Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Restu


__ADS_3

Rayan duduk di dalam mobil dengan tatapan dingin, wajahnya yang semakin dingin membuat suasana didalam mobil begitu mencekam.


Ronal tidak berani melirik kebelakang, pria itu lebih fokus pada jalanan malam yang masih ramai.


Meksipun menyayangkan perlakuan bos-nya dulu, tapi melihat raut wajah Rayan yang semakin dingin membuat Ronal menjadi iba.


Meskipun tampak baik-baik saja diluar tapi Ronal yakin jika hati bosnya itu hancur berkeping-keping.


Setelah lima tahun tidak tahu kabar, hari ini untuk pertama kali Rayan terseyum bahagia harus pupus saat itu juga. Dimana wanita yang Rayan cintai kini akan memulai kehidupan baru lagi. Dan Rayan tidak menyangka jika Kalila ternyata sudah melupakannya.


Lima tahun bukan waktu yang singkat, dan bagi seorang Kalila yang menjalani pernikahan yang diawali dengan toxic membuat wanita itu besar kemungkinan bisa melupakan pria yang menjadi cinta pertamanya.


Karena pria itu juga yang sudah menyakiti jiwa raganya sebelum menyadari ternyata cintanya terbalaskan. Tapi semua sudah berakhir karena Kalila memberi kesempatan dua bulan hanya untuk mendapatkan tanda tangan Rayan saja. Untuk mengajukan gugatan cerai.


Brak


Rayan membanting pintu dengan keras, membuat Ronal yang akan turun mengurungkan niatnya.


Rayan menekan tombol lift untuk naik ke flatnya, tapi sesaat dia urungkan niatnya dan kembali berjalan keluar.


Dilain tempat, senyum kedua insan yang sedang bahagia terus mengembang. Brian menggenggam tangan Kalila dengan lembut, dan membawanya untuk dikecup.


Keduanya sedang berada didalam mobil perjalanan pulang. Setelah acara selesai Brian mengantarkan Kalila pulang. Dan saat masuk kedalam mobil ponsel Kalila bergetar dengan panggilan masuk dari orang tuanya.


Acara live disaluran televisi dan media elektronik lainnya, menampilkan acara penghargaan dunia yang baru saja mereka hadiri. Dan betapa terkejutnya keluarga dan kerabat Kalila ditanah air melihat cuplikan live yang membuat semua orang terharu.


Brian dan Kalila sudah mengantongi restu dari keluarga Kalila, sedangkan Brian jangan ditanya tuan Jimmy begitu bahagia melihat putranya melamar Kalila yang sudah dia anggap anak sendiri malam ini.


Keluarga Kalila menunggu mereka datang dan rencananya Brian lusa akan mengajak Kalila pulang ke tanah air, setelah Kalila mendapat ijin cuti dari rumah sakit.


"Aku bahagia sayang." Ucap Brian yang terus mengembangkan senyum.


Hatinya begitu bahagia hingga rasanya seperti ingin meledak dan menerbangkan banyak kupu-kupu.


"Aku juga kak." Jawab Kalila jujur.


"Kenapa masih panggil kak' aku bukan kakakmu lagi." Ucap Brian dengan pura-pura kesal.


Kalila merubah ekspresi wajahnya menjadi bingung. "Lalu aku harus panggil apa?" Tanya Kalila yang memang tidak tahu.


Brian terseyum tipis. "Seperti aku memanggilnya sayang." Jawab pria itu membuat kedua mata Kalila membola dengan wajah yang bersemu.

__ADS_1


Brian yang melihatnya gemas sendiri, hingga tangannya mencubit hidung Kalila gemas.


"Kak, ish sakit." Sungut Kalila mengisap hidungnya yang sedikit memerah.


"Maaf, sayang habisnya kamu bikin aku gemas." tanganya mengusap pipi Kalila sambil fokus menyetir.


"Nyebelin."


Tak lama mobil Brian sampai di basement apartemen Kalila. Pria itu membukakan pintu untuk Kalila dan merangkul pinggang Kalila untuk masuk ke dalam lift.


"Lusa kita akan pulang, Daddy akan ikut untuk melamar mu." Ucap Brian ketika sudah didalam lift.


