
"Selamat pagi Nona." Ronal sedikit memberi hormat pada Istri mantan bosnya.
Mantan bos?
Ya, sejak Rayan diusir dan coreng daftar namanya dari tuan Roy, pria itu sudah tidak punya wewenang di kantor.
"Kak, masuk." Ucap Kalila mempersilahkan Ronal untuk masuk kerumahnya.
"Terima kasih."
"Aku panggilkan kak Ray dulu, kak Ronal mau minum apa?"
"Tidak usah nona saya hanya butuh tanda tangan tuan." jawab Ronal membuat Kalila terseyum dan mengaguk mengerti.
Ronal duduk di sofa ruang tamu dirinya menunggu Rayan dengan tenang.
"Kak.." Kalila membuka pintu kamar dan melihat Rayan baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kenapa sayang? apa kau merindukanku?" Ucap Rayan dengan senyum anehnya. Pria itu bertelanjang dada dengan handuk putih yang melilit pinggangnya.
Kalila memincingkan mata, menatap Rayan julid. "Ck, ada kak Ronal menunggu dibawah." Ucap Kalila yang ingin berbalik untuk menuju pintu.
"Eh, mau kemana." Rayan mencekal tangan Kalila cepat.
"Mau kebawah siapin sarapan, memang kak Ray tidak berangkat kekantor?" Ucap Kalila dengan memicingkan mata menatap Rayan intens.
Rayan melepas cekalan tangannya pelan, "Yasudah jangan lupa ditambah cinta biar tambah kenyang." Ucap Rayan dengan menoel dagu kalila.
"Ish, apaan sih kak." Kalila melengos dan pergi untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
Rayan menatap pintu yang sudah kembali tertutup dengan sendu, "Maaf Kal, aku belum bisa jujur." Gumam Rayan dengan mengehela napas.
Rayan belum bisa menceritakan dirinya yang diusir dan dicoret dari daftar keluarga, Rayan tidak bisa jika Kalila pergi darinya karena Ia sudah tidak memiliki apa-apa.
Menuruni tangga Rayan melihat aisten, tepatnya mantan asistennya sedang duduk, dan Ronal yang melihat Rayan langsung berdiri dan sedikit menunduk.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan." Ucap Ronal memberi hormat.
Rayan hanya mengaguk, dirinya berjalan lebih dulu menghampiri sang istri.
"Sayang, hari ini aku dirumah." Ucap Rayan yang tiba-tiba memeluk Kalila dari belakang.
"Kebetulan kalau begitu." Jawab Kalila terseyum.
"Kebetulan apa?" Tanya Rayan yang penasaran.
"Aku punya kekuatan untuk kak Ray, jadi hari ini harus nurut sama aku." Ucap Kalila dengan menyodorkan jari kelingkingnya.
Rayan ragu, tapi tangannya terangkat juga untuk menautkan kedua jari kelingking mereka.
"Janji." Ucap Kalila terseyum.
"Janji sayang." Rayan ikut tersenyum, entahlah apa yang dimaksud janji oleh Kalila, yang jelas dirinya hanya ingin selalu berdua dengan Kalila.
"Udah sana, kasihan kak Ronal." Ucap Kalila, sedikit mendorong dada Rayan agar melepaskan rengkuhannya.
"Kak, rudalmu tolong dikondisikan." Ucap Kalila sinis, karena merasakan bo*ko*ngnya yang tiba-tiba terasa mengganjal.
"Em, dia ingin masuki rumahnya sayang." Ucap Rayan dengan lirih ditelinga Kalila.
"Kakkk..Um awas ihhh." Kalila langsung mendorong tubuh Rayan yang terus memeluknya.
Sedangkan Ronal dengan sabar menunggu Rayan.
"Oke-oke, setelah sarapan kamu yang gantian aku makan."
Cup
Rayan mencuri kecupan dibibir Kalila cepat, dan langsung pergi meninggalkan wajah Kalila yang cemberut.
"Dasar.." kesal Kalila menatap punggung Rayan yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Ikut saya keruang kerja." Ucap Rayan saat keluar dari dapur.
Meskipun jarak mereka sedikit jauh tapi Ronal bisa mendengar ucapan Rayan yang tegas.
"Apa yang kau bawa?" Tanya Rayan yang sudah duduk dikursi kerjanya, pria itu menatap Ronal datar.
"Tuan besar meminta anda untuk menandatangani surat-surat pemindahan." Ucap Ronal dengan memberikan berkas yang dia bawa.
Tangan Rayan terkepal dengan rahang mengeras. Kesalahannya memang fatal dan dia berhak mendapatkan hukuman, tapi Rayan tidak habis pikir dengan papanya, memperlakukan putra semata wayangnya seperti ini.
Tanpa membaca ataupun meneliti, Rayan langsung membubuhkan tanda tangan di atas beberapa kembaran kertas putih itu.
Ronal menatap tangan Rayan yang bergerak untuk menandatangani berkas yang dia bawa, hingga dibagian akhir Rayan menyelesaikannya.
"Sudah, dan pergilah." Rayan melempar berkas itu diatas meja didepan Ronal.
Dengan sigap Ronal menagmbil berkas yang dilempar Rayan, dan merapikan kembali setelah sempat berantakan.
"Terima kasih tuan, semoga hari-hari anda selalu bahagia." Setelah memberi hormat Ronal keluar.
"Asisten sialan!" umpat Rayan dengan kesal.
"Loh, Kak tidak ikut sarapan?" Tanya Kalila yang baru saja keluar dari area dapur, dan berpapasan dengan Ronal.
"Semua sudah beres nona, dan Nona hanya tinggal menunggu hasilnya." Ucap Ronal cepat, dan dia langsung pergi setelah mendengar suara seseorang sedang menuruni tangga.
"Bicara apa kalian?" Tanya Rayan yang berdiri didepan Kalila, dirinya melihat Ronal bicara dengan Kalila.
"Tidak ada, hanya mengajak kak Ronal makan. Tapi katanya dia buru-buru." Kalila terpaksa berbohong.
"Oh, ayo kita sarapan setelah itu aku mau jatah penutupnya." Ucap Rayan yang hanya ditanggapi Kalila cuek.
Tidak perduli dengan yang Rayan ucapkan, baginya mendengar kata-kata dari Ronal tadi sudah membuat hatinya senang, entahlah Kalila malah merasa senang jika Rayan sudah menandatangani surat yang dia inginkan. Dan Ronal yang berjasa membantunya.
Setelah ini Kalila harus bisa membuat Rayan menikah dengan Cantika. Tentu saja karena Kalila sudah menyiapkan semua di bantu Cantika.
__ADS_1