Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Penangkapan Kalila


__ADS_3

Kalila tidak kembali ke kamarnya, melainkan duduk di taman rumah sakit yang berada dibelakang, tidak banyak pengunjung maupun pasien yang mau duduk ditaman itu, karena taman itu sepi dan cocoknya untuk menenangkan hati dan pikiran seperti yang dialami Kalila sekarang.


Kalila menatap kerikil di bawah kakinya dengan perasaan campur aduk, sebenarnya dirinya tidak takut jika memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya beberapa bulan lalu. Tapi Kalila bukanlah seorang pembunuh, kecelakaan itu tidak disengaja.


Melihat reaksi Rayan tadi, Kalila begitu yakin jika pria itu juga pasti akan ikut memberikan kesaksiannya yang mungkin saja bisa memberatkannya di kantor polisi, tapi Kalila berharap Rayan bisa membelanya meskipun hanya sebagai teman.


Rayan menatap punggung wanita yang duduk sendiri dengan kepala menunduk, Rayan yakin jika wanita itu pasti merasa sedih. Dirinya tidak mungkin menghalangi apa yang susah Cantika lalukan, Rayan tidak tahu harus melakukan apa, karena diirinya juga bingung dengan perasaannya yang tidak menentu.


Disatu sisi, Kalila adalah istirnya, Istri yang sudah menyebabkan kecelakaan waktu itu hingga menewaskan tunanganya dan juga membuatnya cacat.


Rayan memang tidak membuat laporan kepada pihak yang berwajib, karena dalam hati kecilnya dirinya juga tidak tega melihat Kalila harus mendekam di penjara. Dan kini tanpa Rayan yang melapor Kalila akan mendapat masalah dari Cantika.


"Tuan, semua sudah siap." Ronal membantu mengemas barang milik Rayan.


Ya, pria itu sudah diperbolehkan pulang setelah dua hari dirawat, dan semenjak pagi itu Rayan tidak lagi bertemu ataupun melihat Kalila datang menjenguknya.


Rayan turun dari ranjang dengan bantuan tongkatnya dia berdiri.


"Apa dia juga masih dirawat?" Tanya Rayan yang enggan menyebutkan nama Kalila.


"Dia, dia siapa tuan?" Ronal yang tiba-tiba ngelag tidak bisa diajak kompromi.


Rayan menghembuskan napas kasar, kesal karena asistennya itu tiba-tiba lemot. "Kita pulang." Ucap Rayan yang berjalan lebih dulu, diikuti Ronal.


Sampainya didepan resepsionis Rayan berhenti sejenak, otaknya mulai berfikir apakah dirinya harus bertanya pada petugas rumah sakit atau mengabaikannya.


"Tuan, ada apa?" tanya Ronal yang melihat Rayan berhenti ditengah jalan.


"Kau duluan saja, nanti aku menyusul." Ucap Rayan pada Ronal.


"Tapi tuan_"


Rayan menatap tajam asistennya itu, membuat Ronal langsung mengangguk pergi.


"Ada yang bisa saya bantu tuan." Tanya petugas resepsionis."


"Apa pasien bernama Kalila Khasana masih dirawat di rumah sakit ini." Ucap Rayan pada petugas itu.


"Saya cek dulu tuan."


Resepsionis mengecek daftar nama dikomputer atas nama yang disebutkan Rayan tadi.


"Maaf, atas nama pasien dokter Kalila khasana sudah keluar sejak kemarin pagi pak." Jelas petugas resepsionis itu dengan ramah.

__ADS_1


Rayan hanya mengaguk dan pergi dari sana.


"Mungkin dia sudah berada dirumah." Gumam Rayan tanpa sadar tersenyum simpul.


Ronal dari melihat tuanya tersenyum merasa heran, mekipun hanya senyum samar tapi mata Ronal bagaikan mata elang.


Kalila duduk dengan perasaan tak menentu, wanita itu tidak tahu harus berbuat apa, dirinya tidak bermimpi bisa tinggal ditempat yang tidak pernah dia bayangkan.


Kemarin sesaat setelah Kalila pergi dari ruang rawat Rayan. Kalila sudah diperbolehkan pulang, dan sampainya dirumah hanya selang beberapa jam tak lama dua orang polisi mendatangi kediaman Rayan, mereka membawa surat penangkapan Kalila dan membawanya ke kantor polisi.


Tidak ada yang tahu, karena saat Kalila pulang keadaan rumah begitu sepi, bahkan satpam yang bisanya berjaga ternyata tidak masuk.


