
Seperti yang dikatakan Jia, siang ini wanita cantik itu mendatangi kantor Rayan. Tidak ada yang tahu status Jia dikantor, dan saat Jia sampai di lobby sudah ada Ronal yang menunggunya untuk membawa keruangan suaminya.
Senang?
Tentu saja Jia senang karena karena dirinya disambut oleh asisten suaminya itu berarti dirinya adalah wanita yang penting pikir Jia.
"Tuan ada didalam, silahkan Nona." Ronal mengantar Jia sampai di depan pintu ruangan bosnya.
"Terima kasih." Ucap Jia dengan tersenyum.
Jia mendorong pintu setelah Ronal pergi, dan bisa Jia lihat jika Rayan masih berkutat dengan pekerjaannya. Pria itu begitu serius.
"Siang Mas." Jia masuk dengan mengembangkan senyum.
Rayan yang mendengar pintu terbuka hanya melirik tanpa menatap wanita yang baru saja masuk tak lain adalah Istrinya.
Karena tidak mendapat respon Jia menaruh rantang makanan yang dia bawa diatas meja yang berada di sudut ruangan suaminya.
"Sudah saatnya makan siang." Kedua tangannya melingkar dipundak Rayan, Jia sengaja me dekati Rayan yang masih duduk.
Rayan pun segera bangkit, tanpa menjawab ucapan Jia, dan langsung duduk disofa membuat Jia terseyum.
__ADS_1
Wanita itu berlari kecil untuk menyiapkan makan siang yang dibawa.
"Kata bibi kamu suka makan ini." Jia memperlihatkan ikan asam pedas kesukaan Rayan. "Coba gih, aku yang masak." Jia terseyum lebar dan menaruh sepotong ikan di wadah nasi Rayan.
Jia memang sengaja memasak makanan kesukaan Rayan, wanita itu mencoba untuk membuat Rayan menyukainya, setidaknya menganggapnya ada.
"Em, Mas apa disini ada kamar kecil." Jia menatap Rayan dengan meringis, dirinya ingin segera kekamar kecil.
"Didalam ada." Jawab Rayan datar tanpa ekspresi.
Jia langsung berdiri dan mencari pintu diruangan itu, dan dirinya melihat pintu dipojok ruangan.
Rayan hanya melirik sekilas, dirinya kambali fokus pada makan siangnya yang ternyata masakan Jia tidak terlalu buruk, tapi lebih enak masakan Kalila.
"Ck, hanya mengingatmu tubuhku langsung beraksi." Gumam Rayan, lalu menyudahi makannya.
Rayan menenggak habis jus yang dibawa Jia, agar bisa mengurangi suhu tubuhnya yang tiba terasa panas.
"Shh, kenapa ruangan ini menjadi panas." Ucap Rayan mengusap wajahnya yang berkeringat, AC diruangan itu sudah cukup dingin, dan Rayan masih merasa kepanasan.
Tidak tahan Rayan melepaskan dasi yang melilit dilehernya, bahkan kemeja putih tadinya masih rapi kini sudah berantakan keluar dari celananya.
__ADS_1
"Ck, apa yang dilakukan wanita sialan itu!" Rayan mengumpati Jia yang sudah membuatnya seperti ini, "Dasar wanita murahan." Umpatnya saat gejolak dalam tubuhnya sudah menggelora, apalagi sesuatu di bawah sana semakin sesak menyiksanya.
"Istri sialan!"
Brak
Rayan mendorong pintu ruang pribadinya dengan kasar, bertepatan Jia yang baru saja keluar dari kamar kecil dengan membenarkan pakaian bagian atasnya.
Melihat apa yang dilakukan Jia, membuat Rayan gelap mata, napas pria itu memburu dengan tatapan penuh napesu.
"M-Mas kamu kenapa?" Jia terbata melihat tatapan Rayan yang mengerikan sekaligus bergairah.
Apa obatnya sudah berkerja, pikir Jia dalam hati.
Inilah yang Jia mau, suaminya menginginkannya meksipun dalam keadaan yang Jia buat menyiksa Rayan dengan menggunakan obat perangsang.
Rayan yang kesal dan marah tapi juga butuh pelampiasan menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Klik
"M-Mas." Jia mengigit bibir bawahnya saat Rayan membuka kemeja putih yang sudah setengah basah oleh keringatnya, bukan hanya kemeja, Rayan membuka semua apa yang dia pakai, dan membuat Jia memejamkan mata.
__ADS_1
"Emph Mas."