Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Rayan yang menciptakan masalah


__ADS_3

Brian menatap wajah Kalila yang terlelap, pria itu tersenyum, lalu berjalan menuju sofa untuk duduk bersama Ardian yang tak lain adalah Om nya.


"Bri, kenapa kamu tidak beri tahu Om." Ucap Ardian ketika tahu jika Brian yang membebaskan Kalila.


Kania dan Karina hanya diam mendengarkan kedua pria itu bicara.


Brian mengehela napas, "Itu permintaan Kalila Om," Jawab Brian.


Karina memutar bola matanya malas. "Kak Bri terlalu nurut sama Kal,"


Brian hanya terseyum menanggapi perkataan Karina. "Apa yang bisa aku perbuat jika Kalila sendiri yang memohon untuk tidak memberi tahu Kalian, dan kamu Karina." Brian menatap Karina. "Kami adalah kakak yang tega."


Karina membulatkan kedua matanya, dirinya tidak suka jika Brian mengatainya 'tega' meskipun benar apa adanya, tapi Karina tidak suka jika Brian yang mengatainya.


"Kau_"


"Sudah cukup." Potong Ardian menatap Karina tajam.


Karina pun langsung diam.


"Mah, Pah kalian ngapain?" Kalila tiba-tiba bangun dan sudah duduk, dirinya mendengar jika kakanya sedang berdebat.


"Kal, kamu sudah dibangun." Karina langsung berdiri, dan sebelum itu dia menatap tajam pada Brian.


"Kakak tidak kerja." Kalila terseyum, ketika Karina memeluk dan menciumnya.


"Tidak, makanya aku disini." Karina duduk disamping Kalila duduk.


Kania mendekati kedua putranya. "Kata dokter Kalila sudah boleh pulang hari ini."


Kalila terseyum lebar, "Akhirnya, aku pengen pulang kerumah aku rindu kalian." Ucap Kalila, sepontan tapi itu juga mewakili kemauannya dalam hati.


"Tentu saja sayang, kita akan pulang dan berkumpul kembali." Kania mencium Kalila dan memeluknya. Karina yang berada diantara mereka tidak mau kalah, dan juga ikut memeluk keduanya.


Brian dan Ardian hanya tersenyum melihatnya, dua pria itu hanya bisa mendoakan semoga wanita-wanita yang mereka cintai itu selalu diberikan kebahagiaan.


Brak


Rayan melepas berkas yang baru saja Ronal berikan, pria itu marah dan kesal ketika melihat selembar kertas surat gugatan cerai dari Kalila. Yang Rayan yakini jika surat itu berasal dari papa mertuanya.


"Jangan harap aku akan menandatanganinya Kalila." Geram Rayan yang merasa sesak. Entah mengapa dirinya merasa kesal dan juga menyesal secara bersamaan.


"Tuan anda mau kemana?" Tanya Ronal yang melihat Rayan pergi begitu saja dari ruang kerjanya.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu." Ucap Rayan dingin.


Ronal hanya bisa menghela napas, melihat pungung Rayan yang menghilang dibalik pintu.


"Mungkin ini takdir Tuhan untuk anda tuan." Gumam Ronal menatap pintu yang tertutup kembali.


Ronal pikir tuanya akan berubah untuk memperlakukan Kalila, tetapi malah sebaliknya. Ronal pun tidak kembali berharap ketika selembar kertas gugatan perceraian dari Kalila.


Rayan mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah lama tidak dia datangi, tempat yang dulu sering dia kunjungi bersama Cintya, dan semenjak kecelakaan itu Rayan tidak pernah lagi menginjakan kaki di bar langganannya kecuali terakhir disaat dirinya pertama kali menyentuh Kalila.


Ya menyentuh Kalila?


Rayan tersenyum, dia merindukan wajah seksih Kalila, tubuh polos dengan keringat bercucuran apalagi wajah cantik dan seksih Kalila saat mendapatkan pelepasan, sungguh Rayan merindukan kebersamaan itu, kebersamaan yang membangun gelora dan melebur menjadi satu.


"Tuan, apa mau lagi?" Tanya betander yang menawarkan kembali satu sloki untuk Rayan.


"Ya," Rayan langsung mengambilnya dan menenggaknya hingga tandas dengan sekali tegukan.


Kepala Rayan sudah terasa berat, bahkan penglihatannya sudah berkunang-kunang.


"Ray, kamu disini." Cantika menepuk pundak Rayan, dari belakang.


"Chintya." Gumam Rayan membuat Cantika terkekeh.


