Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Apa aku boleh?


__ADS_3

"Sayang, apa kamu masih didalam.?" Brian mengetuk pintu kamar mandi, saat baru masuk kedalam kamar.


Kamar Kalila yang kini menjadi kamarnya juga. Para kerabat dan teman dekat Brian baru saja berpamitan pulang dijam sepuluh malam, dan Kalila yang sudah lelah, meminta ijin untuk terlebih dulu masuk kedalam kamar.


"Iya kak!" Kalila sedikit berteriak dari dalam dan tak lama pintu terbuka.


Kalila melihat Brian yang sudah melepaskan pakaiannya dan hanya meninggalkan kaus putih polos yang mencetak tubuh kekarnya.


Kalila menelan ludah kasar, pasalnya ini kali pertama Kalila melihat tubuh Brian tercetak jelas meskipun tidak terpampang polos.


"Hey.." Brian menoel hidung Kalila dengan terkekeh, dirinya tahu jika Kalila terpesona dengan bentuk tubuhnya. "Terpesona hm." Ucap Brian dengan senyum khasnya yang lembut.


Kalila langsung menunduk, dirinya merasa malu dengan pipi yang merona.


"Em, mandi dulu kak, sudah aku siapkan air hangatnya." Ucap Kalila akhirnya, agar mengurangi rasa malunya.


Brian hanya mengaguk. "Apa kamu tidak mau membantuku mandi." Tangan Brian langsung menarik pinggang ramping Kalila, membuat dada Kalila menabrak dada bidang Brian.


Wajah keduanya terlihat sangat dekat, bahkan keduanya bisa merasakan hembusan napas satu sama lain.

__ADS_1


Tatapan mata Brian begitu dalam menatap wajah cantik wanita yang berada di dekapanya, yang kini sudah menjadi istri halal baginya.


"Kak.." Kalila memejamkan mata, saat bibir tebal Brian menyentuh bibirnya yang terasa hangat dan lembut. Brian selalu menciumnya dengan lembut, meskipun semakin lama semakin menuntut dan kasar. Tapi Kalila juga menyukainya.


Sebagai wanita dewasa dan sudah pernah membina rumah tangga, Kalila terkadang juga merindukan sentuhan yang membuat gairahnya naik, tapi untuk melampiaskan hasratnya Kalila bukan wanita yang haus akan S*k dan melampiaskan kepada seorang pria, contohnya pria bayaran.


"Emph.."


Napas Kalila tersengal dengan dada naik turun, Brian menyatukan keningnya dengan kening Kalila, napasnya juga terus berkejaran ketika hasratnya mulai naik dan menginginkan sesuatu yang lebih.


"Apa aku boleh melakukannya." Ucap Brian dengan menatap kedua bola mata Kalila dengan jarak dekat tanpa melepaskan kening mereka yang menempel.


Kalila membalas tatapan Brian, tanpa menunggu lama Kalila lebih dulu meraup bibir Brian dengan rakus.


"Emphh.."


Brian menyambut hangat apa yang Kalila lalukan, reaksi Kalila begitu berpengaruh pada tubuhnya.


Ciuman keduanya semakin panas saat Brian mulai menyusuri rahang sampai leher Kalila, memberi jejak kepemilikan untuk yang pertama kali.

__ADS_1


Kalila meleguh dengan kedua tangan yang meremat rambut Brian lembut. Kepalanya mendongak untuk mempermudah Brian mengekplor bagian yang diinginkan.


Kalila ingin mengusir bayangan yang selalu membuatnya terluka, bayangan yang selalu membuatnya kian tersiksa.


"Em.. kak Bri." Kalila mendesis dengan parau saat tangan besar Brian mulai menyentuh dua buah kelembutannya dengan merematnya pelan.


Brian yang sudah dikuasai kabut gairah justru semakin melancarkan aksinya saat mendengar Kalila mendesis membuatnya semakin bersemangat.


"Uumhh, kak." Kalila yang kakinya sudah merasa lemas mengalungkan tangannya dileher Brian.


Sekujur tubuhnya terasa lemas saat Brian mencucup dan menyesap pucuk kelembutannya secara bergantian.


Hap


Brian mengendong Kalila seperti koala, Baju kimono yang Kalila pakai sudah terkoyak menpilkan bagian dadanya yang terekpos tanpa penghalang apapun, kulit putih dan mulus itu kini menjadi banyak bekas tanda yang membuat Kalila terus menerus mengeluarkan suara lacnut nya.


"Ahhh kak."


.

__ADS_1


.


Nungguin apa? Hayooo ngaku 🤣


__ADS_2