
Yang diinginkan Brian terwujud pagi ini Kalila mual dan muntah hebat, dan saat Brian menyuruh Kalila untuk menggunakan respect, muncullah dua garis merah yang membuat Brian terseyum bahagia, hingga membuatnya terharu dan menitikan air mata.
Kebahagiaan Brian membuat Kalila juga ikut bahagia, wanita itu merasa beruntung memiliki suami seperti Brian Dominique.
"Mommy, El akan punya adik." Suara kecil bocah berusia tiga tahun setengah menyapa Kalila dan Brian yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kedua mata bulat Ellard yang berwarna cokelat mengedip lucu membuat siapa saja yang melihatnya pasti gemas.
"Iya sayang, kak El akan punya adik." Brian membantu Kalila untuk duduk di ranjang, setelah memuntahkan isi perutnya tadi.
"Mommy sakit." Ellard naik ke atas ranjang dan duduk disamping Kalila, tangan kecilnya memijat kaki sang Mommy.
Kalila terseyum, merasa tersentuh dengan perlakuan putra kecilnya. "Mommy tidak sakit sayang, hanya saja adik El, sedikit merajuk di dalam sini." Ucap Kalila sambil menyentuh perutnya yang masih rata.
Usia kandungan Kalila baru delapan Minggu, dan Ellard tahu akan punya adik saat grandpa Jimmy memberitahunya.
"Kata grandpa El akan punya adik cantik, seperti mommy."
Brian dan Kalila saling melirik dan tersenyum. "El mau adik bayi cantik?" Tanya Brian yang duduk disamping kiri Kalila, dan Ellard di samping kanan. Kedua pria berbeda generasi itu, saling memijit kaki Kalila satu persatu, dan tentu saja perlakuan Ellard karena Brian yang melakukanya setiap malam untuk Kalila. Putra kecil mereka mengikuti apa yang Daddy-nya lakukan.
"Mau, El mau adik cantik dan baik seperti mommy." Ellard terseyum senang.
Brian tertawa. "Mommy kira-kira kalau adik kak El, laki-laki Mommy harus siap kembali membuat adik cantik." Ucapan Brian tentu saja membuat mata Kalila melotot.
__ADS_1
"Kak, jangan bicara aneh-aneh, nanti El akan menagih" peringat Kalila pada Brian.
Putranya itu memang memiliki daya ingat yang kuat, dan jika belum kesampaian Ellard akan terus menagih.
"Mommy dan Daddy jangan berantem." Ucap Ellard kecil.
"Tidak sayang, mommy sama Daddy tidak berantem." Kalila mengusap surai putranya yang hitam sama seperti dirinya.
Kepala Ellard mengaguk.
"Sayang kamu bermain dulu sama nany, biar mommy bisa istrirahat." Ucap Brian sambil merentangkan kedua tangannya untuk meraih tubuh kecil putranya.
"Baiklah, tapi Ellard mau adik cantik." Ucap Ellard lagi dengan tatapan memohon.
"Kak, sudah kubilang jangan_"
"Ssttt." Brian mengecup bibir Kalila lembut. "Biarkan saja, toh aku yakin jika disini ada putri kita." Brian mengelus perut rata Kalila.
"Dih, sok seperti cenayang. Sok tahu." Ucap Kalila sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Brian malah tertawa.
"Percaya saja padaku sayang, pasti disini ada princess Kalila." Brian tersenyum lebar.
Kalila hanya tersenyum untuk menanggapi perkataan suaminya.
__ADS_1
"Kak, aku lihat di kotak sampah banyak sekali rambut, apa Kak Bri memotong rambut sendiri."
Deg
Tubuh Brian mematung, ucapan Kalila bagaikan belati yang menggores lukanya. Bukanya sakit hati tapi Brian lebih merasakan sakit jika Kalila tahu dirinya mengidap pernyakit yang mematikan.
"Em, iya sayang aku lupa membuangnya di luar maaf ya." Ucap Brian mengelak, dirinya tidak bisa jujur dengan Kalila tentang dirinya yang sedang dalam pengobatan.
Brian mengidap pernyakit kanker stadium tiga, dan Brian sering meninggalkan Kalila untuk melakukan pengobatan hingga memakan waktu berhari-hari, dan saat kondisinya mulai stabil Brian akan pulang kerumah untuk bertemu istri dan juga putranya yang sangat dia rindukan.
"Yasudah tidak apa-apa, aku pikir kak Bri mengalami kerontokan rambut karena suatu pernyakit." Ucap Kalila sambil bernapas lega. Pikiranya sudah negatif saat menemukan helaian rambut rontok di kotak sampah, karena yang Kalila tahu sebuah pernyakit juga bisa membuat rambut kita rontok. Dan sebagai dokter, meskipun bukan dokter ahli dalam Kalila juga mempelajarinya.
"Jangan berpikir yang macam-macam, aku baik-baik saja, bahkan membuat adik untuk Ellard dia lagi juga bisa."
Bugh
"Kak bicaramu keterlaluan." Kalila memukul dada Brian.
"Biarkan saja, bila perlu setiap tahun kau akan melahirkan."
Kalila membulatkan kedua matanya, menatap Brian kesal.
"Maafkan aku Kalila, aku tidak ingin membuatmu sedih, mungkin ini sudah takdir kita seperti ini, tapi aku bahagia bisa menjalani kehidupan yang mungkin tidak akan lama lagi bersama dirimu dan buah cinta kita."
__ADS_1
Brian divonis dokter sejak satu tahun lalu, karena sering mengalami sakit kepala dan mual. Asisten Brian membawanya kerumah sakit saat menemukan Brian tak sadarkan diri dikantor. Dan dari sana Brian mengetahui jika dirinya memiliki pernyakit yang mematikan, dan Brian mengingat sang ibu yang meninggal dengan pernyakit yang sama.