Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Permintaan Brian


__ADS_3

Diluar Kalila duduk dengan isak tangis, bahunya bergetar hebat bersama dengan suara tangisan yang memilukan.


"Kenapa kak, kenapa kau melakukan ini padaku."


Rasa sedih dan kecewa menjadi satu, tapi hanya rasa sakit di dadanya yang lebih mendominasi Kalila begitu sakit melihat Brian yang sedang terbaring tak berdaya dengan penyakit yang dideritanya.


Andai saja dirinya lebih peka dengan perubahan yang dialami Brian, pasti Kalila tidak akan merasakan sesakit ini ketika mengetahuinya. Dirinya merasa gagal dah tidak bisa menjaga suaminya hingga sakit parah pun Kalila tidak mengetahuinya.


"Maafkan aku kak, maafkan aku yang tidak peka, hiks..hiks.." Kalila menangis dengan berjongkok dan menutup wajahnya diatas lutut menumpahkan kesedihan sekaligus kekecewaan dan rasa sakit yang tercokol didalam hatinya. Begitu sesak dan sakit.


"Mommy.." Ellard berlari menghampiri sang ibu yang tertunduk dengan lemah.


Kalila yang mendengar suara putranya mendongak, dan seketika tangisnya semakin pecah melihat putranya yang memeluknya erat.


"El, maafkan Mommy." Kalila benar-benar merasa bersalah, selama ini dirinya tidak mengetahui jika Ellard adalah anak dari pria yang sudah menyakitinya, dan suaminya menyembunyikan semua karena saat itu dirinya sempat terpuruk lantaran kejadian yang menimpanya sebelum menikah.


"Mommy, apakah Daddy akan baik-baik saja." Meskipun Ellard tidak masih kecil dirinya peka terhadap perasaan seseorang yang menyayanginya. Melihat ibunya yang menagis Ellard yakin jika terjadi sesuatu pada Daddy-nya.


"Daddy baik-baik saja sayang, Daddy akan kembali berkumpul dengan kita."


Air matanya sudah tak bisa dibendung lagi, rasanya Kalila ingin menangis dan menagis kencang mendapati kenyataan yang begitu menyedihkan untuknya.


Sedangkan Rayan hanya bisa menatap sendu kedua orang yang sedang berpelukan, kedua orang yang sekarang menjadi cintanya.


Entah dirinya harus bersyukur apa bagaimana, Rayan tidak tahu harus mendeskripsikan seperti apa, senang karena ternyata dirinya memiliki buah cinta bersama wanita yang dia cintai, sedih ketika melihat dua malaikatnya menangis dan terpuruk. Melihat Kalila seperti sekarang ingin rasanya Rayan mendekap tubuh rapuh itu saat ini juga.


"Jika Daddy baik-baik saja, mommy jangan menangis lagi." Ellard mengusap pipi Kalila yang basah, meskipun sudah Ellard hapus, tetap saja air mata sialan Kalila terus saja meluncur.


"Iya sayang, Daddy pasti akan baik-baik saja." Kalila Tersenyum dalam pilu, dirinya tak kuasa menatap wajah Ellard.


Rayan mengusap sudut matanya yang basah, dirinya turut merasakan apa yang Kalila rasakan, "Apakah jika aku yang diposisi Brian, kamu juga akan seperti ini Kal." Ucap Rayan dengan dirinya sendiri.


Tak lama Jimmy datang dengan Elaara dan naninya, Jimmy begitu syok mendapat kabar jika putranya menderita penyakit yang sama dengan mendiang Istrinya.


"Ella.." Kalila meraih putrinya dan menciumi seluruh wajahnya. Tangisnya kembali pecah saat kedua anaknya dalam dekapannya.


Jimmy sedang menemui Brian didalam, pria tua itu tidak menyangka jika putranya menyembunyikan rahasia besar yang selama bertahun-tahun tertutup rapat, hingga saat Brian dinyatakan sakit keras pria itu baru mengatakannya.


"Maaf kan Bri dad, Bri tidak tega saat Kalila hampir depresi waktu itu." Brian begitu merasa bersalah,. tapi dirinya yakin jika yang dia lakukan adalah hal yang benar. Dengan seperti itu dirinya hidup bahagia dengan keluarga kecilnya, tanpa ada bayang-bayang masa lalu dalam ingatan Kalila.

__ADS_1


"Kamu terlalu naif untuk menjaga perasaan seseorang, dan kamu sendiri tidak memperdulikan apa yang kamu rasakan." Jimmy menatap putra satu-satunya dengan penuh kesedihan.


Bagiamana bisa Brian menutupi semua dan menjaga perasaan Kalila tanpa bayang-bayang masa lalu, tapi Brian sendiri merasakan sakit setia melihat wajah Ellard yang akan mengingatkannya pada kejadian masa lalu.


"Bri tulus menyayangi dan mencintai Ellard dad, Bri begitu mencintai keluarga Bri." Brian meneteskan air matanya, jika Tuhan mengabulkan dirinya ingin bersama lebih lama lagi dengan keluarganya.


Jimny mengeadahkan kepalanya, menghalau air matanya agar tidak tumpah, sebagai seorang pria Jimmy tahu apa yang dirasakan oleh putranya selama ini, dan Jimmy cukup takjub dengan ketulusan putranya yang merawat Ellard dengan penuh kasih sayang dan cinta.