"Ternyata kamu sudah mabuk." Cantika terseyum tipis. "Baguslah."


Cantika hanya diam, "Ray, sebaiknya kamu istirahat." Cantika merangkul lengan Rayan untuk dia papah.


"Cintya, kamu mirip sekali dengan Cintya." Rayan sudah negelantur, tangan pria itu sudah merambat menyentuh Cantika yang dia pikir Cintya.


"Ah, Ray kamu tidak sabaran." Cantika sedikit kesusahan untuk membawa Rayan karena tumbuhnya kalah besar dari Rayan, dan apalagi sejak tadi tangannya tidak mau berhenti.


Bugh


Cantika melemparkan tubuhnya Rayan diatas ranjang kamar yang tersedia di klab itu, tidak sulit bagi Cantika untuk mendapatkan kamar, baginya sangatlah mudah.


"Em,.Kal aku menginginkanmu." Rayan menarik tangan Cantika yang akan meninggalkannya.


"Kal, siapa Kal Ray?" Tanya Cantika yang penasaran, Rayan memiliki wanita lain.


"Kal, aku ingin kamu." Rayan tidak mengindahkan ucapan Cantika, tanganya menarik tengkuk Cantika dan melumatt kasar dan dalam bibir Cantika.


Cantika yang mendapat serangan menerima dengan senang hati, Cantika membuka mulutnya agar Rayan mengekplor rongga mutunya.

__ADS_1


"Emph, shh Ray." Cantika mendesis disamping telinga Rayan.


"Sedangkan Rayan asik melahap dan menyesap pucuk buah dada Cantika.


Dalam penglihatan Rayan, wanita yang berada dibawah lingkungannya adalah Kalila, dan pada kenyataanya dia menciptakan masalah besar setelah ini.


"Ray, aku tidak tahan, uuum." Cantika pun membuka pakaian yang Rayan kenalan, karena sejak tadi dress yang Cantika pakai sudah tersingkap dengan tumbuhnya yang sudah setengah telanjang.


Rayan yang sudah dikuasai kabut napsu bergerak cepat, melepas kain yang masih menempel pada tubuh Cantika.


"Kal, aku mencintaimu."


Deg


Cantika berhenti sejenak, wanita itu mencerna nama yang di katakan oleh Rayan, meskipun Cantika berpikir keras tapi dia juga tidak menemukan siapa Kal yang dia maksud.


"Ahh, Kal kenapa rasanya berbeda." Meskipun bibirnya berkata demikian, tapi Rayan tetap bergerak cepat untuk mencari kepuasan.


Cantika yang mendengar ucapan Rayan, kesal.


Cantika menarik tengkuk Rayan untuk dia ***** bibir Rayan penuh gairah.


"Shh, Ray aku beruntung malam ini bisa merasakan milikmu, engh."


Cantika terus mendesahh dan merintih nikmat dibawah Kungkungan tubuh Rayan yang terus bergerak maju mundur, mencari kepuasan didalam lembah basah yang begitu menggiurkan.


Tapi Rayan masih bisa merasakan jika lembah yang dia masuki kali ini berbeda, meskipun begitu Rayan tidak perduli yang penting dia busa bercinta dengan Kalila yang dia rindukan.


"Ugh, Ray aku mau sampai, arrgh."


Tubuh Cantika bergetar, tapi tidak dengan Rayan yang semakin kuat dan cepat menggerakkan pinggulnya.


"Aah, aku mau sam_ Ahh"


Hentakan ketiga Rayan meledakkan miliknya kedalam rahim Cantika, wanita yang dia anggap Kalila, dan berharap kecebong miliknya membuahkan hasil seperti yang dia harapkan, agar mereka tidak jadi berpisah.


"Uhh, Ray kau hebat."


Rayan yang terlentang kesempatan Cantika untuk kembali membangunkan gairah pria itu, Cantika melumatt dengan rakus bibir Rayan dengan dirinya yang duduk diatas Rayan.


"Kal kau nakal." Ucap Rayan yang merasakan alat tempurnya kembali bangkit, ketika wanita di atasnya menggodanya lagi.


"Aku tidak peduli siapa yang kau sebut Ray, yang jelas aku bisa mendapatkanmu setelah ini."

__ADS_1


"Ahh."


Keduanya kembali berperang dengan peluh, Rayan tidak sadar jika dirinya menciptakan malapetaka bagi dirinya sendiri. Setelah sadar Rayan pasti akan menyesal.


__ADS_2