
Satu Minggu kembali berlaku, keadaan yang sama untuk hubungan Rayan dan Kalila, bahkan Kalila sudah tidak menanggapi apapun yang Rayan lakukan.
Rayan sering menunggu Kalila pulang dari rumah sakit, bahkan ketika jam istirahat Rayan selalu muncul dengan makanan yang dia bawa.
Kalila sampai bermain petak umpet agar bisa menghindar dari Rayan.
Siang ini kalian akan berancana untuk bertemu dengan sahabatnya Ana, yang kebetulan sedang ada waktu untuk mereka bertemu kangen.
Ana menunggu Kalila di kafe seberang rumah sakit, kafe yang selalu memberikan Kalila gratisan menu jika sedang makan di sana, entah kebetulan atau memang ada even diskon, Kalila tidak tahu, dan tidak memikirkan itu.
"Kalila..!!"
Baru saja Kalila masuk ke kafe, dia sudah mendengar teriakan Ana yang memanggilnya, dan suara Ana mengalihkan antensi mereka.
Kalila mendelik, membuat Ana meringis, heran kenapa temanya ini tidak berubah meskipun sudah menjadi dokter, batin Kalila.
"Aaaa, Kal aku kangen." Ana langsung memeluk Kalila erat, Kalila melakukan hal yang sama, membalas pelukan sahabatnya itu yang sudah lama tidak bertemu, setahun.
"Aku kangen kamu An," Kalila mengeratkan pelukannya.
Apa yang mereka lakukan tidak luput dari pengunjung kafe, mereka hanya geleng kepala melihat dua orang yang heboh.
"Aku ngak nyangka bisa bertemu kamu lagi, Kal." Ana menjatuhkan air matanya, membuat Kalila terseyum haru, matanya juga tidak bisa menahan cairan bening yang keluar.
"Em, aku juga."
Keduanya masih merasakan momen kengen-kangenan hingga mereka tidak sadar jika ada pria yang sejak tadi berdiri dibelakang Kalila.
__ADS_1
Keduanya duduk, tapi Ana merasa aneh melihat pria yang berdiri tidak mau pergi.
"Kal, kamu bawa teman?" Tanya Ana melirik pria tampan dibelakang Kalila.
"Tidak." Kalila menggeleng, dan mengikuti arah mata Ana.
"Kak Bri." Kalila terseyum, dia tidak tahu jika Brian juga ada di kafe ini.
"Apa aku mengganggu kalian." Tanya Brian menatap Kalila dan Ana bergantian.
"Tidak, duduk saja." Kalila menyuruhnya, sedangkan Ana sudah senyum-senyum tidak jelas.
"Tapi mungkin kami akan mengabaikan kakak, karena kami mau kengen-kangenan." Ucap Kalila sambil nyengir.
"It's oke. Aku akan diam." Brian tersenyum, dan duduk disamping Kalila berhadapan dengan Ana.
Meraka mengobrol kesana kemarin, dan Ana yang paling heboh jika sudah bercerita, gadis itu menceritakan apa saja, membuat Kalila setia mendengarnya.
"Kalau begitu kita akan menghabiskan waktu berdua, aku juga akan ambil cuti." Ucap kalian tersenyum lebar.
"Aku yakin jika kamu tidak pernah refreshing, semejak tidak ada aku." Acap Ana percaya diri.
Kalila tertawa. "Karena hanya kamu teman ku satu-satunya."
Seperti yang di katakan Brian, pria itu hanya diam tanpa, suara. Dia sibuk dengan ponselnya.
"Kal, bagaimana hubungan_"
__ADS_1
Ana tidak jadi melanjutkan ucapanya, dia takut menyinggung Kalila, dan membuat Kalila sedih.
Kalila mengerti maksud ucapan Ana. "Kami sudah lama pisah rumah, dan kak Ray belum mau menandatangani surat perceraian itu, dia kekeh untuk tidak mau bercerai." Ucap Kalila terseyum miris.
Ana menatap Kalila sendu. "Yang sabar Kal, pasti ada rencana Tuhan yang baik untuk kamu." Ana menggenggam tangan Kalila.
"Makasih An." Kalila terseyum.
Brian yang mendengarnya hanya, diam pria itu mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
"Kal, mau aku kasih tau cara jitu." Ana menaik turunkan alisnya.
Kalila menatap Ana dengan dahi berkerut. "Cara apa?" Tanya Kalila yang tidak mengerti.
"Sini.." Ana menyuruh Kalila untuk mendekatkan wajahnya.
Dan Ana berbisik ditelinga Kalila. "Berikan servis yang panas, setelah itu kau curi tanda tangannya." Ana terseyum menyeringai, sedangkan Kalila membulatkan kedua matanya.
"Kamu ngaco.." Kalila mendelik, dan memukul lengan Ana.
"Ck, percaya Kal. itu jurus terjitu." Ana terseyum menggoda, membuat Kalila bertambah kesal.
Tak lama seorang pelayan datang mengatarkan makanan dan eskrim yang ternayata disukai Kalila.
"Maaf mbak tapi kamu tidak pesan." Kalila dan Ana memang tidak memesan itu, dan mereka bingung.
"Jangan bilang ini gratis lagi." Ucap Kalila dengan mata memincing, menatap pelayan itu.
__ADS_1
"Bukan mbak, ini hadiah dari seseorang untuk mbaknya." Setelah mengatakan itu, pelayan itupun pergi.
Kalila merasa ada yang aneh, hingga saat dia ingin bertanya pada Brian, pria itu lebih dulu menatapnya, dan membuat tatapan keduanya bertabrakan.