
Seperti yang disarankan oleh sahabatnya Kalila melakukan hal yang tidak di ketahui siapa pun. Dan dirinya akan menerima permintaan syarat dari Rayan dengan senang hati, karena pasti Kalila akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dengan bantuan Fani pasti Kalila akan berpisah dari Rayan.
Bukannya Kalila tidak ingin kembali memperbaiki hubungannya bersama Rayan, hanya saja Kalila tidak ingin mengorbankan anak dari yang Cantika kandung, dan Kalila bukan wanita jahat yang tega memisahkan anak dari orang tuanya.
"Terima kasih mbak." Kalila terseyum pada Fani, dokter Obgyn terbaik dirumah sakitnya.
"Kamu seperti sama siapa saja." Fani tersenyum.
Ya, Fani adalah teman dan rekan kerja yang abik untuk Kalila.
"Jangan ragu jika ingin meminta tolong." Ucap Fani yang di angguki Kalila.
Kalila berjalan keluar dari rumah sakit, hari sudah sore dan dia akan bicara kepada kedua orang tuanya untuk hal ini, Kalila hanya ingin mendapatkan dukungan dari mereka orang-orang yang Kalila sayangi.
"Halo.."
Kalila mengangkat panggilan telepon yang masuk.
"Aku_"
__ADS_1
"Lihatlah kebelakang."
Kalila langsung menoleh kebelakang dan dia melihat senyum manis pria yang dulu membuat hatinya berdebar. Pria itu berjalan mendekatinya dengan senyum yang masih mengembang, dan bahkan Rayan membawakan buket bunga yang Kalila sukai.
"Aku tahu jika kamu ingin menolakku." Ucap Rayan tersenyum, dan menyodorkan buket bunga itu pada Kalila. "Dan karena itu aku memilih lebih dulu berada disini agar tidak mendapat penolakan darimu."
Kalila menerimanya, "Em, terima kasih." Jawabnya pelan.
Rayan tersenyum, mengangguk. Dia sengaja datang lebih awal hanya untuk menjemput Kalila, karena jika tidak Kalila pasti akan menolaknya.
"Ayo kita pulang." Rayan meraih tangan Kalila, pria itu selalu menampilkan senyum akhir-akhir ini.
Rayan yang sudah ingin berjalan berhenti, dan berbalik menatap Kalila.
Bibirnya tersenyum tipis. "Kenapa? sudah tidak sabar pulang kerumah kita." Ucap Rayan yang malah melingkarkan tangannya di pinggang Kalila.
Tatapan keduanya bertemu saling pandang. "Tapi sepertinya kamu harus ijin dulu jika ingin kembali tinggal bersamaku." Ucap Rayan dengan senyum yang menyebalkan bagi Kalila.
Bugh
Kalila memukulkan buket bunga pada dada Rayan, dan Kalila segera berjalan meninggalkan pria yang masih tersenyum seperti orang gila itu.
__ADS_1
"Ck, kamu lucu jika malu-malu begitu." Ucap Rayan pelan, lalu mengejar langkah Kalila yang berjalan lebih dulu.
Seperti yang dikatakan Rayan, jika Kalila harus meminta ijin pada kedua orang tuanya, meskipun seharusnya tidak perlu karena Rayan adalah suaminya, hanya saja masalahnya kali ini berbeda. Kedua orang tua Kalila sudah tidak percaya lagi dengan Rayan.
"Tapi nak apa kamu yakin." Mama Kania menatap putri keduanya dengan tatapan sendu.
Kalila yang mengemas pakainya kedalam koper berhenti sejenak. "Percayalah Mah, Kalila akan baik-baik saja dan hanya cara ini Kalila bisa mendapatkan tanda tangan kak Ray." Kalila terseyum untuk meyakinkan Mamanya, meskipun dia sendiri mulai ragu jika hatinya akan kembali luluh dengan perlakukan Rayan yang sudah jauh berubah.
"Mama hanya bisa berdoa, semoga kamu selalu bahagia." Kania memeluk putrinya, dia yang tidak rela dengan keputusan yang Kalila ambil, tapi mau bagaimana lagi semoga ini jalan yang terbaik setelah ini.
Sedangkan dilantai bawah, kedua pria yang berbeda usia saling diam dengan aura yang dingin, Ardian sejak tadi menatap Rayan tajam dan tidak suka, sedangkan Rayan hanya diam karena memang ini kesalahannya.
"Apa rencana mu dengan waktu dua bulan?" Tanya Ardian dengan tatapan datar pada Rayan.
Rayan mendongak menatap papa mertunya dengan tegas. "Jika dalam waktu dua bulan Kalila tidak mengandung, maka saya akan menandatangani surat perceraian itu." Ucap Rayan tegas, karena dia yakin jika Kalila akan hamil setelah dua bulan tinggal bersamanya, dan dalam waktu itu Rayan akan membuat Kalila hamil anaknya.
.
.
Jangan lupa ada "AMEER UNTUK GWEN" Di Apk F*Z🥰🥰
__ADS_1