
Waktu cepat berlalu, begitupun pernikahan Kalila dan Brian sudah memasuki bulan ketiga.
Kehidupan Kalila jelas berubah, dulu diperlakukan Rayan dengan tidak baik, dan kini dirinya benar-benar diperlakukan sebagai seorang ratu.
Karena dasarnya Brian memang sudah menjadi raja dalam bisnis dinegaranya.
Satu bulan sebelumnya, Brian juga mengadakan pesta besar-besaran untuk resepsi pernikahannya.
"Bagaimana sudah lebih baik." Brian membantu Kalila mencuci wajahnya.
Setiap pagi Kalila mengalami morning sicknes, meskipun hanya setiap pagi, tapi mampu membuat Kalila lemah.
"Sudah sayang." Kalila terseyum dengan bibirnya yang pucat.
Setelah acara resepsi Kalila dinyatakan positif hamil, membuat Brian dan tuan Jimmy begitu bahagia.
Kalila yang dinyatakan hamil juga tentu saja bahagia, apalagi tuhan menitipkan anugrah begitu cepat padanya.
"Masih ada waktu untuk kerumah sakit, sebaiknya kamu istirahat dulu." Brian duduk disamping Kalila dan mengelus perut Istrinya yang masih rata.
Jam menunjukkan masih setengah enam pagi, dan Kalila bertugas di jam sembilan pagi.
"Hu'um." Kalila hanya mengaguk.
Brian tersenyum, dan menundukkan kepalanya mengecup perut Kalila yang sudah dia sibakkan pakaian Kalila.
__ADS_1
"Sayang jangan buat mommy susah." Ucap Brian diatas perut Kalila, bibirnya menempel di kulit mulus istrinya. "Kasihan Mommy kalau harus muntah setiap hari." Ucapnya lagi, malah membuat Kalila teekekeh.
Wajah Brian mendongak menatap istrinya yang malah tertawa. "Itu reaksi alami Sayang, semua ibu hamil mengalaminya." Ucap Kalila.
Brian hanya mengangguk. "Tapi aku tidak tega melihatmu tak berdaya seperti ini." Tangan Brian naik mengusap pipi Kalila.
"Tidak apa, aku bahagia menjalaninya." Kalila tersenyum dan menggenggam tangan suaminya.
"Kak boleh aku bicara sesuatu." Kalila menatap serius wajah Brian. Meskipun ini hal yang mungkin sangat sensitif untuk Brian, tapi Kalila selalu dihantui rasa ketakutan.
"Katakanlah." Ucap Brian dengan menatap wajah istrinya intens, sejujurnya Brian juga memikirkan hal yang sama. Tapi dirinya tidak mau mengungkit hal sensitif pada Kalila.
Kalila menunduk, meremat keduan tangannya yang saling bertautan.
"Sstttt, apapun yang terjadi dia adalah anak kita." Ucap Brian dengan tegas. Dirinya tahu apa maksud dari ucapan Kalila.
Kalila mendongak, menatap wajah suaminya dengan tatapan sendu. "Kau takut kak, maaf kan aku." Ucapanya lagi yang langsung menjatuhkan air matanya.
Brian langsung mendekap tubuh istrinya, memeluknya dengan erat dan menghujami kecupan di kepalannya.
"Percayalah, apapun yang terjadi nanti kalian adalah tanggung jawab ku. Aku mencintaimu apapun keadaanmu." Brian mengeratkan pelukannya.
Cinta memang mengalahkan logika, tidak perduli dengan apa yang terjadi. Cintanya kepada Kalila begitu besar dan tulus, sebisa mungkin Brian berbesar hati untuk menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Sungguh aku mencintaimu." Berulang kali Brian mengucapkannya kata cinta tanpa bosan, setiap hari Kalila mendengar lantunan cinta dari sang suami, dirinya begitu beruntung mendapatkan pria seperti Brian. Bukan hanya memberi cinta tapi mampu menerima dirinya yang mungkin tidak pantas untuk pria sebaik Brian.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu kak." Kalila menyadari jika hatinya kini sudah ada nama Brian, tidak bisa dipungkiri jika kebaikan dan perlakuan istimewa Brian, mampu membuat hati Kalila berdebar.
Ditempat yang berbeda dibelahan bumi yang lain. Rayan baru saja pulang dari kantor pukul sebelas malam.
Waktu Rayan hanya habis untuk bekerja, dari pagi sampai malam pria itu tidak kenal lelah.
Sampainya di rumah Rayan langsung masuk kedalam kamar mandi, membersihkan diri dari aktifitas yang seharian dia lakukan.
Dibawah guyuran air shower yang dingin, Rayan memejamkan mata dan saat itu hanya ada bayangan wanita cantik yang memiliki senyum manis.
"Sial!" Rayan segera membuka mata, dan menyudahinya mandinya. Setiap saat memejamkan mata, bayangan Kalila selalu muncul begitu saja. Rayan berusaha untuk menghilangkan bayangan itu, tapi selalu tidak pernah bisa berhasil.
Salah satu cara Rayan menghindari bayangan yang selalu hadir adalah dengan cara melampiaskan dengan pekerjaan. Dirumah pun pria itu menjadi wancholic, tidak tahu waktu dan istirahat.
Menatap foto yang masih menemaninya di atas meja, Rayan menatap sendu wajah wanita itu.
"Sampai kapan kamu akan menjadi penghuni dikepalaku." Ucapnya dengan sendu, bagaimana bisa dia melupakan Kalila, jika saat memejamkan mata senyum manis wanita itu selalu hadir.
"Kamu membuatku frustasi Kal, aku bisa gila jika aku tidak bisa menjaga kewarasan ku."
.
.
Otor lagi sibuk di RL, maaf baru Up🙏🥰
__ADS_1