
Sejak tadi wajah Rayan ditekuk apalagi kini hanya ada Ronal yang menemaninya di ruang rawat, pria itu sejak tadi menunggu kedatangan Kalila siapa tahu akan menjenguknya, tap hingga malam Kalila tidak muncul juga.
Ronal yang sejak tadi diruangan itu hanya diam, dia enggan mengeluarkan suara karena pasti tidak akan didengar. Sebenarnya Ronal cukup kesal dengan Rayan, selain pekerjaanya yang banyak dikantor, dirinya harus bolak balik ke rumah sakit, memeberikan laporan penting yang membutuhkan tanda tangan Rayan.
"Tuan sebaiknya anda istrirahat, saya ingin keluar sebentar." Ucapnya yang lagi-lagi hanya angin lalu untuk Rayan.
Ronal tidak tersinggung, pria itu sudah terbiasa degan yang Rayan lakukan, Ronal tidak ambil hati.
Rayan melempar ponselnya dikaki. "Arrghh." Mengusak rambutnya kasar Rayan kembali menyesali perbuatannya.
Sungguh menjalani hidup seperti ini tidak enak.
"Kak Ronal, sedang apa?" Kalila yang baru saja selesai melayani pasien terakhirnya, keluar terkejut melihat Ronal yang berdiri didepan pintu ruang prakteknya.
"Nona, apa anda tidak ingin menjenguk tuan." Ucap Ronal sedikit menundukkan kepalanya.
Kalila menatap Ronal. "Memangnya kenapa? bukankah kak Ray sudah di tanganin dokter." Ucap Kalila.
Ronal mendongak. "Apa anda benar-benar sudah tidak ingin menemui tuan?" Bukan menjawab Ronal malah melempar pertanyaan.
Kalila tertegun. "Aku_"
"Tuan sakit karena tidak teratur soal makan, apa anda tau jika tuan melakukan itu hanya untuk membuat anda perhatian kepadanya kembali." Tutur Ronal benar adanya. "Saya harap anda mau menjenguk tuan meskipun hanya sebentar."
Setelah mengatakan itu Ronal pergi dari hadapan Kalila.
Kalila meremas snelli yang dia pegang, jujur dirinya ingin sekali menemani pria itu, tapi Kalila juga tidak mau tersakiti untuk yang kedua kali jika dirinya harus kembali kepada Rayan.
Cukup diirinya menerima penderita dari Rayan selama satu tahun ini.
"Mungkin sebagai sahabat tidak apa." Gumamnya. "Ya, hanya sebagai sahabat tidak lebih." Kalila memutusakan untuk menjenguk Rayan.
Dia mengesampingkan egonya untuk tidak terlalu berlebihan menjaga jarak pada Rayan, meskipun dalam hati masih memiliki perasaan pada Rayan.
Kalian tersenyum ketika tangannya sudah meraih gagang pintu ruang rawat Rayan, dan mendorongnya pelan.
Matanya menatap pria yang duduk diatas ranjang dengan sendu, hatinya terasa diremas ketika melihat pemandangan yang memang seharusnya tidak dia lihat.
Rayan sedang bercumbu dengan wanita, yang Kalila yakini adalah Cantika, wanita yang dekat dengan suaminya itu. Rayan masih menjadi suami Kalila karena memang mereka belum resmi bercerai.
Kalila seperti disandarkan dengan kenyataan, jika dirinya memang tidak ada artinya untuk Rayan, perkataan pria itu terakhir kali, jiak dia mencintainya adalah bualan semata, mungkin Rayan hanya ingin membuatnya tetap tinggal dan kembali tersakiti.
Tanpa terasa air mata Kalila menetes, melihat bagaimana Rayan begitu panas bercumbu dengan Cantika.
"Nona, kenapa anda tidak masuk." Suara Ronal membuat kedua insan yang sedang menikmati ciuman itu terlepas.
__ADS_1
"Oh," Kalila buru-buru menyeka air matanya." Maaf kak, aku harus segera pulang." Kalila berlalu pergi dengan berlari, wanita itu enggan untuk kembali menoleh kebelakang.
"Kalila."
Deg
Rayan yang baru menyadari jika Kalila berada disana segera melompat turun dari ranjang.
"Auwss."
"Ray awas." Cantika panik saat Rayan melompat dari ranjang, bahkan infus Rayan sampai mengeluarkan darah.
"Kalian tunggu..!!"
Rayan melepas paksa selang infus ditanganya, pria itu berlari mengejar Kalila tanpa menggunakan alas kaki.
Bugh
Ronal yang sedang berdiri diambang pintu melihat kepergian Kalila tertabrak oleh Rayan.
"Kenapa kau tidak menahannya." Rayan menatap tajam Ronal.
"Untuk apa? Untuk melihat anda bercumbu dengan wanita lain? saya harap nona tidak akan kembali lagi." Kekesalan Ronal yang sudah diubun-ubun.
