
"Mama sama Papa mau kemana?" Tanya Rayan yang baru saja tiba dirumah kedua orangtuanya.
Setelah pulang kantor Rayan sengaja mampir ke rumah kedua orangtuanya, seperti biasa, untuk makan malam. Tapi saat dirinya baru masuk, kedua orangtuanya sudah rapi seperti akan menghadiri pesta.
Saras Mama Rayan menatap suaminya dengan bingung.
"Papa dan Mama ada acara dikediaman rekan papa." Jawab tuan Roy dengan santai, menghilangkan rasa terkejutnya, karena tiba-tiba bertemu Rayan.
Rayan hanya mengaguk. "Jadi aku akan malam sendiri." Ucap Rayan lagi.
"Mama sudah memasukkan makanan kesukaan mu Ray, tapi maaf Mama dan papa ada acara." Ucap Saras dengan biasa saja.
Sejujurnya mereka akan menghadirkan undangan dari Ardian, tak lain orang tua Kalila yang mengundang mereka untuk menyaksikan pernikahan Kalila, mereka pun mendapat kabar yang mendadak.
"Baiklah hati-hati dijalan." Ucap Rayan terseyum, dan mencium pipi mamanya, lalu bergegas masuk ke dalam karena perutnya sudah lapar.
Tuan Roy dan Istrinya segera pergi karena memang tiga puluh menit lagi acara akan dimulai.
Rayan duduk di meja makan seorang diri, Mamanya tidak berbohong karena hidangan yang tersaji adalah makanan kesukaannya semua.
Dengan cepat Rayan mengisi perutnya yang lapar hingga lima belas menit kemudian dirinya sudah selesai.
"Loh Den, bibi kira ikut tuan dan nyonya." Ucap bik Sumi yang baru saja masuk dari arah belakang.
__ADS_1
Rayan menatap bik Sumi dengan alis terangkat satu. "Memangnya kenapa aku harus ikut bik." Jawab Rayan sambil menyeka bibirnya dengan tisu.
"Ya tidak apa-apa sih den." Bik Sumi menjadi kikuk sendiri. "Siapa tahu si Aden mau memberi ucapan sama non Kalila karena sedang menikah."
Jedeerrr
"Bagiamana saksi?"
"Sah..."
"Sah.."
"Alhamdulillah."
Semua yang hadir mengangkat kedua tangannya untuk melafalkan doa dan mengaminkan. Brian nampak lega, dengan satu tarikan napas dirinya sudah sah menjadikan Kalila halal baginya.
Bahagia?
Kalila tidak tahu seperti apa rasa bahagia untuk saat ini.
"Sayang." Brian menyentuh punggung tangan Kalila, membuat Kalila mendongak, dan tersenyum tipis.
Rayan membalas senyum tipis Kalila.
__ADS_1
"Sekarang silahkan pakaikan cincin dijari kalian." Ucap pak penghulu kepada mempelai.
Kania Mama Kalila sudah terisak diperlukan Karina. Senang ketika sang putri kembali menemukan kebahagiaannya, sedih karena Kalila harus mengalami nasib seperti ini.
Jika boleh tidak ada orang tua yang rela melihat putrinya tersakiti, tapi semua itu kembali pada takdir Tuhan yang menentukan.
Brian mencium kening Kalila dalam dengan durasi yang cukup lama. Seakan menyalurkan kasih sayangnya lewat ciuman itu.
Kalila memejamkan mata, tiba-tiba rasa hangat menjalar ke seluruh aliran darahnya, Kalila merasakan hatinya berdesir.
Setelah acara selesai, kini saatnya kelaurga dan tamu inti memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Kalila yang begitu cantik dengan riasan makeup natural dan sederhana berwarna putih, sedangkan Brian memakai pakaian dengan warna senada seperti Kalila.
Mereka nampak bahagia, kini wajah Kalila terlihat lebih berseri menyambut ucapan selamat dari beberapa tamu.
"Selamat nak, semoga kamu selalu bahagia." Nyonya Saras memberi selamat dan memeluk mantan menantunya dengan haru.
Dan Kalila menyambutnya dengan suka cita, Kalila juga menyayangi mantan ibu mertuanya itu, dan nyonya Saras juga sebaliknya.
"Makasih Mah, sudah mau datang." Balas Kalila ketika sudah melepas pelukannya.
Nyonya Saras hanya mengaguk, dan mencium kening Kalila. "Sampai kapanpun kamu tetap menjadi anak perempuan Mama." Air mata nyonya Saras sudah tak terbendung, beliau menangis, menyesali perbuatan putranya yang pernah dilakukan pada Kalila.
__ADS_1
Sedangkan diteras rumah, didepan pintu yang terbuka lebar, Rayan mengepalkan kedua tangannya, dengan setetes air mata jatuh dipipinya.
Perasaan Rayan hancur berkeping-keping, ternyata apa yang dia lakukan beberapa hari lalu, tidak bisa merubah apa yang sudah mereka rencanakan. Dan mereka tetap melakukan pernikahan ini.