkan waktu itu.


"Oh, aku lupa kak." Kalila menjawab seadanya, karena menyadari tatapan Rayan yang sudah membuat kulitnya meremang.


"Ck, anda memang_"


"Jaga batasanmu Ronal." Ucap Rayan tegas, dengan sorot mata tajam menatap Ronal, asistennya yang sejak tadi tidak henti mengobrol dengan Kalila.


"Maaf tuan, saya sampai lupa kalau nona Kalila istri anda." Ronal tersenyum tipis.


Rayan hanya bisa menahan kekesalannya pada asistennya itu. Sedangkan Kalila sudah pergi setelah Rayan menegur Ronal, karena Kalila tidak ingin mendapat masalah dan harus mendengar Rayan yang memakinya.


Kedua pria itu pada akhirnya makan dengan diam, meskipun suasana terasa dingin tapi bagi keduanya sudah biasa, apalagi untuk Ronal yang memang makanannya sehari-hari duduk dengan Rayan yang seperti patung hidup.


"Pergilah, jangan lagi kamu menerima apapun yang dia beri." Ucap Rayan begitu dingin.


Ronal mengernyitkan keningnya. "Dia? dia siapa tuan." Tanya Ronal pura-pura tidak tahu.


"Kau..!" Rayan yang merasa di permainkan Ronal pun menatap tajam dengan rahang mengeras.


"Jangan marah tuan, nanti anda tidak bisa menunaikan malam panjang." Dan Ronal yang tidak tahu diuntung pun pergi, sebelum mendapat masalah yang lebih besar.


"Ronal, Sialan..!!" Rayan memaki Ronal, tapi pria itu sudah kabur lebih dulu.

__ADS_1


Dengan kesal Rayan berjalan menuju ruang tengah, dirinya ingin bersantai setelah makan.


Entahlah biasanya dirinya suka menyendiri didalam kamar, tapi sekarang perasaanya masih penasaran dengan Kalila.


Penasaran tentang apa? Rayan pun tidak tahu, yang jelas dirinya ingin melihat wanita itu.


Duduk didepan televisi yang menyala Rayan sampai tidak sadar jika matanya sudah terpejam, pria itu tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa.


Mungkin karena pengaruh obat yang dia minum, sehingga membuatnya mengantuk.


"Kenapa malah tertidur disini sih." Kalila menghela napas dalam. Dirinya yang berniat untuk mengambil minum melihat televisi yang menyala, dan ternyata Rayan tertidur di sofa.


Kalila kembali ke kamar dan mengambilkan selimut untuk Rayan.


"Mimpi indah kak." Ucap Kalila lirih.


Jika melihat Rayan yang terlelap, wajah pria itu begitu teduh dan tampan, Kalila tersenyum. Tangannya terangkat untuk menyentuh rambut Rayan yang menutupi keningnya.


"Jika seperti ini kamu bikin aku tidak bisa berpaling kak." Kalila menyentuh lembut rambut Rayan, takut pria itu terbangun.


"Apa aku begitu jahat dimatamu, sehingga kamu melihatku seperti musuh yang sangat kau benci."


Kalila selalu merasa bersalah setiap kali Rayan menatapnya dengan penuh rasa kebencian, Kalila hanya ingin melihat orang yang dia sayangi bahagia, meskipun tidak bersama dirinya.


Tanpa terasa air mata Kalila menetes, wanita itu selalu lemah jika berhadapan dengan Rayan, entah punya magnet apa sehingga dirinya tidak bisa berlaku tega dengan suaminya itu.


"Cintya, jangan tinggalkan aku."


Grep


Rayan mencekal tangan Kalila yang akan menjauh dari wajah Rayan, tapi belum sempat Rayan sudah meraih tangannya.


"Cin, aku mencintaimu." Rayan semakin menarik tangan Kalila.


Kalila yang menunduk langsung terjerembab dalam dekapan Rayan, dan Kalila bisa merasakan wangi tubuh Rayan yang benar-benar membuatnya tak bisa menghindar.


"Kak, aku bukan Cintya, engh." Kalila mencoba melepaskan dekapan Rayan, tapi gagal karena Rayan membuka matanya.


Jantung Kalila berdetak tak normal, kedua mata mereka bertemu untuk pertama kali dalam jarak yang dekat.


Rayan menatap wajah Kalila lekat, dan Rayan langsung menyeringai.

__ADS_1


"Kau memang wanita mura*Han Kal, lihatlah kau melempar tubuhmu disaat aku tertidur." Ucap Rayan dengan sinis.


Kedua mata Kalila membulat sempurna, dia tidak percaya dengan apa yang Rayan katakan.


"Kak aku_"


"Sttt, kau memang pantas disebut wanita penggoda, lihatlah dirimu." Rayan menatap kebawah, kedua dada Kalila nampak terlihat gundukan daging kenyal itu, karena kalian ternyata sudah berganti pakaian menggunakan tangtop, dan tidak memakai pengaman di bagian kelembutannya, sehingga membuat Rayan terpancing.


"Kak kau..!!"


"Bukan aku, tapi kau yang memancingku."


"Emph.." Kalila memebelalakan kedua matanya, ketika untuk yang kedua kali Rayan menyentuh bibirnya kembali setelah malam panas yang pernah mereka lewati dengan Kalila yang begitu terluka.


Namun ada yang berbeda dengan ciuman kali ini, ciuman yang begitu lembut namun mampu membuat Kalila terlena.


"Kakkk " Kalila mendesis didalam pangutan bibir keduanya saat jemari Rayan menari di atas kelembutannya yang masih berbalut kain, namun sangat terasa membuat tubuh Kalila merespon cepat.


Kali ini Kalila begitu menikamati dengan apa yang Rayan lakukan, pria itu memanggut bibirnya lembut dan semakin menuntut.


"Ugh." Rayan melepas pangutan bibirnya ketika napasnya sudah tersengal begitupun dengan Kalila.


Wanita itu bernapas kembang kempis akibat durasi yang cukup lama mereka berciuman.


Jemari Rayan mengusap lembut pipi Kalila, pria itu menatap lekat wajah Kalila yang sudah bersemu merah akibat sentuhan Rayan yang lembut.


"Aku menginginkanmu Kal." Pinta Rayan dengan wajah datar, namun kedua matanya memancarkan gairah yang masih menyala.


Kalila yang menunduk akhirnya mendongak, dan tatapan mereka lagi-lagi bertemu.


"Puaskan aku Kal." Ucap Rayan yang langsung menyambar bibir tebal dan bengkak akibat ulahnya.


Rayan membuat Kalila tak berdaya dan pasrah, wanita itu kini sudah tidak mengenakan apapun, dengan gerakan cepat Rayan mengangkat Kalila diatas pangkuan miliknya, tanpa melepas pangutan bibirnya.


"Ugh, kak." Kalila mendesahh ketika benda tumpul itu kembali menembus miliknya yang masih terasa sakit, tapi tidak sesakit waktu pertama kali mereka melakukannya.


"Puaskan aku malam ini Kal, kau adalah pemuas napesuku."


Ucapan Rayan benar-benar membuat hati Kalila begitu sakit, Kalila menggigit bibirnya agar tidak menjatuhkan air matanya.


"Ahh, Kal kau memang nikmat." Rayan begitu menikamati apa yang sedang Kalila berikan.

__ADS_1


..."Bagiamana pun kau adalah suamiku kak, dan sebagai istrimu aku melayanimu dengan sepenuh hati, meskipun kau sakiti hatiku berulang kali." ...


__ADS_2