"Dad tolong panggikan mereka, dan_"


Rayan tidak mendekati ketiga orang yang sedang sedih, dirinya menjaga jarak.


"Papa." Kalila menatap ayah mertuanya dengan wajah yang sembab dan sendu.


"Masuklah nak, suamimu membutuhkan kalian." Jimmy mencoba menarik sudut bibirnya, meskipun hatinya juga hancur.


"Sayang kita lihat Daddy." Kalila mencoba menguatkan hatinya, meskipun rasanya ingin membenci, tapi rasanya kalah dengan perasaannya yang terlampau sedih.


Ceklek


Brian tersenyum disela-sela bibirnya yang pucat, melihat ke-tiga orang yang dia cintai datang mendekatinya.


Sedangkan Elaara Kalila dudukan di samping Brian.


Brian menyambut hangat pelukan tangan kecil putranya di tubuhnya yang lemah. Dan mendekap tubuh putrinya yang berada disampingnya.


"Hay Son." Brian mengecup pucuk kepala Ellard dengan sayang. "Hay princess." Brian juga mencium pipi gembul putrinya yang tersenyum.


Kalila yang melihatnya membuang wajah, dirinya tidak menyangka jika kedua pria berbeda usia itu tidak memiliki ikatan darah sama sekali.


"Daddy cepat sembuh, El tidak ingin melihat Mommy terus menangis."


Brian menatap wajah istrinya yang tidak mau melihatnya, Brian tahu Kalila menyembunyikan tangisnya.


"Jika Mommy menangis, El harus bisa membuat Mommy tersenyum." Brian mengusap wajah Ellard lembut, wajah yang selalu mengingatnya dengan masa lalu sang istri kala itu. Tapi dirinya membuang jauh kenangan masa lalu itu hingga cinta dan kasih sayangnya dengan Ellard begitu besar sama dengan putri kandungnya.


"Ada Daddy yang akan membuat Mommy terseyum, El tidak bisa." Anak kecil yang sudah bergaya dewasa itu menatap Brian dengan ekspresi datar.


Brian tersenyum, "Jika Daddy tidak ada, Ellard yang akan menggantikan Daddy untuk membuat Mommy tersenyum."

__ADS_1


"Kak." Kalila menginterupsi dengan menggelengkan kepalanya.


"Lihatlah Mommy kalian marah, tidak ingin memeluk Daddy." Ucap Brian dengan pura-pura berekspresi sedih.


Seketika El menatap ibunya. "Mommy Daddy lagi sakit, mommy tidak boleh marah." Ucapan Ellard membuat Brian tersenyum, meskipun kepalanya semakin berdenyut nyeri, tapi dirinya masih ingin menatap ketiga cintanya.


"Sayang kemarilah, aku ingin dipeluk kalian." Brian merentangkan tangannya, menyambut Kalila untuk mendekat dan memeluknya.


"Kak.." Kalila mendekat dan memeluk tubuh suaminya, bersama dengan Ellard dan Elaara yang juga memeluk Brian bersama.


"Aku mencintaimu Kalila, aku mencintai kalian." Brian menciumi pucuk kepala anak-anaknya dan mendaratkan kecupan dikening Kalila cukup lama.


"Kami juga Daddy, kami mencintai Daddy." Kalila menangis tak tertahan dengan dadanya yang sesak.


"Sayang aku punya permintaan terakhir untukmu." Disela-sela pelukan mereka, Brian membisikan sesuatu pada Kalila.


"Tidak kak, kau akan sembuh, kau akan menemaniku kita tua nanti." Ucapan Kalila terbatas, terlalu sesak dan sakit ketika dirinya ingin bicara.


"Tidak sayang, kamu tahu jika penyakit ku sudah stadium akhir dan itu berarti_" Brian mencoba mengatur napasnya yang sudah mulai sesak.


"Tidak kak." Kalila mencium bibir suaminya lembut, dan dibalas Brian dengan lembut.


"Berbagilah dengan kehidupanmu setelah ini, aku akan bahagia jika melihat kalian bahagia. Aku yakin di luar sana seseorang masih mengharapkan dirimu sayang, dan jika kamu bahagia maka aku juga akan bahagia melihat kalian dari kejauhan."


Tangis Kalila semakin pecah, Brian memeluk tubuh istrinya semakin erat.


"Percayalah dia juga akan menjaga anak-anak kita, seperti aku menjaga mereka." Tatapan Brian tertuju pada pada Rayan yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Tolong jaga dan cintai mereka seperti aku menjaga dan mencintai mereka."


Rayan membuang wajahnya, kedua matanya terasa panas melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya lantaran rasa sedih yang mendominasi.


"Kak aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Kalila mengusap wajah suaminya penuh cinta, tatapan matanya menyiratkan rasa sedih yang mendalam.


"Iya sayang, aku tahu. terima kasih sudah menjadi istriku dan menemaniku selama ini, jika ada kehidupan kedua nanti aku ingin ditakdirkan kembali hidup denganmu." Brian tersenyum pilu.


Tangisan terdengar begitu memilukan, Rayan yang tak kuasa menahan kesedihannya memilih untuk keluar.


"Maaf aku Bri, aku berjanji padamu."


.

__ADS_1


.


__ADS_2