"Nona ada yang ingin bertemu anda." Seorang polwan membuka kunci jeruji besi tempat Kalila, disana Kalila hanya sendiri karena masih masa penyelidikan.


Kalila berdiri, wanita itu nampak tidak sedang baik-baik saja.


"Apa kabar Nona pembunuhan?" Cantika terseyum menyeringai. "Sepertinya kabarmu tidak akan pernah baik-baik saja." Cantika duduk didepan Kalila yang juga baru saja duduk.


"Mau kamu apa?" Tanya Kalila yang merasa muak melihat wajah wanita yang duduk didepannya.


Cantika tertawa jahat. "Tanpa aku jawab pun, pasti kamu sudah tahu mauku apa." Cantika menatap Kalila dengan penuh kebencian.


"Jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini." Cantika terseyum tipis. "Dan selamat menikmati hari-harimu yang menyedihkan, dan aku jamin kamu tidak akan pernah bisa lepas dari sini."


Kalila mengepalkan tangannya kuat, dia tidak akan mendekam ditempat ini untuk waktu yang lama.


"Mari Nona." Polwan itu kembali membawa Kalila ketempat semula, Kalila hanya bisa menurut dan berharap ada orang yang bisa membantunya untuk masalah ini.


Papanya tentu saja bisa membantunya, tapi mereka tidak tahu jika dirinya berada di dalam sangkar besi ini. Dan Kalila juga tidak bisa menguhungi kedua orang tuanya, Kalila takut jika jantung Mamanya akan kambuh karena mendengar dirinya yang sedang berada dipenjara.


"Kal..!!" Rayan berjalan menuju kamar Kalila, pria itu tidak sabar ingin melihat Kalila.


"Kal, kamu didalam." Rayan mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.


Membuka pintu Rayan melihat didalam kosong, dan tas Kalila berada diatas meja kecil.


Rayan kembali menutup pintu kamar Kalila, dan mencarinya ditempat lain.


Rayan berjalan kehalaman belakang, yang mungkin saja Kalila ada disana.


Tapi Rayan tidak melihat adanya orang yang masuk halaman belakang, karena biasanya tempat itu bersih dari daun kering yang berjatuhan, dan sekarang nampak kotor.


"Kalila..!!" Rayan kembali masuk dan berjalan keluar, jantungnya mulai berpacu dengan pikiran yang sudah kemana-mana.

__ADS_1


"Sapto..!! Sapto..!!" Rayan memanggil satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang.


"Iya tuan, saya." Sapto lari tergopoh-gopoh.


"Kamu melihat Kalila pergi?" Tanya Rayan dengan wajah dingin.


"Ti-tidak tuan, sejak pagi saya tidak melihat nona." Ucap Sapto apa adanya, karena memang dirinya tidak melihat.


Rayan meremas rambutnya frustrasi. Dia mengambil ponsel yang berada di dalam sakunya. Pikirnya hanya satu dimana ucapan Cantika kemarin berkelebat di otaknya.


"Ronal, kamu cari tahu keberadaan Kalila." Ucap Rayan pada Ronal dari sambungan telepon.


"...."


"Kalila tidak ada di rumah, kemungkinan dia ada kaitannya dengan laporan Cantika."


Rayan menutup panggilan teleponnya, pria itu menguhungi papanya.


"Ada apa Ray, kamu menggagu jam tidur papa." Ucap Tuan Roy dari seberang sana.


"Pah ini sudah siang, jangan bercanda papa masih tidur." Ucap Rayan sedikit kesal.


"Papa sedang berada diluar negeri dengan mamamu, dan kamu benar-benar mengganggu tidur papa."


Rayan mengumpati papanya dalam hati, "Yaudah kalau begitu." Rayan langsung mematikan sambungan ponselnya, jika seperti ini tidak bisa ada yang menolong Kalila. Jika dia yang turun tangan, sedangkan Rayan juga korban didalam kecelakaan itu.


"Wisnu, ya Wisnu pasti bisa menolongnya."Rayan menguhungi pengacaranya yang handal untuk mendampingi Kalila.


.


.


Author punya rekomendasi karya yang bagus dan seru lohh..??


Yukk mampir sayang, beri dukungan rekan sesama author yaa..


Napen : M Anha.


Judul : Aku Juga Ingin Bahagia


Jangan lupa singgah 😘😘


__ADS_1


__ADS_2