
"Em, sepertinya begini sudah lebih baik." Kalila menatap pantulan dirinya didepan cermin, gaun hitam yang Brian berikan sangat pas ditubuhnya yang langsing, bagian lengan putihnya yang terekpos, dengan belahan dada yang tidak rendah membuat Kalila merasa nyaman.
Brian memang tahu selera Kalila.
Ceklek
Suara pintu apartemen terbuka, Brian masuk disambut Kalila yang cantik dan anggun keluar dari dalam kamar.
Mata Brian tak lepas memandang ciptaan tuhan yang berdiri didepannya dengan senyum manis, wanita yang begitu cantik semakin membuat hati Brian kian berdebar.
"Emm, kak jangan tatap aku seperti itu." Rona wajah dikedua pipi Kalila langsung nampak, membuat pipinya kian bersemu merah ketika melihat Brian malah terseyum rupawan.
"Kamu cantik sekali sayang, rasanya tidak ingin membawamu pergi." Ucap Rayan dengan melingkarkan tangannya dipinggang Kalila, dan memiringkan wajahnya untuk mengecup pipi sang kekasih.
"Ish, aku sudah cape-cape dandan, tapi malah tidak boleh pergi." Ucap Kalila dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Brian malah mengembangkan senyumnya. "Karena aku tidak rela jika wanitaku, dilihat banyak pria disana." Bisik Brian ditelinga Kalila, membuat kulit Kalila meremang.
Aroma parfum maskulin Brian membuat Kalila betah lama beranda didekat pria itu. Kalila menyukai bau maskulin Brian.
"Aku mencintaimu sayang, selamanya." Ucap Brian sambil mengecup bibir tipis Kalila yang sudah membuatnya candu.
Kalila mengalungkan tangannya dileher Brian, membalas cumbuan Brian dibibirnya dengan saling memanggut dan menyesap rasa manis yang mereka rasakan.
"Emm, sudah kak." Kalila mendorong sedikit dada Brian, agar pria itu melepaskan cumbuannya, bisa-bisa Kalila hilang akal dan mereka berakhir tidak jadi pergi. "Nanti kita terlambat." Lanjut Kalila dengan napas yang sedikit tersengal.
Ibu jari Brian mengusap sudut bibir Kalila yang basah, sisa salivanya setelah ciuman tadi.
"Kaakk.." Kalila merengek dengan wajah malu.
Rayan keluar dari apartemen pukul tujuh kurang, pria itu nampak semakin gagah dan terlihat dingin. Wajah yang tegas dengan tatapan datarnya, Rayan yang berjalan di lorong apartemen menuju lift, tak sengaja melihat siluet yang dia kenali, dibalik pintu lift yang baru saja tertutup.
__ADS_1
"Kalila." Gumam Rayan dengan mengerjapkan matanya beberapa kali, hingga dirinya tersadar disaat pintu lift sudah tertutup, dan Rayan mengejarnya.
"Kalila!" Rayan menekan tombol lift beberapa kali, agar terbuka, jantung Rayan berdebar semakin kencang.
Sampainya di Lobby, Rayan mengedarkan pandangannya penjuru sudut ruangan, dia tidak melihat siluet wanita yang persis dengan Kalila menggunakan gaun berwarna hitam.
"Terima kasih kak." Kalila terseyum manis, saat Brian membukakan pintu mobil untuknya.
"Sama-sama sayang." Brian membalas senyum Kalila tak kalah manis.
"Kalila!" Rayan yang baru melihat seorang wanita masuk kedalam mobil, mempercayai jika yang dia lihat benar-benar mantan istrinya.
"Kalila!" Rayan berlari menuju mobil sedan hitam yang dia yakini ada Kalila yang duduk di dalamnya, Rayan mengejar mobil Brian yang perlahan meninggalkan lobby apartemen.
"Kalila, shitt!!" Rayan mengumpat saat mobil hitam sudah berlalu jauh dari pandangan matanya. Rayan mengusap wajahnya kasar dengan senyum tipis dibibirnya.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu." Entah mengapa hatinya merasa bahagia, saat dirinya menyakiti jika wanita yang dia lihat benar-benar Kalila. Rayan begitu senang, dengan dada yang bergemuruh hebat.
"Tunggu aku sayang, aku tidak akan melepaskan mu." Ucap Rayan segera masuk kedalam mobilnya, dia yakin jika Kalila akan menghadiri pesta yang sama dengan dirinya, karena Rayan tahu jika pria yang bersama Kalila adalah pria pembisnis nomor satu di negaranya.