
"Sayang untuk apa kita kesini?" Rayan menatap Kalila dengan kening berkerut, apalagi melihat rumah asing yang tidak tahu milik siapa.
"Nanti kamu juga akan tahu, ayo kak." Kalila turun dari mobil lebih dulu, sedangkan Rayan tidak punya pilihan lain lagi selain menurut.
Kalila mengandeng tangan suaminya untuk masuk kedalam rumah yang cukup besar, dan Rayan hanya mengikuti kemana kaki Istrinya melangkah.
"Kal." Rayan menghentikan langkahnya ketika perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.
Kalila menoleh. "Kenapa kak? ayo kita sudah ditunggu." Ucap Kalila terseyum.
Rayan menatap wajah Kalila lekat mencari sesuatu yang disembunyikan wanitanya, tapi apa Rayan tidak bisa menebak apa yang sedang Kalila perbuat.
"Selamat datang Nyonya dan tuan silahkan masuk." Ucap seorang pelayan yang menyambut mereka didepan pintu.
Siang setelah acara makan memakan selesai, Kalila menagih janji Rayan yang akan mengikuti semua keinginan suaminya. Dan sekarang Kalila mengajak Rayan untuk menepati janjinya.
"Woah tamu yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga." Ucap wanita dengan gaun pengantin dan senyum lebarnya, mendekati dua orang yang begitu dia kenal.
Cantika menatap Rayan memuja, sedangkan Rayan hanya menatap datar wanita yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Lebih baik kita lekukan sekarang!" Ucap Kalila dengan tegas dan tatapan datar.
Rayan yang mendengar ucapan Kalila menoleh. "Apanya yang dilakukan sekarang?" Tanya Rayan dengan penuh curiga.
Kalila hanya diam. "Oke, kamu memang pintar menepati janji istir tua." Ucap Cantika dibuat-buat.
"Kal, apa maksudnya_"
"Kak Ray akan menikah dengan Cantika."
Deg
__ADS_1
Rayan menatap Kalila penuh tanda tanya. "Kenapa?" Tanya Rayan lirih. Sungguh hatinya terasa mencolos mendengar ucapan yang terlontar dari bibir wanita yang sudah sangat dia cintai itu.
"Karena memang kak Ray harus menikahinya bukan." Kalila menoleh dan menatap wajah Rayan. "Bukankah Cantika sedang mengandung darah daging kak Ray, selain itu bukankan mendiang Cintya juga meninggalkan surat untuk kak Ray menikahi Cantika, saudara kembar Cintya." Kalila menatap Rayan sendu, sejujurnya hatinya tidak setega dengan apa yang dia lakukan pada Rayan saat ini, hanya saja Kalila tidak bisa egois untuk memiliki Rayan dengan disisi lain ada wanita yang sangat membutuhkan Rayan sebagai ayah dari bayi yang dia kandung.
"Kal kamu_"
"Ck, sudahlah Ray. Lagi pula dia merestui kita untuk menikah."
"Tutup mulutmu wanita sia*lan!" Bentak Rayan dengan tatapan tajam.
Cantika hanya melengos dengan tatapan sinis.
Rayan kembali menatap Kalila yang sedang menunduk, dengan kedua tangan saling meremat.
"Sayang, ayo kita pulang." Ucap Rayan dengan menggandeng tangan Kalila untuk dia ajak keluar dari dalam rumah yang tidak dia inginkan.
"Mau kemana kau?" Suara tegas nan berat terdengar di telinga Rayan. Membuat Kalila dan Rayan menoleh kearah sumber suara.
"Daddy, dia tidak ingin tangung jawab." Ucap Cantika manja pada Daddy-nya.
Fred menatap Cantika dan tersenyum sekilas.
"Keluarlah jika kau bisa angkat kaki dari rumah ini." Ucap Fred dengan tertawa sarkas.
Rayan dan Kalila berbalik dan mereka terkejut saat melihat beberapa orang berpakaian hitam dengan tubuh yang tinggi dan tegap.
"Sial!" Rayan mengumpat ketika mereka tenyata menjebak dirinya dan Kalila disini.
"Kak mereka mau apa?" Ucap Kalila yang memegang lengan Rayan erat, tatapan Kalila menelisik satu persatu dari para pria tinggi dan gagah itu.
"Hahaha, lalukan saja jika kalian ingin pergi." Ucap Fred menatap Rayan dengan remeh.
__ADS_1
Rayan mengepalkan kedua tangannya. "Bandot sialan, apa mau mu!" Tegas Rayan dengan tatapan tajam.
Fred masih tertawa dengan tangan dirangkul Cantika. "Mudah saja, nikahi putriku." Ucap Fred dengan dingin.
Rayan terseyum sinis, sampai kapanpun aku tidak akan sudi menikah dengan wanita gila seperti dia!" Rayan menatap Cantika tajam yang malah tersenyum.
"Uhh...uhh uhh jaga ucapanmu anak muda." Ucap Fred dengan mengepulkan asap dari cerutu miliknya.
Rayan menatap geram. "Kak." Kalila menciut saat merasakan atmosfir yang semakin mencekam di ruangan itu. "Lebih baik kak Ray turuti saja, karena memang itu harus dilakukan ucap Kalila dengan pelan, seraya menatap wajah Rayan yang semakin mengeraskan rahangnya.
Sumpah demi apapun dia tidak akan menikahi wanita gila seperti Cantika, meskipun wanita itu sedang mengandung darah dagingnya.
"Akh, kak Ray!" Kalila menjerit ketika tangannya ditarik paksa oleh bodyguard Fred.
"Hey, lepaskan istriku!" Rayan yang ingin maju langsung dihadang dua orang bertubuh besar.
Fred tertawa renyah, "Lebih baik kau turuti permintaan putriku, kalau tidak maka_"
"Jangan coba-coba kau melukai istriku!" Sambar Rayan dengan tajam. Dadanya bergemuruh melihat Kalila yang meronta minta dilepaskan.
"Tidak semudah itu sayang, untuk melepaskan istri tercintamu itu." Cantika terseyum menyeringai.
"Dad dimana pak penghulunya?" Tanya Cantika dengan manja, membuat Rayan muak.
"Kak akh!" Kalila menjerit saat didepan tumbuhnya yang sudah terikat datang seekor ular yang membuat Kalila ketakutan.
"Kalila! hey kau lepaskan istriku." Rayan nekat mendekati Kalila, tapi belum sampai maju lima langkah tubuhnya sudah tertahan oleh kedua orang yang menghalanginya.
"Lepas! sialan!!"
Bugh
__ADS_1