
"Kal kamu sakit." Karina langsung memeluk adiknya.
Wanita yang usianya tidak jauh dari Kalila itu nampak khawatir karena Kalila mengirim pesan jika saudarinya sakit dan dirawat.
"Hanya kecapean kak." Kalila terseyum, meskipun orang berpikir Karina jahat tapi bagi Kalila, Karina adalah kakak yang baik.
Kalila memang mengirim pesan jika dirinya dirawat, dan karena itu Karina langsung datang.
"Mama, papa sedang berada diluar kota mereka tidak bisa menjengukmu." Ucap Karina membuat Kalila mengangguk.
"Tidak apa kak, Kalila hanya sakit biasa besok juga sembuh."
Karina mengusap kepala adiknya.
"Sekarang kak Rina makin cantik dan terlihat dewasa." Ucap Kalila tersenyum melihat penampilan Karina yang memakai pakaian kantor, kakaknya yang dulu model kini menjelma menjadi ibu CEO.
"Ck, ini semua gara-gara kamu yang milih jadi dokter, dan aku harus terjun dunia bisnis yang bikin pusing." Ucap Karina dengan kesal.
Wanita itu harus rela meninggalkan dunia modelnya yang bebas dan harus memulai dengan hal baru yang sama sekali bukan bidangnya, meskipun menjadi CEO tapi Karina tidak ingin menjadi seperti itu.
"Sabar kak, semua ada jalannya sendiri-sendiri dan kita harus terima." Kalila mencoba menghibur Karina. Pasti berat meninggalkan dunia yang digeluti Karina sejak dulu, dan dunia model adalah impian Karina.
"Sedih dek." Karina memeluk Kalila sedih, wanita yang terkesan urakan dan bebas itu merasa hidupnya sudah berakhir.
"Sabar kak, ini saatnya kakak tunjukin pada papa, jika kak Rina bisa." Kalila mengusap lengan Karina yang memeluknya.
"Hm, kakak mencoba menerima dengan baik, karena kakak tidak mau kelaurga kita miskin karena kakak tidak bisa mengelola perusahaan."
Plak
"Jangan menyerah sebelum berjuang, itu kan semangat kita."Kalila menepak lengan Karina lalu tertawa.
"Ya, dan kamu dulu yang suka mengeluh, tapi sekarang giliran ku." Karina ikut tertawa.
Dia senang bisa melihat Kalila yang tertawa, karena Karina yakin jika Kalila masuk rumah sakit pasti karena Rayan, meskipun begitu Karina tidak ingin membahas itu karena melihat Kalila yang bisa kembali tertawa sudah membuat Karina senang.
__ADS_1
"Kak, mau menginap disini kan?" Tanya Kalila yang melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Memangnya kenapa? apa suamimu yang akan menemani?" Tanya Karina balik, yang langsung mendapat gelengan kepala dari Kalila.
"Tidak, aku mau tidur memeluk kakak." Ucap Kalila yang tersenyum, memamerkan giginya yang rapi.
"Ck, kamu selalu manja meskipun aku sudah berbuat jahat." Karina memposisikan tubuhnya untuk berbaring di samping Kalila, ranjang yang tidak kecil dan tidak besar tapi muat untuk berdua.
"Sudah kak, jagan bahas masalah itu lagi." Ucap Kalila yang mengingat masa lalu beberapa bulan kebelakang.
Dimana kehidupannya yang langsung berubah setelah kecelakaan yang menimpa mereka.
"Hm, maaf Kal." Karina berkata lirih sambil memejamkan mata, kedua kakak beradik itu saling menyayangi dan karena rasa sayang itu membuat salah satu dari mereka rela menutupi masalah yang dihadapi, dan Kalila menutupi perbuatan yang Karina lakukan.
Kalila menatap langit kamar ruang inapnya, dirinya memikirkan Rayan, apa pria itu sudah pulang atau sedang bersenang-senang dengan wanita itu, Kalila ingin rasanya menghilangkan pikirnya dari Rayan tapi pria itu selalu muncul di benaknya.