Kalila terseyum. "Besok aku akan urus cuti kalau begitu." Jawab Kalila, membuat Brian mengaguk.


"Aku akan membantumu, agar tidak dipersulit."


Brian memang memiliki saham dirumah sakit tempat Kalila bekerja, dan pasti tidak akan sulit untuk mendapatkan Kalila cuti.


Ting


Pintu lift terbuka, Kalila lebih dulu keluar diikuti Brian dari belakang.


Keduanya saling berhadapan, tangan Brian masih mengandeng tangan kekasihnya.


"Hm, kak Bri juga." Kalila tersenyum.


Brian ikut tersenyum, lalu memajukan wajahnya untuk menyesap dan melumatt bibir ranum Kalila yang sudah menjadi candunya.


Keduanya saling bertukar saliva dan membelit lidah didepan pintu apartemen Kalila, mereka asik menikmati dunianya sendiri, tanpa menyadari jika ada seseorang yang menatap keduanya dengan dada bergemuruh dan tatapan mata yang penuh amarah.


"Emm.. sudah kak." Napas Kalila tersengal, dengan dada naik turun, Brian mengusap sudut bibir Kalila yang basah, napasnya juga memburu hanya saja Brian cepat menguasai gairahnya yang sudah terpancing akibat ciuman panas keduanya.


"Em, aku masih ingin begini." Brian memeluk pinggang Kalila, menempelkan dagunya di bahu Kalila.


Kalila tertawa merasakan geli saat Brian menggesekkan dagunya yang terdapat jambang halus di sekitar dagunya.


"Kak sudah. geli." Kalila menggeliat membuat Brian terpaksa melepaskan pelukannya.


"Besok aku jemput." Tangannya menyelipkan rambut kebelakang telinga Kalila.


"Hu'um." Kalila mengaguk.

__ADS_1


Brian menekan kode password, dan terbuka Kalila berdiri di ambang pintu agar tidak kembali tertutup.


Brian masih menatap wajah Kalila dengan senyum, begitupun sebaliknya.


"Sana pulang." Ucap Kalila, dengan isyarat tangan mengusir Brian.


Brian malah terkekeh. "Lebih baik kamu masuk, dan aku akan pulang." Ucap Brian.


Kalila mencebik. "Hati-hati kak Bri sayang." Kalila terseyum malu, saat mengucapkan kalimat terakhir.


Dan Brian membulatkan kedua matanya dengan senyum lebar. "Tidak usah pake 'kak' Cukup sayang saja."


Kalila kembali mengerucutkan bibirnya, dengan senyum. "Maunya, sudah sana pulang gih." Usir Kalila dengan senyum.


"Good night honey." Brian mengecup kening Kalila, dan dengan berat hati meninggalkan Kalila masuk keaparteman.


Kalila menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan jantung yang berdebar, senyumnya ikut mengembang ketika kilasan kejadian dipesta tadi kembali terbayang.


"Aku seperti mimpi." Ucap Kalila dengan memejamkan matanya dan tersenyum.


Siapa yang tidak Speechless jika mendapat perlakuan seperti yang Brian lalukan, Kalila yakin mungkin jika dirinya tidak kuat, sudah pingsan saat itu juga.


Tapi yang dialaminya tadi bukanlah sebuah mimpi, melainkan kenyataan yang dia alami.


Tet...tet..tet..


Bel apartemen berbunyi, Kalila yang masih bersandar heran.


"Apa dia belum pergi." Ucapnya yang penasaran, kenapa Brian harus menekan bel jika pria itu tahu password pintu apartemennya.


Kalila berbalik dengan senyum yang masih terpatri, tanganya menekan pengangan pintu untuk membuka.


"Kenapa bel_"


.


.


Hayy reader kesayangan author...terus dukung karya author yaa sayang...🥰🥰 disini author udah punya alur yang tidak mudah untuk Rayan kembali pada Kalila. Jadi terus dukung karya author selalu.. dan untuk alur pasti akan sesuai dengan judul... pokoknya Stay terus dan beri dukungan selalu 🥰🥰🥰🥰


Sayang kalian banyak-banyak...😍😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2