Bugh
"Kal, tunggu Kal..!" Rayan melihat Kalila yang terus berlari, dirinya sedikit kesusahan untuk mengejar Kalila, karena jaraknya lumayan jauh.
Cantika yang kesal mengikuti kemana Rayan pergi, wanita itu tidak tahu ada hubungan apa antara Rayan dan Kalila. Cantika merasa penasaran dan juga kesal. Karena Kalila bisa bebas dari laporan yang dirinya buat, Cantika semakin membenci Kalila.
"Kalila berhenti." Rayan mencekal tangan Kalila dan menariknya kuat hingga Kalila terjerembab dalam dekapan Rayan.
"Aahh." Kalila menahan tangannya didada Rayan, Wanita itu berontak ketika Rayan memeluknya erat.
"Jangan pergi." Rayan bergumam lirih, tangannya memeluk erat tubuh Kalila dalam pelukannya.
"Lepas kak, aku mau pulang..!!" Kalila meronta memukul dada Rayan agar melepaskannya.
"Tidak Kal, tidak." Rayan menggeleng, dia rela tubuhnya dipukuli asal Kalila tidak pergi.
Cantika dengan napas tersengal berdiri dibelakang keduanya, tangannya mengepal erat melihat keduanya berpelukan.
"Maafkan aku Kal, aku melakukan itu karena aku frustasi. Aku seperti ini hanya ingin mendekatkan perhatianmu kembali aku merindukanmu Kalila, aku mencintaimu." Rayan menciumi pucuk kepala Kalila, pria itu tidak perduli jika aksinya dilihat orang banyak.
Rayan menangkupkan wajah Kalila menggunakan kedua tangannya, mengusap air mata yang mengalir di pipi wanitanya, Rayan menatap Kalila memohon. "Kumohon pulanglah kerumah Kal, kita perbaiki semuanya, Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang aku buat. Aku akan menjadi suami yang baik untukmu."
__ADS_1
Kepala Kalila menggeleng ditangan Rayan. "Ngak kak aku_"
"Ray, apa kamu melupakan malam panjang kita kemarin, bagaimana jika aku hamil Ray."
Mendengar suara wanita lain, Rayan menoleh kebelakang, begitupun Kalila yang tertutupi oleh tubuh Rayan.
Cantika terseyum sinis pada Kalila. "Lebih baik kau pergi pembunuh, kau tahu kami sudah menghabiskan malam panjang bersama, bahkan tidak hanya satu kali dan kamu tahu, Rayan menumpahkan benihnya didalam dan pasti kamu tahu itu berar_"
"Diam kau sialan..!!" teriak Rayan dengan emosi, matanya menatap Cantika nyalang. "Jangan ikut campur, kau hanya jal**ng pemuas napesuku saja." Ucap Rayan dingin, dengan tatapan tajamnya.
Cantika semakin mencekam erat kepalan tangannya, dia tidak terima jika Rayan menganggapnya hanya penghangat ranjang.
"Ray kau_"
"Cukup..!!"
Kalila berteriak dan mendorong dada Rayan menjauh.
"Kal kau mau kemana?" Rayan kembali mencekal tangan Kalila. "Jangan dengarkan dia sayang." Kepala Rayan menggeleng.
"Cukup kak, lepaskan." Kalila menyentak tangan Rayan hingga terlepas.
Kalila menatap Rayan dengan air mata yang sudah mengering, bergantian menatap Cantika yang menatapnya penuh dengan kebencian.
"Saya rasa kita akhiri sampai disini, lebih baik anda selesaikan masalah anda dengan dia, dan saya terima tidak akan mengusik kehidupan anda. Besok saya akan menandatangani surat perceraian_"
"Tidak ada perceraian Kalila..!! tidak ada..!!" Rayan berteriak emosi.
Rayan tidak perduli orang-orang yang mamandangnya aneh.
Kalila memejamkan mata ketika kedua bahunya dicengkeram begitu kuat oleh Rayan, sampai terasa ngilu.
"Tidak ada perceraian di antara kita, camkan itu." Tekan Rayan dengan suara bergetar, tatapan tajam menahan amarah dengan dada yang terasa begitu sesak.
"Kak kau menyakitiku." Air mata Kalila jatuh seketika, tatapan matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Rayan tersadar tanganya terlepas dari kedua bahu Kalila. "Sayang aku_aku tidak sengaja." Rayan ingin meraih tubuh Kalila tapi wanita itu sudah mundur.
"Jangan mendekat kak, kau tidak akan pernah bisa berubah." Kalila menggeleng. "Tidak akan."
Kalila berbalik dan pergi, dirinya berlari kearah pria yang sejak tadi berdiri diam hanya melihat pertengkaran mereka didepan umum.
"Kak.." Kalila langsung memeluk Brian, dan menumpahkan tangisannya yang terdengar pilu.
Tangan Brian terangkat untuk mengelus punggung wanita yang dia cintai dalam diam.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu." Ucap Brian lembut.
Rayan yang melihatnya mengepalkan kedua tangannya kuat, dengan amarah yang menggebu-gebu.