.
.
.
Rayan memasuki rumah yang keadaannya gelap gulita, bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dirumah itu. Langkah kakinya Ia seret sampai dalam.
Pyarr
Ruangan tengah begitu terang ketika dirinya menekan saklar lampu, tapi keadaanya masih sama, sama seperti tadi pagi.
"Kal..!!" Rayan berteriak memanggil Kalila. "Kalila..!!" Dua kali Rayan berteriak tapi Kalila tak kunjung muncul, biasanya Rayan tidak pernah memanggil tapi Kalila sudah muncul dihadapannya tanpa disuruh, dan ternyata kebiasaan Kalila yang sering muncul kini ketika gadis itu tidak ada Rayan mencarinya.
"Kalila buatkan aku makanan, aku lapar." Ucap Rayan dengan suara sedikit keras. Tumbuhnya terasa lemas dan kepalanya terasa pusing. Jangan lupakan jika Rayan melupakan makan siangnya karena tidak berselera, pria itu malah sibuk dengan pekerjaannya yang semakin berantakan karena ulahnya yang tidak bisa fokus.
Rayan yang kesal beranjak berdiri, pria itu perlahan dengan kepala yang semakin berdenyut melangkah menuju kamar Kalila.
"Kal, kau tidak mendengar ku." Rayan mengetuk pintu, tapi tetap tidak ada jawaban.
__ADS_1
Rayan yang tidak sabar dan juga kesal menerobos masuk dan dirinya melihat jika kamar Kalila kosong.
"Kalila.." Rayan memanggil tapi sama sekali tidak ada sahutan.
Rayan masuk dan melihat lemari kecil Kalila, isinya masih ada, jadi Kalila tidak pergi.
"Ahh, sakit sekali." Rayan terduduk diranjang kecil Kalila, kepalanya begitu berat dan pandanganya berkunang-kunang.
Rayan yang merasa matanya berat pun tergeletak di kamar Kalila, pria itu tak sadarkan diri.
Semenjak kecelakaan yang terjadi, Rayan memang tidak pernah melakukan olahraga ataupun gerakan kecil hanya untuk melatih ototnya, jadi jika Rayan mengabaikan kesehatannya pria itu sudah tidak sekuat dulu dan akan tumbang seperti sekarang.
"Kal, lu mau makan apa?" Karina Kalila keluar dari kamar mandi dan Karina sedang membereskan ranjang pasien yang semalam mereka tiduri.
"Aku pengen makan nasi uduk kak, tolong beliin ya." Kalila menatap Karina memohon.
"Nyesel gue Kal, nawarin lu makan." Dumel Karina yang harus pergi mencari nasi uduk permintaan Kalila.
"Em, kan aku lagi sakit biar cepat sembuh." Ucap Kalila dengan wajah imutnya.
"Kalau kamu sudah meminta, itu tandanya kamu sudah sembuh." Ucap Karina dengan menatap Kalila memincing.
Kalila hanya mencebik, "Udah gih aku lapar." Ucap Kalila yang sudah kembali duduk di ranjangnya.
Karina hanya memutar bola matanya malas. "Untuk adik gue, kalau bukan udah gue cekik lu." Kesal Karina dan berlalu pergi, sedangkan Kalila hanya tertawa.
Karina berjalan di koridor rumah sakit dengan ponsel ditanganya, karena tidak melihat jalan dengan benar Karina menabrak pengguna jalan lain.
"Auss, kalau jal_ Eh kamu kan." Karina yang ingin memaki tidak jadi, karena melihat pria yang dia tahu asisten Rayan.
"Maaf tuan." Ucap perawat yang merasa jalanya terhalangi ketika akan mendorong barankar pasien.
Ronal yang tersadar langsung bergegas membantu menarik brankar itu. "Maaf, kalau jalan tolong hargai orang lain." Ucap Ronal dingin.
Karina tidak perduli apa yang Ronal katakan, karena matanya fokus pada pria yang nernaring pucat di atas barankar.
__ADS_1
"Rayan."