Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Syarat


__ADS_3

Hari ini Kalila memutuskan untuk mendatangi Rayan dikantornya, tangannya memegang map untuk dia minta tanda tangan langsung dari Rayan.


Masuk keperusahaan Rayan setelah lama dirinya tidak menginjakkan kakinya disini.


"Maaf nona, ingin bertemu siapa?" Tanya resepsionis wanita yang memang tidak tahu siapa Kalila.


"Saya ingin bertemu pak Rayan, apa beliau ada?" Jawab Kalila sopan.


"Apa anda sudah membuat janji?"


Kalila menghela napas, "Belum, tapi tolong sampaikan jika Kalila ingin bertemu."


Resepsionis itu memandang Kalila sebentar dan mencoba untuk menguhungi sekertaris Rayan.


"Maaf beliau sedang ada tamu tidak bisa diganggu, jika ingin menunggu silahkan tunggu di lobby."


Kalila hanya terseyum tipis, dan membawa langkah kakinya menuju sofa tunggu yang resepsionis itu tunjukan.


Dengan bosan Kalila menunggu, sudah satu jam dia duduk disana hanya untuk menunggu Rayan, yang masih statusnya sebagai suami.

__ADS_1


Satu jam lebih Kalila menunggu, hingga di memutuskan untuk pergi, tapi Ia mengurungkan niatnya ketika seseorang keluar dari pintu lift khusus petinggi.


"Ray, jika benar aku hamil maka aku ingin kita segera menikah." Cantika terseyum bahagia, dirinya sengaja datang kekantor Rayan dan memberikan Rayan kejutan yang Cantika tunjukkan.


Rayan tidak menjawab, pria itu sibuk dengan ponselnya.


"Ray, apa kamu tidak senang jika aku hamil." Cantika menghentikan langkahnya, membuat Rayan ikut berhenti karena lenganya digandeng Cantika.


Rayan menatap datar Cantika yang wajahnya ditekuk. "Apa alat itu masih kurang bukti, jika aku memang sedang hamil, kamu tahu Ray, kalau aku disini hanya berhubungan dengan kamu." Cantika tidak perduli mereka ada dimana, justru Cantika ingin semua tahu jika dirinya sedang mengandung penerus Ardhana Grub.


"Hentikan, apa kamu tidak malu." Tekan Rayan dengan tatapan tajam.


"Aku akan tanggung jawab dengan anak itu, tapi tidak dengan menikahi kamu. Karena aku hanya memiliki istri satu, yaitu kal_"


"Siapa bilang."


Suara yang familiar ditelinga Rayan, pria itupun berbalik dan mendapati Kalila yang berdiri dengan wajah datar di belakangnya.


"Kal, kamu disini. S-sejak kapan?" Rayan menelan salivanya susah payah, dia tidak tahu jika Kalila datang ke kantornya.

__ADS_1


"Lumayan lama menunggu kamu yang berduaan dan cukup tahu apa yang kalian bicarakan." Kalila bicara dengan santai, tidak ada raut kesedihannya ataupun terkejut yang di tunjukan wanita itu.


Cantika terseyum sinis, dia tidak suka melihat wanita yang bernama Kalila berada didekat Rayan.


"Kal, apa yang kamu dengar tidak_"


"Sudah Ray." Kalila menepis tangan Rayan yang berusaha menyentuhnya.


Aksi ketiganya menjadi tontonan karyawan yang masih wara-wiri di lobby, dan beruntung Ronal datang sehingga membubarkan mereka yang sengaja melihat bos besar sedang berseteru dengan dua wanita.


Rayan terdiam, baru kali ini Kalila memanggilnya tanpa embel-embel 'kak'.


"Kal, aku bisa jelasin. Aku akan tanggung jawab tapi tidak untuk menikah lagi." Ucap Rayan mencoba untuk menjelaskan.


Kalila mengernyitkan keningnya. "Aku tidak perlu penjelasan, aku hanya ingin kamu menandatangani ini." Kalila memberikan map yang sejak tadi dia pegang.


Rayan menggeleng, dia tahu apa yang dibawa Kalila meskipun tidak melihatnya.


"Cukup Kal, sampai kapanpun aku tidak akan sudi untuk menandatangani surat itu." Tekan Rayan dengan tatapan mata tajam. "Kecuali dengan syarat." Rayan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2